**Bab 1: Pod Sempit dan Tangan Robot Ibu Kos**
Satu hal yang paling gue benci dari Neo-Jakarta tahun 2089 adalah kenyataan bahwa miskin itu rasanya bising banget.
Di dalam pod kosan gue yang cuma berukuran dua kali tiga meter, suara dengung AC tua yang tersengal-sengal beradu dengan kelap-kelip lampu hologram merah di dinding. Di layar virtual biru yang melayang tepat di depan muka gue, ada sebuah tulisan besar berkedip dengan warna merah menyala yang bikin sakit mata:
**SISA SALDO: 150 RUPIAH BARU.**
**STATUS SEWA: MENUNGGAK 3 BULAN (JATUH TEMPO).**
Tiga bulan nunggak. Rekor baru dalam sejarah hidup gue yang emang udah berantakan semenjak putus kuliah.
*B**k! B**k! B**k!*
Pintu pod logam gue digedor keras banget dari luar sampai-sampai debu di langit-langit rontok dan mendarat tepat di atas hidung gue. Gue langsung tersedak, buru-buru bangkit dari ka**r lipat tipis yang merangkap jadi sofa.
"Rian! Keluar lo, bocah si****! Jangan pura-pura mati ya lo di dalam!"
Suara cempreng bin melengking itu cuma milik satu orang di seluruh gedung flat murah distrik kumuh Glodok-2 ini: Bu Broto. Ibu kos paling ditakuti yang hobi dandan menor tapi punya tenaga setara mesin traktor.
Gue menghela napas panjang, menelan ludah yang mendadak terasa pahit, lalu menekan tombol sensor untuk menggeser pintu pod ke atas. Begitu pintu terbuka setengah, bau parfum melati murah bercampur minyak pelumas mesin langsung menusuk hidung gue.
Bu Broto berdiri di sana. Tubuh paruh bayanya dibalut daster batik warna merah menyala, kontras banget dengan rambut sasak tingginya yang berwarna ungu metalik. Tapi yang paling bikin merinding dari penampilan Bu Broto bukan dasternya, melainkan lengan kanannya.
Lengan itu bukan lagi kulit dan daging, melainkan modifikasi logam hidrolik krom yang meng***p. Kabel-kabel neon biru berdenyut lambat di sepanjang siku robotik itu, menandakan daya energinya sedang aktif penuh. Itu adalah implan robotik kelas militer bekas yang entah gimana caranya bisa terpasang di tubuh wanita paruh baya ini.
*Klak. Klak. Klak.*
Jari-jari robot baja milik Bu Broto mengetuk-ngetuk pinggiran pintu besi pod gue. Ketukannya menghasilkan percikan api kecil saking kerasnya gesekan logam tersebut.
"Mana duitnya? Tiga bulan, Rian. Tiga bulan! Gue udah c**up sabar ya sama lo. Kosan ini bisnis, bukan panti a**han!" sembur Bu Broto, matanya yang dilapisi lensa kontak kuning menyala melotot tajam.
"Aduh, Bu Broto... sabar dulu, Bu. Tolonglah. Akhir bulan ini proyek *coding* saya pasti cair kok. Sumpah," dusta gue, mencoba memasang senyum paling memelas yang gue punya. Padahal proyek yang gue maksud udah batal total dari dua minggu lalu karena kliennya bangkrut.
"Halah! Bacot!" Bu Broto mengangkat tangan robotnya ke udara. Suara mesin hidroliknya mendesis pelan. *Ssshhh-klik.* "Gue nggak butuh janji manis lo lagi. Malam ini, kalau jam dua belas teng lo belum bayar lunas tiga juta Rupiah Baru, barang-barang lo yang nggak seberapa ini bakal gue loak. Dan lo..."
Bu Broto menunjuk hidung gue dengan jari telunjuk logamnya yang dingin. "Bakal gue lempar keluar. Tidur lo di emperan jalan layang bareng cyborg pengemis sana! Paham?!"
*B**k!*
Bu Broto membanting tombol penutup pintu dari luar. Panel besi pod gue meluncur turun dengan cepat, nyaris menjepit ujung kaki gue. Getaran hantamannya bikin seluruh pod bergoyang pelan.
