BAB 12: KONFRONTASI DI BAWAH HUJAN BADAI
*Jedarrr!*
Suara petir menggelegar dahsyat, seolah membelah langit malam di atas Kos Ibu Pertiwi. Hujan lebat yang turun sejak sore tadi kini berubah menjadi badai angin yang bising. Air hujan menghantam kaca jendela Kamar No. 13 dengan brutal, menciptakan irama monoton yang menambah kesan mencekam.
Di dalam kamar yang gelap gulita itu, suasana terasa begitu dingin dan pengap. Bau debu dan aroma samar minyak wangi khas Shela yang mulai memudar masih tertinggal di udara.
Arga dan Nara meringkuk di balik lemari pakaian besar yang posisinya agak menyerong, c**up dekat dengan pintu ma**k. Napas mereka tertahan. Jantung Arga berdegup kencang, saking kerasnya sampai dia takut suara detak itu bakal terdengar oleh orang lain. Di sebelahnya, Nara mencengkeram lengan jaket Arga dengan sangat kuat. Tangannya dingin, menunjukkan kalau cewek itu sebenarnya juga ketakutan setengah mati, meskipun matanya memancarkan tekad yang luar biasa.
Rencana umpan mereka sudah berjalan. Sore tadi, Nara sengaja mengobrol keras-keras di koridor kosan tentang "kartu memori cadangan milik Shela" yang katanya tertinggal di laci meja belajar Kamar No. 13. Kamar ini masih diberi garis polisi, tapi jendelanya yang rusak sengaja tidak diperbaiki dengan benarβsebuah celah ma**k yang sengaja mereka ciptakan.
*Kreeek...*
Suara gesekan halus terdengar dari arah jendela.
Arga langsung menegakkan tubuhnya, matanya menyipit menembus kegelapan. Di bawah temaram kilatan petir yang sesekali menerangi kamar, sesosok bayangan hitam tampak merayap ma**k melewati jendela yang terbuka setengah. Sosok itu mengenakan jas hujan plastik hitam tipis dan masker penutup wajah.
Langkah kakinya sangat pelan, nyaris tanpa suara karena teredam deru angin badai di luar.
Bayangan itu langsung menuju meja belajar Shela. Dengan menggunakan senter kecil dari ponselnya yang layarnya sengaja diredupkan, dia mulai mengob**k-abrik laci meja. Napasnya terdengar memburu, menandakan dia sangat panik dan terburu-buru.
"Mana sih... ba*****, di mana ditaruhnya?" bisik sosok itu dengan suara parau yang disamarkan.
Nara menyenggol rusuk Arga pelan. Ini saatnya.
Arga mengangguk dalam kegelapan. Dengan gerakan secepat kilat, Arga keluar dari balik lemari, melompati jarak sempit di antara mereka, dan langsung menubruk pintu kamar.
*Cklek! Cklek!*
Arga memutar kunci pintu dari dalam dan langsung mengantongi kuncinya.
Bersamaan dengan itu, Nara menekan saklar lampu kamar. Cahaya neon putih yang terang benderang seketika menerangi setiap sudut Kamar No. 13, membuat mata mereka sempat menyipit karena silau.
Sosok misterius itu tersentak hebat. Dia berbalik dengan cepat, napasnya tersengal, matanya membelalak lebar melihat Arga dan Nara sudah berdiri di depannya, menutup satu-satunya jalan keluar yang paling realistis.
"Mau lari ke mana lagi lo?" tanya Arga dengan nada dingin, meskipun tangannya sedikit gemetar menahan amarah.
Sosok itu mundur selangkah hingga punggungnya membentur meja belajar. Dia menatap Arga dan Nara bergantian dengan tatapan liar.
"Buka maskernya," tuntut Nara, suaranya terdengar bergetar namun penuh penekanan. "Atau gue teriak sekarang juga biar anak-anak kos dan warga luar pada dateng?"
Sosok berbaju hitam itu terkekeh sinis. Suaranya terdengar familier, membuat dahi Arga mengernyit. Perlahan, tangan sosok itu naik ke wajahnya, menarik masker hitam yang menutupi hidung dan mulutnya, lalu membuka tudung jas hujannya.
Begitu wajah di balik masker itu terekspos, Arga merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Dunianya serasa berputar. Sementara Nara menutup mulutnya dengan kedua tangan, syok berat.
"R-Roy?!" pekik Nara histeris. "G***... jadi selama ini... lo?"
Cowok di depan mereka adalah Roy. Mantan ketua senat mahasiswa yang dikenal sangat berprestasi, ramah, dan selalu menjadi anak emas para dosen di kampus mereka. Roy, cowok yang selalu terlihat rapi dengan kemeja flanelnya, kini berdiri di depan mereka dengan tatapan mata yang dingin, kosong, dan tampak sangat berbahaya. Sangat jauh dari citra "cowok baik-baik" yang selama ini dia bangun.
"G*** ya lo pada," Roy mendengus kasar, lalu membuang masker hitamnya ke lant**. Dia meludah ke samping. "Pake acara jebakan murah kayak gini segala. Mana kartu memorinya? Nggak ada, kan? Lo berdua cuma gertak sambal."
"Kenapa, Roy?" tanya Arga, suaranya bergetar menahan emosi yang meluap-luap. "Kenapa harus Shela? Dia pacar lo, ba*****! Kenapa lo tega bunuh dia, terus lo fitnah gue?!"
Roy tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat psikopat di tengah suara badai yang mengamuk di luar. "Pacar? Shela itu cuma parasit, Ga. Dia ngerusak semua rencana masa depan gue!" Roy berteriak, urat-urat di lehernya menegang. "Gue mau lanjut S2 ke Jerman pake beasiswa penuh. Bokap gue juga lagi nyalonin diri jadi anggota dewan. Terus tiba-tiba cewek murahan ini bilang dia hamil! Dia minta gue tanggung jawab dan ngancem bakal nyebarin foto-foto kami ke dekanat kalau gue nolak!"
"Jadi cuma karena itu?" Nara menyela, matanya berkaca-kaca karena marah dan tidak percaya. "Hanya karena reputasi si**** lo itu, lo tega ngehabisin nyawa orang yang sayang sama lo? Lo bener-bener i****, Roy!"
"Lo nggak tahu apa-apa soal hidup gue, anak manja!" bentak Roy ke arah Nara, membuat cewek itu tersentak mundur.
Arga melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Nara untuk melindunginya. "Terus gimana sama Pak Bambang? Kenapa penjaga kos itu bisa ngebantu lo? Dia yang sengaja ngehapus rekaman CCTV malam itu, kan? Dia juga yang naruh barang-barang Shela di kamar gue buat ngefitnah gue!"
Roy tersenyum miring, menatap Arga dengan pandangan meremehkan. "Pak Bambang? Gampang banget ngebuat orang miskin kayak dia buat tutup mulut. Bokap gue punya kuasa buat ngasih kerjaan tetap buat anaknya yang nganggur bertahun-tahun, plus sedikit uang jajan tambahan yang nominalnya nggak bakal bisa dia dapetin seumur hidup kerja jadi penjaga kosan busuk ini. Dia cuma perlu tutup mata, hapus CCTV jam sembilan sampai sepuluh malam itu, dan lempar semua kesalahannya ke lo, si anak beasiswa miskin yang nggak punya bekingan apa-apa."
Mendengar itu, darah Arga mendidih. Semua rasa frustrasi, ketakutan dituduh sebagai pembunuh, dan rasa sedih karena kehilangan Shela melebur menjadi satu kemarahan yang luar biasa.
"Gue bakal mastiin lo membusuk di penjara, Roy," desis Arga, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Memangnya lo punya bukti?" tantang Roy, matanya berkilat licik. "Nggak ada bukti fisik yang mengarah ke gue. Polisi cuma tahu lo pelakunya. Dan malam ini, setelah gue beresin lo berdua, semua masalah gue bakal selesai."
Sebelum Arga sempat mencerna kalimat itu, Roy tiba-tiba menerjang maju.
*Bugh!*
Satu pukulan keras mendarat di rahang Arga, membuat cowok itu terhuyung ke belakang dan menab**k lemari pakaian. Rasa asin darah langsung terasa di mulut Arga.
"Arga!" teriak Nara panik.
"Nara, keluar dari sini! Cari bantuan!" teriak Arga sambil menahan rasa sakit di rahangnya.
Namun, Roy bergerak lebih cepat. Dia menjambak rambut Arga dan membenturkan kepala Arga ke pintu kayu kamar. *Prang!* Gelas kaca yang ada di atas meja kecil dekat pintu jatuh dan hancur berkeping-keping.
Arga mengerang kesakitan, pandangannya sempat mengabur selama beberapa detik. Namun, bayangan wajah ibunya yang menangis karena melihatnya memakai baju tahanan oranye tiba-tiba terlintas di pikirannya. Rasa takut itu berubah menjadi energi tambahan.
Dengan sisa kekuatannya, Arga merunduk, menghindari pukulan kedua dari Roy. Dia kemudian menerjang pinggang Roy dengan bahunya, membuat mereka berdua jatuh bergulingan di lant** yang dingin.
