**Bab 2: Glitches, Agen Korporat, dan Cewek Misterius**
Kepala gue rasanya kayak habis dihantam palu godam ukuran raksasa, lalu dig***s pakai traktor beroda gerigi.
Gue mengerang pelan, mencoba membuka mata. Tapi baru setengah terbuka, pandangan gue langsung disambut oleh garis-garis statis warna merah dan hijau yang melompat-lompat di sudut mata.
*Bzzzt. Error 404: Visual Cortex Unstable.*
*Bzzzt. Warning: Neural extraction residue detected.*
"Si****..." umpat gue sambil memegangi pelipis. Rasa sakitnya berdenyut konstan, seirama dengan detak jantung gue.
Gue melirik jam hologram kecil yang melayang di atas meja kerja. Pukul sembilan pagi. Semalam, setelah Bu Broto mengancam bakal menendang gue keluar, gue bener-bener nggak punya pilihan lain. Gue terpaksa lari ke klinik bawah tanah di sudut Glodok-2, tempat jagal memori ilegal yang baunya amis kayak pasar ikan. Di sana, gue menjual salah satu ingatan masa kecil gueβmomen ulang tahun ke-10 bareng mendiang nyokapβdemi uang tiga juta Rupiah Baru yang langsung gue transfer ke rekening robotik Bu Broto.
Uang kosan lunas. Tapi bayarannya mahal banget. Kepala gue serasa kosong di satu sudut, kayak ada lembar halaman buku harian yang dirobek paksa dari otak gue. Gue bahkan udah nggak ingat warna kue ulang tahun gue saat itu, atau apa hadiah yang nyokap kasih. Yang tersisa cuma rasa hampa yang bikin dada sesak.
"Fokus, Rian. Lo butuh duit lagi buat makan minggu ini," bisik gue pada diri sendiri, mencoba mengalihkan pikiran.
Gue menyeret langkah kaki yang lemas menuju meja kerja kecil di pojok ruangan. Bengkel servis implan siber gue ini sebenarnya cuma sudut sempit yang dipenuhi tumpukan kabel tembaga, solder otomatis yang ujungnya sudah menghitam, dan beberapa organ robotik bekas yang udah karatan.
Hari ini tugas gue adalah memperbaiki implan mata optik murah milik Pak Teo, tetangga sebelah pod yang hobi nonton judi pacuan kuda virtual tapi matanya sering nge-lag. Gue memakai kacamata pembesar, mengambil pinset, dan mulai mengotak-atik sirkuit mikro di dalam bola mata mekanis berwarna perak itu.
*Zzzt.*
Lagi-lagi pandangan gue nge-glitch. Garis statis pink terang memotong visual mata kiri gue. Tangan gue gemetar, bikin pinset yang gue pegang hampir menusuk bagian sensor sensitif mata optik Pak Teo.
"Aduh, parah banget ini efek sampingnya. Tahu gitu gue nggak jual ke klinik murah semalam," gerutu gue sambil mengusap wajah kasar.
Tepat saat gue mau menyalakan solder, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berat dan teratur dari luar lorong. Langkah kaki yang aneh. Terlalu sinkron. Terlalu berisik untuk ukuran penghuni flat Glodok-2 yang biasanya berjalan sant** pakai sandal jepit karet.
*B**k!*
Pintu besi pod gue yang baru diperbaiki semalam hancur berkeping-keping. Puing-puingnya beterbangan, salah satunya hampir saja memenggal hidung gue kalau gue nggak buru-buru tiarap ke bawah meja.
Asap tebal berwarna abu-abu pekat langsung memenuhi ruangan sempit gue. Dari balik kabut asap itu, muncul dua sosok tinggi besar. Mereka memakai setelan *exoskeleton* taktis berwarna hitam matte super mahal, lengkap dengan helm pelindung ber-visor merah menyala yang menutupi seluruh wajah. Di dada mereka, ada logo yang sangat gue kenal, logo yang paling ditakuti oleh seluruh rakyat kelas bawah Neo-Jakarta: lambang matahari emas milik Megakorporasi Helios.
"Rian Wijaya," suara salah satu agen terdengar dingin, terdistorsi oleh modulator suara helmnya. "Subjek teridentifikasi. Amankan."
"W-woi! Bentar! Kalian siapa?!" teriak gue panik, mencoba merangkak mundur sampai punggung gue membentur tumpukan rongsokan mesin. "Gue nggak punya utang sama Helios! Cicilan kulkas gue udah lunas bulan lalu!"
Salah satu agen melangkah maju. Gerakannya sangat cepat, tidak manusiawi. Sebelum gue sempat berdiri, tangan robotik berlapis serat karbon miliknya sudah mencengkeram kerah kaus gue dan mengangkat tubuh gue dengan mudah, seolah-olah gue cuma sekarung beras enteng.
"Di mana cip memori berkode Aegis?" tanya agen itu, mendekatkan visor merahnya yang menyala ke depan muka gue. "Analisis data menunjukkan lo melakukan transaksi penjualan memori ilegal semalam di klinik bawah tanah. Di mana cadangannya?"
"Cip apa?! Aegis apaan?!" gue megap-megap, mencoba melepaskan cengkeraman tangannya yang sekeras besi tempa. "Semalam gue cuma jual memori ulang tahun! Sumpah! Nggak ada cip-cipan! Tanya aja sama dokter gadungan di klinik itu!"
"Negatif. Enkripsi Aegis tertanam di dalam partisi memori masa kecilmu yang terdalam. Dokter klinik tidak bisa mengekstraknya tanpa kunci biologis dari otakmu. Serahkan secara sukarela, atau kami akan mengambilnya secara paksa dengan merusak korteks sereb**lmu."
Agen kedua mengeluarkan sebuah alat berbentuk silinder perak dengan jarum suntik mikro yang panjang dan mengerikan di ujungnya. Alat ekstraksi memori paksa. Gue tahu alat itu. Sekali alat itu menancap di belakang kepala gue, otak gue bakal meleleh jadi bubur dan gue bakal berakhir jadi tanaman hidup alias koma selamanya.
"G***! Lepasin gue! Tolong! Bu Broto! Siapa pun!" gue berteriak sekencang-kencangnya, tapi lorong flat Glodok-2 yang biasanya bising mendadak sunyi senyap. Tetangga-tetangga gue pasti langsung mengunci pintu rapat-rapat begitu melihat logo Helios. Di distrik ini, tidak ada yang mau mati konyol demi menolong tetangga miskin.
Ujung jarum perak itu mulai berputar, mengeluarkan suara dengung berfrekuensi tinggi yang bikin ngilu. Jaraknya tinggal beberapa sentimeter dari dahi gue. Gue memejamkan mata erat-erat, pasrah kalau hari ini adalah hari terakhir gue bernapas di dunia yang pelit ini.
*Ting.*
Sebuah suara dentingan logam kecil yang memantul di lant** menarik perhatian kedua agen Helios.
Gue membuka mata sedikit. Di dekat kaki agen yang memegang gue, sebuah kaleng kecil berbentuk silinder dengan lampu LED biru yang berkedip cepat sedang berputar-putar di lant**.
"Apa ituβ"
"Yo, kaleng kerupuk berjalan! Rasakan ini!" sebuah suara cewek yang terdengar sant** tapi penuh nada mengejek terdengar dari arah pintu yang hancur.
*BLAAASSTT!*
Ledakan cahaya biru terang disert** gelombang kejut elektromagnetik (EMP) langsung memenuhi ruangan. Saking kuatnya gelombang itu, lampu di pod gue langsung pecah berkeping-keping. Layar hologram di meja kerja gue mati total.
Kedua agen Helios itu mendadak kaku. Sistem *exoskeleton* mereka yang bergantung pada daya listrik langsung mengalami *short circuit*. Percikan api kuning keluar dari sendi-sendi baju zirah mereka. Agen yang memegangi gue bergetar hebat sebelum akhirnya kehilangan tenaga dan menjatuhkan gue begitu saja ke lant**.
"Aduh!" gue mengaduh saat pantat gue mendarat keras di atas ubin dingin.
Di tengah kegelapan dan sisa-sisa asap, seorang cewek melangkah ma**k dengan sant**. Penampilannya bener-bener kontras dengan situasi menegangkan ini. Dia memakai kemeja flanel longgar berwarna merah-hitam yang kancingnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan tank top hitam di dalamnya. Celana kargonya yang longgar dipenuhi kantong utilitas, dan di paha kanannya terikat sebuah *cyber-deck* portabel yang kabelnya menjunt** ke pergelangan tangannya. Rambutnya dipotong pendek bergaya *shaggy* dengan warna biru kehijauan yang mencolok.
"G***, agen korporat zaman sekarang makin hari makin ampas aja pertahanannya terhadap EMP murah," cewek itu mencibir sambil mengunyah permen karet.
Dia melirik gue yang masih terduduk lemas di lant** dengan pandangan sinis. "Woi, beban. Masih mau di situ sampai baju besi mereka *reboot* dalam tiga puluh detik, atau mau ikut gue?"
"L-lo siapa?!" tanya gue bingung setengah mati.
Cewek itu memutar bola matanya malas. Dia melangkah maju, lalu tanpa aba-aba langsung menjambak kerah belakang kaus gue dan menyeret gue berdiri. "Panggil gue Alisha. Dan kalau lo nggak mau otak lo diubah jadi jus stroberi sama mereka, mending sekarang lo lari!"