Gue terduduk lemas di lant** logam yang dingin. Jam digital di sudut layar hologram menunjukkan pukul sembilan malam. Gue cuma punya waktu tiga jam sebelum daster merah Bu Broto dan tangan robot penghancurnya menyeret gue keluar ke jalanan Neo-Jakarta yang malam ini lagi dingin-dinginnya karena diguyur hujan asam.
Gue harus cari duit cepat. Tapi gimana? Jual organ? Implan mata cybernetic gue yang murah ini paling cuma dihargai beberapa puluh ribu di pasar gelap, itu pun kalau ada yang mau beli lensa bekas yang sering *nge-lag* kalau dipakai melihat objek bergerak cepat.
Saat gue nyaris putus asa dan berniat menjambretβopsi yang kemungkinan besar bakal bikin gue berakhir di penjara distrikβsebuah iklan *pop-up* tiba-tiba muncul di pojok kiri bawah layar holografik mata gue. Iklan itu bergambar animasi otak yang bersinar warna emas dengan slogan yang norak tapi langsung menarik perhatian gue:
*βPunya memori yang nggak berguna? Jangan dibuang! Jadikan cuan di NEO-MIND. Kami membeli ingatan Anda dengan harga tertinggi. Proses cepat, tanpa syarat, langsung cair! Legal? Kagak perlu nanya!β*
Neo-Mind. Klinik ilegal yang ada di Gang Kelinci, cuma beberapa blok dari kosan gue. Gue sering dengar rumor tentang tempat itu dari anak-anak tongkrongan di warung kopi bionik. Katanya, mereka membeli ingatan manusia untuk dijadikan "sensasi virtual" atau komoditas hiburan orang-orang kaya di Distrik Atas yang sudah bosan dengan hidup mereka yang terlalu sempurna.
"Ah, pers****," gumam gue sambil menyambar jaket para**t dekil dari gantungan. Dari pada mati beku di jalanan atau digebuki tangan robot Bu Broto, mending gue kehilangan sedikit isi kepala gue.
***
Rintik hujan asam mulai membasahi jaket gue saat gue menyusuri gang-gang sempit Neo-Jakarta. Bau sampah basah, uap selokan, dan kabel terbakar menguar di udara. Lampu-lampu neon toko ramen murah dan panti pijat holografik memantul di genangan air hitam di atas aspal yang retak-retak.
Gue berhenti di depan sebuah pintu besi berkarat dengan papan nama neon kecil yang berkedip setengah mati: *N O - M I N D*. Huruf 'E'-nya sudah mati total, menyisakan cahaya redup yang memancarkan aura mencurigakan.
Gue mendorong pintu itu. Bunyi bel berdenting nyaring.
Di dalam, suasananya lebih mirip bengkel komputer ilegal daripada klinik medis. Kabel-kabel berbagai warna malang melintang di langit-langit seperti sarang labah-labah raksasa. Bau alkohol medis bercampur asap rokok elektrik rasa mentol memenuhi ruangan yang pengap itu.
Di balik meja resepsionis yang berantakan, duduk seorang pria kurus kering dengan kacamata pembesar mekanis terpasang di mata kanannya. Dia sedang asyik menyolder sesuatu yang mirip dengan chip otak.
"Mau jual atau beli?" tanyanya tanpa repot-repot melihat ke arah gue. Suaranya serak dan berat, khas perokok berat.
"Mau... jual," jawab gue agak ragu, merapatkan jaket karena hawa ruangan yang lumayan dingin.
Pria itu meletakkan alat soldernya, lalu menatap gue. Kacamata mekanisnya berputar-putar seperti lensa kamera zoom, memindai wajah gue dari atas sampai bawah. "Pertama kali, ya? Sini, duduk di kursi eksekusi."
Dia menunjuk sebuah kursi kulit hitam yang sudah robek-robek di tengah ruangan. Di atas kursi itu, bertengger sebuah helm logam besar yang terhubung ke mesin kuno penuh layar monitor cembung.
Gue melangkah ragu, lalu duduk. "Beneran bisa dapet duit cepat, kan? Saya butuh tiga juta Rupiah Baru malam ini juga."
"Tergantung memori apa yang lo punya," kata pria itu sambil berjalan ke arah mesin di belakang gue. "Gue dipanggil Dr. Ken. Tapi sant** aja, gue bukan dokter beneran yang punya lisensi. Jadi, memori apa yang mau lo lepas?"
