"...ada di kafe 'Kopi Dari Hati' deket kampus. Dia nge-post Instastory lagi nongkrong bareng anak-anak UKM-nya. Lokasinya jelas, jamnya juga ada."
Arga mengernyitkan dahi. "Alibi yang sempurna. Tapi lo yakin dia di sana sepanjang malam?"
Nara tersenyum penuh arti, sebuah senyuman yang membuat Arga sadar kalau cewek di depannya ini punya bakat terpendam jadi detektif swasta. Nara menyedot kopi susunya pelan, menikmati momen dramatis itu sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Nah, itu dia celahnya. Gue nggak langsung percaya gitu aja. Gue langsung nge-DM salah satu anak UKM Berkuda yang malam itu ikut nongkrong. Modusnya, gue nanya-nanya soal jadwal latihan. Terus gue pancing-pancing soal malam itu. Tebak apa?" Nara mencondongkan tubuhnya ke arah Arga. "Reno emang dateng. Tapi sekitar jam setengah sembilan lewat, dia pamit ke toilet karena katanya perutnya mules parah. Dan dia baru balik ke meja hampir jam setengah sepuluh. Mukanya pucat dan basah kuyup."
"Satu jam?" tanya Arga memastikan. Matanya langsung berbinar. "Dia ilang selama satu jam?"
"Tepat!" Nara menjentikkan jarinya gemas. "Toilet kafe itu ada di area belakang, deket banget sama parkiran motor yang nggak dijaga tukang parkir. Dari kafe ke kosan kita ini cuma butuh waktu sepuluh menit naik motor kalau ngebut. Waktu satu jam itu lebih dari c**up buat Reno balik ke kosan, ma**k ke Kamar No. 13, berantem sama Shela, ngehabisin nyawa Shela, terus balik lagi ke kafe seolah-olah nggak terjadi apa-apa."
Arga mengepalkan tangannya. Analisis Nara ma**k akal. Semua kepingan puzzle itu mulai menyatu. Tapi, kepalan tangan Arga perlahan mengendur seiring dengan rasa frustrasi yang kembali merayap di dadanya.
"Tapi ini semua baru a**msi, Nar," desah Arga pelan. Dia menyandarkan punggungnya ke lemari pakaian. "Polisi nggak bakal peduli sama teori kosong kita. Mereka butuh bukti fisik. Sementara waktu gue cuma tinggal sampai besok pagi. Kalau kita nggak bisa buktiin Reno pelakunya malam ini juga, besok gue yang bakal pakai baju tahanan oranye."
Hening sesaat. Kamar Arga terasa begitu sempit dan menyesakkan. Suara detak jam dinding seolah berubah menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Nara menatap Arga lekat-lekat. Matanya yang bulat memancarkan tekad yang kuat. Dia meletakkan cup kopinya ke meja dengan bunyi *puk* yang agak keras.
"Kalau kita nggak punya bukti, kita bikin pelakunya yang menyerahkan diri," ujar Nara dingin.
Arga menatap Nara heran. "Maksud lo?"
"Kita pasang umpan," jawab Nara, senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Kita bikin si pembunuh panik. Orang yang panik itu bakal bertindak bodoh dan gegabah. Dan di saat itulah, kita tangkap dia basah."
***
Rencana nekat itu akhirnya disusun.
Nara mengeluarkan sebuah *micro SD* bekas yang sudah tidak terpakai dari dompetnya. Kartu memori kecil berwarna hitam itu diletakkan di atas meja.
"Skenarionya gini," kata Nara sambil menunjuk kartu memori tersebut. "Kita sebar rumor kalau Shela sebenarnya sempat merekam wajah pelaku pakai kamera tersembunyi di kamarnya sebelum dia dibunuh. Dan kartu memori berisi rekaman itu disembunyikan Shela di suatu tempat di Kamar No. 13 yang belum sempat digeledah polisi."
"Caranya kita nyebarin rumor itu gimana?" Arga menopang dagunya, mulai tertarik dengan ide g*** Nara. "Kalau kita ngomong langsung ke orang-orang, malah kelihatan mencurigakan."
"Pakai jurus klasik: salah kirim di grup WA kosan," jawab Nara bangga. "Grup WA kosan kita kan isinya lengkap. Ada anak-anak kos, penjaga kos, bahkan Reno juga ada di sana karena dia sering main dan nge-geng sama anak-anak sini, kan?"
Arga mengangguk setuju. Reno memang sering terlihat nongkrong di area parkir kosan karena berteman dekat dengan beberapa penghuni cowok di lant** satu.
Nara langsung membuka aplikasi WhatsApp di ponselnya. Jarinya bergerak lincah mengetik sebuah pesan di kolom obrolan pribadinya dengan Arga terlebih dahulu untuk mematangkan konsep.
*“Ar, g***! Gue barusan nemu micro SD card di sela-sela lant** deket ka**r Shela pas tadi sore ikut beresin barangnya. Pas gue cek di laptop, isinya video malam itu! Mukanya keliatan jelas banget, Ar! Gue takut di kamar sendirian. Nanti malem jam 12 pas badai turun, lo temenin gue ke Kamar No. 13 ya buat ambil sisa filenya. Kita lapor polisi besok pagi aja biar aman.”*
"Gimana? Meyakinkan, kan?" tanya Nara sambil memperlihatkan layar ponselnya ke Arga.
Arga membaca pesan itu perlahan, lalu mengangguk. "Det**l soal 'badai' itu pinter. Di berita emang diprediksi nanti malam bakal ada badai petir besar. Suasana badai bakal bikin pelaku merasa punya kesempatan emas buat beraksi tanpa ketahuan."
"Sip. Sekarang, giliran aksi panggung gue," kata Nara menyeringai.
Nara menyalin teks tersebut. Dengan napas tertahan, dia ma**k ke grup WhatsApp "Anak Kos No. 13". Tanpa ragu, dia menempelkan teks tersebut dan menekan tombol kirim.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Nara membiarkan pesan itu terpampang di grup selama tepat sepuluh detik—waktu yang c**up bagi siapa pun yang sedang memegang ponsel untuk membaca *pop-up* notifikasi mereka. Setelah itu, dengan gerakan cepat yang dramatis, Nara menekan opsi *'Hapus untuk Semua Orang'*.
Pesan itu kini berubah menjadi tulisan abu-abu: *Anda telah menghapus pesan ini.*
Nara dan Arga saling berpandangan. Jantung mereka berdegup kencang.
"Umpan sudah disebar," bisik Nara, melirik ponselnya yang mulai bergetar karena beberapa anak kos mulai bertanya-tanya di grup tentang pesan yang baru saja dihapus itu. Tapi Nara mengabaikan semuanya. "Sekarang, kita tinggal tunggu ikannya menggigit umpan."
***
Pukul 23.45 WIB.
Sesuai dengan perkiraan cuaca, langit malam itu tampak sangat pekat tanpa bintang. Angin kencang mulai melolong di luar, membuat ranting-ranting pohon mangga di halaman kosan bergesekan kasar dengan atap seng, menimbulkan suara berisik yang menggidikkan bulu kuduk. Petir sesekali menyambar, menerangi lorong lant** dua yang sepi dengan cahaya putih instan yang mencekam.
Arga dan Nara mengendap-endap keluar dari kamar Arga. Lorong kosan benar-benar sunyi. Kebanyakan penghuni kos sudah tidur atau memilih meringkuk di dalam kamar karena cuaca buruk.
Langkah kaki mereka berhenti di depan Kamar No. 13.
Garis polisi berwarna kuning yang sebelumnya melintang di depan pintu kini sudah diturunkan dan diletakkan di lant**—mengingat olah TKP awal sudah selesai—namun kamar itu tetap dibiarkan kosong dan terkunci. Tapi bukan Arga namanya kalau tidak punya kunci cadangan. Sebagai orang yang sering dimint** tolong oleh Pak Bambang, penjaga kos, untuk membetulkan pipa atau listrik, Arga dengan mudah meminjam kunci duplikat Kamar No. 13 tanpa sepengetahuan siapa pun.
*Klek.*
Suara kunci berputar terdengar sangat keras di tengah kesunyian lorong. Arga mendorong pintu perlahan.
Aroma ruangan itu langsung menyergap indra penciuman mereka. Bau sisa cairan disinfektan bercampur dengan aroma debu yang pengap. Kamar itu gelap gulita. Hanya ada cahaya remang-remang dari lampu jalan di luar yang menembus jendela kaca yang kotor.
"Gue merinding, Ar," bisik Nara, reflex memegang ujung jaket Arga.
"Tenang, ada gue," jawab Arga berbisik, mencoba menenangkan Nara padahal jantungnya sendiri berdegup seperti genderang perang.
Mereka segera ma**k dan menutup pintu kembali hingga rapat. Sesuai rencana, mereka tidak boleh menyalakan lampu. Mereka harus membuat kamar ini terlihat kosong seolah-olah Nara belum datang, atau sengaja menunggu dalam gelap.
"Kita sembunyi di mana?" tanya Nara dengan suara yang hampir habis teredam suara angin di luar.
"Di balik lemari baju itu," tunjuk Arga ke arah lemari kayu besar di sudut kamar. Posisi lemari itu agak serong, menyisakan ruang sempit yang c**up untuk dua orang bersembunyi di balik bayang-bayang kegelapan. Dari sana, mereka juga bisa melihat langsung ke arah pintu ma**k dan ka**r tempat kejadian perkara.
Mereka berdua segera menyelinap ke celah sempit tersebut. Posisi yang sangat dekat membuat Arga bisa merasakan embusan napas Nara yang hangat dan cepat di dadanya. Bau parfum vanila Nara yang manis menjadi satu-satunya hal yang menenangkan di tengah suasana horor Kamar No. 13.
Arga mengeluarkan ponselnya, mengatur layarnya ke tingkat kecerahan paling rendah, lalu membuka aplikasi kamera video. Dia memegang ponselnya dengan posisi siap merekam ke arah pintu.
*JEDARRR!*
Suara guntur menggelegar dahsyat di luar, disusul dengan rintik hujan lebat yang langsung menghantam genting kosan dengan brutal. Badai akhirnya datang.
Arga melirik jam di ponselnya.
**00.03 AM.**
Waktu seolah berjalan sangat lambat. Setiap detik terasa seperti siksaan. Suara hujan yang bising di luar justru membuat keheningan di dalam kamar terasa semakin mencekam. Nara merapatkan tubuhnya ke tubuh Arga, kedua tangannya mengepal erat di dada. Arga bisa merasakan tubuh cewek itu sedikit gemetar. Dia mengulurkan tangan kirinya, menggenggam jemari Nara dengan lembut, mencoba menyalurkan kekuatan. Nara menatap Arga dalam kegelapan, lalu mengangguk pelan.
Tiba-tiba...
*Srek... Srek...*
Di antara deru suara hujan yang deras, terdengar suara langkah kaki yang terseret di lorong luar. Langkah kaki itu sangat pelan, seolah-olah pemiliknya berusaha keras untuk tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Nara menegang. Genggaman tangannya pada jemari Arga mengencang seketika.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu Kamar No. 13.
Suasana di dalam kamar mendadak terasa begitu dingin hingga menusuk tulang. Arga menahan napasnya dalam-dalam. Jarinya sudah bersiap di tombol *record* ponselnya.
*Krieeet...*
Gagang pintu Kamar No. 13 perlahan bergerak turun.
Pintu yang memang sengaja tidak dikunci rapat oleh Arga itu terbuka sangat pelan, menyisakan celah hitam yang semakin lebar. Sebuah bayangan tinggi besar muncul di ambang pintu, terbingkai oleh kilatan petir yang sesekali menerangi lorong di belakangnya.
Orang itu memakai jaket *varsity* tebal dengan kupluk yang ditarik menutupi kepalanya. Wajahnya tersembunyi di balik masker hitam.
Dia melangkah ma**k ke dalam kamar dengan sangat hati-hati. Matanya yang liar langsung menyapu seluruh ruangan yang gelap, mencari-cari keberadaan sesuatu. Tangannya tampak memegang sebuah pisau lipat yang berkilau tajam setiap kali petir menyambar di luar jendela.
Jantung Arga serasa berhenti berdetak. *Dia bawa senjata.*
Sosok misterius itu berjalan mendekati meja belajar Shela, lalu mulai mengacak-acak laci meja dengan gerakan terburu-buru namun tetap berusaha senyap. Ketika tidak menemukan apa yang dicarinya, dia berbalik ke arah ka**r, meraba-raba sela-sela ka**r dan lant**—persis seperti isi pesan jebakan yang dikirim Nara di grup WA tadi siang.
"Mana sih si****..." sebuah bisikan kasar dan frustrasi lolos dari mulut orang itu.
Suara itu.
Arga mengenali suara berat itu. Itu adalah suara Reno.
Arga segera menekan tombol rekam pada ponselnya. Kamera canggihnya yang memiliki fitur *night mode* itu berhasil menangkap siluet tubuh, jaket *varsity* biru dongker khas UKM Berkuda yang dipakainya, dan gerak-gerik panik sang pelaku dengan sangat jelas.
Reno yang tampak semakin frustrasi karena tidak menemukan memori card yang dicarinya, tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Dia berdiri diam di tengah ruangan, seolah menyadari sesuatu.
Dia perlahan membalikkan badannya ke arah sudut kamar. Ke arah lemari pakaian.
"Nara... Arga... Gue tahu kalian ada di sini," bisik Reno dengan nada suara yang berubah menjadi sangat dingin dan mengancam. "Keluar lo berdua. Serahin memori card itu ke gue, atau kalian bakal bernasib sama kayak Shela!"
Reno mulai melangkah mendekat ke arah tempat persembunyian mereka, pisau lipat di tangannya kini terarah lurus ke depan.
Nara menahan pekikan histerisnya dengan menutup mulutnya sendiri menggunakan kedua tangan. Napasnya memburu cepat. Sementara Arga, dengan sisa keberanian yang dia punya, bersiap-siap untuk menerjang keluar dari balik lemari sebelum Reno berhasil menyudutkan mereka.
Tepat saat Reno tinggal berjarak tiga langkah dari lemari, kilat besar menyambar di luar, menerangi wajah beringas di balik masker hitam itu dengan sangat jelas.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!