**Bab 10: Neo-Jakarta yang Baru, Kosan yang Sama**
Gue membuka mata perlahan. Hal pertama yang menyambut indra penglihatan gue adalah langit-langit plastik putih kusam yang udah sangat gue hafal. Ada noda bekas rembesan air AC di sudut kanan atas, membentuk pola mirip pulau Kalimantan.
Gue mengembuskan napas panjang. Bau khas pod kosan gue—perpaduan antara sisa mi instan semalam, pewangi ruangan murah aroma jeruk yang udah hampir habis, dan bau besi lembap—langsung memenuhi paru-paru.
Gue masih hidup.
Perlahan, gue mengangkat tangan kanan gue, menatap jemari gue sendiri. Rasanya aneh. Ada perasaan utuh yang udah lama banget nggak gue rasain. Gue menyentuh tengkuk gue. Soket saraf di sana terasa agak perih dan berkerak, tanda kalau luka tusukan alat transfer darurat Alisha kemarin mulai mengering.
Tapi di dalam kepala gue... semuanya terang.
Gue memejamkan mata sebentar, mencoba mengetes ingatan gue.
*Nama gue: Rian.*
*Tanggal lahir: 12 Oktober.*
*Ibu gue...* Wajahnya muncul di benak gue. Sedikit buram di bagian mata, kayak foto lama yang resolusinya kurang bagus, tapi gue bisa mengingat senyumnya yang hangat. Gue ingat aroma parfum melati murah yang selalu dia pakai kalau mau pergi ke pasar. Gue ingat sepeda merah roda tiga gue yang rant**nya sering lepas. Beberapa memori masa kecil gue emang terasa agak kabur di bagian ujungnya, kayak video yang agak *corrupted*, tapi intinya ada di sana. Semuanya kembali. Utuh.
Nggak ada lagi kekosongan hitam yang bikin frustrasi di dalam otak gue. Gue nggak perlu lagi menatap cermin dan bertanya-tanya siapa diri gue yang sebenarnya.
Gue meraih ponsel holo murah gue yang tergeletak di samping bantal. Layarnya langsung menyala, memproyeksikan cahaya biru lembut ke udara. Biasanya, hal pertama yang muncul di layar gue adalah notifikasi merah menyala berukuran raksasa: **TUNGGAKAN UTANG HELIOS: AKUN ANDA DIBEKUKAN.**
Tapi pagi ini, tampilan layarnya bersih. Bersih sebersih-bersihnya.
Sebuah ikon hijau kecil berkedip di pojok kanan atas: *Koneksi Teramankan. Bebas Enkripsi.*
Gue buru-buru membuka portal berita siber lokal. Headline-nya langsung bikin gue hampir melompat dari ka**r tipis gue:
**"HELIOS RUNTUH! PROTOKOL AEGIS BERHASIL DIUNGGAH SECARA GLOBAL, SELURUH DATA UTANG SIBER WARGA NEO-JAKARTA TERHAPUS TOTAL!"**
Gue membaca artikel itu dengan jantung yang berdegup kencang. Di bawahnya, ada rekaman video amatir yang memperlihatkan jalanan Neo-Jakarta tadi malam. Orang-orang berhamburan ke jalan, berteriak, menangis, dan berpelukan di bawah guyuran hujan asam. Lampu-lampu reklame Helios yang biasanya memproyeksikan tagihan utang raksasa di langit kota, kini mati total, digantikan oleh warna-warni abstrak yang bebas dari sensor korporat.
"Kita berhasil, Al," gumam gue sendirian, senyum lebar perlahan terukir di wajah gue. "G***, kita beneran ngelakuin ini."
*TOK! TOK! TOK!*
Pintu geser pod kosan gue digedor kasar dari luar. Saking kerasnya, pod sempit gue sampai bergetar.
"Rian! Bangun lo! Jangan mati di dalem! Tagihan lo udah nunggak, ya!"
Gue langsung menghela napas. Suara melengking cempreng itu nggak salah lagi adalah milik Bu Erna, ibu kos paling galak se-distrik 4. Hilangnya monopoli Helios ternyata nggak otomatis menghilangkan tabiat galak ibu kos gue satu ini.
Gue menggeser pintu pod dengan malas. Begitu pintu terbuka, sosok Bu Erna langsung berdiri tegak di sana. Rambutnya masih digulung roll plastik pink, daster batiknya yang berwarna kuning mentereng kelihatan sangat kontras dengan koridor kosan yang bernuansa industrial futuristik abu-abu. Tangannya berkacak pinggang, sementara tangan kirinya memegang tablet data siber.
"Pagi, Bu Erna..." sapa gue lemas, mencoba memasang wajah paling melas yang gue bisa. "Soal uang kosan—"
"Heh, Rian!" Bu Erna langsung memotong ucapan gue, menyodorkan tablet datanya tepat ke depan muka gue. "Lo liat ini!"
Gue mengerjapkan mata, mencoba membaca angka yang tertera di layar tabletnya. "Eh? Diskon lima puluh persen?"
"Bukan cuma diskon, b***! Mulai bulan depan, uang sewa lo gue potong setengah selamanya!" Bu Erna mendadak tersenyum lebar, memperlihatkan satu gigi emasnya yang berkilau di bawah lampu neon koridor. Nada suaranya yang tadinya galak tiba-tiba berubah jadi ramah yang agak menyeramkan.
Gue melongo. "Hah? Serius, Bu? Ibu nggak lagi amnesia siber juga, kan?"
Bu Erna menoyor kepala gue pakai gulungan kertas koran digital yang dia pegang. "Amnesia pala lo peyang! Lo pikir gue nggak tahu? Tadi subuh, anak-anak forum siber distrik bawah pada heboh. Ada rekaman CCTV buram dari B**nkas Data Helios yang bocor ke publik. Meskipun mukanya di-sensor pakai piksel digital, tapi jaket bomber buluk sama postur tubuh bungkuk lo itu nggak bisa bohong, Rian! Itu lo, kan? Lo sama cewek tangan mekanis yang sering jemput lo itu?"
Gue menelan ludah. Waduh. "Anu, Bu... itu..."
"Alah, nggak usah ngeles!" Bu Erna menepuk pundak gue keras-keras sampai gue agak terbatuk. "Gara-gara aksi heroik lo berdua semalem yang nge-upload Aegis apa lah itu namanya, utang implan pinggul siber gue ke Helios yang tadinya ratusan juta langsung lunas seketika! Sistem tagihannya hancur total! Gue bebas, Rian! Bebas!"
Bu Erna kelihatan emosional banget. Matanya yang dilapisi maskara tebal agak berkaca-kaca.
"Kosan ini emang kumuh," lanjut Bu Erna dengan suara yang agak melembut. "Tapi gue bangga ada legenda urban internet yang tinggal di sini. Pokoknya, mulai sekarang sewa lo setengah harga. Dan internet kosan? Gue naikin bandwidth-nya jadi paling kenceng khusus buat lo. Biar lo nggak susah kalau mau nge-hack korporat br****** lainnya."
"Wah... makasih banyak, Bu," kata gue, bener-bener nggak tahu harus merespons kayak gimana lagi selain bersyukur.
"Ya udah, sana mandi! Bau banget lo kayak robot karatan belum diminyakin!"
Setelah memberikan wejangan terakhirnya yang khas, Bu Erna berbalik dan pergi menyusuri koridor sambil bersenandung riang. Gue cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Neo-Jakarta yang baru ternyata bisa bikin orang paling pelit sedunia pun berubah jadi dermawan.
Gue memutuskan untuk mandi kilat. Setelah memakai kaus hitam polos dan jaket bomber kesayangan gue—yang untungnya nggak disita Bu Erna—gue melangkah keluar dari kamar kosan. Tujuan gue cuma satu: atap.
Tangga besi menuju atap kosan terasa sangat dingin di bawah telapak kaki gue. Begitu gue mendorong pintu seng pembatas, angin segar langsung menerpa wajah gue. Baunya masih bau kota besar yang penuh polusi, tapi rasanya ada yang beda. Udara pagi ini terasa lebih... lega.
Dan di sana, duduk di tepi pagar beton yang rapuh, adalah Alisha.
Dia memakai jaket *oversized* warna abu-abu. Rambut hitam pendeknya bergerak pelan ditiup angin. Tangan mekanisnya yang berwarna perak metalik sedang memegang cup mi instan siber yang masih mengepulkan uap panas. Di sampingnya, ada satu cup mi instan lagi yang masih tertutup rapat.