"Memori masa kecil," jawab gue cepat. "Memori yang... kira-kira nggak guna buat masa depan gue. Sesuatu yang acak aja."
Dr. Ken terkekeh geli, suaranya terdengar meremehkan. "Semua orang yang ke sini awalnya bilang begitu. Tapi ingat ya, anak muda, begitu memori itu ditarik dari otak lo, lo nggak bakal bisa mengingatnya lagi. Selamanya. Memori itu bakal dikemas jadi file digital dan jadi milik pembeli di luar sana. Lo nggak bakal punya salinannya di kepala lo."
Gue menelan ludah. Ada rasa ngeri yang mendadak menjalar di tengkuk gue. Tapi bayangan tangan robot Bu Broto kembali melintas di kepala. "Nggak masalah. Yang penting gue nggak diusir dari kosan malam ini."
"Bagus. Kerja sama yang instan," kata Dr. Ken. Dia memasang helm logam itu ke kepala gue. Rasanya dingin dan berat. Dia menempelkan beberapa elektroda basah yang terasa lengket di kedua pelipis gue.
"Sekarang, tutup mata lo. Fokus ke satu memori masa kecil yang mau lo jual. Cari memori yang punya emosi kuat. Bisa rasa senang, sedih, atau haru. Pembeli di luar sana suka banget memori yang emosional. Makin kuat emosinya, makin mahal harganya," instruksi Dr. Ken dari balik punggung gue.
Gue memejamkan mata. Di dalam kegelapan pikiran gue, gue mulai mencari-cari. Menyusuri lorong-lorong ingatan masa lalu yang berdebu.
Hingga akhirnya, gue menemukan satu memori yang terasa sangat terang.
Gue melihat diri gue sendiri saat masih berumur delapan tahun. Hari itu sangat cerah, sesuatu yang langka banget di Jakarta sebelum kota ini berubah jadi hutan beton Neo-Jakarta yang selalu tertutup polusi. Gue sedang berada di sebuah lapangan rumput hijau yang luas. Di samping gue, berdiri seorang laki-laki paruh baya dengan senyum hangat yang menenangkan. Ayah gue.
Beliau memakai kaos putih polos yang agak pudar, memegang gulungan senar layangan dengan erat. Kami sedang menerbangkan layangan kertas berbentuk naga berwarna merah menyala buatan tangan Ayah sendiri.
*"Ayo, Rian! Ulur terus benangnya! Biar naga kita terbang tinggi sampai menembus awan!"* suara Ayah terdengar sangat jelas di telinga gue. Rasa angin sore yang menerpa wajah gue, aroma rumput basah setelah hujan, dan rasa bangga luar biasa saat melihat layangan itu meliuk-liuk indah di langit biru... semuanya terasa begitu nyata. Sangat hangat.
Itu adalah salah satu dari sedikit memori bahagia yang gue punya bersama Ayah sebelum beliau pergi meninggalkan rumah dan nggak pernah kembali lagi.
"Gue... gue mau jual memori ini," bisik gue, air mata hampir menetes di sudut mata gue yang terpejam.
"Memori tentang apa?" tanya Dr. Ken, terdengar tertarik.
"Main layangan sama bokap waktu kecil."
"Bagus sekali! Emosi kebahagiaan masa kecil, hubungan hangat ayah-anak. Itu barang langka yang laku keras di pasar komoditas emosi Distrik Atas. Orang-orang kaya yang kesepian bakal bayar mahal buat ngerasain kehangatan kayak begini," kata Dr. Ken. Gue bisa mendengar bunyi jari-jarinya yang mengetik cepat di kibor fisik mesin.
"Siap-siap ya. Prosesnya agak bikin pusing. Dalam hitungan tiga... dua... satu."
*Zzzt!*
Rasa sakit seperti disengat ribuan lebah raksasa langsung menusuk kedua pelipis gue. Kepala gue rasanya seperti disedot oleh mesin vakum super kuat. Pandangan gue yang semula gelap tiba-tiba dipenuhi oleh kilatan cahaya putih yang menyilaukan mata.
Gue melihat memori tentang lapangan rumput itu mulai memudar secara perlahan. Warna merah pada layangan naga itu perlahan luntur menjadi abu-abu. Senyum hangat Ayah mulai kabur, wajahnya piksel demi piksel terhapus seperti file rusak yang di-*delete* paksa dari sistem.
*"Rian... ulur terus..."* suara Ayah perlahan berubah jadi distorsi suara statis yang bising dan pecah. *Krrrrkkkk.*
Gue pengen teriak. Mulut gue terbuka, pengen bilang "Stop! Batalkan!", tapi seluruh tubuh gue kaku layaknya orang yang sedang ketindihan.
Dan dalam sekejap, semuanya gelap gulita. Hening. Kosong.
***
"Oke, selesai. Lo bisa buka mata sekarang."
Gue mengerjapkan mata beberapa kali. Cahaya lampu neon di klinik Dr. Ken terasa luar biasa menusuk mata gue yang mendadak perih. Kepala gue berdenyut hebat, rasanya mirip seperti efek mabuk alkohol murahan yang paling parah.
Dr. Ken melepaskan helm logam dari kepala gue dengan sant**. Dia tersenyum puas sambil memegang sebuah tabung kaca kecil berisi cairan bercahaya biru keemasan yang berputar lambat. Itu adalah memori gue. Masa kecil gue yang sekarang sudah dikemas dalam bentuk fisik digital.
"Kerja bagus, anak muda. Memorinya bersih banget, minim distorsi trauma. Ini bayaran lo," kata Dr. Ken sambil menempelkan sebuah alat pemindai ke pergelangan tangan gue yang memiliki chip identitas.
*Ting!*
Sebuah notifikasi langsung muncul di layar holografik mata gue:
**SALDO MA**K: 3.500.000 RUPIAH BARU.**
Tiga setengah juta. Lebih dari c**up buat bayar lunas hutang kosan Bu Broto, dan sisanya masih bisa gue pakai untuk makan layak selama sebulan ke depan.
"Makasih," kata gue lirih. Suara gue terdengar asing di telinga gue sendiri, seolah-olah bukan gue yang sedang berbicara.
"Sama-sama. Kalau lo butuh duit instan lagi, datang aja ke sini. Otak lo masih punya banyak memori berharga yang bisa dijual," sahut Dr. Ken dengan senyum ramah yang sekarang terlihat sangat mengerikan di mata gue.
Gue berjalan keluar dari klinik dengan langkah gont**, menembus rintik hujan asam yang semakin deras membasahi jalanan. Langkah kaki gue terasa sangat ringan karena masalah keuangan terbesar gue malam ini sudah beres. Kosan gue aman. Besok pagi gue nggak perlu takut lagi diseret keluar oleh tangan robot hidrolik Bu Broto.
Gue berjalan menyusuri trotoar, mencoba memikirkan makanan apa yang mau gue beli untuk merayakan kemenangan kecil ini. Martabak bionik? Atau ramen instan dengan daging sintetis ekstra?
Tapi, di tengah jalan, langkah kaki gue mendadak terhenti.
Gue mendongak ke langit malam Neo-Jakarta yang gelap gulita, hanya diterangi oleh lampu-lampu sorot gedung pencakar langit yang menembus kabut polusi.
Gue mencoba mengingat sesuatu.
Gue tahu... gue baru saja menjual sebuah memori. Dr. Ken tadi bilang memori itu tentang bermain layangan dengan ayah gue waktu kecil.
Tapi... layangan itu warna apa? Lapangan rumputnya di mana? Dan yang paling membuat dada gue mendadak terasa sesak...
Gimana rasanya punya seorang ayah?
Gue tahu kata "Ayah" itu ada di dalam kamus bahasa gue. Gue tahu secara logika kalau gue punya ayah saat kecil. Tapi saat gue mencoba meraba perasaan hangat yang harusnya menyert** kata itu, gue sama sekali nggak menemukan apa-apa.
Cuma ada sebuah lubang hitam yang dingin, sunyi, dan kosong di dalam kepala gue. Seperti sebuah folder di dalam komputer yang isinya sudah dihapus permanen, hanya menyisakan pintasan ikon rusak yang nggak bisa diklik lagi.
Gue memegang dada kiri gue, merasakan detak jantung gue yang mendadak terasa sangat hambar.
Gue berhasil menyelamatkan tempat tinggal gue malam ini. Tapi saat gue melangkah pulang menuju pod sempit gue, gue sadar satu hal... ada bagian dari jiwa gue yang hilang selamanya di gang sempit tadi, dan bagian terburuknya adalah, gue bahkan nggak tahu apa yang harus gue tangisi.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!