*Bugh! Plak! Bugh!*
Perkelahian sengit pecah di dalam Kamar No. 13 yang sempit. Roy yang bertubuh lebih tegap ternyata sangat agresif. Dia berkali-kali melayangkan pukulan ke arah wajah Arga. Arga mencoba bertahan sebisanya, membalas dengan pukulan mentah ke arah perut Roy hingga cowok itu terbatuk-batuk.
Di tengah kekacauan itu, Nara tidak tinggal diam. Dia melihat vas bunga plastik tebal yang terletak di rak sudut kamar. Dengan nekat, Nara mengambil vas itu, berlari mendekat, dan...
*B**k!*
Nara memukulkan vas tersebut tepat ke punggung Roy.
"Ba*****!" umpat Roy kesakitan. Dia berbalik dan dengan kasar mendorong Nara hingga cewek itu jatuh terduduk, sikunya menghantam lant** hingga lecet dan berdarah.
"Nara!" teriak Arga histeris.
Melihat Nara terluka, kemarahan Arga mencapai puncaknya. Dia bangkit berdiri, menerjang Roy dari belakang, dan mengunci leher Roy dengan lengannya. Roy meronta-ronta seperti binatang buas yang terperangkap. Dia mencoba menyikut rusuk Arga berkali-kali.
*Bugh! Bugh!*
Sikutan Roy mengenai rusuk Arga, membuat napas Arga sesak. Tapi Arga menolak untuk melepaskan kunciannya. Dia mengeratkan lengannya di leher Roy, menekan trakea cowok itu sekuat tenaga.
"Lepas... an****... lepasin..." suara Roy mulai melemah, napasnya tersedat-sedat. Wajahnya mulai memerah keunguan karena kekurangan oksigen.
Mereka berdua terjatuh lagi ke lant**, menab**k meja belajar hingga buku-buku dan kertas-kertas berserakan di atas tubuh mereka. Debu-debu beterbangan, bercampur dengan bau keringat dan darah yang anyir.
"Arga, c**up! Jangan bunuh dia! Kita butuh dia hidup-hidup buat ngaku ke polisi!" teriak Nara dari sudut kamar, suaranya nyaris tenggelam oleh suara guntur yang kembali menyambar di luar jendela.
Mendengar teriakan Nara, akal sehat Arga perlahan kembali. Dia melonggarkan sedikit kunciannya, namun tetap menahan kedua tangan Roy di belakang punggungnya, menguncinya di lant**.
Roy terengah-engah, batuk-batuk dengan rakus menghirup oksigen. Wajahnya yang semula terlihat tampan dan berwibawa kini kotor oleh debu, peluh, dan darah yang keluar dari hidungnya yang patah akibat hantaman lant** tadi.
Tepat pada saat itu, terdengar suara gaduh dari luar koridor. Suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat, diiringi teriakan beberapa orang.
"Woi! Ada apa di dalam?! Buka pintunya!" itu suara beberapa anak kos dari luar, terdengar panik karena mendengar keributan luar biasa dari Kamar No. 13 yang seharusnya kosong dan disegel.
Nara, dengan sisa kekuatannya, merangkak mendekati pintu. Dia mengambil kunci kamar yang sempat terjatuh dari saku Arga saat perkelahian tadi, lalu membuka pintunya dengan tangan yang gemetar hebat.
Begitu pintu terbuka, beberapa anak kos ma**k dengan membawa senter dan sapu, diikuti oleh Pak Bambang yang wajahnya langsung pucat pasi seperti mayat saat melihat Roy dalam kondisi babak belur dikunci oleh Arga di lant**.
Di belakang mereka, dua orang anggota polisi berpakaian preman yang ternyata memang sudah dihubungi oleh Nara sebelumnya, langsung menerobos ma**k dengan pistol yang terkokang.
"Jangan bergerak! Polisi!" teriak salah satu petugas.
Arga perlahan melepaskan cengkeramannya dari Roy dan mengangkat kedua tangannya ke atas. Napasnya naik turun dengan cepat, tubuhnya terasa pegal dan sakit di mana-mana, tapi untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, Arga merasakan beban berat yang menghimpit dadanya mendadak runtuh.
Dia menatap Roy yang kini diringkus dan diborgol oleh polisi di lant**, lalu beralih menatap Pak Bambang yang langsung gemetar dan berlutut ketakutan di ambang pintu.
Hujan badai di luar perlahan mulai mereda, menyisakan suara rintik gerimis yang tenang, seolah ikut menyaksikan kebenaran yang akhirnya terungkap di Kamar No. 13.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!