Tepat saat itu, helm salah satu agen Helios mengeluarkan suara dengung pendek. Lampu visor merahnya mulai berkedip-kedip lemah, tanda bahwa sistem mereka sedang mencoba melakukan pemulihan darurat.
"Target... mencoba... melarikan... diri..." suara mekanis agen itu terdengar patah-patah.
"Tuh kan, gue bilang juga apa! Lari, bodoh!" teriak Alisha.
Dia langsung menarik tangan gue, memaksa gue berlari keluar dari pod menyusuri lorong flat yang sempit dan kotor. Langkah kaki kami menggema di sepanjang koridor logam. Di belakang kami, terdengar suara dentuman berat dari langkah kaki para agen Helios yang mulai bisa bergerak kembali, meskipun gerakan mereka masih agak kaku.
"Kenapa mereka ngejar gue?! Gue nggak tahu apa-apa soal Aegis!" tanya gue setengah berteriak sambil berusaha menyamai kecepatan lari Alisha yang ternyata kencang banget buat ukuran cewek yang pakai sepatu bot tebal.
"Karena lo itu b***!" sahut Alisha tanpa menoleh. "Lo ngejual memori masa kecil lo tanpa tahu kalau bokap lo dulu menyembunyikan algoritma enkripsi militer di dalam memori itu! Helios butuh kunci itu buat menguasai jaringan satelit pertahanan Neo-Jakarta!"
Bokap gue? Enkripsi militer? Kepala gue makin sakit mendengar semua informasi yang mendadak ini. Seingat gue, bokap gue cuma seorang teknisi jaringan biasa yang hobi mabuk bir murah sampai akhirnya menghilang entah ke mana lima tahun lalu.
Kami tiba di ujung lorong yang buntu. Di depan kami hanya ada jendela kaca kotor yang menghadap langsung ke gang sempit di bawah flat. Ketinggiannya sekitar tiga lant**.
"Eh, bentar. Kita buntu, Alisha!" seru gue panik.
Alisha berhenti tepat di depan jendela, lalu menoleh ke arah gue dengan senyum tipis yang terlihat sangat menyebalkan. "Buntu kata siapa?"
Dia mengangkat kaki kanannya, lalu menendang kaca jendela itu sampai hancur berantakan. Angin malam yang dingin dan bau asap knalpot langsung menerpa wajah kami.
"Pegangan yang erat, Anak Manja," ujar Alisha.
Sebelum gue sempat memprotes, Alisha menarik pinggang gue dan melompat keluar dari jendela lant** tiga. Gue spontan berteriak histeris, membayangkan tubuh gue bakal hancur menghantam aspal Glodok yang keras.
Tapi untungnya, kami tidak jatuh ke tanah.
*B**k!*
Kami mendarat di atas jok sebuah motor siber berukuran besar yang sudah terparkir tepat di bawah jendela. Motor itu memiliki desain yang sangat aerodinamis, dicat warna hitam doff dengan roda tanpa jari-jari yang memancarkan cahaya neon cyan di sepanjang sisinya. Mesin turbinnya langsung menderu keras begitu mendeteksi bobot kami yang mendarat di atasnya.
"G***! Lo hampir bikin gue jantungan!" teriak gue sambil memeluk pinggang Alisha erat-erat dari belakang. Bau parfum vanila bercampur aroma logam dari tubuh cewek ini mendadak memenuhi indra penciuman gue.
"Berisik! Pegangan atau lo bakal ketinggalan di belakang!" balas Alisha.
Dia menarik tuas gas dalam-dalam. Motor siber curian itu langsung melesat maju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kepulan asap putih di gang sempit. Tepat di belakang kami, beberapa tembakan proyektil laser merah dari agen Helios menghantam dinding-dinding beton gang, menimbulkan percikan api dan lubang-lubang hangus.
Motor kami meliuk-liuk lincah di antara tumpukan tempat sampah dan pipa-pipa uap yang bocor, sebelum akhirnya meluncur mulus ma**k ke dalam arus lalu lintas jalanan utama Neo-Jakarta yang dipenuhi oleh reklame hologram raksasa dan mobil-mobil terbang yang melayang di atas kami.
Gue menoleh ke belakang, melihat siluet gedung flat Glodok-2 yang perlahan menjauh dan mengecil. Hidup gue yang awalnya cuma pusing mikirin uang kosan tiga juta rupiah, sekarang mendadak berubah menjadi pelarian maut dari megakorporasi paling berkuasa di kota ini.
Gue menatap punggung Alisha yang tertutup flanel longgar itu dengan sejuta pertanyaan di kepala. Siapa sebenarnya cewek ini? Dan apa sebenarnya yang ada di dalam ingatan masa kecil yang baru saja gue jual?
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!