Langkah kaki Arga mendadak tertahan di anak tangga pertama menuju lant** satu. Jantungnya masih berdegup kencang, membayangkan skenario terburuk kalau Nara benar-benar nekat melab**k Valen di kamarnya. Valen itu bukan mahasiswi sembarangan. Dengan ratusan ribu pengikut di Instagram, satu unggahan sindiran dari cewek itu bisa membuat Arga menjadi musuh bersama satu kampus dalam hitungan detik.
Namun, sebelum Arga sempat menarik lengan Nara untuk membujuknya mundur, pintu Kamar No. 12 di belakang mereka kembali terbuka dengan sentakan keras.
"Woi! Balik! Jangan pergi dulu, a****!"
Suara setengah berbisik namun penuh penekanan dari Kevin membuat Nara dan Arga serempak menoleh. Cowok berambut sarang burung itu berdiri di ambang pintu dengan mata melotot lebar, tangannya melambai-lambai panik menyuruh mereka kembali.
"Kenapa lagi, Kev? Kita buru-buru nih," sahut Nara, melipat kedua tangannya di dada dengan dahi berkerut.
"Ini lebih g*** daripada urusan selebgram lo itu! Sini cepetan, sebelum datanya *corrupt* lagi!" desak Kevin setengah gemas.
Nara dan Arga saling pandang selama satu detik, sebelum akhirnya memutuskan untuk putar balik dan ma**k kembali ke dalam kamar Kevin yang pengap. Begitu pintu ditutup dan dikunci, Kevin langsung menarik dua kursi plastik untuk mereka dan menunjuk layar monitor super besar di mejanya.
Di layar, sebuah aplikasi pemulihan data sedang menampilkan bar persentase berwarna hijau yang baru saja menyentuh angka 100%. Di bawahnya, sebuah file video berformat .avi baru saja selesai diekstrak.
"Gue penasaran kenapa ukuran file rekaman malam itu kecil banget, padahal CCTV gue diset untuk rekam *non-stop*," Kevin menjelaskan dengan cepat, jemarinya menari di atas *keyboard* dengan kecepatan yang mengagumkan. "Ternyata, ada yang sengaja nge-delete sebagian klip secara paksa lewat sistem. Si pelaku kayaknya mikir kalau didelete biasa udah c**up. Padahal, mereka amatir. Mereka nggak tahu kalau *chache* kamera gue nge-backup data di folder tersembunyi."
"Jadi... ada rekaman lain setelah Valen keluar?" tanya Arga, instingnya mulai menangkap firasat buruk.
"Persis," jawab Kevin serius. Wajah magernya kini berubah total menjadi super fokus. "Lihat ini."
Kevin mengeklik tombol *play*.
Layar menampilkan koridor yang sama. Jam digital di pojok kanan atas menunjukkan pukul 03.05 pagi—sekitar empat puluh menit setelah Valen pergi dari Kamar No. 13.
Suasana koridor tampak sangat sunyi, sampai akhirnya sesosok cowok berpostur tinggi tegap berjalan ma**k ke dalam jangkauan kamera. Berbeda dengan Valen yang mengendap-endap penuh ketakutan, cowok ini berjalan dengan langkah tegas, seolah dia adalah pemilik tempat itu. Wajahnya tertutup tudung kepala, tapi pakaian yang dikenakannya sangat mencolok.
Dia memakai jaket *varsity* berwarna biru dongker dengan lengan kulit berwarna putih gading. Di bagian dada sebelah kiri, terdapat bordiran logo berbentuk perisai emas yang sangat det**l.
"Bentar, stop!" potong Arga tiba-tiba. Suaranya mendadak tercekat di tenggorokan.
Kevin langsung menekan tombol *spacebar*, menjeda video tepat saat cowok misterius itu berdiri di depan pintu kamar Shela.
"Kenapa, Ga? Lo kenal?" Nara mendekatkan wajahnya ke layar, matanya menyipit mencoba mengenali sosok di video.
Arga tidak langsung menjawab. Matanya terpaku pada jaket yang dikenakan cowok itu. Di bawah temaram lampu koridor kosan yang agak kekuningan, bordiran emas di dada jaket itu berkilau samar. Arga menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang memegang sandaran kursi Kevin mendadak terasa dingin.
"Gue... gue nggak cuma kenal jaket itu. Gue tahu persis siapa saja yang punya," bisik Arga dengan suara bergetar.
"Maksud lo?" Nara menoleh cepat, menatap Arga dengan pandangan menuntut penjelasan.
"Itu jaket eksklusif kepengurusan inti Senat Mahasiswa Universitas kita, Nar," jelas Arga, napasnya mulai memburu. "Bukan jaket himpunan jurusan yang bisa dibeli siapa aja. Jaket itu cuma diproduksi terbatas—cuma sepuluh buah—khusus untuk anggota fungsionaris harian SEMA periode sekarang. Bahannya dipesan custom dari Bandung, lengkap dengan nomor registrasi anggota yang dibordir di bagian dalam kerah."
Nara tertegun. "Serius lo? Berarti cowok ini salah satu dari sepuluh orang paling berpengaruh di kampus kita?"
"Iya," Arga mengangguk lemah. "Dan yang lebih mengerikan lagi... salah satu dari sepuluh orang itu adalah anak Dekan Fakultas Hukum."
Kevin bersiul pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan wajah tak percaya. "G***. Ini mah bukan sekadar drama pembunuhan anak kos biasa. Kita lagi nyenggol anak-anak sultan, nih."
"Play lagi, Kev," perintah Nara dengan nada dingin yang menuntut. Rasa penasarannya kini sudah bercampur dengan adrenalin yang meletup-letup.
Kevin melanjutkan video.
Di layar, cowok berjaket senat itu mengetuk pintu Kamar No. 13 dengan kasar. Tidak perlu waktu lama bagi Shela untuk membuka pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat jelas dari gestur tubuh mereka bahwa situasi langsung memanas.
Shela, yang saat itu hanya mengenakan kaus kebesaran dan celana pendek, tampak histeris. Dia mendorong dada cowok itu, mencoba menutup pintu kamarnya kembali. Namun, tenaga cowok itu jauh lebih besar. Dia menahan pintu dengan satu tangan, lalu dengan kasar mencengkeram kedua lengan Shela dan mendorong cewek itu ma**k kembali ke dalam kamar.
Pintu Kamar No. 13 kemudian dibanting menutup dari dalam.
Kamera hanya merekam pintu kayu yang tertutup rapat itu selama hampir lima puluh menit. Selama waktu itu, tidak ada tanda-tanda kehidupan di koridor. Hingga akhirnya, pada pukul 04.10 pagi, pintu itu kembali terbuka.
Cowok berjaket senat itu melangkah keluar. Kali ini, dia tampak terburu-buru. Dia sempat membenarkan letak tudung kepalanya, melirik sekilas ke arah kanan dan kiri koridor, lalu berjalan cepat meninggalkan area kosan melalui tangga darurat di ujung lorong.
Setelah video berakhir, keheningan yang mencekam langsung menguasai kamar Kevin. Hanya terdengar suara dengung kipas laptop dan deru napas mereka bertiga yang memburu.
"Dia... dia di dalam kamar Shela selama hampir satu jam," ujar Arga dengan suara hampir tak terdengar. "Dan besok paginya, Shela ditemukan udah nggak bernyawa."
"Ini pembunuhan, Ga. Jelas banget," sahut Nara, matanya berkilat tajam. "Tapi pertanyaannya, kenapa anggota Senat Mahasiswa yang terhormat sampai harus bunuh mahasiswi biasa kayak Shela? Hubungan mereka apa?"
Arga mengusap wajahnya kasar, mencoba merangkai semua kepingan teka-teki yang selama ini hanya berupa desas-desus di kalangan mahasiswa tingkat akhir.
"Nar, lo tahu kan kalau kampus kita belakangan ini lagi heboh soal akreditasi dan audit internal dari kementerian?" Arga memulai penjelasannya dengan suara pelan, seolah takut ada dinding kosan yang mendengarkan.
Nara mengangguk. "Iya, gue denger ada rumor soal kebocoran dana atau semacamnya."
"Bukan cuma dana," potong Arga cepat. "Ada yang lebih gelap dari itu. Di kalangan anak-anak angkatan kita, udah jadi rahasia umum kalau lo mau nilai A instan, atau mau skripsi lo langsung lolos tanpa revisi, lo tinggal hubungi orang dalam. Dan 'orang dalam' yang dimaksud adalah anak-anak Senat yang punya akses langsung ke Sistem Informasi Akademik (SIAK) kampus karena mereka sering diperbantukan di birokrasi."
"Sindikat jual-beli nilai?" gumam Kevin, mulai tertarik dengan arah pembicaraan.
"Iya. Tarifnya mulai dari lima juta sampai puluhan juta rupiah, tergantung mata kuliah dan dosennya. Dan tebak siapa yang kerja paruh waktu sebagai staf administrasi di dekanat selama dua semester terakhir?" Arga menatap Nara lekat-lekat.
"Shela..." tebak Nara lirih.
"Tepat," Arga mengangguk. "Shela itu mahasiswi penerima beasiswa penuh. Dia pintar, teliti, dan dia dipercaya buat megang arsip fisik nilai mahasiswa sebelum diinput ke sistem online. Beberapa minggu lalu, Shela pernah curhat ke gue kalau dia nemu banyak kejanggalan di transkrip nilai beberapa anak pejabat kampus. Dia bilang nilai mereka di draf fisik itu C atau D, tapi begitu ma**k sistem online berubah jadi A mutlak."
Nara langsung berdiri dari kursinya, berjalan mondar-mandir di ruang sempit kamar Kevin sambil menggigit ibu jarinya—kebiasaannya saat sedang berpikir keras.
"Artinya, Shela memegang bukti fisik konspirasi ini," analisis Nara dengan cepat. "Dia kemungkinan besar tahu siapa saja dalang di balik sindikat jual-beli nilai ini. Dan cowok berjaket senat itu datang malam-malam untuk membungkam Shela, atau untuk mengambil bukti fisik yang disimpan Shela di kamarnya."
"Bentar," Kevin menyela, dahinya berkerut. "Kalau tujuannya ngambil bukti fisik, terus apa hubungannya sama Valen? Kenapa Valen juga ma**k ke kamar Shela sebelum cowok itu datang?"
Nara menghentikan langkahnya. Matanya berbinar, seolah baru saja menemukan benang merah yang menyatukan semua kekacauan ini.
"Valen itu selebgram, Kev. Gaya hidupnya mewah, tapi semua orang tahu latar belakang keluarganya biasa-biasa aja. Dari mana dia dapat uang buat beli barang-barang *b**nded* itu? Bagaimana kalau Valen adalah 'perantara' atau *marketing* yang bertugas nyari mahasiswa kaya yang butuh jasa cuci nilai itu?"
Arga terbelalak. "Dan Shela... Shela tahu sahabatnya sendiri terlibat dalam lingkaran hitam ini."
"Persis!" Nara menepuk meja Kevin, membuat cowok itu terlonjak kaget. "Valen ma**k ke kamar Shela jam dua pagi kemungkinan besar buat ngebujuk atau nyuri dokumen itu biar sahabatnya nggak nekat lapor ke rektorat. Tapi setelah Valen gagal, atau mungkin cuma berhasil ngambil sebagian, sang 'bos besar'—cowok berjaket senat itu—turun tangan sendiri buat beresin masalah secara permanen."
Suasana kembali hening. Skala ka**s ini kini terasa jauh lebih besar dan berbahaya dari yang pernah mereka bayangkan. Ini bukan lagi sekadar misteri kamar kos nomor 13. Ini adalah konspirasi besar yang melibatkan kekuasaan, uang, dan reputasi orang-orang penting di universitas mereka.
"Ga," Nara menatap Arga dengan tatapan yang sangat serius, kehilangan semua nada sant** yang biasanya dia gunakan. "Kita nggak bisa cuma diam atau lapor ke polisi biasa tanpa bukti yang kuat. Orang-orang ini punya kuasa buat nutupin ka**s ini dalam semalam. Kita butuh tahu siapa cowok di balik jaket itu."
"Tapi gimana caranya, Nar?" Arga mulai panik. "Kita nggak punya akses ke daftar pemilik jaket itu secara det**l, dan kita nggak bisa asal tuduh!"
Nara tersenyum miring, senyum tipis yang sarat akan rencana berbahaya. Dia menoleh ke arah Kevin yang langsung memasang wajah defensif.
"Kev, lo bilang tadi jaket itu punya nomor registrasi di kerah dalamnya, kan?" tanya Nara.
"Arga yang bilang begitu, bukan gue!" sergah Kevin cepat, mencoba cuci tangan.
"Dan sebagai hacker berbakat yang bisa nge-restore file terhapus dalam waktu kurang dari setengah jam," Nara mendekatkan wajahnya ke monitor Kevin, "gue yakin lo punya kemampuan buat ma**k ke database kemahasiswaan atau akun sosial media Senat Mahasiswa untuk nyari tahu foto-foto mereka yang lagi pakai jaket itu, kan?"
Kevin menghela napas pasrah, tahu bahwa dia tidak akan bisa lepas dari cengkeraman Nara. "Gue butuh waktu. Dan gue butuh a**pan kopi hitam tanpa gula sama mi instan cup dua porsi."
"Gampang. Arga yang bayar," jawab Nara cepat, membuat Arga melotot protes. "Sekarang, sebelum Kevin mulai kerja, ada satu hal lagi yang harus kita beresin."
Nara berjalan menuju pintu kamar Kevin dan membukanya. Dia menoleh ke arah koridor lant** satu, di mana Kamar No. 4—kamar milik Valen—berada.
"Kita masih punya janji sama selebgram kesayangan kampus kita," bisik Nara dengan nada dingin. "Ayo, Ga. Saatnya kita minta penjelasan langsung dari Valen sebelum dia sempat menghapus jejaknya."
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!