BAB 13: SKAKMAT UNTUK SANG PEMBUNUH
Sosok itu mundur selangkah hingga punggungnya membentur tepian laci meja belajar yang keras. Tangannya yang mengenakan sarung tangan latex hitam meraba-raba ke belakang, mencoba mencari pegangan di tengah rasa syok yang luar biasa.
"Buka maskernya," kata Arga dengan suara setenang mungkin, meski di dalam dadanya, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
Perlahan, sosok itu mengangkat tangannya. Dia melepas tali masker kain hitam yang menutupi separuh wajahnya. Begitu masker itu turun ke leher, wajah aslinya terekspos di bawah terang lampu neon Kamar No. 13 yang dingin.
Roy.
Cowok bertubuh jangkung, berotot, yang biasanya selalu tampil necis dan jadi idola di kampus dengan jaket bomber mahalnya. Malam ini, Roy kelihatan sangat berbeda. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini basah oleh keringat dan air hujan, menempel acak-acakan di dahinya. Matanya yang merah menatap Arga dan Nara dengan tatapan penuh kebencian dan kepanikan yang campur aduk.
"Udah gue duga. Ternyata emang lo, Roy," ucap Arga. Nada suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena menahan emosi yang meluap-luap. Di sebelahnya, Nara mencengkeram ponselnya dengan sangat erat, jemarinya sampai memutih.
Roy sempat terdiam beberapa detik, mencoba mencerna situasi. Detik berikutnya, tawa sinis keluar dari mulutnya. Tawa yang terdengar dipaksakan dan sedikit g***.
"G*** ya, kalian berdua. Nekat banget," Roy melangkah maju satu demi satu. Tubuhnya yang jauh lebih besar dari Arga memberikan tekanan intimidasi yang luar biasa. "Lo pikir, dengan ngunci pintu ini, lo berdua bisa nahan gue? Sadar diri, Ga. Fisik lo itu lemah. Sekali pukul juga lo langsung roboh. Dan lo, Nara... lo mau ikutan mati konyol kayak temen lo itu?"
Nara tidak mundur. Dia justru melangkah sejajar dengan Arga, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. "Gue nggak takut sama lo, Roy. Pembunuh kayak lo emang tempatnya di penjara!"
"Pembunuh?" Roy tertawa lagi, kali ini lebih keras, mencoba menutupi rasa takutnya sendiri. "Siapa yang pembunuh? Mana buktinya? Kalian cuma punya teori sampah! Lo pikir polisi bakal percaya sama omongan dua mahasiswa halu yang hobi main detektif-detektifan?"
Arga tersenyum tipis. Senyum yang membuat Roy langsung menghentikan tawanya. Roy benci senyuman itu. Senyuman yang seolah-olah mengisyaratkan bahwa Arga tahu sesuatu yang tidak dia ketahui.
"Gue emang kalah fisik dibanding lo, Roy. Lo bisa aja hajar gue sekarang sampai babak belur, atau bahkan bunuh gue kayak lo bunuh Shela," Arga mema**kkan satu tangannya ke saku celana, mencoba bersikap sesant** mungkin untuk memprovokasi Roy. "Tapi otak lo? Sori banget, Roy. Otak lo cetek."
"Ba***** lo!" umpat Roy, giginya bergemeletuk menahan amarah.
"Lo ke sini karena denger gosip kalau ada kartu memori cadangan milik Shela yang tertinggal di kamar ini, kan?" tanya Arga, nadanya memancing. "Kartu memori yang isinya semua bukti transaksi gelap bapak lo, dan keterlibatan lo dalam proyek korupsi pembangunan gedung laboratorium baru kampus kita."
Wajah Roy langsung memucat seketika. "Lo... dari mana lo tahu?"
"Shela nggak sebodoh yang lo kira, Roy," sahut Nara menimpali. "Dia tahu lo cuma manfaatin dia buat jadi kurir pencucian uang haram bapak lo. Dan saat Shela sadar dia cuma dijadikan tumbal, dia mutusin buat simpan semua buktinya. Tapi sayang, sebelum dia sempat lapor, lo udah keburu habisin dia di kamar ini."
