Ada Mayat di Kamar Kos No. 13

Bab 3: Tersangka Utama Dadakan

Pengaturan Membaca

Pintu lemari kayu itu terbuka perlahan, mengeluarkan bunyi derit panjang yang membuat bulu kuduk Arga berdiri tegak.

Bau busuk yang tadi samar kini langsung menyeruak, menghantam indra penciuman Arga bagai gada besi. Arga spontan menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan, matanya terbelalak lebar menatap isi di dalam lemari.

Di sana, di antara gantungan baju kosong, sesosok tubuh manusia terduduk dengan posisi menekuk lutut. Kulitnya pucat kebiruan, dengan bercak darah kering yang mengotori kaus putih yang dikenakannya. Matanya setengah terbuka, menatap kosong ke arah luarβ€”tepat ke arah mata Arga.

"A****!"

Arga berteriak histeris. Kakinya lemas seketika. Dia langsung mundur teratur sampai punggungnya menab**k pintu kamar mandi. Napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang seperti mau copot dari rongga dada. Keringat dingin langsung memba****i pelipisnya.

Belum sempat Arga mencerna apa yang baru saja dia lihat, tiba-tibaβ€”

*B**KKK!*

Pintu kamar kos nomor 13 didob**k paksa dari luar hingga engselnya jebol.

"POLISI! JANGAN BERGERAK! ANGKAT TANGAN DI ATAS KEPALA!"

Empat orang pria berjaket kulit gelap merangsek ma**k ke dalam kamar yang sempit itu. Moncong pistol hitam langsung mengarah tepat ke wajah Arga. Arga yang masih syok setengah mati reflek mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, tubuhnya gemetaran hebat.

"P-Pak! Ada mayat! Di lemari ada mayat!" teriak Arga histeris, suaranya melengking saking paniknya.

"Tiarap! Jangan banyak alasan! Cepat tiarap!" bentak salah satu polisi berbadan tegap dengan kumis tebal.

Sebelum Arga sempat menjelaskan apa-apa, tubuh kurusnya sudah dipaksa tiarap ke lant** keramik yang dingin. Wajah sebelah kanannya ditekan ke lant**, sementara kedua tangannya ditarik kasar ke belakang punggung.

*KLIK.*

Sensasi dingin dari borgol besi yang mengunci kedua pergelangan tangannya membuat Arga lemas seketika. Air matanya hampir menetes karena rasa takut dan bingung yang luar biasa.

"Sumpah, Pak! Bukan saya yang bunuh! Saya baru pindah malam ini! Baru satu jam yang lalu!" teriak Arga, mencoba membela diri saat tubuhnya ditarik paksa untuk berdiri.

Polisi berkumis tebal yang belakangan diketahui bernama Inspektur Surya itu menatap Arga dengan pandangan dingin. Dia melirik ke arah lemari yang terbuka, lalu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk memeriksa mayat di dalam sana.

"Baru pindah?" Surya mendengus sinis. "Baru pindah tapi sudah ada laporan warga kalau kamu seret-seret karpet mencurigakan berisi mayat ke kamar ini. Jangan harap bisa mengelak, Dek. Kamu ikut kami ke kantor sekarang."

"Hah?! Karpet apa, Pak?! Saya cuma bawa kardus mi instan sama ransel!" Arga berteriak frustrasi, tapi suaranya langsung tenggelam saat polisi-polisi itu menyeretnya keluar dari area kosan, melewati tatapan ngeri dari beberapa penghuni kos lain yang mulai keluar kamar karena kegaduhan tersebut.

***

Ruang interogasi Polres Jakarta Selatan terasa sepuluh kali lebih dingin dibanding kamar kos nomor 13.

Arga duduk di kursi besi yang dipaku ke lant**. Kedua tangannya masih diborgol, diletakkan di atas meja logam abu-abu yang dingin. Di depannya, Inspektur Surya duduk dengan sant** sambil menyesap kopi hitam dari gelas kertas. Di samping Surya, ada sebuah map cokelat tebal yang berisi data diri Arga.

"Arga Mahardika. Umur dua puluh satu tahun. Mahasiswa semester lima Jurusan Hukum Pidana," Surya membaca lembaran kertas di depannya dengan suara datar. Dia lalu mendongak, menatap Arga tajam. "Jurusan Hukum Pidana, ya? Pantas saja kamu paham betul cara membuang mayat. Sayangnya, rencana kamu gagal total karena ada saksi mata."

"Pak, tolong dengerin saya dulu," pinta Arga, suaranya sudah serak karena dari tadi terus-menerus berteriak menjelaskan hal yang sama. "Sumpah demi apa pun, saya dijebak! Saya baru diusir dari kosan lama karena nunggak sewa tiga bulan. Terus saya nemu info kosan murah ini di internet. Pemiliknya namanya Pak Bambang. Saya baru nyampe sana jam sebelas malam lewat! Gimana caranya saya bunuh orang, ma**kin ke lemari, terus lapor ke polisi sendiri?!"

"Bukan kamu yang lapor, tapi ada telepon misterius dari seseorang yang mengaku melihat kamu menyeret bungkusan besar mirip tubuh manusia ke kamar nomor 13 pada pukul sebelas lewat sepuluh," Surya mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. "Dan tebak apa? Ciri-ciri fisik orang yang dilaporkan itu sangat cocok dengan kamu. Tinggi kurus, pakai hoodie hitam, dan celana jins robek-robek. Mau mengelak pakai alibi apa lagi?"

Arga menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi, membuat borgol di tangannya berdenting nyaring. "Pak! Hoodie hitam di Jakarta ini ada jutaan! Celana jins robek juga semua mahasiswa pakai! Itu fitnah, Pak! Tolong cek CCTV atau apa gitu!"

"Kosan itu bangunan tua di gang sempit, tidak ada CCTV di sekitarnya," jawab Surya dingin. "Ditambah lagi, sidik jari kamu ada di gagang pintu lemari tempat mayat itu disimpan."

"Ya jelas ada! Kan saya baru mau buka lemarinya buat naruh baju! Baru juga megang gagangnya, belum sempat buka lebar-lebar, bapak-bapak sekalian udah keburu ngedorong pintu kamar saya!" Arga rasanya ingin menangis saking tidak berdayanya. Ini benar-benar mimpi buruk. Bagaimana bisa dia, seorang mahasiswa cupu yang bahkan takut melihat kecoak mati, tiba-tiba dituduh sebagai pelaku pembunuhan berencana?

Pintu ruang interogasi tiba-tiba terbuka dengan bunyi *klek* yang pelan.

Arga dan Surya spontan menoleh ke arah pintu.

Seorang gadis berjalan ma**k dengan sant**. Penampilannya sangat kontras dengan atmosfer ruangan yang tegang dan formal. Gadis itu mengenakan jaket *bomber* kebesaran berwarna hijau tentara, celana cargo hitam, dan sepatu bot kulit yang tampak kokoh. Rambut hitamnya dipotong pendek bergaya *wolfcut* acak-acakan yang estetik. Di telinganya terpasang *headphone* nirkabel yang dikalungkan di leher, dan di tangan kanannya ada segelas es kopi susu kekinian.

Wajah cewek itu sangat manis, tapi ekspresinya datar, dingin, dan kelihatan sangat cuek.

"Dek Nara? Kok bisa ma**k ke sini? Ini ruang interogasi steril," ujar Surya dengan nada suara yang anehnya langsung melembut, tidak segarang saat menginterogasi Arga tadi.

Cewek bernama Nara itu menyedot es kopinya hingga berbunyi *nyot*, lalu menaruh gelas plastik itu di atas meja interogasi tanpa dosa. Dia menatap Arga dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai yang membuat Arga merasa risi.

"Pak Surya, polisi di sini emang hobi banget ya buang-buang anggaran buat nahan orang b***?" tanya Nara datar. Suaranya serak-serak basah, tapi kata-katanya langsung menusuk ulu hati.

Arga melongo. "Heh! Siapa yang lu sebut b***?!"

Nara bahkan tidak melirik Arga saat menjawab. Dia mengeluarkan sebuah ponsel dari kantong jaketnya dan meletakkannya di depan Surya.

"Namanya Arga. Mahasiswa bokek yang saldo rekeningnya cuma sisa lima puluh ribu rupiah. Dia diusir dari kosan lamanya di daerah belakang kampus jam sembilan malam karena belum bayar sewa. Dia jalan kaki keliling area sana nyari kosan murah, dan baru dapet kontak pemilik kos nomor 13 lewat grup Facebook 'Cari Kos Murah Jaksel' pada pukul sepuluh lewat lima belas menit. Semua bukti *chat* dan transaksi pembayaran DP kosan sebesar dua ratus ribu ada di sini," Nara menjelaskan dengan nada malas, seolah sedang membaca daftar belanjaan.

Surya mengernyitkan dahi, memeriksa ponsel yang disodorkan Nara. "Dari mana kamu dapet data-data pribadi ini, Nara? Dan kenapa kamu ikut campur?"

Nara menghela napas panjang, lalu menarik kursi kosong di sudut ruangan dan mendudukinya dengan gaya sant**, menyilangkan satu kakinya di atas paha.

"Keluarga korban yang tewas di lemari itu, namanya Tania, menyewa bos gue untuk menyelidiki hilangnya anak mereka sejak dua hari lalu. Dan karena bos gue lagi malas gerak karena encoknya kambuh, dia menyuruh gue, asistennya yang paling rajin dan kurang dibayar ini, untuk datang ke TKP," Nara memutar bola matanya malas. "Begitu gue denger polisi langsung nangkep tersangka dalam waktu kurang dari setengah jam setelah mayat ditemuin, gue langsung tahu ada yang gak beres."

Nara kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Arga. Tatapan matanya yang tajam mengunci mata Arga yang masih kemerahan karena panik.

"Lihat mukanya, Pak Surya. Matanya sayu, ada lingkaran hitam besar kayak panda karena kurang tidur akibat dikejar *deadline* tugas kuliah. Jalannya agak pincang karena kecapekan jalan kaki. Dan yang paling penting..." Nara menunjuk ke arah kaki Arga. "Tali sepatu kanannya lepas dan dia bahkan gak sadar. Orang se-clueless dan se-ceroboh ini gak mungkin punya kapasitas otak untuk merencanakan pembunuhan rapi, menyembunyikan mayat di dalam lemari jati kuno seberat seratus kilo, lalu dengan bodohnya tidur di ka**r yang cuma berjarak dua meter dari mayat itu."

Arga merasa terselamatkan oleh penjelasan cewek itu, tapi di sisi lain, dia juga merasa harga dirinya sebagai laki-laki diinjak-ujung sampai hancur tak bersisa.

"Gue emang panik, tapi gak usah bawa-bawa kapasitas otak juga kali!" protes Arga pelan, suaranya mencicit karena dia sadar posisinya sekarang masih sangat lemah.

Nara mengabaikan protes Arga. Dia kembali menatap Inspektur Surya. "Telepon misterius yang bapak terima itu jelas-jelas taktik pengalihan isu. Si pembunuh yang asli sengaja meletakkan mayat Tania di kamar nomor 13 karena tahu kamar itu kosong dan akan segera disewa oleh target yang gampang dijebak. Begitu Arga ma**k kamar, si pembunuh langsung telepon polisi biar Arga langsung ditangkap basah."

Surya tampak berpikir keras. Dia mengetuk-ngetuk jarinya di meja lagi, sisa kopinya kini sudah dingin. "Tapi Nara, argumen kamu tidak bisa langsung membebaskan dia begitu saja. Sidik jarinya ada di TKP, dan kita butuh bukti fisik lain yang menunjukkan kalau ada orang lain yang ma**k ke kamar itu sebelum Arga."

Nara mendengus pelan, lalu merogoh kantong jaketnya lagi. Dia mengeluarkan sebuah kantong plastik klip kecil transparan dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping gelas kopinya.

Di dalam kantong plastik itu, terdapat selembar tiket parkir minimarket yang robek sebagian, dan sebuah puntung rokok dengan merek impor yang c**up mahal.

"Gue nemu ini di bawah ranjang kamar nomor 13 sebelum anak buah bapak ngacak-ngacak TKP," kata Nara datar. "Tiket parkir ini tertanggal kemarin malam jam sepuluh. Dan puntung rokok ini... Arga bahkan gak punya duit buat beli rokok ketengan di warung madura, apalagi rokok impor kayak gini. Sidik jari di puntung rokok ini pasti bakal cocok sama pembunuh yang asli. Sekarang, masih mau nahan anak malang ini dan membiarkan pembunuh yang sebenarnya berkeliaran di luar sana?"

Surya menatap kantong plastik klip itu, lalu menatap Arga, dan akhirnya kembali menatap Nara dengan helaan napas pasrah.

"Kamu selalu selangkah lebih cepat, Nara. Sama persis kayak bos kamu yang menyebalkan itu," gumam Surya sambil meraih kunci borgol dari sakunya.

Begitu borgol di tangannya terlepas, Arga langsung mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah. Dia menatap Nara dengan pandangan campur aduk antara kagum, takut, dan sedikit kesal karena kata-kata pedas cewek itu.

"Makasih... ya," bisik Arga canggung.

Nara bangkit dari kursinya, menyampirkan kembali kabel *headphone*-nya ke telinga, lalu mengambil sisa es kopinya. Dia melirik Arga sekilas dengan tatapan dinginnya yang khas.

"Gak usah makasih. Gue nolongin lo bukan karena kasihan, tapi karena gue gak suka liat polisi kerja asal-asalan dan bikin ka**s ini makin lama kelar," ujar Nara ketus. "Lagipula, lo belum sepenuhnya bebas. Selama pembunuh aslinya belum ketangkep, lo masih jadi saksi kunci. Jadi, siap-siap aja hidup lo bakal makin ribet setelah ini."

Nara berbalik dan berjalan keluar dari ruang interogasi tanpa menunggu jawaban dari Arga.

Arga hanya bisa melongo menatap punggung cewek itu yang perlahan menghilang di balik pintu, menyadari bahwa hidupnya yang tenang sebagai mahasiswa biasa baru saja berakhir malam ini di kamar kos nomor 13.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca