Ada Mayat di Kamar Kos No. 13

Bab 2: Kejutan di Balik Pintu Lemari

Pengaturan Membaca

BAB 2: Kejutan di Balik Pintu Lemari

AC di kamar nomor 13 ini benar-benar dingin, tipe dingin yang menusuk sampai ke tulang. Arga merebahkan tubuhnya di atas ka**r *springbed* empuk yang masih tercium bau toko. Kamar ini luar biasa. Dindingnya bercat putih bersih, lant**nya menggunakan keramik abu-abu polos yang estetik, dan kamar mandinya bahkan dilengkapi dengan *shower* air hangat.

"G***, ini sih definisi nemu harta karun di tengah tempat pembuangan sampah," gumam Arga sambil menatap langit-langit kamar.

Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit. Arga menghela napas lega. Akhirnya, setelah drama diusir dari kosan lama dan muter-muter keliling kota sampai betisnya mau copot, dia bisa tidur dengan tenang. Besok pagi dia ada kelas Hukum Pidana jam delapan, dan untuk pertama kalinya dalam semester ini, dia yakin tidak akan datang terlambat dengan muka kucel.

Arga berguling ke samping, menatap satu-satunya barang di kamar ini yang terasa agak janggal: sebuah lemari pakaian kayu jati berukuran besar di sudut ruangan.

Berbeda dengan furnitur lain yang serba modern dan minimalis, lemari itu terlihat sangat kuno. Kayunya berwarna cokelat tua hampir hitam, dengan ukiran-ukiran sulur tanaman yang rumit di sepanjang pinggirannya. Ada kesan berat, tua, dan agak... suram dari lemari itu. Tapi Arga tidak mau ambil pusing. Mungkin Pak Bambang, sang pemilik kos, kehabisan bujet untuk membeli lemari baru dan akhirnya menaruh lemari bekas milik neneknya di sini. Yang penting gratis dan muat banyak baju.

"Yuk, rapi-rapi bentar habis itu tidur," bisik Arga pada diri sendiri, mencoba menyemangati tubuhnya yang sudah minta jatah istirahat.

Arga bangkit dari ka**r, lalu menyeret tas ransel besar dan kardus mie instan berisi tumpukan bajunya ke dekat lemari. Begitu dia berdiri tepat di depan pintu lemari tersebut, embusan angin dingin yang aneh mendadak menyapu tengkuknya. Arga bergidik spontan.

"AC-nya bocor ke arah sini apa ya?" desisnya sambil mengusap leher.

Saat itulah indra penciumannya menangkap sesuatu.

Sebuah aroma yang sangat tidak asing, tapi sekaligus sangat tidak ingin dia cium di dalam kamar tidurnya. Bau itu tipis pada awalnya, menguar samar di antara wangi pengharum ruangan rasa jeruk yang tadi sempat dia semprotkan. Bau amis yang pekat, bercampur dengan aroma manis yang memuakkanβ€”seperti bau daging mentah yang dibiarkan membusuk di dalam kantong plastik selama berhari-hari.

Arga mengernyitkan dahi. Dia mendekatkan hidungnya ke celah pintu lemari kayu tersebut.

*Sniff.*

"A****, bau apaan nih? Tikus mati?" Arga menutup hidungnya dengan punggung tangan. Bau busuk itu langsung menusuk rongga hidungnya, membuat perutnya seketika mual dan bergejolak.

Dengan rasa penasaran bercampur dongkol karena takut baju-bajunya nanti bakal ketularan bau bangkai, Arga memegang gagang pintu lemari yang terbuat dari besi kuningan dingin. Dia memutar kuncinya yang ternyata tidak terkunci.

*Kreeeeekkk...*

Pintu lemari kayu itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit panjang yang rasanya sanggup membuat bulu kuduk siapa pun meremang.

Gelap. Bagian dalam lemari itu sangat gelap karena lampu kamar Arga yang berwarna putih tidak c**up kuat menyinari sudut dalam lemari yang dalam. Namun, bau busuk bercampur anyir darah segar langsung menyembur keluar seperti gas beracun. Arga terbatuk-batuk, menutup hidung dan mulutnya rapat-rapat dengan kaos hitamnya.

"G***, ini sih bukan tikus! Jangan-jangan ada kucing mati di dalβ€”"

Kalimat Arga terputus di tenggorokan.

Matanya yang mulai terbiasa dengan kegelapan menangkap bayangan sebuah objek besar yang bersandar di dalam lemari. Belum sempat otak mahasiswa hukumnya memproses apa yang sedang dia lihat, objek di dalam lemari itu tiba-tiba bergerak condong ke depan. Kehilangan keseimbangan karena pintu yang menyangganya kini terbuka lebar.

*Bruk!*

Sesosok tubuh manusia ambruk ke depan, langsung menimpa tubuh Arga yang masih mematung di tempat.

"Aaaakh!"

Arga berteriak kaget saat tubuhnya terjerembab ke lant** keramik yang dingin, dengan beban berat yang menindih dadanya. Refleks, tangan Arga mencoba mendorong beban tersebut untuk menyingkirkannya. Namun, telapak tangannya justru menyentuh sesuatu yang terasa dingin, kenyal, dan... basah.

Sentuhan itu terasa seperti es, tapi lengket.

Arga menundukkan kepala dengan napas memburu. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga telinganya berdenging. Di bawah temaram cahaya lampu kamar, dia akhirnya bisa melihat dengan jelas apaβ€”atau siapaβ€”yang sedang menindihnya saat ini.

Itu adalah seorang perempuan.

Wajahnya sangat cantik, dengan kulit putih pucat yang kini telah berubah warna menjadi kebiruan di beberapa bagian. Rambut hitam panjangnya yang lurus tampak acak-acakan, sebagian menempel di pipinya yang dingin karena keringat atau cairan lain. Matanya yang bulat setengah terbuka, menatap kosong ke arah langit-langit kamar dengan pupil yang sudah melebar sepenuhnya.

Perempuan itu mengenakan gaun malam berwarna merah menyala. Gaun itu robek besar di bagian bahu dan dada, memperlihatkan luka robek menganga yang mengerikan di lehernya. Cairan merah kehitaman yang sudah mulai mengering mengotori gaun merah tersebut, menjalar hingga ke lant** keramik kamar Arga.

Itu mayat. Sesosok mayat perempuan yang masih hangat.

"Ba*****! Ba*****! Ba*****!" Arga berteriak histeris. Seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Dengan sisa-sisa tenaga yang digerakkan oleh rasa panik luar biasa, Arga merangkak mundur dengan liar, menendang-nendang kakinya ke lant** untuk menjauhkan diri dari mayat tersebut. Punggungnya menghantam kaki tempat tidur dengan keras, tapi dia tidak peduli. Matanya melebar penuh teror, menatap mayat gaun merah yang kini tergeletak telentang di lant** kamarnya, tepat di depan lemari yang terbuka lebar.

Napas Arga terengah-engah seperti orang yang hampir tenggelam. Keringat dingin bercucuran deras membasahi dahi dan pelipisnya. Otaknya mendadak macet. Semua teori hukum, pasal-pasal pembunuhan, dan logika yang dia pelajari di kampus menguap begitu saja, digantikan oleh rasa takut yang murni dan primitif.

"Enggak, enggak mungkin... Ini mimpi. Gue pasti ketiduran di warkop tadi," gumam Arga dengan suara bergetar hebat. Dia menampar pipinya sendiri berkali-kali. Sakit. Ini nyata.

Dia melihat tangannya sendiri. Telapak tangan kanannya dipenuhi noda merah pekat yang berbau anyir besi. Darah perempuan itu.

"Tolong! Tolong!" Arga mencoba berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan, hanya menghasilkan bisikan serak yang menyedihkan. Tenggorokannya mendadak sekering padang pasir.

Arga meraba-raba lant**, mencari ponselnya yang terjatuh di dekat bantal. Tangannya yang gemetar membuat ponsel itu sempat tergelincir dua kali sebelum akhirnya berhasil dia genggam. Dengan jari-jari yang belepotan darah, dia mencoba membuka kunci layar. Dia harus menelepon polisi. Dia harus menelepon Pak Bambang. Dia harus keluar dari kamar terkutuk ini sekarang juga!

Namun, sebelum jempolnya sempat menyentuh ikon pangg***n darurat, sebuah suara yang sangat dia kenal memecah keheningan malam dari arah luar.

*Wiuuuuu... wiuuuuu... wiuuuuu...*

Suara sirine polisi.

Suara itu melengking nyaring, memotong kesunyian malam dengan kejam. Tidak hanya satu, tapi terdengar seperti ada dua atau tiga mobil polisi yang sedang melaju kencang dengan kecepatan tinggi. Dan suara itu... terasa semakin dekat. Sangat dekat.

Jantung Arga rasanya mau copot. Dia merangkak mendekati jendela kamar, sedikit menyibak gorden abu-abunya untuk mengintip ke bawah.

Di depan gerbang besi Kos Ibu Pertiwi yang berwarna hitam, tiga mobil polisi berputar arah dan berhenti mendadak dengan ban yang mencit keras. Lampu rotator berwarna merah dan biru berputar-putar liar, memantulkan cahaya neon yang menyeramkan ke dinding-dinding kosan. Beberapa petugas polisi berseragam lengkap langsung turun dari mobil, beberapa di antaranya memegang senjata api.

"Buka gerbangnya! Buka!" terdengar teriakan tegas dari salah satu polisi menggunakan pengeras suara.

Arga berdiri mematung di balik gorden. Seluruh badannya mendadak lemas sampai dia harus berpegangan pada bingkai jendela agar tidak jatuh terduduk.

Bagaimana bisa polisi datang secepat ini? Kejadiannya bahkan belum lewat dari lima menit!

"Enggak... Ini nggak ma**k akal," bisik Arga, air matanya hampir menetes karena frustrasi dan ketakutan yang teramat sangat.

Dia menatap tangannya yang berlumuran darah, lalu melirik mayat perempuan bergaun merah yang terbujur kaku di lant** kamarnya. Di posisi ini, siapa pun yang melihatnya pasti akan langsung mengambil kesimpulan satu-satunya: Arga adalah pembunuhnya. Dia baru saja pindah, sendirian di kamar nomor 13, dengan mayat segar di lant** dan darah korban di tangannya.

Seseorang telah merencanakan ini semua. Seseorang sengaja menjebaknya.

Dari lant** bawah, terdengar suara gerbang besi yang dibuka paksa dengan keras, disusul suara langkah-langkah kaki bersepatu laras yang berlari menaiki tangga menuju lant** dua. Menuju kamarnya.

*Dug! Dug! Dug!*

Langkah-langkah kaki itu semakin dekat, menggema di lorong sunyi Kos Ibu Pertiwi, bersahut-sahutan dengan detak jantung Arga yang berpacu melawan maut.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca