Arga membalik kertas memo kuning itu. Di bagian belakangnya, tulisan tangan Nara yang agak miring tapi rapi itu berlanjut: *"...nanti lo pingsan, terus gue nggak punya temen buat bantuin bersihin nama lo lagi. Dimakan ya, Ar! - Nara."*
Garis tipis di bibir Arga melengkung ke atas. Senyum kecil yang sudah lama tidak mampir di wajahnya akhirnya muncul juga, meskipun hanya bertahan beberapa detik sebelum kepalanya kembali dihantam kenyataan pahit.
Dia menatap jam dinding. Angka merah di ponselnya menunjukkan pukul 09.00 pagi.
Dua puluh empat jam. Cuma itu waktu yang tersisa sebelum masa penangguhan penahanannya habis, dan polisi bakal menyeretnya kembali ke sel dengan status tersangka utama pembunuhan Shelaβmahasiswi cantik yang malangnya ditemukan tewas di kamar sebelah kamarnya, Kamar No. 13.
*Tok! Tok! Tok!*
Pintu kamar Arga diketuk dengan ritme cepat yang sangat dia kenali. Arga segera membuka pintu dan menemukan Nara berdiri di sana, lengkap dengan jaket denim longgar, kacamata hitam yang bertengger di kepalanya, dan dua cup es kopi susu di tangan kanan.
"Pagi, calon narapidana," canda Nara, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan rasa cemas. Dia langsung menyelinap ma**k sebelum Arga sempat menjawab.
"Bercanda lo nggak lucu, Nar," gerutu Arga, menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya ganda.
Nara menaruh kopi di atas meja belajar Arga yang berantakan, lalu berbalik dengan berkacak pinggang. "Gue nggak bercanda, Ar. Waktu kita tinggal dikit banget. Gue tadi papasan sama Pak Bambang di bawah, dan dia bilang polisi udah nanya-nanya lagi soal lo. Kita harus gerak cepat."
Arga menghela napas panjang. Dia berjalan ke arah lemari pakaian kayunya yang polos. Tanpa ragu, dia menempelkan selembar kertas karton putih besar yang baru dibelinya kemarin sore ke pintu lemari menggunakan selotip.
"Lo mau ngapain?" tanya Nara heran, sambil menyedot kopinya.
"Kita pakai metode analisis hukum pidana," jawab Arga mantap. Sebagai mahasiswa hukum tingkat akhir, ini adalah satu-satunya senjata yang dia punya. "Dalam sidang, alibi adalah benteng pertahanan paling kuat. Kalau pelaku asli punya alibi yang kelihatan sempurna, tugas kita adalah nyari retakan di benteng itu. Kita petakan semuanya sekarang."
Arga mengambil spidol hitam tebal. Di bagian paling atas karton, dia menulis satu nama dengan huruf kapital besar: **RENO ALIANSYAH**.
"Reno," gumam Nara. "Anak hukum angkatan atas, ketum UKM Berkuda, dan pemilik jaket *varsity* biru dongker yang terekam di CCTV malam itu."
"Tepat," kata Arga, lalu menarik garis ke bawah dan menulis kata **ALIBI**. "Malam kejadian, Shela diperkirakan meninggal antara jam delapan sampai jam sembilan malam berdasarkan hasil visum luar sementara yang sempat dibocorkan sepupu lo yang polisi itu. Nah, di jam segitu, Reno ada di mana?"
Nara langsung mengeluarkan ponselnya, jemarinya bergerak lincah membuka akun Instagram. "Gue udah *stalking* habis-habisan, Ar. Malam itu, dari jam delapan sampai jam sepuluh malam, Reno lagi ada di kafe 'Ruang Temu' bareng anak-anak UKM-nya. Ada foto bareng yang di-posting temennya jam 20.45, dan Reno di-tag di sana. Dia kelihatan lagi ketawa sambil pegang gelas kopi. Lokasi kafe itu lumayan jauh dari kosan kita, sekitar tiga puluh menit perjalanan."