"Lama banget lo bangunnya," kata Alisha tanpa menoleh ke belakang. Dia tahu itu gue cuma dari langkah kaki gue.
Gue berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya, membiarkan kaki gue bergelantungan bebas di ketinggian lant** empat. Gue meraih cup mi instan yang disediakan buat gue.
"Gue habis dapet diskon uang kosan dari Bu Erna," kata gue sambil membuka tutup cup mi instan. Aroma bumbu MSG yang pekat langsung tercium, sangat menggugah selera. "Dia tahu kita yang nge-hack Helios semalem."
Alisha terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar sangat renyah, sesuatu yang jarang banget gue denger selama kami dikejar-kejar agen Helios kemarin. "Bagus deh. Berarti kepala lo dihargai murah sama ibu kos lo sendiri."
"Si**** lo," sahut gue sambil menyuap mi instan panas itu ke dalam mulut. Rasanya nikmat banget. Makanan siber termurah di distrik ini sekarang rasanya kayak makanan bintang lima.
Kami berdua terdiam sejenak, menikmati makanan masing-masing sambil menatap pemandangan di depan kami.
Neo-Jakarta terbentang luas. Dari atas sini, gedung-gedung pencakar langit yang dulu kelihatan intimidatif dan dingin, sekarang terlihat biasa aja. Layar-layar hologram raksasa yang dulu selalu menampilkan wajah CEO Helios yang sombong dan angka-angka utang yang mencekik, kini menampilkan pesan sederhana berwarna putih: **"KOTA INI MILIK KITA KEMBALI."**
"Jadi..." Alisha memecah keheningan, dia memutar-mutar garpu plastiknya. "Gimana kepala lo? Udah inget semua?"
Gue menelan mi instan di mulut gue sebelum menjawab. "Hampir semuanya. Gue inget nama gue. Gue inget ibu gue. Gue bahkan inget kalau dulu gue pernah nangis tiga hari tiga malam cuma gara-gara mainan robot-robotan gue patah."
Alisha tersenyum tipis. Matanya menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu seiring berjalannya hari menuju sore. "Baguslah. Berarti pengorbanan kita nggak sia-sia."
"Tapi ada satu hal yang masih agak buram," kata gue, membuat Alisha menoleh ke arah gue dengan kening berkerut.
"Apa?" tanyanya penasaran.
Gue menatap matanya yang berwarna cokelat terang. "Gue inget kalau gue punya temen masa kecil yang super berisik, yang selalu maksa gue buat bagi bekal makan siang gue di sekolah dasar siber dulu. Cewek yang selalu pakai pita merah besar di rambutnya."
Pipi Alisha mendadak bersemu merah. Dia buru-buru memalingkan wajahnya kembali ke arah kota, mencoba menyembunyikan senyumnya di balik cup mi instan. "Oh. Cewek itu ya. Kayaknya dia emang agak menyebalkan."
"Nggak juga sih," kata gue pelan. "Dia sebenernya keren. Dan gue seneng banget akhirnya bisa inget dia lagi."
Alisha terdiam lama, sebelum akhirnya dia meletakkan cup mi instannya yang udah kosong ke lant** beton. Dia menyandarkan kepalanya di bahu gue. Bahu kirinya yang terbuat dari logam terasa dingin di kulit gue, tapi entah kenapa terasa sangat nyaman.
"Makasih ya, Rian," bisik Alisha. "Karena lo nggak menyerah kemarin."
"Gue yang harusnya makasih sama lo, Al. Kalau lo nggak nekat colok ulang memori gue kemarin, mungkin sekarang gue cuma jadi cangkang kosong tanpa nama."
Kami berdua duduk berdampingan di atap kosan yang kumuh itu, di bawah langit Neo-Jakarta yang kini perlahan berubah warna menjadi jingga keunguan. Kota ini belum sepenuhnya sembuh. Masih banyak yang harus diperbaiki setelah runtuhnya Helios. Esok hari mungkin akan ada masalah baru, korporat baru yang mencoba mengambil alih, atau kekacauan sistem lainnya.
Tapi untuk sekarang, di momen ini, kami berdua tahu satu hal.
Masa depan kami bukan lagi milik korporasi siber yang bisa dijual-beli demi bayar kosan. Masa depan kami, untuk pertama kalinya dalam hidup kami, ada di tangan kami sendiri. Dan kami siap untuk menghadapinya bersama.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!