Aku Menjual Ingatanku Demi Bayar Kosan

Bab 5: Rusuh di Distrik Neon

Pengaturan Membaca

**Bab 5: Rusuh di Distrik Neon**

Distrik Neon itu definisi nyata dari kata 'gemerlap tapi busuk'.

Begitu gue dan Alisha menginjakkan kaki di kawasan *Red-Light* Sektor 6, mata gue langsung disambut oleh lautan cahaya merah muda, sian, dan ungu yang berpendar dari papan reklame hologram raksasa. Ada hologram perempuan kucing siber menari-nari di atas gedung, iklan implan mata yang kedip-kedip genit, sampai bau asap rokok elektrik rasa sintetis yang campur aduk sama bau selokan wet-season. Musik techno dengan bass super berat berdentum dari berbagai sudut, bikin dada gue ikutan bergetar kayak speaker rusak.

"Jangan bengong, Rian. Dompet lo bisa ilang dalam tiga detik di sini," tegur Alisha sambil menyikut rusuk gue. Dia menarik tudung jaket parkanya untuk menutupi sebagian wajah, sementara lengan mekanisnya yang berwarna hitam matte sengaja dia sembunyikan di balik saku jaket yang longgar.

"Dompet gue emang udah kosong, Al. Isinya cuma sisa-sisa harapan hidup yang makin menipis," sahut gue kecut.

Gue melirik bar status di sudut penglihatan gue.

*Neural Degradation: 11% Remaining Time: 6 Days, 12 Hours.*

Si****. Angkanya terus berkurang. Otak gue rasanya kayak lagi digerogoti semut pelan-pelan. Gue butuh cip memori itu kembali secepatnya sebelum gue bener-bener lupa cara napas.

"Klub 'Neon Nostalgia' ada di depan. Tempat nongkrongnya si Jaka, broker yang beli memori lo dari Dr. Aris," kata Alisha, menunjuk sebuah pintu ma**k dengan logo lampu neon berbentuk kaset pita tua yang retak-retak. Dua orang penjaga bertubuh raksasa dengan modifikasi implan otot di lengan mereka berdiri tegak di depan pintu, menatap setiap pengunjung dengan pandangan mengancam.

"Kita ma**k lewat depan? Gaya kita kayak mau bunuh diri," bisik gue ngeri.

Alisha memutar bola matanya jengah. "Ya enggak lah, b***. Lewat pintu belakang. Gue udah dapet kode aksesnya dari sisa data di klinik Dr. Aris tadi."

Kami memutar lewat gang sempit yang becek oleh tetesan air AC siber. Alisha mendekati panel pintu belakang klub, jemari organiknya bergerak lincah mengetikkan beberapa baris kode di layar virtual kecil yang keluar dari pergelangan tangannya. *Klik.* Pintu besi tebal itu mendesis pelan lalu terbuka.

Begitu ma**k, sensasi retro-cyberpunk langsung menghantam indra gue. Bau alkohol murah, keringat, dan sirkuit panas menguar di udara. Musik techno bertempo cepat berdentum sangat keras, menggetarkan lant** dansa di bawah yang dipenuhi manusia-manusia dengan modifikasi siber aneh-aneh. Ada yang matanya menyala merah, ada yang kulitnya dilapisi pelat krom, semuanya asyik bergoyang di bawah sorotan lampu strobo yang berputar liar.

"Jaka ada di lant** dua. VIP lounge," bisik Alisha di dekat telinga gue supaya suaranya nggak tenggelam oleh musik.

Kami naik tangga melingkar di sudut ruangan, mencoba membaur dengan kerumunan. Di lant** dua, suasananya sedikit lebih tenang tapi jauh lebih tegang. Di sebuah sofa kulit berwarna merah menyala, duduklah seorang pria paruh baya berambut klimis dengan jaket kulit mahal. Mata kirinya digantikan oleh lensa optik siber berwarna keemasan yang terus berputar fokus. Di sekelilingnya, ada tiga orang bodyguard dengan senjata laras pendek tersampir di dada.

Itu dia. Jaka sang broker.

"Oh, lihat siapa yang datang," Jaka tersenyum lebar begitu melihat kami mendekat. Dia menyesap minuman neon biru dari gelasnya. "Alisha si hacker jalanan, dan... oh, si anak kos malang yang memorinya berharga mahal."

Gue mengepalkan tangan. "Gue ke sini cuma mau ambil memori gue balik, Jaka. Sebut harganya. Gue bakal bayar."

Jaka tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar sintetik lewat filter suara di tenggorokannya. "Bayar pakai apa, Rian? Ginjal lo? Atau sisa otak lo yang udah mau hangus itu? Lagian, negosiasi udah tutup."

Firasat gue langsung memburuk. "Maksud lo apa?"

Jaka memajukan tubuhnya, menatap gue dengan mata emas sibernya yang menyipit dingin. "Lo tahu kenapa Dr. Aris panik dan klinik pribadinya dihancurkan? Karena memori yang lo jual itu bukan cuma memori biasa tentang masa kecil lo yang membosankan. Di dalam sana, ada enkripsi data rahasia proyek militer Helios yang gak sengaja kesimpan di otak lo waktu lo kerja magang di lab mereka dulu. Helios pasang denda kepala buat lo. Hidup atau mati."

Gue tertegun. Kepala gue langsung sakit banget mendengar informasi itu. Proyek militer? Gue bahkan nggak ingat pernah magang di sana! Efek samping hilangnya memori ini benar-benar bikin gue frustrasi.

"Dan tebak apa?" Jaka tersenyum licik, tangannya meraba sebuah datapad di atas meja. "Gue baru aja hubungi tim pembersih Helios. Mereka lagi otw ke sini. Denda kepala lo c**up buat bikin gue pensiun kaya raya di sektor atas, Bro. Jadi, mending lo berdua menyerah aja."

"Dalam mimpi lo, Jaka!" seru Alisha.

*BZZZT!*

Sebelum salah satu bodyguard Jaka sempat menarik senjatanya, Alisha bergerak secepat kilat. Lengan mekanis karbonnya meluncur maju, menghantam wajah bodyguard terdekat hingga orang itu terpental menab**k meja kaca sampai hancur berkeping-keping.

"Rian, cari perlindungan!" teriak Alisha sembari menarik pistol kejut listriknya dan menembak bodyguard kedua tepat di dada. Percikan listrik biru meledak, membuat orang itu kejang-kejang di lant**.

Bodyguard ketiga langsung melepaskan tembakan. Suara tembakan plasma *PEW! PEW!* memecah keheningan lant** dua. Pengunjung klub di bawah langsung histeris. Musik techno masih berdentum, tapi sekarang bercampur dengan jeritan panik ratusan orang yang berebut menyelamatkan diri ke pintu keluar. Chaos total.

Gue berguling di balik sofa merah, napas gue memburu cepat. Jaka mencoba kabur sambil mendekap datapad-nya erat-erat.

"Sial, sial, sial!" umpat gue. Sebagai anak jurusan teknik mesin yang biasa benerin motor terbang butut, gue gak punya skill berantem kayak Alisha. Tapi mata gue langsung tertuju pada panel kontrol listrik utama klub yang terletak di dinding pilar, gak jauh dari tempat gue tiarap. Panel itu tertutup penutup transparan, memancarkan kabel sirkuit bervolume tinggi yang menyuplai seluruh daya di gedung ini.

*Gue kan anak mesin,* batin gue mencoba menenangkan diri yang lagi gemetaran.

Gue meraba saku celana kargo gue, mengeluarkan obeng saku multifungsi dan tang potong kecil yang untungnya selalu gue bawa. Sambil merangkak menghindari cipratan peluru plasma yang menghantam sofa di atas kepala gue, gue berhasil mencapai panel sirkuit tersebut.

Gue buka paksa penutupnya. Di dalamnya ada puluhan kabel serat optik dan konduktor tembaga. Otak gue bekerja cepat, menganalisis diagram sirkuit yang setengahnya buram di kepala gue karena degradasi memori.

"Kabel merah ke ground bypass... kabel biru jumper ke generator cadangan... kalau ini gue gabungin..." gumam gue panik.

Gue memotong kabel daya utama dan langsung menghubungkannya ke sirkuit overload lampu strobo.

"Rian! Gue gak bisa nahan mereka lebih lama lagi!" teriak Alisha yang sekarang lagi baku hantam jarak dekat dengan bodyguard ketiga, sementara Jaka sudah hampir sampai di pintu darurat.

"Satu detik lagi, Al! Pegangan!" teriak gue.

Gue menyatukan kedua ujung kabel tembaga tebal itu dengan tang penolong gue.

*SPARK!*

Ledakan bunga api yang sangat besar memercik dari panel, membakar ujung lengan jaket gue. Dalam sekejap, seluruh lampu di klub mati total. Kegelapan gulita langsung melanda, hanya menyisakan kerlap-kerlik darurat merah yang berputar lambat, menciptakan suasana mencekam layaknya film horor siber. Sistem suara klub mati dengan dengingan panjang yang m****akkan telinga.

"Argh! Mataku!" teriak Jaka. Implan mata sibernya yang sensitif terhadap perubahan cahaya drastis langsung mengalami *temporary glitch* akibat korsleting sistem listrik sekitar. Dia jatuh terduduk sambil memegangi wajahnya.

"Kerja bagus, Rian!" suara Alisha terdengar di kegelapan.

Gue melihat siluet Alisha bergerak cepat menerjang Jaka yang lagi kesakitan. Alisha mengunci gerakan Jaka ke lant**, lalu dengan kasar merebut datapad dari tangan broker tersebut.

"Buka kuncinya, Jaka! Atau gue bikin implan mata lo ini meledak di dalam tengkorak lo!" ancam Alisha dengan nada dingin yang gak main-main.

"O-ok! Jangan! Jangan tembak!" Jaka yang ketakutan langsung menempelkan ibu jarinya ke pemindai biometrik di datapad.

*Access Granted.* Layar datapad itu menyala terang, menampilkan baris-baris data transaksi ilegal.

Alisha dengan cepat menghubungkan kabel data dari pergelangan tangan kirinya ke datapad Jaka. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan dengan sangat cepat, membaca data siber yang ma**k langsung ke implan visualnya sendiri.

"Gimana, Al? Memorinya ada di dia?!" tanya gue panik, sambil berjalan mendekat dengan langkah tertatih. Kepala gue makin berdenyut nyeri, sisa korsleting tadi bikin telinga gue berdengung parah.

Wajah Alisha yang semula tegang berubah menjadi pucat di bawah temaram lampu darurat merah. Dia menatap gue dengan pandangan campur aduk antara cemas dan tidak percaya.

"Rian... cip memori lo udah gak ada di sini," kata Alisha lirih.

Jantung gue rasanya berhenti berdetak. "M-maksud lo apa? Jaka udah jual ke Helios?"

Alisha mengangguk pelan. Dia mencabut konektor datanya lalu membantu gue berdiri. "Datanya baru aja ditransfer sejam yang lalu. Cip memori fisik lo... sekarang disimpan di B**nkas Data Pusat di Menara Helios."

Gue lemas. Menara Helios.

Itu adalah gedung pencakar langit setinggi seratus lant** di Sektor 1, pusat kekuasaan korporasi yang mengendalikan seluruh kota Neo-Jakarta. Tempat paling terjaga, paling ketat, dan paling mustahil untuk ditembus oleh manusia biasa, apalagi oleh dua orang remaja miskin yang cuma bermodalkan motor terbang butut dan obeng saku.

"Kita harus pergi sekarang, tim pembersih Helios bentar lagi sampai!" kata Alisha sambil menarik lengan gue, memaksa gue untuk kembali bergerak menyusuri tangga darurat di tengah kekacauan pengunjung klub yang masih berebut keluar.

Di luar, hujan asam mulai turun membasahi Distrik Neon. Gue menatap ke arah langit Sektor 1, di mana puncak Menara Helios berdiri megah menembus awan polusi, memancarkan cahaya putih dingin yang seolah-olah sedang menertawakan sisa hidup gue yang tinggal menghitung hari.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca