Ada Mayat di Kamar Kos No. 13

Bab 4: Partner Berisik

Pengaturan Membaca

Bab 4: Partner Berisik

AC di ruang interogasi Polres Jakarta Selatan tampaknya sengaja disetel ke suhu paling ekstrem. Arga merasa seluruh persendiannya membeku. Kedua tangannya masih gemetar, saling meremas di atas meja kayu yang dingin. Di depannya, sebuah lampu sorot mini yang super terang diarahkan tepat ke wajahnya, membuat matanya perih.

"Jadi, kamu masih mau mengelak?"

Inspektur Surya menepuk meja dengan keras. Suara baritonnya menggema, sukses membuat Arga tersentak kaget sampai hampir melompat dari kursi.

"Sumpah, Pak! Demi Tuhan, saya gak tahu-menahu soal mayat itu!" Arga nyaris menangis. Suaranya serak karena terlalu banyak berteriak histeris sejak dua jam yang lalu. "Saya baru pindah malam ini. Baru banget! Saya mahasiswa baru di UI, Pak. Masa depan saya masih panjang, gak mungkin saya nekat bunuh orang!"

"Tapi ada laporan warga yang melihat kamu menyeret karpet mencurigakan ke dalam kamar, Arga. Dan faktanya, mayat itu ada di dalam lemari kamarmu. Sidik jari siapa lagi yang mau kami cari?" Surya menyipitkan mata, menatap Arga seolah remaja di depannya ini adalah psikopat berdarah dingin yang pandai berakting.

"Gak tahu, Pak! Mungkin pembunuh aslinya sengaja taruh di situ sebelum saya datang! Karpet itu... saya bahkan gak punya karpet!" Arga menjambak rambutnya sendiri, frustrasi setengah mati. Kepalanya rasanya mau pecah.

Di sudut ruangan yang agak gelap, di luar jangkauan sorotan lampu, terdengar suara helaan napas panjang. Suara itu disusul oleh bunyi sedotan sedotan es kopi yang nyaris habis.

*Sreeeeet... sreeet...*

Arga menoleh. Di sana, duduk seorang cewek dengan kaus *oversized* hitam dan celana kargo longgar. Rambut sebahu miliknya diikat asal-asalan dengan jepitan badai berwarna lilac. Sejak awal interogasi, cewek itu cuma duduk diam sambil main ponsel dan menyeruput kopi cup-nya, membuat Arga sempat mengira dia adalah anak magang gabut atau anak Inspektur Surya yang numpang wifi kantor polisi.

Cewek itu meletakkan cup kopinya ke meja, lalu berdiri dan melangkah ma**k ke area terang. Dia menatap Arga dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sangat menyebalkan.

"Om Surya," panggil cewek itu dengan nada sant**, beralih menatap polisi berkumis tebal di samping Arga. "Kayaknya Om harus cek mata deh ke dokter spesialis. Atau minimal, mulai minum vitamin otak."

Surya melotot. "Nara! Jaga ucapan kamu. Ini sedang interogasi resmi!"

Cewek bernama Nara itu malah memutar bola matanya malas. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah meja, menatap lembaran berkas ka**s yang berantakan.

"Resmi apanya kalau analisisnya dangkal gini?" Nara mengetuk-ngetuk jarinya ke foto TKP. "Coba Om pikir pakai logika sehat. Pertama, tinggi korban sekitar 175 senti, berat badannya sekitar 70 kilo karena posturnya agak berisi. Sekarang, Om lihat anak ini." Nara menunjuk Arga dengan jempolnya.

"Dia kurus kering kayak tiang jemuran kena angin puting beliung. Beratnya paling cuma 55 kilo. Ototnya aja gak kelihatan. Gimana caranya cowok selemah syahwat ini bisa gotong mayat seberat itu sendirian, ma**kin ke dalam lemari sempit dengan posisi menekuk sempurna, tanpa bikin kekacauan di kamar yang sekecil liang lahat itu?"

Arga melongo. Di satu sisi, dia merasa terselamatkan oleh argumen cewek ini. Di sisi lain, dia merasa agak tersinggung karena fisiknya dihina secara terang-terangan di depan polisi. *Gue gak selemah itu juga kali!* batin Arga dongkol.

"Bisa saja dia punya kaki tangan, Nara," bantah Surya, meski nadanya mulai terdengar ragu.

"Oke, poin kedua," lanjut Nara, tidak memedulikan bantahan pamannya. "Saksi bilang melihat orang mirip Arga menyeret karpet jam delapan malam. Tapi hasil pemeriksaan luar dari tim medis yang baru ma**k lewat WhatsApp gue nihβ€”" Nara menggoyangkan ponselnya di depan wajah Surya, "β€”menunjukkan kalau kaku mayat korban sudah mulai hilang. Artinya, korban sudah meninggal minimal 24 sampai 36 jam yang lalu. Kalau korban dibunuh 24 jam lalu, dan Arga baru menerima kunci kos dari Ibu Kos jam 5 sore tadi, di mana Arga menyimpan mayat itu sebelumnya? Di ranselnya yang cuma muat laptop sama baju ganti?"

Surya terdiam. Dia mengambil berkas visum sementara dan membacanya dengan teliti. Dahinya berkerut dalam.

"Satu lagi," Nara tersenyum miring, menatap Arga yang kini memandangnya dengan mata berbinar penuh harapan. "Gak ada bekas seretan darah atau serat karpet di lant** koridor kosan. Kamar nomor 13 itu juga bersih dari cipratan darah, padahal ada luka tusuk di dada korban. Artinya, korban dibunuh di tempat lain, lalu dipindahkan ke sana. Dan yang paling penting... kunci kamar kos nomor 13 itu cuma ada dua. Satu dipegang Ibu Kos, satu lagi baru diserahin ke Arga. Logis gak sih kalau pembunuh aslinya adalah orang yang punya akses ma**k ke kamar itu sebelum Arga tiba?"

Sunyi sesaat melingkupi ruangan itu. Arga menahan napasnya, menanti reaksi dari Inspektur Surya.

"Jadi... maksudmu, anak ini dijebak?" tanya Surya akhirnya.

"Seratus persen dijebak. Dan jebakannya terlalu rapi, terlalu 'pas' sampai-sampai rasanya kayak sengaja disajiin di atas piring emas buat polisi yang malas mikir," sindir Nara telak, membuat Surya berdehem canggung untuk menutupi rasa malunya.

"Lalu, apa rencanamu?" Surya melipat tangannya di dada. Dia tahu betul keponakannya ini, meski masih berstatus mahasiswi kriminologi semester lima, punya otak yang jauh lebih encer dibanding detektif senior sekalipun.

Nara tersenyum lebar. Jenis senyum yang membuat bulu kuduk Arga mendadak meremang. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

"Kasih anak ini penangguhan penahanan selama tiga hari," cetus Nara sant**.

"Hah?! Gak bisa gitu dong! Dia tetap tersangka utama saat ini!" protes Surya.

"Bisa, Om. Om yang jadi jaminannya, atau pakai nama gue juga boleh. Tapi ada syaratnya," Nara berbalik sepenuhnya menghadap Arga. Dia menumpukan kedua tangannya di meja, mencondongkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa senti dari wajah Arga yang mendadak tegang.

"Dia harus balik ke kosan itu. Dan dia harus bantu gue menyelidiki ka**s ini dari dalam."

Arga tersedak ludahnya sendiri. "H-hah?! Balik ke kamar yang ada mayatnya?! Ogah! Gak mau! Mending gue tidur di sel sekalian!"

Nara mendengus geli. Dia menegakkan tubuhnya kembali, melipat tangan di dada dengan gaya bos besar yang sangat menyebalkan. "Oh, ya? Pilihan yang bagus. Silakan tidur di sel. Tapi lo perlu tahu, kalau ka**s ini ma**k pengadilan dengan bukti-bukti yang sengaja diarahkan ke lo, kemungkinan besar lo bakal divonis minimal 15 tahun penjara atas tuduhan pembunuhan berencana. Bye-bye kuliah di UI, bye-bye masa muda, dan selamat menikmati hari-hari suram di balik jeruji besi bareng napi-napi kelas berat."

Wajah Arga seketika pucat pasi. Gambaran masa depannya yang hancur lebur langsung berputar di kepalanya bagai film horor. Kuliah yang dia perjuangkan setengah mati, harapan orang tuanya di kampung... semuanya bisa lenyap begitu saja.

"Tapi... tapi kenapa harus gue?" tanya Arga lirih, suaranya gemetar.

"Karena lo umpan terbaiknya," jawab Nara tanpa beban. "Pembunuh aslinya pasti lagi mantau. Begitu dia tahu lo dibebasin dan balik ke kamar itu, dia bakal panik. Orang panik itu cenderung bikin kesalahan. Dan saat dia bikin kesalahan, di situ kita tangkap dia."

"Tapi gue gak bisa ditektif-detektifan! Gue cuma mahasiswa jurusan Teknik Sipil, bukan Sherlock Holmes!" seru Arga frustrasi.

"Gak perlu jadi Sherlock Holmes. C**up jadi mata dan kuping gue di kosan itu. Lagian, lo gak punya pilihan lain kan, Tiang Jemuran?" Nara mengedipkan sebelah matanya, sangat menyebalkan hingga Arga rasanya ingin mencakar wajah cewek itu.

Arga menatap Inspektur Surya, meminta pertolongan atau setidaknya opsi lain yang lebih manusiawi. Namun, polisi paruh baya itu malah menghela napas dan mengangguk setuju.

"Nara benar, Arga. Ini satu-satunya kesempatanmu untuk membersihkan namamu dengan cepat. Jika dalam tiga hari kalian tidak menemukan bukti baru yang mengarah ke pelaku asli, dengan sangat terpaksa saya harus menahanmu kembali secara resmi."

Arga memejamkan matanya rapat-rapat. Dadanya sesak. Kamar kos nomor 13 yang baru ditempatinya selama satu jam sudah berubah menjadi mimpi buruk, dan sekarang dia harus kembali ke sana bersama cewek asing yang berisik, sok tahu, dan menyebalkan ini.

"Oke," desis Arga akhirnya, membuka mata dengan pasrah. "Gue setuju. Tapi dengan satu syarat."

Nara mengangkat sebelah alisnya. "Apa?"

"Jangan panggil gue Tiang Jemuran lagi. Nama gue Arga!"

Nara malah tertawa renyah, suara tawanya terdengar sangat cempreng di telinga Arga yang sedang stres. "Deal, Partner Berisik. Mulai sekarang, hidup lo ada di tangan gue."

***

Pukul dua dini hari.

Garis polisi berwarna kuning masih terpasang melintang di depan pintu kamar kos nomor 13. Namun, garis itu sedikit diangkat oleh Nara agar mereka bisa menyelinap ma**k. Mayat yang tadi ada di dalam lemari memang sudah dievakuasi oleh tim forensik beberapa jam lalu, tapi bau amis samar dan aroma kapur barus yang menyengat masih tertinggal di udara, membuat lambung Arga bergolak mual.

"Kenapa kita harus ke sini malam-malam begini sih?" bisik Arga ngeri. Dia berdiri merapat di dekat pintu, tidak berani melangkah lebih jauh ke dalam ruangan yang remang-remang itu. Penerangan hanya berasal dari lampu koridor yang menembus jendela kaca buram.

"Malam hari itu waktu terbaik buat berpikir, Arga," sahut Nara sant**. Dia menyalakan senter dari ponselnya, mulai mengitari kamar kos yang sempit itu dengan langkah ringan, seolah-olah dia sedang berada di museum, bukan di TKP pembunuhan.

Nara berjongkok di depan lemari baju kayu yang pintunya masih sedikit terbuka. Tempat di mana mayat itu ditemukan terduduk. Dia menyorotkan cahaya senternya ke bagian dalam lemari, memperhatikan setiap sudut dengan sangat det**l.

"Arga, sini," panggil Nara tanpa menoleh.

"Gak mau. Gue di sini aja," tolak Arga keras kepala. Lututnya masih lemas kalau harus mengingat wajah pucat kebiruan mayat yang menatapnya tadi.

"Sini atau gue teriak biar semua penghuni kosan bangun dan ngeroyok lo karena dikira maling?" ancam Nara pelan, tapi sangat mematikan.

Arga mengumpat dalam hati. Dengan langkah terseret dan sangat enggan, dia mendekati Nara, menjaga jarak aman sejauh mungkin dari lemari terkutuk itu.

"Apaan?" tanya Arga ketus.

"Lihat ini." Nara menunjuk ke dasar lemari kayu. Ada noda melingkar yang agak basah dan berbau tajam. "Ini minyak pelumas. Dan lihat engsel lemarinya, bersih banget kan? Gak ada debu sama sekali."

"Terus hubungannya sama pembunuhan apa? Mungkin yang punya kosan rajin ngerawat lemari," sahut Arga asal.

Nara menoleh, menatap Arga dengan pandangan kasihan. "Lo beneran keterima di UI jalur murni atau nyogok sih? Lemari ini udah tua, kayunya aja udah mulai lapuk di bagian belakang. Gak mungkin dirawat sebersih ini kalau gak ada tujuannya. Engselnya sengaja dikasih minyak pelumas biar gak bunyi pas dibuka atau ditutup. Pembunuhnya tahu kalau kamar ini kosong, dan dia sering bolak-balik ke sini buat nyiapin tempat penyembunyian mayat ini."

Arga tertegun. Penjelasan Nara terdengar sangat ma**k akal. "Berarti... pembunuhnya adalah orang yang tahu persis kalau kamar nomor 13 ini bakal kosong dalam waktu lama?"

"Tepat sekali," Nara menjentikkan jarinya, terdengar puas karena otak partner barunya akhirnya mulai bekerja. "Dan dia juga tahu kalau kamar ini akhirnya bakal disewain ke orang lainβ€”yaitu lo. Dia sengaja naruh mayatnya di sini tepat sebelum lo pindah, biar lo yang dituduh."

"Jahat banget..." gumam Arga, mendadak merasa ngeri dengan kekejaman orang yang bahkan tidak dia kenal. "Tapi siapa? Gue gak punya musuh di Jakarta. Gue baru mendarat dari Jogja kemarin lusa!"

"Makanya, musuhnya bukan musuh lo, tapi musuh si korban. Atau mungkin... pelakunya adalah salah satu dari penghuni kosan ini." Nara berdiri, mengarahkan senternya ke langit-langit kamar yang tampak berjamur. "Besok pagi, tugas pertama lo adalah sok akrab sama tetangga-tetangga kos lo. Cari tahu siapa yang punya gelagat aneh, siapa yang paling sering nanya-nanya soal kamar nomor 13, dan siapa yang kelihatan paling kaget pas tahu lo gak ditahan polisi."

Arga menelan ludah. "Sok akrab? Gue ini aslinya introvert, Nara! Ngomong sama mbak-mbak kasir minimarket aja gue sering gugup, gimana caranya sok akrab sama calon pembunuh?!"

Nara menepuk bahu Arga dengan keras, membuat cowok itu hampir terjungkal. Nara tersenyum sangat lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

"Tenang aja, Partner. Kan ada gue yang bakal selalu berisik di kuping lo lewat *earpiece*. Lo cuma perlu jadi boneka manis gue. Gampang, kan?"

Arga menatap cewek di depannya dengan perasaan campur aduk antara menyesal, takut, dan pasrah. Dia tahu, tiga hari ke depan dalam hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dan dia baru saja menandatangani kontrak kerja sama dengan i**** berwujud cewek kuliahan yang super berisik.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca