Gedoran keras Nara di pintu Kamar No. 12 akhirnya membuahkan hasil. Pintu kayu itu terbuka sedikit, menampilkan sesosok cowok dengan rambut acak-acakan mirip sarang burung dan lingkaran hitam tebal di bawah matanya.
"Apaan sih? Berisik banget, a****!" gerutu Kevin, suaranya serak khas orang yang baru bangun tidurβatau mungkin kurang tidur karena begadang main *game*.
Nara tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya tersenyum manis, lalu jarinya menunjuk tepat ke arah kamera kecil yang terpasang di atas kusen pintu.
Seketika, wajah ogah-ogahan Kevin berubah pucat. Cowok itu refleks mencoba menutup pintu, tapi Nara dengan sigap menahan pintu tersebut menggunakan ujung sepatu ketsnya.
"Sant**, Kev. Kita cuma mau pinjam 'mata' lo bentar," bisik Nara dengan nada yang sengaja dibuat misterius. "Pilihannya cuma dua. Lo kasih kita liat rekaman CCTV semalem, atau gue teriak sekarang juga biar satu kosan tahu kalau lo suka ngintipin kamar cewek secara ilegal. Gimana?"
Mendengar ancaman itu, Kevin menelan ludah. Dia melirik Arga yang berdiri pasrah di belakang Nara, lalu menghela napas pasrah. "Ma**k cepat. Jangan berisik."
Di dalam kamar Kevin yang berantakan dan penuh dengan kabel serta monitor komputer, mereka bertiga berkumpul di depan layar laptop. Kevin mengutak-atik beberapa folder sebelum akhirnya memutar rekaman dari kamera *pinhole* miliknya untuk kejadian dua hari yang laluβmalam sebelum mayat Shela ditemukan.
Layar monitor menampilkan koridor lant** dua yang sepi. Jarum jam digital di pojok kanan atas menunjukkan pukul 02.15 pagi. Tiba-tiba, sesosok cewek dengan jaket *oversized* dan topi bisbol melangkah mengendap-endap mendekati Kamar No. 13. Dia sempat menengok kanan-kiri sebelum akhirnya membuka pintu kamar Shela secara perlahan, ma**k ke dalam, dan keluar sekitar sepuluh menit kemudian sambil mendekap sebuah tas kecil.
Saat cewek itu berbalik untuk lari, topi bisbolnya agak terangkat, mengekspos wajahnya di bawah temaram lampu koridor.
Arga langsung terengah, matanya membelalak lebar. "Valen?!"
"Siapa?" tanya Nara, langsung menoleh ke arah Arga dengan binar mata penuh selidik.
"Valen," ulang Arga dengan suara gemetar. "Dia selebgram kampus yang terkenal banget. Followers-nya ratusan ribu. Dia... dia kan temen deketnya Shela. Di Instagram mereka sering banget bikin konten bareng, kolaborasi *makeup*, atau nge-mall bareng."
Nara tersenyum miring, senyum yang membuat bulu kuduk Arga meremang. "Di media sosial jadi *bestie*, di dunia nyata main petak umpet tengah malam di kamar korban. Klasik banget. Kev, kirim rekaman ini ke HP gue."
Setelah mendapatkan apa yang mereka butuhkan, Nara langsung menarik Arga keluar dari kamar Kevin.
"Sekarang kita ke mana?" tanya Arga, setengah berlari menyamakan langkah panjang Nara.
"Ke sarang monster," jawab Nara mantap. "Kamarnya Valen di lant** satu, kan? Kamar No. 4?"
"Iya, tapi dia pasti ada di kamar, Nar! Lo mau langsung lab**k dia? Itu namanya bunuh diri sosial! Fansnya Valen itu militan banget di kampus, kita bisa dirujak satu angkatan!"
Nara menghentikan langkahnya tepat di tangga menuju lant** satu. Dia menatap Arga dengan tatapan gemas. "Arga sayang, otak lo yang pinter itu ditaruh di mana sih kalau lagi panik? Hari ini kan hari Rabu. Jam sembilan pagi ini, Valen ada kelas Metodologi Penelitian sama dosen killer yang gak boleh telat sedetik pun. Dia pasti gak ada di kamarnya sekarang."
Arga mengecek jam di pergelangan tangannya. Pukul 09.15 pagi. Nara benar.
"Tapi tetep aja, kita gak bisa ma**k gitu aja! Pintunya pasti dikunci!"
Nara tidak menjawab. Dia hanya merogoh saku celana jinsnya, mengeluarkan seujung jepit rambut hitam bermaterial besi, lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Arga. "Tenang, bidadari penyelamat lo ini punya banyak bakat terpendam."
***
Koridor lant** satu tampak sunyi senyap. Sebagian besar penghuni kos sudah berangkat kuliah atau magang. Nara dan Arga berdiri di depan pintu Kamar No. 4 yang bercat putih bersih dengan gantungan estetis bertuliskan *"Welcome to My Cozy Place"*.
"Ga, jagain koridor. Kalau ada langkah kaki atau suara orang datang, langsung kasih kode," perintah Nara sembari berlutut di depan gagang pintu.
Arga mendesah frustrasi, namun tetap memosisikan tubuhnya menghadap ke arah tangga, matanya bergerak gelisah ke segala arah. "Nar, cepetan. Sumpah, jantung gue mau copot ini. Kalau kita ketahuan Pak Bambang, kita bisa didepak dari kosan ini, atau lebih parah, dilaporin ke polisi!"
"Ssst! Berisik, konsentrasi gue pecah nih," sahut Nara. Tangannya dengan lihai mengutak-atik lubang kunci pintu menggunakan jepit rambut dan selembar kartu plastik bekas yang dia temukan di dompetnya.
*Klik.*
Suara logam kecil yang bergeser itu terdengar bagaikan musik surgawi di telinga Nara. Dia tersenyum penuh kemenangan lalu perlahan memutar gagang pintu. Terbuka.
"Aman. Yuk, ma**k," bisik Nara, langsung menyelinap ke dalam kamar. Arga menyusul dengan cepat, buru-buru menutup kembali pintu itu dan menguncinya dari dalam agar tidak ada orang yang tiba-tiba ma**k.
Begitu mereka berdiri di dalam kamar Valen, aroma manis yang sangat menyengat langsung menusuk hidung. Campuran aroma vanila, mawar, dan parfum mahal yang sangat pekat. Kamar itu benar-benar definisi dari "kamar impian cewek estetis". Dindingnya dicat warna pastel *soft pink*, ka**rnya dipenuhi bantal-bantal bulu yang empuk, sebuah cermin besar berbentuk oval dengan lampu-lampu LED mengelilinginya berdiri di sudut ruangan, lengkap dengan *ring light* raksasa yang biasa digunakan untuk membuat konten video.
"G***, rapi banget," gumam Arga, menatap deretan tas *b**nded* yang dipajang rapi di rak gantung. "Beda banget sama kamar kos gue yang vibes-nya mirip gudang kelontong."
"Jangan ketipu sama bungkusnya, Ga. Penjahat yang pinter itu selalu dandanin tempat tinggal mereka serapi mungkin biar gak dicurigai," kata Nara. Dia langsung bergerak mendekati meja rias Valen yang dipenuhi puluhan botol *skincare* dan kosmetik mahal.
Nara mulai membuka laci-laci meja satu per satu dengan hati-hati, memastikan dia tidak mengubah posisi barang-barang tersebut agar Valen tidak curiga kalau kamarnya telah diacak-acak.
"Ga, jangan cuma berdiri kayak patung pancoran di situ. Cari di tempat-tempat yang gak biasa. Kolong ka**r, lemari pakaian bagian bawah, atau di balik tumpukan baju," perintah Nara tanpa menoleh.
Arga menelan ludah, lalu mulai bergerak ke arah tempat tidur king-size milik Valen. Dia berlutut, mencoba mengintip ke kolong ka**r yang ditutupi oleh kain seprai panjang menjunt**. Di sana, di sudut yang paling gelap, matanya menangkap sesuatu.
Sebuah kotak kont**ner plastik berwarna hitam pekat yang dikunci dengan gembok kombinasi angka.
"Nar, gue nemu sesuatu," panggil Arga dengan suara setengah berbisik.
Nara langsung menghampiri Arga, matanya berbinar melihat kotak hitam tersebut. "Nah, ini dia! Mana ada cewek nyimpen kotak hitam mencurigakan di kolong ka**r kalau isinya cuma baju kotor."
Arga menarik kotak itu keluar. "Tapi ini dikunci, Nar. Pakai kode angka empat digit."
Nara mengetuk-ngetuk dagunya, berpikir cepat. "Kira-kira apa kode yang paling gampang diingat sama orang narsis kayak Valen?"
"Tanggal lahir?" tebak Arga. "Gue tahu tanggal lahirnya. Dia kan pernah bikin pesta ulang tahun besar-besaran yang disponsori b**nd kosmetik, terus di-share di akun kampusnya. Tanggal 12 April. Berarti... 1204? Atau 0412?"
Arga dengan gemetar memutar tombol angka pada gembok tersebut. *0... 4... 1... 2...*
*KLIK!*
Gembok itu terbuka. Arga dan Nara saling berpandangan selama satu detik, merasakan sensasi ngeri sekaligus penasaran yang memuncak. Dengan perlahan, Nara membuka penutup kotak kont**ner tersebut.
Begitu kotak itu terbuka, napas Arga mendadak tercekat.
Di dalam kotak tersebut, terdapat tumpukan foto polaroid dan cetakan kertas foto ukuran A4. Semuanya adalah foto Shela. Mulai dari foto Shela saat sedang makan di kantin, foto Shela yang sedang tertawa bersama teman-temannya, hingga foto-foto *clandestine* alias foto candid yang diambil secara diam-diam dari kejauhan tanpa sepengetahuan Shela.
Namun yang membuat bulu kuduk mereka berdiri adalah kondisi foto-foto tersebut.
Wajah Shela di setiap foto telah dicoret-coret secara brutal menggunakan spidol merah tebal. Di beberapa foto, bagian matanya bahkan ditusuk hingga bolong menggunakan benda tajam. Di atas salah satu foto potret Shela yang setengah hancur, tertulis kata-kata yang ditulis dengan tekanan spidol yang sangat kuat hingga kertasnya hampir robek: *"MATI LO CUMAN PLAGIAT! SEHARUSNYA GUE YANG DI SANA! SEHARUSNYA GUE!"*
"Ini... g***. Ini sih psikopat namanya," bisik Arga, wajahnya mendadak pucat pasi. Tangannya gemetar hebat sampai hampir menjatuhkan foto yang dipegangnya. "Valen... dia seobsesif ini sama Shela?"
"Ini bukan cuma obsesi biasa, Ga. Ini penyakit," sahut Nara, suaranya yang biasa sant** kini terdengar sangat dingin dan serius. Dia mengubek-ubek bagian bawah tumpukan foto tersebut dan menemukan beberapa barang lain.
Sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk daun semanggi berdaun empat (*four-leaf clover*).
"Bukannya ini kalung yang sering dipakai Shela? Yang kata anak-anak hilang minggu lalu?" tanya Nara.
Arga mengangguk cepat. "Iya! Shela pernah nangis-nangis di grup chat kosan nyariin kalung ini. Katanya itu pemberian almarhum ibunya. Jadi... Valen yang nyuri?"
Nara tidak menjawab. Dia mengambil barang berikutnya dari dalam kotak: sebuah lipstik merah merek YSL limited edition yang di bagian tabungnya grafir nama *"Shela"*. Di samping lipstik itu, ada sebuah buku catatan harian (diary) bersampul kulit warna cokelat milik Shela.
"Valen gak cuma benci sama Shela, dia pengen *menjadi* Shela," analisis Nara dengan cepat. "Dia nyuri barang-barang pribadi Shela, meniru gayanya, dan di saat yang sama, dia sangat membenci Shela karena Shela selalu selangkah lebih maju dari dia dalam hal apa pun di kampus."
Tiba-tiba, dari arah luar kamar, terdengar suara langkah kaki yang sangat familiar.
*Plak! Plak! Plak!*
Suara ketukan sepatu hak tinggi berbenturan dengan lant** keramik koridor, terdengar semakin dekat menuju Kamar No. 4.
Jantung Arga serasa melompat keluar dari dadanya. "Nar! Ada orang datang! Langkah kakinya... itu sepatu haknya Valen!"
Nara dengan gerakan super cepat langsung mema**kkan kembali foto-foto dan barang-barang tersebut ke dalam kotak kont**ner, menutupnya, lalu mengunci gemboknya kembali. Namun, sebelum dia menutup kotak itu sepenuhnya, dia sempat menyelipkan satu foto polaroid yang dicoret spidol merah dan lipstik YSL milik Shela ke dalam tas selempangnya.
"Nar, buruan! Dia udah di depan pintu!" bisik Arga panik setengah mati. Dia mendorong kotak hitam itu kembali ke bawah kolong tempat tidur dengan kakinya.
*Klek.*
Suara kunci pintu yang diputar dari luar terdengar jelas. Mereka tidak punya waktu lagi untuk keluar lewat pintu depan.
Nara menarik lengan jaket Arga dengan kuat, menyeret cowok itu ke arah jendela besar yang ditutupi oleh gorden beludru tebal berwarna abu-abu di dekat sudut ruangan. Mereka berdua menyelinap ke balik gorden tersebut, merapatkan tubuh mereka ke dinding kaca, menahan napas seerat mungkin.
Pintu kamar terbuka.
Suara langkah kaki Valen ma**k ke dalam kamar, diiringi oleh suara napasnya yang terengah-engah dan gumaman kesal.
"Si****! Dosen gak tahu diri! Bisa-bisanya dia batalin kelas pas gue udah bela-belain bangun pagi!" rutuk Valen dengan nada suara yang sangat tinggi, sangat berbeda dengan suaranya yang lembut dan imut yang biasa dia tunjukkan di video-video Instagram-nya.
Dari balik celah kecil gorden, Nara bisa melihat Valen melemparkan tas jinjing mewahnya ke atas ka**r dengan kasar. Wajah cantiknya yang dipoles *makeup* tebal tampak berkerut penuh amarah. Dia berjalan mondar-mandir di tengah ruangan, lalu mengeluarkan ponselnya dan memasang *airpods* ke telinganya.
"Halo? Iya, ini gue!" teriak Valen begitu teleponnya tersambung. "Lo udah liat belum postingan terbaru di akun kampus? ... Iya! Kenapa masih ada yang bahas tentang kematian Shela sih?! Harusnya sekarang mereka fokus ke *campaign* baru gue!"
Valen menjeda kalimatnya, mendengarkan lawan bicaranya di telepon. Wajahnya semakin memerah karena marah.
"Gue gak peduli ya! Pokoknya lo hapus semua komentar yang ngebanding-bandingin gue sama dia! Dia udah mati! Dia udah gak ada! Kenapa bayang-bayang cewek si**** itu masih aja ngeganggu hidup gue?!" teriak Valen histeris, air matanya hampir merusak maskara tebal di matanya. "Dia pantes dapet akibatnya! Dia yang duluan ngerebut semuanya dari gue! Popularitas, sponsor, semuanya!"
Arga yang berdiri di samping Nara di balik gorden merasa seluruh tubuhnya mendingin. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Kata-kata Valen barusan... itu hampir seperti sebuah pengakuan dosa. Apakah Valen yang membunuh Shela?
Tiba-tiba, ponsel Valen berdering lagi, menampilkan pangg***n ma**k yang lain. Valen mendengus kesal, lalu mematikan sambungan telepon sebelumnya dan menerima pangg***n baru tersebut.
"Ya? ... Apa? Sekarang di kafe depan kampus? ... Oke, oke, gue ke sana sekarang. Jangan mulai tanpa gue."
Valen mematikan ponselnya, menyambar tas jinjingnya dari atas ka**r, lalu dengan langkah terburu-buru kembali keluar dari kamar, membanting pintu dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang menggema di seluruh ruangan.
Keheningan kembali menyelimuti kamar tersebut.
Nara dan Arga perlahan keluar dari balik gorden. Arga langsung merosot terduduk di lant**, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya seolah-olah dia baru saja tenggelam di dalam air selama berjam-jam.
"G***... sumpah, gue hampir mati jantungan," bisik Arga sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. "Nar, lo denger sendiri kan tadi? Dia bilang Shela pantes dapet akibatnya. Valen... dia pembunuhnya?"
Nara menatap pintu kamar yang tertutup rapat, lalu merogoh tas selempangnya, mengeluarkan foto polaroid Shela yang wajahnya dicoret merah dan lipstik YSL yang berhasil dia curi dari kotak tadi.
"Dia punya motif yang sangat kuat, Ga. Obsesi, kecemburuan sosial, dan kebencian yang mendalam," gumam Nara, matanya menyipit tajam. "Tapi kita butuh bukti fisik yang menghubungkan dia langsung dengan kejadian di Kamar No. 13 malam itu. Dan lipstik ini..."
Nara membuka tutup lipstik YSL tersebut, mengamatinya di bawah cahaya lampu. Di ujung lipstik yang berwarna merah darah itu, terdapat sedikit noda kecokelatan yang sudah mengering.
"Ini bukan cuma noda lipstik biasa," bisik Nara dengan senyuman misterius. "Ini noda darah yang udah mengering. Kita harus bawa ini ke lab kampus, Ga. Sekarang."
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!