"Itu fitnah! Shela bunuh diri! Semua orang tahu dia depresi!" teriak Roy, suaranya mulai meninggi, bersaing dengan suara petir yang kembali menggelegar di luar jendela.
"Shela nggak bunuh diri," potong Arga tegas. "Lo yang cekik dia sampai napasnya habis, terus lo gantung dia di langit-langit kamar ini biar kelihatan kayak bunuh diri. Lo dibantu sama seseorang yang punya akses penuh ke kosan ini, seseorang yang bisa matiin CCTV koridor pada jam kejadian. Siapa lagi kalau bukan Pak Bambang, penjaga kos yang tiba-tiba punya motor baru minggu lalu? Bapak lo yang bayar dia, kan?"
Roy menatap Arga dengan mata membelalak lebar. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya. Rahangnya mengeras. Rahasia yang dia simpan rapat-rapat, yang dia pikir sudah terkubur bersama jasad Shela, kini dibeberkan dengan sangat det**l oleh cowok kurus di depannya ini.
"Lo nggak punya bukti, Arga! Semua itu cuma omong kosong!" pekik Roy emosional. Dia melangkah maju dengan cepat, berniat mencengkeram kerah baju Arga.
Namun, sebelum tangan Roy menyentuhnya, Arga menunjuk ke arah ponsel yang dipegang oleh Nara.
"Lo mau bukti? Lihat ke sana," ucap Arga tenang.
Roy menoleh ke arah ponsel Nara. Layar ponsel itu menyala terang. Di sana, tidak ada aplikasi kamera biasa. Yang ada adalah sebuah tampilan aplikasi khusus dengan logo kepolisian, lengkap dengan indikator p****aman suara dan video yang sedang berjalan secara *real-time*. Di bagian atas layar, tertulis status: *Connected to Command Center Polres Metro*.
"Ponsel Nara udah terhubung langsung ke sistem kepolisian sejak kita ma**k ke kamar ini," jelas Arga dengan nada puas. "Semua ucapan lo, ekspresi panik lo, dan pengakuan lo yang sebentar lagi bakal keluar, udah direkam dan disaksikan langsung oleh tim penyidik di polres. Paman Nara itu salah satu perwira di sana. Kita nggak lagi main-main, Roy. Ini skakmat buat lo."
Mendengar hal itu, pertahanan mental Roy runtuh sepenuhnya. Kepalanya terasa pening. Dunianya seolah runtuh dalam sekejap. Kenyataan bahwa karirnya, masa depannya, dan nama baik keluarganya akan hancur dalam hitungan menit membuat akal sehatnya hilang digerus kepanikan yang luar biasa.
"Gue... gue nggak sengaja!" teriak Roy tiba-tiba, suaranya pecah, dipenuhi emosi yang meledak-ledak. Air matanya bahkan mulai menetes karena frustrasi. "Shela yang mulai duluan! Cewek g*** itu... dia ngancem gue! Dia minta uang tutup mulut lima ratus juta! Dari mana gue punya uang sebanyak itu?!"
Arga dan Nara saling berpandangan. Roy akhirnya mengaku.
"Dia bilang, kalau gue nggak kasih uangnya dalam waktu tiga hari, dia bakal kirim semua file korupsi bokap gue ke dekanat dan media," lanjut Roy dengan napas memburu, dadanya kembang kempis. "Gue cuma mau rebut HP sama laptopnya malam itu! Tapi dia teriak-teriak! Dia histeris! Gue panik, Ga... Gue refleks bekap mulutnya, gue cekik lehernya biar dia diem. Tapi... tapi pas gue lepas, dia udah nggak napas..."
Roy menatap kedua tangannya sendiri yang gemetar, seolah baru menyadari bahwa tangan itulah yang telah merenggut nyawa Shela.
"Terus lo gantung dia? Biar kelihatan bunuh diri?" tanya Nara, suaranya bergetar menahan tangis sekaligus amarah yang luar biasa mendengar betapa egoisnya alasan Roy membunuh sahabatnya.
"Gue terpaksa!" Roy berteriak histeris, menatap Nara dengan tatapan liar. "Pak Bambang yang kasih ide itu! Dia yang bantu gue gantung jasad Shela dan bersihin semua sidik jari di kamar ini! Kalau gue nggak lakuin itu, hidup gue hancur! Masa depan gue hancur!"
"Hidup Shela udah hancur karena lo, ba******!" teriak Arga, emosinya akhirnya pecah. "Lo bunuh dia cuma demi nutupin kebusukan lo dan bokap lo!"
Roy terengah-engah. Kesadarannya kembali setelah melihat layar ponsel Nara yang masih terus merekam. Matanya beralih dari ponsel ke wajah Arga, lalu ke pintu kamar yang terkunci. Tatapannya berubah dari panik menjadi sangat gelap dan dingin. Tatapan seekor binatang buruan yang terpojok dan siap menyerang balik dengan brutal.
"Kalau gitu..." Roy meraba saku jas hujan plastiknya. Dengan gerakan cepat, dia menarik keluar sebilah pisau lipat yang tajam. Bilah logamnya berkilat ngeri di bawah cahaya lampu neon. "...gue nggak punya pilihan lain. Gue bakal habisin lo berdua, ambil HP itu, dan kabur dari kota ini!"
Nara menjerit kecil dan refleks mundur beberapa langkah.
Roy menerjang maju dengan pisau terhunus, mengarah langsung ke dada Arga. Arga yang kalah cepat hanya bisa menyilangkan kedua tangannya di depan dada, bersiap menahan rasa sakit yang mungkin akan menjadi akhir dari hidupnya.
*B**AAKKK!!!*
Pintu kayu Kamar No. 13 hancur berantakan.
Gagang pintu dan engselnya jebol akibat hantaman keras dari luar. Beberapa petugas kepolisian berseragam lengkap dan berpakaian preman langsung merangsek ma**k ke dalam kamar yang sempit itu.
"POLISI! JANGAN BERGERAK! JATUHKAN SENJATANYA!" teriak seorang perwira polisi dengan senjata api terarah lurus ke dada Roy.
Roy membeku di tempat. Pisau di tangannya bergetar hebat. Di belakang para polisi, tampak Pak Bambang, sang penjaga kos, sudah dalam kondisi kedua tangannya diborgol ke belakang, wajahnya lesu dan pucat pasi. Dia rupanya sudah diringkus terlebih dahulu saat mencoba melarikan diri lewat pintu belakang kosan.
"Jatuhkan pisaunya sekarang juga, atau kami tembak!" perintah polisi itu sekali lagi dengan nada menggelegar.
Melihat moncong pistol yang mengarah padanya dan jumlah polisi yang memenuhi ruangan, nyali Roy ciut seketika. Pisau lipat di tangannya terlepas, jatuh berdenting di atas lant** keramik yang dingin.
Dua orang polisi berbadan tegap langsung maju, memiting kedua lengan Roy ke belakang, dan menekannya ke lant** dengan kasar.
"Agh! Sakit! Lepasin gue!" teriak Roy kesakitan saat wajahnya ditekan ke lant**, namun polisi tidak peduli. Kedua tangannya langsung dikunci dengan borgol besi yang dingin.
"Roy Narendra, Anda kami tangkap atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap Shela Anastasia dan keterlibatan dalam ka**s korupsi," ucap salah satu polisi berpakaian preman sambil membacakan hak-hak Roy.
Arga mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya. Tubuhnya mendadak terasa lemas, hingga dia harus berpegangan pada tepi lemari agar tidak jatuh terduduk. Di sampingnya, Nara langsung memeluk lengan Arga dengan erat, air matanya akhirnya tumpah karena rasa lega yang luar biasa.
"Kita berhasil, Ga... Kita berhasil," bisik Nara dengan suara parau di sela tangisnya.
Arga menepuk-nepuk bahu Nara pelan, lalu menatap Roy yang kini diseret paksa keluar dari Kamar No. 13 oleh para polisi. Saat melewati Arga, Roy sempat menatapnya dengan tatapan penuh dendam, namun Arga hanya membalasnya dengan tatapan dingin yang kosong.
Kamar No. 13 yang selama berminggu-minggu ini terasa mencekam dan penuh misteri, perlahan mulai terasa lebih hangat. Kebenaran akhirnya terungkap di bawah badai malam ini. Keadilan untuk Shela akhirnya menemui jalannya.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!