"Sumpah, Nar, kalau kita sampai ketahuan polisi lagi, gue beneran bakal bilang ke Om Surya kalau ini semua ide g*** lo!"
Arga berbisik setengah mendesis, merapatkan punggungnya ke dinding lorong Kos Ibu Pertiwi yang remang-remang. Jantungnya berdegup kencang, saking kerasnya sampai dia merasa suaranya bisa terdengar oleh seluruh penghuni kos. Matanya melirik awas ke arah garis polisi berwarna kuning yang masih terpasang melintang di depan pintu Kamar No. 13—kamarnya. Bau disinfektan murah yang bercampur dengan sisa-sisa aroma amis aneh masih samar-samar tercium di udara, membuat perut Arga mual.
Nara, yang berjalan di depannya dengan sant**, cuma memutar bola mata malas. Cewek itu memakai topi bisbol hitam yang dipasang terbalik, menyembunyikan rambut sebahunya yang dikuncir asal. Di tangan kanannya, ada segelas es kopi susu kekinian yang es batunya sudah setengah mencair.
"Bisa diem gak, tiang jemuran?" cibir Nara tanpa menoleh. "Polisi itu udah beres olah TKP tadi siang. Sekarang mereka lagi sibuk di kantor. Lagian, siapa juga yang mau nangkep kita? Kita kan cuma mau 'silaturahmi' sama bapak kos lo yang super ramah itu."
"Silaturahmi dahi lo peyang!" Arga mengusap wajahnya frustrasi. "Kita ini lagi menyusup, Nara! Menyelidiki TKP tanpa izin itu ilegal!"
"Koreksi ya, Arga sayang. Kita gak ma**k ke Kamar 13. Kita cuma mau ngobrol sant** sama Pak Bambang di ruang kerjanya. Itu namanya bersosialisasi, bukan kriminal," sahut Nara kelewat enteng. Dia berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu bercat hijau tua di dekat tangga utama. Di atas pintu itu, ada papan kayu kecil bertuliskan: *KANTOR PENGELOLA*.
Nara menoleh ke Arga, memberikan kedipan mata yang menurut Arga sama sekali tidak membantu meredakan serangan paniknya. "Inget rencana kita. Lo ikutin aja alur gue. Jangan kelihatan b***, dan yang paling penting, jangan grogi."
Sebelum Arga sempat melayangkan protes lagi, Nara sudah mengetuk pintu kayu itu dengan ketukan berirama ceria.
*Tok! Tok! Tok!*
"Permisi... Pak Bambang?" panggil Nara dengan suara yang dibuat se-bubbly dan se-ramah mungkin. Kontras 180 derajat dengan suara ketus yang dia pakai saat bicara dengan Arga tadi.
Pintu perlahan terbuka. Dari celah pintu, muncullah wajah Pak Bambang. Pria paruh baya bertubuh agak tambun itu mengenakan kaus oblong putih dan celana pendek garis-garis. Begitu melihat Arga, matanya sempat melebar sekejap—sebuah reaksi instan yang langsung ditangkap oleh mata jeli Nara—sebelum akhirnya senyum super lebar dan ramah yang biasa menghiasi wajahnya kembali terpasang sempurna.
"Lho! Mas Arga?!" seru Pak Bambang dengan nada sangat terkejut sekaligus lega yang tampak sedikit dipaksakan. "Astagfirullah, Mas! Bapak khawatir sekali sejak kemarin malam. Kok... kok sudah keluar dari kantor polisi? Ndak apa-apa, toh?"
"Eh, iya, Pak. Alhamdulillah saya gak apa-apa. Cuma dimint** keterangan aja kemarin," jawab Arga, mencoba tersenyum senormal mungkin meski suaranya agak bergetar.
"Syukurlah, syukurlah!" Pak Bambang menepuk pundak Arga dengan akrab, namun genggamannya terasa sedikit terlalu kencang di bahu Arga. "Bapak itu kepikiran terus. Kos-kosan kita ini kan selalu aman, baru kali ini ada kejadian mengerikan begitu. Bapak sampai ndak bisa tidur semalaman!"
Nara langsung mengambil alih percakapan sebelum Arga sempat merusak suasana dengan kegugupannya. "Halo, Pak Bambang! Saya Nara, sepupunya Arga yang paling cantik," ucap Nara sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan senyum manis tanpa dosa. "Saya ke sini mau nemenin Arga beresin sisa barang-barangnya, sekalian mau nanya-nanya dikit boleh, Pak? Soalnya tante saya—ibunya Arga—khawatir banget pas denger kabar ada mayat di kamar anaknya."
Pak Bambang tampak agak ragu, tatapannya beralih dari Nara ke Arga, lalu kembali ke Nara. Namun, keramahan profesionalnya tampaknya menang. "Oh, iya, ndak apa-apa, Mbak Nara. Silakan ma**k dulu, ndak enak ngobrol di lorong begini. Mari, mari."
Ruang kerja Pak Bambang terbilang sempit dan agak pengap. Ada sebuah meja kayu besar yang dipenuhi tumpukan kertas, kalender meja tahun lalu, dan sebuah komputer tabung tua yang berdebu. Di sudut ruangan, sebuah kipas angin dinding berputar dengan suara derit yang berisik.
"Duduk dulu, Mbak, Mas. Maaf ya, berantakan sekali," kata Pak Bambang ramah, mempersilakan mereka duduk di sofa kulit imitasi yang busanya sudah kempes di beberapa bagian.
"Sant** aja, Pak. Malah estetik kok, kayak suasana vintage gitu," sahut Nara asal, yang langsung membuat Arga menyikut lengannya diam-diam. Nara mengabaikan Arga dan langsung duduk dengan menyilangkan kaki.
"Mau minum apa? Bapak punya teh botol dingin di kulkas belakang," tawar Pak Bambang, bersiap berdiri.
"Aduh, gak usah repot-repot, Pak. Ini saya masih ada es kopi," tolak Nara sopan sambil mengangkat cup minumannya. "Kami cuma mau ngobrol bentar kok. Arga ini kan syok banget ya, Pak. Bayangin aja, baru pindah hari pertama, eh malah dapet 'bonus' mayat di lemari baju. Mana lemarinya dikunci lagi."
Pak Bambang yang hendak duduk kembali, sempat agak kaku sesaat mendengar kata 'lemari baju'. Dia tertawa canggung, lalu mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Iya, Mbak. Bapak juga ndak menyangka sama sekali. Kamar 13 itu memang sudah kosong sekitar seminggu ini. Bapak pikir ya... bersih-bersihnya sudah beres semua sebelum Mas Arga ma**k."
"Oh ya? Kosong seminggu?" Nara mencondongkan tubuhnya ke depan, menaruh kedua siku di lutut dengan gaya sant** seolah sedang menggosip dengan teman sekampus. "Berarti penghuni sebelum Arga itu langsung pindah gitu aja, Pak? Gak pamitan?"
"Eh, ya pamit, Mbak. Pamitnya lewat pesan singkat saja," jawab Pak Bambang cepat. Terlalu cepat, menurut analisis Nara. Pria itu kini mulai memainkan jemarinya, saling meremas di atas pangkuan. "Katanya mendadak harus pulang kampung karena ada urusan keluarga yang sangat darurat. Jadi ya... barang-barangnya ada yang ditinggal, katanya nanti mau diambil lagi. Tapi kok malah... malah ada kejadian begini di dalam lemari. Bapak bener-bener ndak tahu kalau ada orang di dalam sana."
"Namanya siapa sih, Pak, penghuni sebelum Arga? Siapa tahu satu kampus sama saya atau Arga," tanya Nara lagi, suaranya tetap lembut dan ka**al, tapi matanya mengunci pandangan Pak Bambang tanpa ampun.
Pak Bambang tampak mulai tidak nyaman. Keringat dingin mulai tampak berkilau di dahi dan pelipisnya, padahal kipas angin di ruangan itu berputar c**up kencang. "Waduh... siapa ya namanya? Bapak kok mendadak lupa. Maklum, Mbak, sudah tua. Memori Bapak sudah ndak sebagus dulu. Data-datanya ada di buku, tapi bukunya... entah Bapak taruh di mana."
"Masa lupa sih, Pak? Kan baru seminggu yang lalu kamarnya dikosongin," pancing Nara, nadanya kini terdengar sedikit lebih menyelidik, meski masih diiringi tawa renyah.
"I-iya, Mbak. Kan penghuni kos di sini banyak sekali, keluar ma**k terus. Bapak ndak hafal satu-satu," jawab Pak Bambang, suaranya naik satu oktav. Dia berulang kali mengusap dahinya dengan saputangan lusuh yang diambil dari saku celana.
Arga yang duduk di samping Nara bisa merasakan ketegangan yang mendadak pekat di dalam ruangan itu. Dia menatap Pak Bambang yang biasanya selalu tersenyum ramah dan menyapa semua orang dengan hangat. Kini, keramahan itu terasa seperti topeng tipis yang retak, memperlihatkan kepanikan yang luar biasa di baliknya.
Nara tiba-tiba menghela napas panjang, lalu memegang perutnya. "Aduh, Pak... tiba-tiba perut saya mules banget nih. Gara-gara kebanyakan minum es kopi susu tadi pagi kayaknya. Kamar mandi pengelola di sebelah mana ya, Pak? Saya boleh numpang?"
Pak Bambang seperti melihat kesempatan untuk melarikan diri sejenak dari rentetan pertanyaan Nara. Wajah tegangnya sedikit mengendur. "Oh, ada, Mbak! Di luar, lewat lorong samping dapur belakang. Mari, Bapak tunjukkan jalannya."
"Eh, gak usah, Pak! Bapak di sini aja, temenin Arga. Kasihan dia kalau ditinggal sendirian, masih trauma," cegah Nara cepat sambil berdiri. "Tunjukkin arahnya aja, nanti saya cari sendiri."
"Oh... ya sudah. Mbak keluar pintu ini, belok kanan, lalu lurus saja sampai ketemu dapur. Kamar mandinya ada di sebelah kiri kulkas besar," jelas Pak Bambang.
"Oke, siap! Makasih ya, Pak. Arga, lo jangan ke mana-mana!" Nara memberikan tatapan penuh arti kepada Arga sebelum akhirnya bergegas keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, keheningan yang canggung menyelimuti ruang kerja itu. Arga hanya bisa tersenyum kaku, sementara Pak Bambang kembali mengusap keringat di lehernya.
"Mbak Nara itu... sepupumu aktif sekali ya, Mas," komentar Pak Bambang, mencoba mencairkan suasana dengan tawa kering.
"I-iya, Pak. Dia emang agak berisik orangnya," jawab Arga seadanya. Di dalam hati, Arga merutuki Nara habis-habisan. *Si**** lo, Nar! Bisa-bisanya lo ninggalin gue berdua sama orang mencurigakan begini!*
Sementara itu, di luar ruangan, Nara sama sekali tidak berjalan ke arah kamar mandi. Begitu pintu tertutup, dia langsung berputar arah dan mengendap-endap ke sisi luar jendela kaca ruang kerja Pak Bambang yang untungnya sedikit terbuka untuk sirkulasi udara. Dari celah itu, dia bisa melihat posisi Arga yang membelakanginya, dan Pak Bambang yang tampak gelisah di kursinya.
Nara tidak membuang waktu. Dia tahu dia harus bergerak cepat. Dia melipir ke pintu samping ruang kerja yang menghubungkan langsung ke area penyimpanan dokumen atau gudang kecil di belakang meja kerja Pak Bambang. Pintu kayu tripleks itu tidak dikunci rapat, hanya diganjal dengan kursi plastik.
Dengan gerakan seringan kucing, Nara menyelinap ma**k ke dalam area belakang meja kerja tersebut. Bau kertas lembap dan debu langsung menyengat hidungnya. Beruntung, tumpukan kardus besar di sana c**up tinggi untuk menyembunyikan tubuh mungilnya dari pandangan Pak Bambang yang sedang sibuk mengobrol dengan Arga.
Nara memfokuskan pandangannya pada laci-laci meja kayu milik Pak Bambang. Laci paling bawah tampak sedikit terbuka, menyisakan celah beberapa sentimeter. Dia berlutut, menahan napas agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Tangannya yang ramping perlahan merayap ma**k ke dalam laci tersebut.
Jarinya menyentuh sebuah map plastik berwarna biru yang berdebu. Dia menarik map itu dengan sangat hati-hati. Begitu berhasil mengeluarkannya, Nara membuka map tersebut di bawah temaram cahaya dari celah tumpukan kardus.
Matanya langsung membelalak lebar.
Di lembar pertama map itu, terdapat formulir pendaftaran penghuni Kamar No. 13. Di bagian pojok kanan atas, ada pasfoto seorang cewek berambut panjang hitam dengan senyum manis yang sangat familier—meski dalam kondisi yang jauh berbeda dari apa yang Arga lihat di lemari kemarin.
Nama yang tertera di sana: **Shela Amanda**.
Nara membaca det**l informasinya dengan cepat. Mahasiswi FISIP semester lima. Namun, yang membuat darah Nara mendadak berdesir dingin adalah lembar berikutnya yang terselip di balik formulir itu.
Itu adalah selembar surat resmi dari kepolisian perihal laporan orang hilang, lengkap dengan tanggal laporan: **7 Oktober**. Tepat seminggu yang lalu. Di sana tertulis bahwa orang tua Shela melaporkan anak perempuan mereka hilang kontak sejak akhir September, dan lokasi terakhir yang diketahui adalah Kos Ibu Pertiwi.
*Sial,* batin Nara, tangannya sedikit bergetar. *Pak Bambang bohong besar. Dia bilang Shela pulang kampung seminggu lalu dan pamit lewat SMS. Tapi nyatanya, polisi udah ngirim surat laporan orang hilang ini ke dia dari seminggu yang lalu! Dia tahu Shela hilang, tapi dia malah nutupin dan langsung nyewain kamarnya ke Arga!*
Lebih ngerinya lagi, di dasar laci itu, Nara menemukan sebuah kantong ziplock transparan berisi barang-barang pribadi perempuan yang tampaknya sengaja disembunyikan: sebuah gantungan kunci berbentuk boneka kelinci kecil dengan grafir nama "Shela", sebuah lipstik yang setengah terpakai, dan... sebuah botol obat penenang dosis tinggi yang resepnya ditulis atas nama Shela Amanda.
*Kenapa barang-barang pribadi Shela ada di laci pribadi Pak Bambang kalau cewek itu katanya 'pulang kampung' dan barangnya ditinggal di kamar?*
Tiba-tiba, terdengar suara geseran kursi dari arah depan meja.
"Mas Arga, Bapak ke belakang sebentar ya, mau ambil teh botolnya sekalian lihat Mbak Nara kok lama sekali di kamar mandi," suara Pak Bambang terdengar, membuat jantung Nara hampir copot dari tempatnya.
"Eh! Ndak usah, Pak! Biar saya susul aja!" seru Arga panik, mencoba menahan Pak Bambang.
Nara tahu dia tidak punya waktu lagi. Dengan gerakan kilat, dia mengembalikan map biru dan barang-barang itu ke dalam laci, menutupnya perlahan sampai berbunyi klik kecil, lalu merayap mundur ke arah pintu keluar samping. Dia berhasil menyelinap keluar ke lorong tepat sebelum Pak Bambang melangkah keluar dari ruang kerjanya.
Nara buru-buru berlari kecil ke arah lorong dapur, berpura-pura baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah segar seolah baru selesai mencuci muka.
"Eh, Pak Bambang!" seru Nara ceria saat mereka berpapasan di dekat dapur. "Baru aja mau saya samperin. Kamar mandinya bersih ya, Pak. Hehe."
Pak Bambang menghentikan langkahnya, menatap Nara dengan pandangan menyelidik yang tajam selama beberapa detik, sebelum akhirnya senyum ramah khasnya kembali terpasang. "Oh, sudah selesai, Mbak? Ini Bapak baru mau ambil minum."
"Gak usah repot-repot, Pak! Ini saya tiba-tiba ditelfon nyokap, katanya harus buru-buru pulang ada urusan keluarga mendesak," dusta Nara dengan akting yang sangat meyakinkan, matanya melirik ke arah Arga yang baru saja menyusul dari belakang dengan wajah pucat pasi. "Arga juga harus ikut saya sekarang. Ayo, Ga!"
Arga yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengangguk cepat bagaikan robot mainan. "I-iya, Pak. Saya pamit dulu ya. Makasih banyak informasinya."
"Lho, kok buru-buru sekali? Ndak minum dulu?" tanya Pak Bambang, melangkah mendekati mereka. Tatapannya kini terasa sangat dingin, sangat kontras dengan nada suaranya yang dibuat sehangat mungkin.
"Lain kali aja, Pak! Mari, Pak!" Nara langsung menarik lengan Arga dengan kencang, menuntun cowok itu setengah menyeretnya keluar dari area kos secepat mungkin.
Begitu mereka berhasil keluar dari gerbang besi Kos Ibu Pertiwi dan sampai di pinggir jalan raya yang ramai, Nara baru melepaskan cengkeramannya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mengg***.
"G***! Lo kenapa sih, Nar?! Tiba-tiba kabur kayak dikejar s****!" protes Arga sambil memegangi dadanya yang sesak. "Lo bikin gue jantungan tahu gak!"
Nara menoleh ke arah Arga dengan wajah yang kini benar-benar serius, tanpa ada lagi senyum sant** atau ejekan yang biasa dia lontarkan.
"Arga," bisik Nara, suaranya terdengar bergetar di tengah bisingnya klakson kendaraan jalan raya. "Bapak kos lo itu... dia psikopat."
Arga tertegun. "Maksud lo apa?"
"Mayat di kamar lo itu namanya Shela. Dia mantan penghuni Kamar 13 yang dilaporkan hilang seminggu lalu," jelas Nara cepat, matanya menatap tajam ke mata Arga yang melebar karena syok. "Pak Bambang tahu cewek itu hilang karena ada surat laporan dari polisi di lacinya. Tapi dia bohong ke kita, dia bilang Shela pulang kampung. Dan di lacinya... ada barang-barang pribadi Shela yang disembunyiin."
Nara menjeda kalimatnya, meneguk ludah sebelum melanjutkan dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Bapak kos lo yang super ramah itu... dia tahu ada mayat di dalam lemari lo, Ga. Dia sengaja naruh mayat itu di sana, dan lo... lo cuma dijadikan kambing hitam buat nutupin kejahatannya."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!