**BAB 6: CCTV Kamar Sebelah**
Setelah berhasil lolos dari obrolan basa-basi yang super canggung dengan Pak Bambang, Nara langsung menarik lengan jaket Arga, menyeret cowok jangkung itu menjauh dari kantor pengelola. Langkah kaki Nara cepat dan berisik, berbanding terbalik dengan Arga yang berjalan layaknya zombi hidup, masih syok dengan semua ketegangan yang baru saja mereka lalui.
Mereka kembali ke koridor lant** dua, tempat kamar kos Arga berada. Langkah Nara mendadak melambat saat mereka melewati pintu Kamar No. 12βkamar yang letaknya persis di sebelah kiri kamar Arga.
Nara berhenti, menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan dahi berkerut. "Arga, kamar sebelah lo ini punya siapa?"
Arga ikut berhenti, menghela napas lelah sebelum menjawab, "Kevin. Kenapa emangnya?"
"Kevin siapa? Kuliah di mana? Jurusan apa?" cecar Nara beruntun.
"Anak IT, satu kampus sama kita tapi beda fakultas. Angkatan atas gue kayaknya," jawab Arga sambil mengusap tengkuknya. "Tapi jujur, gue hampir gak pernah ngobrol sama dia. Anaknya penyendiri parah. Tipe-tipe yang kalau keluar kamar cuma buat ambil paket makanan doang. Itu pun selalu pakai hoodie hitam yang kupluknya ditarik sampai nutupin dahi. Gak pernah bersosialisasi sama sekali."
Nara menyilangkan dada, matanya menyipit menatap pintu Kamar No. 12 seolah-olah dia bisa menembus kayu tebal itu dengan pandangannya. "Anak IT penyendiri yang kamarnya sebelahan langsung sama TKP pembunuhan... *Interesting*."
"Nar, jangan mulai deh," bisik Arga panik, langsung menangkap gelagat mencurigakan dari cewek di sebelahnya. "Lo jangan bilang mau nuduh Kevin? Gak semua orang introver itu pembunuh, ya! Lagian dia emang dari dulu begitu, jauh sebelum Shela kos di sini."
"Gue gak nuduh dia pembunuh, Arga sayang," sahut Nara dengan nada gemas yang dibuat-buat. "Tapi insting gue bilang, orang yang seharian cuma mendekam di kamar kayak dia pasti tahu sesuatu. Atau minimal, dia dengar sesuatu pas malam kejadian."
Nara melangkah mendekat ke pintu Kamar No. 12. Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu yang janggal di sudut atas kusen pintu. Ada sebuah benda hitam super kecil, nyaris tidak terlihat kalau tidak diperhatikan dengan jeli. Benda itu berbentuk bulat sempurna dengan pantulan lensa mikro di tengahnya.
Nara tersenyum penuh kemenangan. "Arga, coba lo liat ini."
Arga mendekat, menyipitkan matanya mengikuti arah telunjuk Nara. Begitu menyadari benda apa itu, matanya langsung membelalak. "Itu... kamera pengint**? *Pinhole camera*?"
"Yup. Kamera spionase ilegal," gumam Nara, matanya berbinar senang. "Dan tebak ke mana arah lensanya? Pas banget menghadap ke koridor dan area depan pintu kamar lo, Kamar 13. Kamarnya Shela."
"G***... Kevin masang kamera di sini?" Arga menelan ludah. Rasa ngeri mendadak merayap di tengkuknya.
"Yuk, saatnya kita silaturahmi jilid dua," ucap Nara riang. Tanpa aba-aba, dia langsung menggedor pintu Kamar No. 12 dengan keras.
*Gedor! Gedor! Gedor!*
"Kevin! Woi, Kev! Buka pintunya dong!" teriak Nara tanpa urat malu.
"Nara! Lo g*** ya?!" Arga panik setengah mati, mencoba menarik tangan Nara, tapi cewek itu dengan gesit menghindar dan terus menggedor pintu lebih keras.
"Kevin! Buka gak? Atau gue teriak biar semua orang tahu apa yang lo pasang di atas pintu lo?!" ancam Nara dengan suara lantang.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menegangkan. Arga sudah bersiap-siap menyeret Nara kabur kalau-kalau tetangga kos lain keluar karena terganggu. Namun, sebelum Arga sempat melangkah, terdengar suara kunci diputar dari dalam.
Pintu terbuka sedikit, hanya menyisakan celah sekitar sepuluh sentimeter yang tertahan oleh rant** pengaman. Dari celah itu, muncul separuh wajah seorang cowok dengan kulit pucat pasi dan lingkaran hitam tebal di bawah matanya. Persis seperti deskripsi Arga, cowok itu memakai hoodie hitam dengan kupluk yang ditarik rendah.
"Apaan sih? Berisik banget," gumam Kevin dengan suara serak dan datar, matanya menatap Nara dan Arga dengan tatapan tidak bersahabat.
Nara tidak gentar. Dia malah tersenyum manis, senyum yang bagi Arga justru terlihat seperti senyum i**** yang siap menerkam mangsanya. "Hai, Kevin. Kenalin, gue Nara, temennya Arga. Kita mau ngobrol bentar, boleh?"
"Gak bisa. Gue lagi sibuk," jawab Kevin dingin, bersiap menutup kembali pintunya.
"Yakin gak mau ngobrol?" Nara menahan pintu itu dengan telapak tangannya, lalu menunjuk ke arah kamera kecil di atas kusen dengan dagunya. "Meskipun obrolannya tentang kamera mungil lucu di atas kepala lo itu? Dan fakta bahwa kamera itu merekam semua kejadian di koridor ini, terma**k malam pas Shela dibunuh?"
Mendengar kata 'dibunuh', mata Kevin langsung melebar panik. Dia refleks melirik ke arah kameranya, lalu kembali menatap Nara dengan tatapan penuh ketakutan yang coba dia sembunyikan.
"Gue... gue gak tahu apa-apa," bisik Kevin, suaranya mulai bergetar.
Melihat kepanikan Kevin, Arga sadar ini adalah momennya untuk beraksi. Dia melangkah maju, memasang ekspresi wajah paling serius yang biasa dia gunakan saat simulasi sidang di kampus hukumnya. Dengan postur tubuhnya yang tinggi, Arga berhasil memberikan tekanan visual yang c**up intimidatif bagi Kevin.
"Kev, dengerin gue," potong Arga dengan nada suara yang berat, tenang, namun penuh penekanan. "Gue ini mahasiswa hukum. Lo harus tahu kalau tindakan lo memasang alat p****am di area publik tanpa izin tertulis dari pemilik kosan dan penghuni lain itu udah melanggar hukum. Itu melanggar Pasal 31 Ayat 1 UU ITE tentang intersepsi atau penyadapan ilegal. Ancaman hukumannya gak main-main, maksimal sepuluh tahun penjara atau denda sampai empat miliar rupiah."
Kevin menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik-turun.
"Dan itu baru masalah privasi," lanjut Arga, nadanya semakin menekan. "Sekarang ada ka**s pembunuhan yang terjadi tepat di sebelah kamar lo. Kalau polisi tahu lo punya rekaman di koridor ini dan lo sengaja menyembunyikannya, lo bisa dijerat Pasal 221 KUHP tentang *obstruction of justice* alias merintangi penyidikan tindak pidana. Lo mau diseret ke kantor polisi dan dituduh sebagai kaki tangan pembunuh?"
Provokasi Nara yang tajam ditambah logika hukum Arga yang menjebak langsung meruntuhkan pertahanan Kevin. Wajah cowok IT itu kini benar-benar pucat pasi seperti kertas. Tangannya yang memegang tepi pintu tampak gemetar.
"Gue... gue gak ada hubungannya sama pembunuhan itu! Sumpah!" seru Kevin panik, suaranya naik satu oktav.
"Kalau gitu, biarkan kita ma**k dan buktiin kalau lo emang gak bersalah," tantang Nara dengan senyum kemenangan yang semakin lebar.
Kevin menatap koridor yang sepi dengan cemas, lalu dengan cepat melepas rant** pengaman pintunya. "Ma**k. Cepetan ma**k sebelum ada yang liat!" bisiknya histeris.
Nara dan Arga segera menyelinap ma**k ke dalam kamar Kevin. Begitu pintu ditutup dan dikunci kembali, Arga langsung merasa seperti ma**k ke dalam gua seorang penyihir modern. Kamar itu sangat minim cahaya. Jendela kamar ditutup rapat dengan gorden hitam tebal yang tidak membiarkan satu berkas sinar matahari pun ma**k.
Satu-satunya sumber cahaya di kamar itu berasal dari tiga buah monitor komputer berukuran besar yang menyala terang di atas meja kerja yang berantakan. Di sekelilingnya, berserakan mangkuk mi instan instan yang sudah mengering, kaleng minuman energi, dan berbagai macam kabel yang melintang di lant** seperti akar pohon.
"G***... lo tinggal di sini atau di warnet sih?" gumam Nara takjub sambil mengibaskan tangannya di depan hidung, mencoba mengusir aroma pengap khas kamar yang jarang diangin-aerasi.
Kevin tidak memedulikan komentar Nara. Dia langsung duduk di kursi gaming-nya, mengetikkan sesuatu dengan cepat di keyboard mekanisnya yang berisik.
"Gue bukan pembunuh. Gue cuma... gue cuma suka mengamati," bela Kevin defensif, matanya terpaku pada layar monitor. "Gue ngerasa lingkungan kos ini gak aman. Makanya gue pasang kamera pengint**."
"Mengamati atau memata-mat**, Kev?" sindir Nara sambil berjalan mendekati meja kerja Kevin. Matanya membelalak saat melihat tampilan di salah satu monitor besar. Layar itu terbagi menjadi enam kotak kecil, masing-masing menampilkan sudut yang berbeda dari Kos Ibu Pertiwi.
Ada area parkiran, ruang sant** lant** satu, koridor lant** dua, tangga, bahkan area dapur umum.
"Anjay... lo beneran nge-hack sistem kosan ini?" Arga melongo tak percaya. "Pak Bambang aja cuma punya dua CCTV di bawah yang sering mati itu. Tapi lo... lo punya akses ke seluruh sudut kosan!"
"Gue gak nge-hack sistem kosan, karena emang gak ada sistemnya," sahut Kevin ketus, meski ada nada bangga yang terselip di suaranya. "Gue pasang kamera mikro IP nirkabel sendiri. Gue sambungin ke jaringan Wi-Fi kosan yang proteksinya ampas banget, terus gue alirin datanya ke server lokal di PC gue. Gak ada yang bakal sadar."
"Terma**k cewek-cewek?" Nara menyipitkan mata penuh selidik. "Lo gak pasang di dalem kamar mandi atau kamar cewek kan?"
"Gak! Gue masih punya moral!" potong Kevin cepat dengan wajah memerah karena malu dan kesal. "Kamera gue cuma di area publik. Gue cuma pengen tahu siapa aja yang keluar ma**k kosan ini. Gue... gue punya kecemasan sosial berlebih, oke? Gue butuh tahu situasi luar sebelum gue mutusin buat keluar kamar."
Arga mengangguk-angguk, mencoba memahami alasan psikologis Kevin walau tindakannya tetap saja ilegal. "Oke, lupakan dulu soal pelanggaran privasi lo. Sekarang, tunjukkin ke kita rekaman dari kamera koridor lant** dua."
Nara mencondongkan tubuhnya ke arah monitor. "Malam minggu kemarin. Mulai dari jam sembilan malam sampai jam satu pagi. Pas malam Shela dibunuh."
"Iya, iya, bentar," gumam Kevin. Tangannya bergerak lincah di atas keyboard, membuka folder arsip video yang terenkripsi.
Arga menahan napas. Jantungnya kembali berdegup kencang karena antisipasi. Jika kamera Kevin merekam koridor di depan kamar nomor 13, itu artinya mereka akan segera melihat siapa orang terakhir yang ma**k ke kamar Shela malam itu. Misteri ini bisa selesai sekarang juga. Mereka bisa menyerahkan bukti ini ke polisi dan membersihkan nama Arga sepenuhnya.
Namun, dahi Kevin tiba-tiba berkerut dalam. Jari-jarinya yang tadinya bergerak cepat kini mendadak berhenti. Dia mengetuk-ngetuk tombol *enter* beberapa kali dengan tidak sabar.
"Lho? Kok..." Kevin bergumam lirih, matanya menyipit menatap baris demi baris kode di layarnya.
"Kenapa, Kev? Ada masalah?" tanya Arga cemas.
"Bentar... ini aneh banget," Kevin mulai panik. Dia membuka terminal perintah komputer dan mengetikkan beberapa baris perintah baru. "Folder rekaman malam minggu kemarin... kosong."
"Hah?! Kosong gimana?!" Nara langsung menyambar bahu kursi Kevin, mengguncangnya sedikit. "Lo jangan main-main ya, Kev! Lo sengaja hapus?!"
"Gak! Buat apa gue hapus?!" balas Kevin setengah berteriak, wajahnya frustrasi. "Gue gak pernah hapus arsip sebelum kapasitas harddisk gue penuh 95%. Dan harddisk gue masih sisa dua terabyte! Harusnya rekamannya ada di sini!"
"Coba cek folder sampah atau *history* sistem lo," desak Arga, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Kevin dengan cepat menuruti instruksi Arga. Dia membuka log aktivitas servernya. Setelah mengklik beberapa menu, sebuah kotak dialog dengan teks berwarna merah menyala muncul di tengah layar komputer Kevin.
**[ERROR: LOG DATA CORRUPTED - DATA FORCEFULLY DELETED BY EXTERNAL SOURCE]**
Kevin terengah-engah, bersandar lemas di kursinya dengan tatapan kosong menatap layar. "Datanya... di-delete paksa."
"Di-delete paksa? Maksudnya gimana?" Nara menuntut penjelasan.
"Ada orang yang ma**k ke server lokal gue lewat jaringan Wi-Fi kosan," jelas Kevin dengan suara gemetar, matanya memancarkan ketakutan yang nyata. "Orang ini tahu protokol keamanan gue. Dia nge-bypass enkripsi gue, ma**k ke direktori penyimpanan video, dan ngehapus rekaman khusus untuk hari Sabtu kemarin, dari jam delapan malam sampai jam enam pagi."
Arga mengepalkan tangannya. "Bisa lo balikin lagi gak? Pake software *recovery* atau apa gitu? Lo kan anak IT!"
Kevin menggelengkan kepala dengan lemah. "Gak bisa, Ga. Ini bukan sekadar dihapus biasa ke *recycle bin*. Orang ini pakai metode *shredding*. Dia numpuk sektor memori tempat video itu disimpan pakai script data sampah acak sebanyak tujuh kali. File-nya hancur total. Gak bakal bisa di-restore, bahkan oleh ahli forensik digital sekalipun."
Nara mendesis kecewa, memukul meja kerja Kevin dengan kesal hingga membuat beberapa kaleng minuman kosong terjatuh ke lant**. "Si****! Berarti pelakunya tahu kalau lo masang kamera di luar?"
"Gak tahu," jawab Kevin ragu. "Bisa jadi dia emang tahu. Atau... dia emang udah memindai semua perangkat yang terhubung ke Wi-Fi kosan ini sebelum beraksi, nemuin IP kamera gue, terus ngelacak jalurnya sampai ke PC gue."
Arga terdiam, mencerna informasi baru yang sangat mengerikan ini. Si pembunuh bukan cuma orang nekat yang ma**k ke kamar kos lalu menghabisi nyawa Shela secara impulsif.
Si pembunuh adalah seseorang yang sangat tenang, terencana, dan memiliki kemampuan teknologi yang mumpuniβatau setidaknya, dia tahu cara menyewa jasa seseorang yang ahli untuk menghapus jejak digitalnya.
"Kev," panggil Arga dengan suara rendah yang terdengar dingin di dalam ruangan yang gelap itu. "Log aktivitas itu... ada sisa alamat IP atau jejak dari pelaku yang ngehapus datanya?"
Kevin mengetuk keyboard-nya sekali lagi, menampilkan deretan angka log koneksi. "Ada. Ini alamat IP lokalnya saat dia terhubung ke Wi-Fi kosan untuk ngehapus data itu."
Nara langsung mendekatkan wajahnya ke layar. "Bisa lo lacak itu HP atau laptop siapa?"
"Gak bisa langsung tahu namanya," Kevin menggeleng. "Tapi dari alamat MAC-nya, ini adalah perangkat yang terhubung lewat jaringan nirkabel internal kosan. Dan proses penghapusan data ini terjadi pada hari Minggu pagi... jam setengah enam subuh."
"Setengah enam subuh..." Nara bergumam, otaknya langsung bekerja memutar kembali memori dan garis waktu kejadian. "Itu beberapa jam sebelum mayat Shela ditemuin sama Pak Bambang. Dan di jam segitu, polisi belum datang ke kosan ini."
Arga menatap Nara, matanya memancarkan kesadaran yang mengerikan. "Artinya, setelah ngebunuh Shela malam harinya, pelaku sempat kembali lagi, atau dia masih ada di sekitar kosan ini subuh harinya cuma buat ngehapus rekaman CCTV Kevin."
"Atau..." Nara menggantung kalimatnya, menatap lurus ke arah Arga dengan tatapan yang membuat bulu kuduk cowok itu berdiri. "Pelakunya adalah salah satu dari penghuni kos ini sendiri. Seseorang yang punya akses bebas ke Wi-Fi kosan kapan saja tanpa dicurigai."
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti kamar nomor 12. Di bawah temaram cahaya monitor komputer, Arga menyadari satu hal yang pasti: pelaku pembunuhan Shela berada sangat dekat dengan mereka, mengawasi setiap gerak-gerik mereka dari balik dinding-dinding kosan yang dingin ini.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!