**Bab 4: Memburu Dokter Gadungan**
Kepala gue rasanya kayak dihantam palu godam setiap kali motor terbang Alisha bermanuver tajam di antara gedung-gedung pencakar langit Neo-Jakarta. Angin malam yang dingin menusuk jaket tipis gue, tapi keringat dingin justru terus mengalir di pelipis. Di depan gue, Alisha fokus mengendalikan s****g motor, rambut pendeknya berkibar tertiup angin, sementara lengan mekanisnya berkilau memantulkan cahaya neon warna-warni dari papan reklame raksasa di sepanjang jalan.
"Lo masih hidup, kan?" suara Alisha setengah berteriak, mencoba mengalahkan deru mesin motor dan bisingnya kota.
"Masih! Tapi kalau lo belok setajam tadi lagi, kayaknya lambung gue yang bakal ketinggalan di belakang!" sahut gue sambil memegangi perut.
Gue mencoba memfokuskan pandangan. Di sudut mata kanan gue, sebuah bar status berwarna merah berkedip lambat: *Neural Degradation: 12% Remaining Time: 6 Days, 18 Hours.*
Sial. Waktu gue terus berjalan mundur. Dan yang bikin gue makin panik, rasa pusing ini bukan cuma sakit fisik biasa. Ada semacam kekosongan yang aneh di kepala gue, seolah-olah ada beberapa laci di otak gue yang mendadak dikunci rapat dan kuncinya dibuang.
"Kita hampir sampai," kata Alisha, mengurangi kecepatan motornya saat kami mulai mema**ki area kumuh di Sektor 4.
Motor meluncur turun ke sebuah gang sempit yang gelap, di mana air hujan yang bercampur oli menggenang di jalanan berlubang. Ini adalah wilayah *Neo-Mind*, klinik ilegal tempat gue menjual memori gue kemarin malam. Tempat di mana dokter gadungan bernama Dr. Aris merenggut paksa ingatan gue demi beberapa lembar kredit si**** untuk bayar kosan Bu Broto.
Alisha memarkir motornya di balik tumpukan kont**ner sampah logam. Kami turun, dan bau busuk sisa makanan langsung menusuk hidung.
"Aneh," gumam Alisha sambil meraba pistol kejut listrik yang tersampir di pinggang kargonya. "Klinik ini biasanya rame sama pecandu siber atau orang-orang putus asa kayak lo yang mau jual organ atau memori. Kenapa sekarang sepi banget?"
Gue memandang ke arah pintu ma**k klinik *Neo-Mind*. Pintu geser otomatis yang kemarin kokoh berdiri, kini tampak miring dan setengah hancur. Asap tipis berwarna kelabu keluar dari celah-celahnya, membawa bau hangus sirkuit terbakar yang sangat menyengat.
"Firasat gue nggak enak," bisik gue.
"Sama. Tetap di belakang gue, Rian," perintah Alisha dengan nada tegas yang nggak menerima bantahan. Lengan mekanis karbonnya mengeluarkan bunyi klik halus, bersiap untuk mode tempur.
Kami melangkah ma**k dengan sangat hati-hati. Keadaan di dalam klinik jauh lebih buruk dari yang gue bayangkan. Tempat ini hancur total. Meja resepsionis yang kemarin rapi kini terbelah dua. Kursi-kursi tunggu berserakan, dan beberapa monitor hologram yang menampilkan promo modifikasi saraf tampak pecah, menyisakan percikan api siber yang berbunyi *kretek-kretek* di lant** yang basah.
"Dr. Aris?" panggil gue setengah berbisik. Nggak ada jawaban.
Kami berjalan lebih dalam, menuju ruang operasi utamaβtempat di mana gue berbaring kemarin. Begitu pintu ruangan itu terbuka, napas gue langsung tercekat.
Dr. Aris ada di sana. Tapi dia nggak sedang duduk di kursi kebesarannya.
Tubuh ringkih dokter gadungan itu terkapar di atas lant** logam yang dingin, bersimbah darah. Yang lebih mengerikan, soket saraf siber di belakang lehernya tampak dipaksa copot, menyisakan luka robek yang menganga dan kabel-kabel halus yang menjunt** keluar bersama darah segar. Matanya melotot kosong ke langit-langit, memantulkan sisa hidup yang baru saja direnggut dengan kejam.
"A****... dia mati," bisik gue, mundur satu langkah karena ngeri. Perut gue mendadak mual.
Alisha langsung berlutut di samping mayat Dr. Aris. Dia sama sekali nggak kelihatan jijik atau takut. Tangan mekanisnya dengan cekatan memeriksa denyut nadi di leher sang dokter, lalu beralih memeriksa luka di kepalanya.
"Baru sekitar sepuluh menit yang lalu," kata Alisha dengan suara dingin yang profesional. "Pelakunya profesional. Mereka nggak cuma bunuh dia, tapi juga nge-format paksa memori otaknya biar nggak bisa di-retrieve sama polisi siber."
"Tapi... kenapa?" tanya gue panik. "Apa ini karena chip memori gue?"
"Kemungkinan besar iya," Alisha berdiri, matanya menyapu sekeliling ruangan yang berantakan. "Mereka mau ng***ngin jejak. Siapa pun yang beli memori lo, mereka nggak mau ada orang lain yang tahu ke mana barang itu pergi."
Tiba-tiba, Alisha menyadari sesuatu. Di sudut meja operasi, ada sebuah konsol darurat yang layarnya berkedip-kedip merah. Lampu indikator transfer data di konsol itu masih menyala pelan.
"Rian! Sini, cepet!" panggil Alisha. "Dr. Aris sempat ngaktifin sistem *black-box* kliniknya sebelum dia tewas. Ada data log transaksi yang terkunci di dalam port manual meja ini."
Alisha mencoba mengakses konsol tersebut menggunakan kabel konektor dari pergelangan tangan mekanisnya, tapi layar justru menampilkan pesan error berwarna merah tebal: *MANUAL HARDWARE BYPASS REQUIRED.*
"Sial, port-nya dikunci secara fisik pakai sekrup pengaman siber tipe-X," Alisha mendecak kesal. Dia menoleh ke arah gue. "Rian, lo kan punya obeng siber multifungsi yang sering lo pakai buat nge-hack meteran listrik kosan lo? Keluarin! Kita harus buka panel ini sekarang sebelum datanya kehapus otomatis!"
"Oh, iya! Bentar," jawab gue cepat.
Gue meraba saku jaket gue dan menarik keluar sebuah alat berbentuk pena tebal berwarna perakβobeng siber kustom kesayangan gue yang selalu gue bawa ke mana-mana. Alat yang biasanya bisa gue mainkan dengan satu tangan sambil memejamkan mata.
Tapi, begitu alat itu berada di genggaman gue... sesuatu yang aneh terjadi.
Gue menatap obeng siber itu. Otak gue mendadak nge-blank.
Gue tahu ini obeng siber milik gue. Gue tahu alat ini sangat penting. Tapi... gimana cara kerjanya? Di mana tombol untuk menyalakan pemanas ionnya? Bagaimana cara mengatur torsi magnetiknya agar pas dengan sekrup tipe-X?
Gue menatap ujung obeng itu dengan pandangan kosong. Jari-jari gue gemetar. Keringat dingin kembali mengucur deras. *Bzzzt.* Garis statis pink kembali memotong pandangan gue, kali ini lebih lama, hampir dua detik penuh.
"Rian? Buruan! Kenapa malah bengong sih?" desak Alisha, nadanya mulai panik saat melihat indikator penghapusan data di layar sudah mencapai 80%.
"Al... gue..." suara gue bergetar. "Gue lupa."
"Lupa apa? Jangan bercanda deh, ini darurat!"
"Gue nggak bercanda, Al!" teriak gue frustrasi, air mata hampir menetes karena rasa takut yang luar biasa. "Gue beneran lupa! Gue nggak tahu cara pakai obeng ini! Gue nggak ingat tombol mana yang harus gue pencet!"
Alisha tertegun. Dia menatap gue dengan pandangan mata yang berubah dari kesal menjadi penuh rasa ngeri yang mendalam. Dia menyadari apa yang sedang terjadi. Degradasi memori gue bukan cuma menghapus ingatan masa lalu, tapi sudah mulai menggerogoti keterampilan motorik dan pengetahuan praktis yang gue miliki. Otak gue sedang menghapus dirinya sendiri.
"Sini, kasih ke gue!" Alisha merebut obeng siber itu dari tangan gue yang gemetar.
Dengan gerakan cepat dan kasar, Alisha menekan tombol kecil di bagian bawah obengβtombol yang seharusnya sangat gue hafalβlalu menusukkannya ke sela-sela panel meja operasi. Dalam beberapa detik, panel itu terbuka dengan suara *prak* yang keras. Alisha langsung mencolokkan kabel dari tangan mekanisnya ke dalam sirkuit yang te*******.
*Data retrieval: 100% Complete.*
Alisha menghela napas lega, tapi wajahnya masih kelihatan sangat tegang. Dia menatap layar hologram kecil yang terproyeksi dari lengannya. Baris-baris kode transaksi digital berputar cepat sebelum akhirnya berhenti pada satu baris data berwarna emas.
"Dapat," bisik Alisha.
"Siapa... siapa yang beli chip memori gue, Al?" tanya gue dengan suara lemas, sambil bersandar pada dinding klinik yang retak. Kepala gue rasanya kosong dan ringan, seolah-olah sebagian dari diri gue baru saja lenyap selamanya.
Alisha membaca data itu dengan dahi berkerut dalam. "Nama pembelinya di-enkripsi pakai protokol militer. Tapi, tanda tangan digital transaksinya mengarah ke satu nama: *The Spider*. Dia broker informasi kelas kakap di Neo-Jakarta."
"Di mana kita bisa nemuin dia?"
"Dia beroperasi di Distrik Red-Light Sektor 9," jawab Alisha serius. Dia menatap gue dengan tatapan yang sangat bersalah sekaligus cemas. "Dan tebak siapa yang mendanai pembelian itu? Rekening bayangannya terhubung langsung ke *Helios Corporation*."
Mendengar nama Helios, jantung gue rasanya mau copot. Helios adalah megakorporasi raksasa yang mengendalikan hampir seluruh teknologi dan pemerintahan di Neo-Jakarta. Kalau mereka sampai terlibat, berarti apa yang dibilang Alisha di markasnya tadi seratus persen benar: di dalam memori yang gue jual seharga uang kosan itu, tersimpan sesuatu yang bisa mengguncang seluruh kota ini.
Alisha mendekat ke arah gue, lalu memegang kedua bahu gue dengan tangan manusianya yang hangat.
"Rian, dengerin gue," kata Alisha, matanya menatap langsung ke dalam mata gue yang mulai sayu. "Waktu kita bener-bener menipis sekarang. Degradasi memori lo berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan gue. Tadi lo lupa cara pakai obeng kesayangan lo. Besok, lo mungkin bakal lupa cara jalan, atau bahkan lupa nama lo sendiri."
Gue menelan ludah, tenggorokan gue terasa sangat kering. "Gue... gue nggak mau mati konyol kayak gini, Al. Gue cuma mau bayar kosan..."
"Gue tahu. Dan gue bakal bantu lo dapetin kembali memori lo," Alisha tersenyum tipis, mencoba memberikan ketenangan yang sebenarnya dia sendiri nggak yakin bisa dia penuhi. "Kita harus ke Distrik Red-Light sekarang juga. Kita cari si Spider itu, dan kita rebut kembali otak lo sebelum semuanya terlambat."
Gue menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang gue miliki. Di sudut pandang gue, angka merah itu terus berkedip, mengingatkan bahwa hidup gue sekarang nggak lebih dari sekadar hitungan mundur yang kejam.
"Ayo," kata gue, mencoba berdiri tegak meski kaki gue terasa lemas. "Sebelum gue lupa gimana caranya jalan."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!