BAB 14: PARTNER BARU, KA**S BARU
Rasanya aneh melihat ruangan sidang skripsi yang biasanya terasa seperti ruang eksekusi mati, mendadak berubah jadi hangat. Siang itu, begitu tiga dosen penguji menyatakan Arga lulus dengan nilai A, cowok itu cuma bisa mengembuskan napas panjang. Beban seberat beberapa ton yang selama ini menggelayuti pundaknya mendadak runtuh begitu saja.
Nama Arga bersih. Bersih total.
Setelah polisi meringkus Roy malam itu di Kamar No. 13 dengan semua bukti yang tak terbantahkanβterma**k rekaman pengakuan Roy yang diam-diam dinyalakan Nara lewat ponselnyaβseluruh kampus langsung gempar. Gosip miring tentang Arga yang dituduh sebagai pembunuh berant** lenyap dalam semalam, digantikan oleh tatapan penuh hormat, kagum, dan rasa bersalah dari teman-teman satu jurusannya yang dulu sempat menjauhinya seperti wabah penyakit.
Bahkan beberapa anak yang dulu paling kencang menyebar rumor jahat tentang Arga, tiba-tiba sok akrab dan menawari Arga traktiran kopi di kantin. Arga tentu saja menolak dengan halus. Dia bukan tipe orang yang gampang lupa cara orang lain memperlakukannya saat dia sedang berada di titik terendah.
Namun, setelah semua kehebohan itu mereda, setelah euforia kelulusan dan wisuda berlalu, kehidupan Arga justru kembali ke setelan pabrik. Dan jujur saja, itu sangat membosankan.
Ternyata, kembali ke kehidupan normal yang damai dan biasa-biasa saja tidak seindah yang dia bayangkan. Menghabiskan waktu seharian di ka**r, scrolling media sosial sampai jempol pegal, atau menonton serial Netflix sampai matanya sepet, sama sekali tidak bisa memuaskan rasa haus di dalam kepalanya. Otaknya yang kemarin dipaksa bekerja keras memecahkan teka-teki pembunuhan berdarah dingin, sekarang mendadak mogok kerja karena tidak ada a**pan misteri.
Arga merasa seperti detektif pensiunan yang dipaksa hidup tenang di desa, padahal jiwanya masih tertinggal di medan perang.
"Bener-bener gabut parah," gumam Arga sambil melempar kaus oblongnya ke dalam kardus besar.
Siang itu, cuaca di luar c**up terik. Kamar kos No. 13 yang dulunya terasa sangat mencekam dan dingin, kini kelihatan biasa saja di bawah guyuran cahaya matahari yang menerobos ma**k lewat jendela yang terbuka lebar. Bau anyir darah dan hawa mistis yang dulu sempat melekat kuat di ruangan ini sudah lama menguap, digantikan bau kardus cokelat dan kapur barus yang menyengat.
Arga sedang beres-beres. Dia memutuskan untuk segera pindah dari kosan ini. Bukan karena dia masih takut atau traumaβtidak, setelah berhadapan langsung dengan pembunuh aslinya, hantu di kamar ini rasanya jadi tidak ada apa-apanya. Arga pindah murni karena dia sudah lulus dan masa sewa kamarnya memang sudah habis minggu ini.
Satu per satu bukunya dia ma**kkan ke dalam kardus. Saat dia sedang melakban bagian atas kardus dengan suara berisik yang khas, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya yang terbuka lebar.
*Tok! Tok! Tok!*
Arga menoleh. Di ambang pintu berdiri seorang cewek dengan rambut dikuncir kuda asal-asalan, mengenakan jaket denim kebesaran, celana jins robek di bagian lutut, dan sepatu sneakers putih yang sudah agak dekil. Di bahunya tersampir sebuah tote bag kanvas berwarna hitam.
Nara.
Cewek itu menyandarkan bahunya di kusen pintu sambil melipat kedua tangannya di dada. Senyum jahil yang sangat familier terukir di wajahnya yang manis.
"Yaelah, rapi bener. Mau minggat ke mana lo, Ga?" tanya Nara dengan nada meledek yang khas.
Arga mendengus pelan, tapi sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan rasa senang melihat kehadiran cewek itu. "Ya pindahlah. Masa gue mau selamanya tinggal di kamar bekas TKP? Lagian gue udah lulus. Udah jadi sarjana pengangguran sekarang."
Nara terkekeh. Dia melangkah ma**k ke dalam kamar tanpa permisi, melewati kardus-kardus yang menumpuk di lant**, lalu dengan sant**nya mendudukkan diri di pinggiran ka**r Arga yang sudah tidak seprai lagi.
"Sarjana pengangguran yang udah berhasil mecahin ka**s pembunuhan tersulit di kampus ini, maksud lo?" ralat Nara sambil menaikkan satu alisnya. "Lo harusnya bangga, Ga. Kalau bukan karena otak encer lo yang agak aneh itu, mungkin sekarang kita berdua udah jadi pajangan di museum forensik gara-gara dihabisi sama si Roy."
"Dan kalau bukan karena nekatnya lo yang di luar nalar itu, kita nggak bakal punya bukti rekaman buat jeblosin dia ke penjara," balas Arga sambil mendudukkan diri di atas salah satu kardus bukunya yang c**up kokoh. Dia menatap Nara lekat-lekat. "Btw, lo ngapain ke sini? Nggak ada kelas?"
"Gue sengaja bolos kelas terakhir. Bosen, dosennya ngejelasin materi kayak lagi baca dongeng sebelum tidur," sahut Nara enteng. Dia merogoh sesuatu dari dalam tote bag-nya. "Lagian, gue ke sini karena tahu lo pasti lagi mati kebosanan di kamar ini."
"Sok tahu lo."
"Gue emang tahu. Muka lo itu kebaca banget, Ga. Lo itu tipe orang yang kalau nggak mikir keras sehari aja, mukanya langsung kayak kanebo kering. Kusut."
Arga cuma bisa pasrah karena apa yang dikatakan Nara barangkali ada benarnya. Dia memang merindukan sensasi menegangkan saat mereka berdua menyelidiki ka**s Shela tempo hari. Adrenalin yang terpacu, detak jantung yang berdebar cepat, dan kepuasan luar biasa saat semua potongan teka-teki akhirnya terpasang di tempatnya.
"Terus, lo ke sini cuma mau ngehina muka kusut gue?" tanya Arga sambil menopang dagunya dengan tangan.
Nara tidak langsung menjawab. Senyumnya melebar, jenis senyuman penuh rahasia yang selalu membuat Arga otomatis waspada sekaligus penasaran setengah mati. Dengan gerakan dramatis, Nara mengeluarkan sebuah map cokelat tebal dari dalam tasnya.
*Plak!*
Nara melemparkan map cokelat itu ke atas ka**r tepat di sebelah tempatnya duduk.
Arga mengernyitkan dahi. Pandangannya beralih dari map itu ke wajah Nara, lalu kembali ke map itu lagi. "Apaan nih? Skripsi lo yang ditolak dosen pembimbing?"
"Sembarangan! Skripsi gue aman ya," gerutu Nara sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Namun detik berikutnya, matanya kembali berbinar misterius. "Itu ka**s baru, Ga. Super aneh. Dan gue yakin, cuma lo yang bisa bantu gue mecahin ini."
Rasa penasaran di dalam diri Arga mendadak memberontak. Jiwa detektifnya yang sempat tertidur langsung melek sepenuhnya. Tanpa membuang waktu, Arga bergeser mendekat ke ka**r dan meraih map cokelat tersebut. Dia membuka talinya perlahan, lalu mengeluarkan tumpukan kertas di dalamnya.
Di lembar pertama, ada beberapa foto print out berkualitas tinggi. Foto-foto itu menunjukkan sebuah ruangan galeri seni yang sangat megah, namun yang aneh adalah beberapa lukisan klasik yang dipajang di sana tampak rusak. Kerusakannya bukan karena robek atau terbakar, melainkan seperti dicoreti dengan cairan merah pekat yang membentuk pola-pola aneh.
"Ini... darah?" tanya Arga, matanya menyipit fokus memperhatikan det**l foto tersebut.
"Bukan cuma darah biasa, Ga. Itu darah manusia," jelas Nara, nadanya mendadak berubah serius. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Arga. "Ka**s ini terjadi di Galeri Seni 'Arsenio' milik salah satu kolektor terkaya di kota ini. Tiga malam berturut-turut, lukisan-lukisan paling mahal di sana selalu ditemukan dalam kondisi dicoreti darah segar setiap jam tiga pagi. Anehnya, sistem keamanan galeri itu super ketat. Sensor gerak, CCTV inframerah, sampai penjaga yang patroli tiap jam nggak mendeteksi adanya penyusup sama sekali. Pintunya terkunci rapat dari dalam."
Arga membolak-balik halaman berikutnya. Ada laporan polisi lokal yang tampaknya didapat Nara lewat 'jalur belakang', lengkap dengan biodata para staf galeri, denah bangunan, dan analisis forensik awal.
"Nggak ada tanda-tanda kerusakan di pintu atau jendela?" tanya Arga mulai menganalisis.
"Nggak ada sama sekali," jawab Nara cepat. "Bahkan polisi pun bingung. Pihak galeri mulai panik karena rumor mistis mulai menyebar. Orang-orang bilang galeri itu dikutuk sama arwah pelukis pertamanya yang mati bunuh diri. Tapi, lo dan gue tahu kan kalau di dunia ini nggak ada yang namanya kejahatan supernatural? Pasti ada penjelasan logisnya."
Arga membaca lembar analisis forensik tentang darah tersebut. Matanya membelalak kecil saat membaca satu baris kalimat di sana. "Tunggu... golongan darah dari coretan di tiga lukisan berbeda ini... semuanya beda? Ada tipe A, B, dan AB?"
Nara menjentikkan jarinya di depan wajah Arga, matanya berbinar senang karena Arga menyadari det**l penting itu dengan cepat. "Tepat banget! Berarti pelakunya nggak cuma pakai darahnya sendiri. Atau... dia punya lebih dari satu korban. Yang paling g***, salah satu golongan darah itu cocok sama golongan darah seorang kurator galeri yang dilaporkan hilang seminggu yang lalu."
Arga terdiam. Otaknya langsung berputar cepat, menghubungkan satu titik informasi ke titik lainnya. Misteri ini terasa begitu kompleks, berlapis-lapis, dan sangat menantang. Jauh lebih besar daripada ka**s yang mereka hadapi di kosan ini. Ada aroma konspirasi, penculikan, dan keg***an yang sangat kental di dalam map cokelat ini.
Dan entah kenapa, Arga merasa sangat bersemangat. Rasa bosan yang menyiksanya sejak tadi menguap tanpa sisa, digantikan oleh gairah yang meletup-letup di dadanya.
Arga mendongak, menatap Nara yang sedari tadi memperhatikannya dengan senyum kemenangan. "Lo dapet berkas ini dari mana, Ra? Ini kan dokumen rahasia penyelidikan."
Nara mengedipkan sebelah matanya dengan gaya centil yang menyebalkan tapi menggemaskan. "Gue punya koneksi, Ga. Sepupu gue itu detektif swasta yang disewa langsung sama pemilik galeri buat beresin masalah ini sebelum reputasi mereka hancur total di media. Dia tahu gue suka ikut-ikutan penyelidikan, makanya dia bagi info ini ke gue. Tapi dia juga bilang ka**s ini terlalu rumit buat dia tanganin sendirian."
Nara kemudian menggeser posisi duduknya hingga sangat dekat dengan Arga. Dia menatap Arga lurus-lurus, menghilangkan semua kesan bercanda dari wajahnya.
"Makanya, gue ke sini mau nawarin sesuatu yang resmi ke lo," kata Nara, suaranya terdengar serius namun penuh keyakinan.
"Nawarin apa?"
Nara mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Arga. "Mari kita resmi jadi partner detektif swasta, Ga. Lo punya otak analisis yang luar biasa tajam, dan gue punya insting, keberanian, plus koneksi yang lo nggak punya. Kita berdua itu kombinasi paling klop yang pernah ada. Daripada lo gabut nungguin pangg***n kerja korporat yang membosankan itu, mending lo ikut gue. Kita pecahin ka**s ini bareng-bareng."
Arga menatap uluran tangan Nara. Cahaya matahari sore yang mulai menguning menerobos ma**k, menyinari wajah cewek itu yang tampak sangat menawan dengan keyakinan yang terpancar dari matanya.
Arga melirik kardus-kardus pakaiannya yang sudah rapi dilakban. Dia memang akan pindah dari Kamar No. 13 ini. Kehidupan lamanya di tempat terkutuk ini sudah selesai. Tapi itu bukan berarti petualangannya harus berakhir. Justru, ini adalah awal yang baru.
Perlahan, sebuah senyuman tipis namun sangat lebar terukir di wajah Arga. Dia menyambut uluran tangan Nara, menjabatnya dengan erat.
"Oke," ucap Arga mantap. "Gue ikut. Jadi, kapan kita mulai penyelidikannya, Partner?"
Nara langsung tersenyum lebar hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Malam ini juga, Ga. Siapkan mental lo, karena kita bakal menyelinap ke galeri seni itu jam dua pagi."
Arga cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. Ya, inilah kehidupan baru yang dia inginkan. Tidak ada lagi kamar kos berhantu, tidak ada lagi ketakutan dituduh jadi pembunuh. Sekarang, hanya ada dia, Nara, dan sebuah misteri baru yang menunggu untuk dipecahkan.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!