Aku Menjual Ingatanku Demi Bayar Kosan

Bab 3: Countdown: Tujuh Hari Sebelum Otak Kosong

Pengaturan Membaca

**Bab 3: Countdown: Tujuh Hari Sebelum Otak Kosong**

Begitu mata gue terbuka, yang pertama kali gue lihat bukan lagi langit-langit pod kosan gue yang berjamur dan bocor.

Gue mendapati diri gue telentang di atas b**nkar logam yang dingin. Di atas gue, puluhan layar monitor holografis melayang-layang di udara, memancarkan cahaya biru neon dan hijau matriks yang berpendar terang. Ribuan baris kode pemrograman, grafik fluktuasi saraf, dan peta digital kota Neo-Jakarta berputar lambat, menciptakan atmosfer fiksi ilmiah yang biasanya cuma bisa gue tonton di bioskop virtual kelas tiga.

"Akhirnya bangun juga lo. Gue pikir lo bakal koma sampai minggu depan."

Gue menolehkan kepala dengan susah payah. Rasa sakit di pelipis gue masih ada, tapi intensitasnya agak berkurang, digantikan oleh sensasi dingin yang aneh di bagian belakang leher gue.

Alisha berdiri di dekat sebuah meja konsol besar. Cewek misterius yang semalam menyelamatkan gue itu kini nggak lagi memakai jaket kulit hitamnya. Dia cuma memakai tank top hitam dan celana kargo longgar, memperlihatkan lengan kirinya yang ternyata merupakan prostetik mekanis super canggih dengan lapisan karbon hitam matte yang kelihatan sangat mahal. Di tangan kanannya, dia memegang satu kaleng minuman energi rasa soda-elektronik.

"Gue... di mana?" tanya gue. Suara gue terdengar serak, kayak tenggorokan gue habis kema**kan pasir gurun.

"Markas gue. Di bawah distrik pembuangan limbah sektor 4. Aman dari radar pencitraan termal para agen Helios yang tadi pagi hampir ngebuat lo jadi dendeng panggang," jawab Alisha sant** sambil meneguk minumannya.

Gue mencoba untuk duduk, tapi kepala gue langsung berputar hebat. *Bzzzt.* Garis statis pink kembali memotong pandangan gue selama satu detik. Gue memegangi kepala gue, mengerang pelan. "Si****... efek samping hapus memori ini bener-bener menyiksa."

Alisha berjalan mendekat. Dia meletakkan kaleng minumannya, lalu mengetuk layar hologram di dekat b**nkar gue dengan ujung jari mekanisnya yang berbunyi *klik-klik* pelan.

"Itu bukan cuma efek samping biasa, Rian," kata Alisha. Nada suaranya mendadak berubah serius, nggak ada lagi nada sant** kayak sebelumnya. "Lo tahu nggak sih, seberapa bodohnya tindakan lo semalam?"

Gue mengerutkan dahi, agak tersinggung. "Hei, gue terpaksa! Kalau gue nggak jual memori itu, Bu Broto bakal nendang gue ke jalanan. Lo nggak tahu rasanya jadi gelandangan di kota si**** ini!"

"Gue tahu rasanya jadi gelandangan, Rian. Tapi gue nggak c**up bodoh untuk ngejual kunci enkripsi paling dicari di dunia siber cuma demi bayar uang kosan tiga juta perak!" Alisha setengah berteriak, melipat kedua tangannya di depan dada.

Gue melongo. "Maksud lo... kunci enkripsi apa?"

Alisha menghela napas panjang, lalu menyentuh layar hologram besar di tengah ruangan. Dia melakukan gestur *swipe* ke arah gue. Sebuah dokumen digital berlabel rahasia dengan logo hologram burung rajawali emas berputar di depan mata gue. Di bawah dokumen itu, ada foto seorang pria paruh baya berkacamata yang sangat gue kenal.

"Bapak?" bisik gue. Dada gue tiba-tiba terasa sesak.

"Danu Wijaya. Mantan kepala divisi pengembangan sistem siber di Helios korporasi," kata Alisha, membacakan data yang tertera. "Lima tahun lalu, sebelum dia dikabarkan 'hilang' karena kecelakaan laboratorium yang direkayasa, bokap lo sempat menciptakan satu proyek rahasia. Namanya proyek 'Aegis'."

"Aegis?"

