**Bab 6: Rencana G***: Membobol Menara Helios**
Gue terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa di belakang kepala, seolah-olah ada seseorang yang sedang menancapkan paku berkarat langsung ke otak gue. Pandangan gue buram. Dunia di sekitar gue berbayang, bergeser dari warna aslinya menjadi distorsi siber berwarna hijau neon yang pecah-pecah.
Gue mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha memfokuskan pandangan. Di sudut kanan atas visi siber gue, sebuah peringatan berwarna merah menyala berkedip dengan kejam:
*Neural Degradation: 38%. Remaining Time: 3 Days, 10 Hours.*
Tiga hari lebih sedikit. Waktu gue makin tipis, setipis dompet gue sebelum jual memori.
Gue mencoba bangkit dari ka**r busa tipis di sudut bengkel tua ini. Seluruh tubuh gue rasanya lemas seperti jeli. Di dekat meja kerja yang berantakan dengan kabel dan solderan, seorang perempuan sedang membelakangi gue. Dia memakai jaket parka longgar, rambut kuncir kudanya agak berantakan, dan lengan kirinya yang terbuat dari logam hitam *matte* sesekali memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip-kedip.
Gue menatap punggungnya. Jantung gue tiba-tiba berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, tapi karena rasa takut yang teramat sangat.
*Siapa dia?*
Otak gue mendadak kosong. Gue tahu gue kenal dia. Gue tahu dia orang yang sangat penting bagi gue akhir-akhir ini. Tapi... siapa namanya? Kenapa dia ada di sini? Nama? Di mana label nama di kepala gue untuknya? Hilang. Terhapus.
"Woi," panggil gue, suara gue parau dan gemetar. "Lo... lo siapa ya?"
Perempuan itu langsung berbalik. Gerakannya begitu cepat hingga kabel-kabel di meja kerja sempat tersenggol. Dia menatap gue dengan mata bulatnya yang kecokelatan. Ekspresi wajahnya langsung berubah drastisβdari lelah menjadi sangat terkejut, lalu berubah menjadi ketakutan yang mendalam.
"Rian? Lo... lo barusan ngomong apa?" tanya perempuan itu, melangkah mendekat.
"Gue... gue nanya, lo siapa?" Gue memegangi kepala gue yang makin berdenyut kencang. Keringat dingin mulai bercucuran di dahi gue. "Gue tahu kita deket. Tapi... a****, otak gue blank. Nama lo siapa? Sumpah, gue nggak bercanda. Nama lo siapa?!" Suara gue meninggi, panik mulai menguasai akal sehat gue.
Dia diam mematung di samping ka**r gue. Lengan organiknya menutup mulutnya sendiri, sementara mata indahnya mulai berkaca-kaca.
"Rian, ini nggak lucu," bisiknya, suaranya bergetar. "Jangan bercanda kayak gini. Kita baru aja lolos dari kejaran anak buah Jaka kemarin malam. Kita harus gerak cepat."
"Gue nggak bercanda!" teriak gue frustrasi. Gue menjambak rambut gue sendiri. "Gue beneran nggak inget nama lo! Siapa?! Tolong kasih tahu gue sebelum gue lupa cara napas!"
Air mata akhirnya lolos dari sudut mata perempuan itu. Dia langsung berlutut di samping ka**r gue, mencengkeram kedua bahu gue dengan sangat erat. Sentuhan tangan mekanisnya yang dingin dan tangan organiknya yang hangat terasa kontras di kulit gue.
"Alisha, Rian! Nama gue Alisha!" serunya dengan suara serak, menahan tangis. "Lo yang selalu manggil gue 'Al' karena lo bilang nama panjang gue terlalu feminin buat cewek yang bisa nge-hack server militer. Please, Rian... jangan lupain gue. Jangan sekarang."
Kata-kata itu seperti sengatan listrik bertegangan tinggi yang langsung menghantam saraf pusat gue. *Alisha.*
Detik itu juga, memori tentangnya langsung mengalir kembali seperti air bah yang menjebol bendungan. Alisha yang galak, Alisha yang menyelamatkan gue di klinik Dr. Aris, Alisha yang selalu mengomel tapi tetap menemani gue ke Distrik Neon.
Gue menarik napas panjang, terengah-engah seolah baru saja muncul dari permukaan air setelah hampir tenggelam.
"Al... Alisha," bisik gue, menatap matanya yang basah. "Sori. Sori banget. Sumpah, tadi... tadi gelap banget di sini." Gue menunjuk kepala gue sendiri dengan jari yang masih gemetar. "Gue beneran lupa selama beberapa menit."
Alisha langsung menyeka air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan jaketnya. Dia mendengus, berusaha mengembalikan topeng tangguhnya, meskipun gue bisa melihat bahunya masih gemetar.
"B***," umpatnya lirih, tapi terdengar lega. "Gue hampir aja mau nge-format otak lo sekalian pake virus kalau lo beneran lupa sama gue."
"Jangan dong, nanti gue lupa cara bayar kosan," canda gue garing, berusaha mencairkan suasana yang sempat mencekam.
Alisha berdiri, menarik napas dalam-dalam, dan kembali ke mode seriusnya. "Efek degradasinya makin cepet, Yan. Info dari Jaka kemarin di klub bener-bener bikin kita terdesak. Chip memori lo yang berisi ingatan tiga tahun terakhir itu... udah nggak ada di pasar gelap."
Gue mendesah pasrah. Kemarin, sebelum hampir digebuki anak buah Jaka di klub Neon Nostalgia, broker tengik itu sempat membisikkan satu informasi vital sebelum kami kabur lewat ventilasi: cip memori gue sudah dibeli oleh korporasi raksasa yang menguasai kota ini.
"Menara Helios," gumam gue.
"Yap. Menara Helios. Lant** paling atas, di laboratorium riset neuro-teknologi milik divisi elit mereka," kata Alisha sambil mengaktifkan proyektor hologram portabelnya.
Seketika, di tengah ruangan yang remang-remang itu, muncul proyeksi 3D Menara Heliosβsebuah gedung pencakar langit super megah setinggi seratus lant** yang berdiri kokoh di pusat Upper City, kontras dengan distrik kumuh tempat kami berada sekarang. Gedung itu adalah simbol kekuasaan mutlak para korporat.
"Membobol Menara Helios itu sama aja kayak bunuh diri dengan gaya, Al," kata gue sambil memandangi hologram tersebut. "Itu gedung dengan sistem keamanan paling g*** se-Sektor 6. Ada sensor termal, drone patroli kelas militer, pemindai retina, belum lagi tentara bayaran swasta yang bersenjata lengkap."
"Gue tahu," sahut Alisha tenang, matanya menatap tajam ke arah visual gedung. "Makanya kita nggak bakal ma**k lewat pintu depan kayak tamu undangan. Kita bakal ma**k lewat luar. Dan kita butuh rencana yang luar biasa g***."
Alisha memperbesar gambar bagian atas menara. "Di lant** 98, ada jalur pembuangan ventilasi udara cadangan yang cuma dibuka setiap jam dua pagi selama empat puluh lima detik untuk sirkulasi filter nuklir. Itu satu-satunya celah yang nggak diawasi secara fisik oleh manusia karena radiasinya c**up tinggi. Tapi buat kita, itu jalan ma**k terbaik."
"Empat puluh lima detik?" Gue melongo. "Gimana caranya kita bisa merayap di dinding kaca luar gedung setinggi seratus lant** tanpa ketahuan drone patroli dalam waktu sependek itu?"
"Kita butuh dua barang utama," Alisha menjelaskan, jemarinya mengetik cepat di udara, memunculkan gambar dua buah alat. "Pertama, *setelan kamuflase optik* aktif tingkat militer untuk mengelabui kamera dan sensor termal drone. Kedua, *cyberdeck* atau dek peretas standar militer untuk nge-bypass protokol keamanan ventilasi dari jarak dekat."
Gue memandangi kedua alat itu, lalu melirik ke sekeliling bengkel rongsokan gue. Bengkel ini dulunya tempat gue kerja serabutan, benerin drone pertanian rusak atau modifikasi implan murah buat anak-anak geng lokal. Isinya cuma sampah teknologi.
"Kita nggak punya duit buat beli barang militer kayak gitu, Al. Setelan kamuflase optik itu harganya bisa buat beli kosan gue beserta tanah-tanahnya," kata gue skeptis.
Alisha tersenyum tipisβsenyum yang selalu bikin gue merinding karena biasanya itu berarti dia punya ide yang sangat berbahaya. "Kita nggak bakal beli, Yan. Kita bakal bikin sendiri. Atau lebih tepatnya, lo yang bakal bikin, dan gue yang bakal modifikasi programnya."
Gue mengerutkan dahi. "Gue? Otak gue lagi lemot begini, Al."
"Tapi insting lo masih ada di tangan lo. *Muscle memory* nggak bakal ilang secepat itu," kata Alisha, menepuk bahu gue. "Gue udah dapet beberapa rongsokan jubah kamuflase usang dari pasar loak bawah tanah kemarin malam. Ada juga dek peretas tua bekas polisi patroli yang udah rusak. Tugas lo: gabungin, modifikasi, dan bikin alat-alat itu berfungsi maksimal. Sementara lo benerin hardware-nya, gue bakal nyari celah protokol keamanan satelit luar Menara Helios."
Gue menatap tumpukan rongsokan logam dan sirkuit yang ada di sudut meja kerja. Entah kenapa, melihat solderan, obeng laser, dan bau timah bakar membuat dada gue terasa hangat. Alisha bener. Otak gue mungkin mulai melupakan nama-nama orang, tapi tangan gue masih ingat persis bagaimana rasanya memegang kabel tembaga.
"Oke," kata gue, menarik napas panjang dan menyingsingkan lengan baju. "Ayo kita mulai kerja bakti ini."
Selama belasan jam berikutnya, bengkel tua itu berubah menjadi laboratorium eksperimen g***. Suara desis solderan dan percikan api biru dari las laser memenuhi ruangan. Gue membongkar tiga set jubah kamuflase usang yang serat optiknya sudah banyak yang mati. Dengan teliti, gue menyambungkan kembali serat-serat mikro itu satu per satu ke generator daya baru yang gue kanibal dari baterai siber bekas hover-bike.
"Rian, fokus. Jangan sampai ada kabel yang bersilangan, atau lo bakal langsung keliatan kayak lampu pohon natal pas kita aktifin alatnya di atas sana," celetuk Alisha tanpa mengalihkan pandangannya dari tiga layar virtual yang melayang di depannya. Jemarinya yang organik dan mekanis bergerak sinkron, mengetik baris-baris kode enkripsi dengan kecepatan yang tidak ma**k akal.
"Tenang aja, Nona Hacker. Gue pake isolator serat karbon. Nggak bakal korslet," sahut gue, mengusap peluh di dahi dengan punggung tangan yang kotor oleh oli.
Ketika tangan gue bergerak merakit sirkuit dek peretas, sesekali gue merasa ragu. Otak gue sempat *lag* selama beberapa detik, bingung harus memasang resistor di slot mana. Tapi setiap kali itu terjadi, gue memaksa diri untuk tidak panik. Gue membiarkan insting motorik gue yang mengambil alih. Dan ajaibnya, jemari gue bergerak sendiri dengan pas, memasang cip penguat sinyal ke tempat yang tepat.
Hampir tengah malam, pekerjaan kami akhirnya selesai.
Gue mengangkat sebuah setelan ketat berwarna abu-abu gelap dengan pola heksagonal halus di permukaannya. Ketika gue menekan tombol kecil di bagian pergelangan tangan, setelan itu mendesis pelan, lalu warna dan polanya langsung menyatu dengan latar belakang dinding bengkel yang kotor. Setelan itu hampir sepenuhnya tak terlihat, hanya menyisakan sedikit distorsi udara tipis.
"Efisiensi 85%," kata gue bangga. "Nggak sesempurna buatan pabrik militer, tapi selama kita nggak joget-joget di depan sensor, drone patroli nggak bakal sadar."
Alisha berbalik, menunjukkan dek peretas yang kini sudah dibungkus casing pelat logam kasar hasil modifikasi gue. Lampu indikatornya berkedip hijau stabil. "Dan gue udah berhasil nge-root software dek ini. Begitu kita colok ke panel luar ventilasi, sistem Helios bakal ngira ini adalah sinyal ping diagnostik resmi dari pusat. Kita punya waktu tepat 45 detik untuk ma**k sebelum alarm bunyi."
Kami berdua terdiam, menatap peralatan di depan kami. Keheningan tiba-tiba terasa sangat berat di dalam bengkel sempit ini.
Kami tahu persis apa yang sedang kami rencanakan. Ini bukan sekadar pencurian biasa. Ini adalah misi bunuh diri. Jika kami tertangkap, hukumannya bukan penjara, melainkan langsung dieksekusi di tempat oleh tim keamanan Helios tanpa pengadilan, atau otak kami bakal dicuci total sampai jadi robot korporat tak berjiwa.
"Al," panggil gue pelan, memecah keheningan. "Lo tahu kan, lo nggak harus ngelakuin ini? Ini memori gue yang ilang. Ini masalah gue. Lo bisa aja pergi sekarang dan hidup aman."
Alisha menatap gue. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, gue melihat tatapan yang begitu tulus dan hangat dari balik matanya yang biasanya ketus. Dia tersenyum kecil, lalu memukul pelan lengan mekanisnya ke bahu gue.
"Mati karena nyoba hal g*** kayak begini itu jauh lebih keren, Yan, daripada mati pelan-pelan karena amnesia di kosan sempit yang nunggak tiga bulan," katanya sant**, meskipun gue tahu dia juga tegang. "Lagipula, kalau lo lupa sama gue selamanya... siapa lagi yang bakal gue panggil b*** di dunia ini?"
Gue tertawa pelan. Rasa takut di dada gue perlahan memudar, digantikan oleh tekad yang membara.
"Oke kalau gitu," kata gue, memakai jaket gue dan meraih setelan kamuflase optik yang sudah jadi. "Besok malam, kita tunjukkin ke orang-orang kaya di Menara Helios itu... gimana cara anak kosan ngambil balik apa yang jadi hak mereka."
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!