Arga mengetuk-ngetuk spidolnya ke dagu. "Foto bisa saja diambil lebih awal dan baru di-upload belakangan. Tapi kalau ada banyak saksi yang lihat dia di sana sepanjang waktu itu... alibinya kuat banget. Hampir nggak mungkin ditembus."
"Terus gimana?" Nara cemberut, mulai merasa frustrasi. "Masa kita salah tuduh? Tapi jaket di CCTV itu jelas-jelas punya dia, Ar! Di kampus ini yang punya jaket *varsity* angkatan itu dengan bordiran nama di lengan cuma tiga orang, dan dua lainnya lagi magang di luar kota."
Arga tidak menjawab. Pandangannya menerawang, mengingat kembali malam mencekam saat dia pertama kali menemukan jasad Shela. Ingatan det**lnya sebagai calon penegak hukum mulai bekerja. Dia mengingat setiap inci kamar No. 13 saat pintu itu terbuka.
"Nar," panggil Arga pelan. "Pas pertama kali kita ma**k ke kamar Shela malam itu... lo ngerasa ada yang aneh nggak sama suhunya?"
Nara mengerutkan dahi, mencoba mengingat. "Dingin banget sih. AC-nya nyala, kan?"
"Bukan cuma dingin biasa," potong Arga cepat. "Gue sempat ngintip remote AC Shela yang tergeletak di ka**r. Suhunya disetel di 16 derajat Celsius, dengan kekuatan kipas maksimum. Dan lo tahu kan, Shela itu punya sinus akut? Dia paling anti sama udara dingin. Di grup chat kosan, dia bahkan pernah berantem sama kamar sebelah gara-gara AC kamar sebelah bocor dan bikin kamarnya ikutan dingin."
Mata Nara melebar. "Bentar... maksud lo, bukan Shela yang nyetel AC itu?"
"Persis," Arga tersenyum tipis, matanya berkilat tajam. "Dalam dunia forensik, ada yang namanya *algor mortis*βpenurunan suhu tubuh setelah kematian. Dokter forensik menentukan waktu kematian salah satunya dengan mengukur suhu tubuh mayat. Standarnya, suhu tubuh bakal turun sekitar satu derajat setiap jam dalam suhu ruangan normal."
Nara, yang mulai menangkap arah pembicaraan Arga, langsung menyahut, "Tapi kalau ruangannya sengaja dibuat dingin ekstrem kayak kulkas..."
"Maka suhu tubuh mayat bakal turun jauh lebih cepat!" potong Arga dengan nada bersemangat. "Pembunuh sengaja menyetel AC kamar Shela ke suhu paling rendah untuk memanipulasi waktu kematian! Dokter forensik mengira Shela meninggal jam sembilan malam karena tubuhnya sudah sangat dingin saat diperiksa tengah malam. Padahal..."
"Padahal sebenarnya dia meninggal lebih lambat!" pekik Nara tertahan, tangannya refleks menutup mulut. "G***... jenius banget setingannya."
"Kalau tebakan gue benar, waktu kematian asli Shela adalah sekitar jam 11.00 sampai 11.30 malam," kata Arga sambil menuliskan angka-angka itu di karton. "Dan di jam segitu, di mana Reno?"
Nara langsung mencari info lagi di ponselnya. "Jam sebelas malam... bentar. Di instastory temennya yang lain, Reno pamit pulang duluan dari kafe jam sepuluh lewat lima belas menit. Katanya dia capek mau langsung tidur di apartemennya."
"Nah!" Arga menepuk lemari pakaiannya dengan keras hingga menimbulkan suara berdentum. "Ada celah kosong selama satu jam setengah antara jam sepuluh lima belas sampai jam dua belas malam. Di waktu itulah dia datang ke kosan ini, ngebunuh Shela, nyetel AC ke suhu maksimum, lalu pergi."
"Tapi tunggu dulu," sela Nara, wajahnya kembali mendung. "CCTV di gerbang depan kosan kita kan aktif 24 jam. Dan gerbang kita pakai sistem *smart lock* yang harus di-tap pakai kartu akses penghuni. Kalau Reno datang jam sebelas lewat, kenapa namanya nggak ada di log sistem digital?"
Nara mengeluarkan secarik kertas dari tasnya. "Ini log akses gerbang malam itu yang berhasil gue minta diam-diam dari Kevin si anak IT. Di antara jam sebelas sampai jam dua belas malam, cuma ada nama lo yang ma**k pas baru kelar pindahan, dan ada satu log... bentar. Ini aneh."
Arga mendekat, merebut kertas itu dari tangan Nara. Matanya menyusuri deretan nama dan angka digital di sana.
Pada pukul 23.10 WIB, tertulis: **KARTU TAMU #3 - MA**K**.
Lalu pada pukul 23.40 WIB: **KARTU TAMU #3 - KELUAR**.
"Kartu Tamu nomor tiga?" tanya Arga heran. "Kosan kita kan nggak pernah ngasih kartu tamu sembarangan kecuali ada izin dari pemilik kos."
"Dan pemilik kos kita, Bu Indah, lagi liburan ke Bali minggu ini," tambah Nara dengan nada curiga. "Siapa yang pegang Kartu Tamu nomor tiga?"
"Kevin," jawab Arga lirih. "Sebagai anak IT yang dipercaya Bu Indah buat mengelola sistem keamanan, Kevin pasti punya akses ke semua kartu cadangan, terma**k kartu tamu. Tapi pertanyaannya, kenapa Kevin mau ngasih kartu itu ke Reno? Atau... Reno mencurinya?"
"Atau ada celah lain," Nara menjentikkan jarinya. "Ar, lo tahu kan kalau gerbang belakang kosan dekat tempat jemuran itu kuncinya manual dan sering rusak? CCTV di sana juga sering mati karena sinyal Wi-Fi kosan yang ampas di area belakang."
"Reno tahu soal itu karena dia sering main ke kamar Shela sebelum mereka putus," sambung Arga, potongan-potongan teka-teki di kepalanya kini mulai menyatu dengan sempurna. "Dia nggak lewat gerbang depan yang dijaga CCTV utama. Dia lewat belakang, atau dia pakai kartu duplikat yang dia dapet entah gimana caranya untuk memanipulasi sistem kalau-kalau dia terpaksa lewat depan."
Arga menatap karton di lemarinya yang kini dipenuhi coretan garis merah.
"Reno memanfaatkan fakta bahwa gue adalah penghuni baru di Kamar No. 12, tepat di sebelah kamar Shela. Dia sengaja membunuh Shela di jam sebelas malam lewat, di saat dia tahu gue lagi sibuk bolak-balik mindahin barang kosan sendirian tanpa ada saksi. Dengan memanipulasi suhu ruangan, dia menggeser estimasi waktu kematian Shela ke jam sembilan malamβdi saat dia punya alibi kuat di kafe, dan di saat gue... nggak punya alibi sama sekali karena baru sampai di kosan."
Suasana kamar mendadak hening. Hanya terdengar suara napas mereka yang memburu karena ketegangan yang memuncak. Teori mereka sangat solid, ma**k akal, dan rapi.
Namun, Nara memecah keheningan dengan suara cicitan cemas. "Ar... teori kita emang keren banget. Sumpah, lo cocok jadi detektif daripada pengacara. Tapi... polisi nggak bakal percaya cuma modal coretan spidol di pintu lemari lo ini. Kita butuh bukti fisik."
Arga mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sisa waktu 24 jam itu terasa berdetak kencang di dalam dadanya, seperti bom waktu yang siap meledak.
"Kita harus cari jaket *varsity* itu, Nar," kata Arga dengan tatapan mata yang tajam dan dingin. "Dan kartu akses nomor tiga. Kalau salah satu dari barang itu ada di apartemen Reno, dia nggak bakal bisa mengelak lagi."
Nara menelan ludah, menatap Arga dengan mata membelalak. "Lo g*** ya? Mau menyelinap ke apartemen Reno? Itu namanya bunuh diri, Ar!"
"Gue nggak punya pilihan lain, Nar," jawab Arga pelan namun penuh penekanan. "Ini soal hidup mati gue. Dan waktu gue... tinggal besok pagi."
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!