"Sebuah program *counter-mea**re*. Senjata siber pemusnah massal yang didesain khusus buat mematikan seluruh sistem kontrol pusat milik Helios. Kalau Aegis aktif, monopoli teknologi, AI pengawas, sampai robot-robot patroli mereka bakal mati total seketika. Kota ini bakal bebas dari cengkeraman mereka," jelas Alisha panjang lebar. Matanya berkilat penuh tekad.

Gue masih mencoba mencerna semua informasi g*** ini. "Terus hubungannya sama gue apa? Gue cuma tukang servis implan siber amatir. Gue bahkan nggak lulus kuliah!"

"Bokap lo tahu kalau Helios bakal memburu proyek Aegis sampai ke ujung dunia. Makanya, sebelum dia hilang, dia menyembunyikan kode enkripsi master Aegis di tempat yang paling nggak bakal dicurigai oleh siapa pun. Dia menanamkannya langsung ke dalam jaringan sinapsis otak anak laki-lakinya." Alisha menunjuk dahi gue. "Di dalam otak lo, Rian."

Gue membeku. Jantung gue mendadak berdetak dua kali lebih cepat.

"Dia menyamarkan kode enkripsi itu di dalam salah satu memori masa kecil lo. Memori yang paling berharga buat lo, yang nggak akan pernah lo lupakan secara sukarela," lanjut Alisha dengan suara melunak. "Memori ulang tahun ke-10 lo bareng nyokap lo."

Gue merasa dunia di sekitar gue runtuh seketika. "Nggak... nggak mungkin..."

"Tapi lo malah pergi ke klinik ilegal murah di Glodok-2, berbaring di atas kursi jagal siber, dan membiarkan dokter gadungan di sana mencabut memori itu dari otak lo demi beberapa lembar uang kertas!" Alisha memukul meja konsol dengan tangan mekanisnya, menimbulkan suara dentangan keras yang membuat gue tersentak. "Begitu memori itu dicabut, sinyal enkripsinya langsung aktif dan terdeteksi sama radar Helios. Itu makanya pa**kan elite mereka langsung ngepung kosan lo tadi pagi!"

Gue menatap tangan gue yang gemetar. Rasa bersalah yang teramat sangat langsung menghantam dada gue. Memori ulang tahun itu... satu-satunya kenangan hangat yang tersisa tentang nyokap gue. Gue menjualnya karena putus asa, tanpa tahu kalau gue baru saja menyerahkan kunci kehancuran atau penyelamatan kota ini ke tangan para penjahat korporat.

"Gue... gue bener-bener nggak tahu..." gumam gue, air mata gue hampir menetes tapi langsung gue seka dengan kasar. "Terus sekarang gimana? Cip memori itu masih ada di klinik kan? Kita bisa ke sana dan ambil lagi!"

Alisha menatap gue dengan tatapan kasihan, tapi ada sesuatu yang lebih mengerikan di balik tatapannya itu.

"Itu masalah kedua, Rian. Ada masalah yang jauh lebih darurat yang menyangkut nyawa lo sekarang," kata Alisha. Dia mengetuk layar hologram lagi, menampilkan pemindaian 3D dari struktur otak gue.

Di layar itu, gambar otak gue dipenuhi dengan garis-garis merah menyala yang terus berkedip-kedip, menyebar seperti retakan es di atas danau.

"Apa itu?" tanya gue, mendadak merasa dingin.

"Klinik ilegal tempat lo ngehapus memori itu memakai alat ekstraksi siber generasi lama yang udah usang dan kasar banget. Mereka nggak nge-ekstrak memori lo pelan-pelan, tapi langsung ditarik paksa secara digital," jelas Alisha, suaranya terdengar sangat suram. "Akibatnya, sistem saraf lo mengalami *neural degradation* atau degradasi siber."

"Degradasi siber?"

Alisha mendekat, lalu menekan sebuah tombol. Sebuah angka digital besar berwarna merah menyala muncul di atas kepala gue, berdetik mundur dengan kejam.

**07 : 00 : 00 : 00**

**06 : 59 : 59 : 59**

**06 : 59 : 59 : 58**

"Itu *countdown* lo, Rian," kata Alisha pelan. "Tujuh hari. Lo cuma punya waktu tepat tujuh hari dari sekarang sebelum otak lo mengalami *hard reset* total."

Gue menatap angka-angka merah yang terus berkurang itu dengan mata terbelalak. "Hard reset? Maksud lo kayak HP yang diformat ulang ke pengaturan pabrik?"

"Iya, tapi ini otak manusia. Kalau otak lo ngalamin *hard reset*, semua memori loβ€”dari nama lo, cara berjalan, cara bernapas, memori tentang siapa diri loβ€”semuanya bakal terhapus tanpa sisa. Lo nggak bakal mati secara fisik seketika, tapi lo bakal jadi mayat hidup. Otak lo kosong total. Lo cuma bakal terbaring di ka**r kayak sayuran, bernapas pakai bantuan mesin, nunggu organ tubuh lo gagal berfungsi satu per satu."

Kata-kata Alisha bagaikan petir di siang bolong. Lutut gue lemas meskipun gue sedang berbaring. Tujuh hari? Gue cuma punya waktu seminggu sebelum diri gue yang sekarang lenyap selamanya dari dunia ini?

"G***... ini nggak lucu, Alisha! Lo pasti bercanda kan?!" teriak gue panik, mencoba turun dari b**nkar tapi langsung jatuh terduduk di lant** karena kaki gue nggak sanggup menopang tubuh gue sendiri. "Pasti ada obatnya! Suntikan nanobot? Terapi radiasi saraf? Apa aja! Gue punya tabungan... oke, tabungan gue kosong, tapi gue bisa cari duit!"

Alisha berjongkok di depan gue, memegang kedua bahu gue dengan tangan organik dan mekanisnya. Tatapannya sangat serius, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Dengerin gue, Rian. Nggak ada obat medis di dunia ini yang bisa benerin degradasi saraf separah ini. Satu-satunya cara buat menghentikan proses *hard reset* itu adalah dengan memasang kembali cip memori fisik yang berisi enkripsi Aegis itu ke slot saraf otak lo."

"Kita harus nge-patch balik data yang hilang sebelum kerusakan sinapsisnya jadi permanen. Lo paham?"

Gue menelan ludah dengan susah payah. Harapan kecil muncul di dada gue. "Berarti kita cuma perlu balik ke klinik Glodok-2 itu, kan? Kita ambil cipnya dari dokter gadungan itu!"

Alisha menggelengkan kepalanya pelan, membuat harapan gue langsung hancur berkeping-keping lagi.

"Telat. Sejam yang lalu, sebelum gue bawa lo ke sini, agen taktis Helios udah menyerbu klinik itu. Mereka membant** semua orang di sana, terma**k dokter gadungan yang malang itu. Dan cip memori lo... udah dibawa pergi oleh mereka."

"Ke mana?" tanya gue lirih, hampir putus asa.

Alisha berdiri, lalu menunjuk ke arah salah satu monitor yang menampilkan gambar sebuah gedung pencakar langit super megah yang menjulang tinggi menembus awan hitam Neo-Jakarta. Gedung dengan logo hologram raksasa bertuliskan 'HELIOS' yang bersinar kejam di puncaknya.

"Ke gedung pusat Helios Sektor 1. Tempat dengan tingkat keamanan paling ketat di seluruh negeri. Cip itu sekarang ada di laboratorium riset utama mereka di lant** paling atas," kata Alisha.

Gue menatap gedung tinggi itu, lalu beralih menatap angka merah yang terus berdetak mundur di hadapan gue.

*06 hari, 23 jam, 58 menit.*

Gue tertawa getir. Rasanya kayak lelucon paling sarkastik yang pernah ditulis takdir buat hidup gue yang menyedihkan ini. Gue cuma pengen bayar uang kosan biar nggak tidur di emperan toko, tapi sekarang gue malah terjebak dalam misi bunuh diri buat menyusup ke jantung pertahanan korporasi terbesar di dunia demi menyelamatkan otak gue sendiri agar nggak jadi kosong.

"Tujuh hari ya?" gumam gue, mengepalkan tangan erat-erat hingga kuku-kuku gue memutih. Rasa takut yang awalnya melumpuhkan gue perlahan-lahan berubah menjadi kemarahan yang membakar dada. Gue nggak mau mati konyol sebagai mayat hidup tanpa memori.

Gue mendongak, menatap Alisha yang sedang memperhatiin gue dengan senyum tipis di sudut bibirnya.

"Jadi," kata gue dengan suara yang kali ini terdengar mantap. "Gimana rencana kita buat ngerampok gedung itu?"

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca