**Bab 7: Menyusup ke Langit Neo-Jakarta**
Ternyata, langit Neo-Jakarta itu baunya kayak parfum mahal yang dicampur aroma AC baru. Bersih banget, sampai-sampai rasanya haram buat dihirup sama paru-paru orang miskin kayak gue.
Gue menunduk, menatap sepatu bot putih bersih yang sekarang membungkus kaki gue. Nggak ada lagi noda oli, nggak ada lagi bau lumpur got dari Distrik Bawah. Di sebelah gue, Alisha lagi sibuk merapikan kerah seragam *jumpsuit* siber berwarna putih-biru metalik yang kami pakai. Di bagian dada kiri seragam kami, tertulis logo hologram kecil yang bersinar lembut: *Apex Cyber Care*.
"Rian, lo denger gue, kan?"
Suara Alisha memecah lamunan gue. Dia menatap gue dengan cemas dari balik kacamata pelindung sterilnya. Tangan mekanisnya yang berwarna hitam *matte* kini tersembunyi di balik sarung tangan sintetis khusus medis.
"Denger, Al," jawab gue pelan. Gue berusaha mengatur napas. "Gue cuma... masih agak pusing."
"Lo harus fokus. Kita udah di Distrik Atas sekarang. Sekali lo kelihatan linglung, drone patroli bakal langsung nge-scan ID kita, dan penyamaran kita hancur dalam tiga detik," bisik Alisha seraya menarik paksa lengan gue agar terus berjalan sejajar dengannya.
Gue mengangguk, mencoba menegakkan punggung. Kami berjalan menyusuri trotoar bergerak di kawasan komersial Menara Helios. Tempat ini g*** banget. Di atas kami, langit yang biasanya tertutup polusi abu-abu tebal di Distrik Bawah, di sini terlihat biru bersih berkat kubah filter udara raksasa. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi seperti pilar kristal, memantulkan cahaya matahari sore yang berkilauan. Iklan hologram tiga dimensi berukuran raksasa melayang-layang di udara, menawarkan mobil terbang terbaru dan liburan ke koloni bulan dengan resolusi yang saking jernihnya bikin mata perih.
Sangat kontras dengan tempat tinggal gue. Di bawah sana, kehidupan cuma tentang bertahan hidup di antara kabel-kabel kusut, genangan air asam, dan gang-gang sempit yang nggak pernah kesorot matahari. Di sini, semuanya tampak sempurna. Terlalu sempurna sampai rasanya palsu.
"Target kita adalah lift ekspres sektor utara," Alisha berbisik melalui komunikator mikro yang terpasang di dalam telinga gue. "Itu satu-satunya lift yang langsung terhubung ke lant** b**nkas data tanpa harus transit di lant** administrasi. Tapi, penjagaannya ketat banget."
Kami sampai di gerbang ma**k utama Menara Helios. Struktur bangunan ini luar biasa megah, didominasi kaca antipeluru dan baja putih. Di depan pintu ma**k, berdiri sebuah gerbang keamanan berbentuk lengkungan hitam futuristik. Di sampingnya, dua robot penjaga setinggi dua meter dengan senapan laser terlipat di bahu mereka berdiri tegak.
Dan tepat di tengah lengkungan itu, ada lingkaran cahaya merah yang berputar lambat.
*Pemindai retina siber.*
Jantung gue langsung berdegup kencang. Sial, gue benci bagian ini.
"Al, lo yakin *spoofing* data yang lo siapin bakal bekerja?" tanya gue lewat komunikator, berusaha menjaga wajah gue tetap datar tanpa ekspresi saat kami mengantre di belakang beberapa staf internal Helios.
"Harus bekerja," sahut Alisha dari balik punggung gue. "Gue udah duplikasi ID digital dari dua teknisi asli Apex yang harusnya dapet giliran sif sore ini. Begitu lo maju, gue bakal kirim sinyal interferensi lewat dek siber di pergelangan tangan gue buat nge-glitch sistem mereka selama 0,5 detik. Di saat itu, data palsu kita bakal terbaca sebagai data valid."
"Gimana kalau gagal?"
"Jangan nanya gitu kalau lo masih mau bayar kosan bulan depan, Rian."
Gue menelan ludah. Antrean di depan kami menyusut cepat. Sekarang giliran gue.
"Selanjutnya, silakan melangkah ke lingkaran pemindai," suara robotik yang ramah namun dingin terdengar dari gerbang keamanan.
Gue melangkah maju. Tepat di bawah lingkaran merah. Cahaya laser merah itu langsung turun, memindai mata kiri gue yang merupakan implan siber murah, lalu beralih ke mata kanan gue yang masih organik.
Tiba-tiba, pandangan gue bergetar.
*Warning: Neural Degradation 39%.*
Teks merah itu berkedip di sudut mata gue, memotong proses pemindaian. Sial, bukan sekarang! Kepala gue mendadak rasanya seperti dihantam godam tak terlihat. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari belakang leher langsung ke ubun-ubun.
Dan kemudian, halusinasi itu datang lagi.
Dunia di sekitar gue mendadak senyap. Menara Helios yang megah lenyap. Sebagai gantinya, gue melihat sebuah taman bermain yang terbakar. Ada kepulan asap hitam, dan sayup-sayup gue mendengar suara anak kecil berteriak memanggil nama gue.
*"Rian! Tolong! Jangan tinggalin aku!"*
Siapa? Suara siapa itu? Gue mencoba meraih bayangan anak kecil itu, tapi tangan gue kosong. Pikiran gue berputar hebat. Fokus siber gue berantakan. Sistem implan mata gue mulai melakukan *reboot* otomatis karena tekanan mental.
*Error. Anomali neural terdeteksi. Pemindaian ulang dalam 3... 2...* Suara peringatan dari gerbang keamanan berbunyi, dan lampu di gerbang itu mulai berkedip kuning, tanda bahaya.
"Rian! Hei! Fokus ke gue!"
Suara Alisha terdengar panik di komunikator. Di dunia nyata, gue bisa merasakan tangan Alisha yang dingin menyentuh punggung gue, menyalurkan sedikit rasa sadar.
"Si****, sistemnya mulai curiga!" Alisha berbisik cepat. Jemarinya yang tersembunyi di balik saku seragam bergerak super cepat di atas dek siber portabelnya. Gue bisa mendengar ketukan halus dari jari mekanisnya. *Tak-tak-tak-tak.*
Gue memejamkan mata erat-erat, memaksa diri gue untuk kembali ke realita. *Gue di Menara Helios. Gue lagi menyamar. Nama perempuan di belakang gue adalah Alisha. Gue harus bertahan.*
Gue membuka mata tepat saat laser merah pemindai kembali menyala.
"Al, sekarang!" desis gue.
*Zzzzt!*
Selama sepersekian detik, lampu di gerbang keamanan berkedip mati. Tepat di saat itu, Alisha menyuntikkan paket data palsu ke dalam server lokal gerbang. Udara di sekitar kami terasa tegang. Robot penjaga di sebelah kanan mulai menggerakkan kepalanya, sensor matanya berputar mencari sumber interferensi.
Satu detik yang terasa seperti satu tahun berlalu.
*Pip.*
"Akses disetujui. Selamat bekerja, Teknisi Apex Care."
Lampu gerbang berubah menjadi hijau cerah. Pintu kaca tebal di depan kami terbuka otomatis.
Gue mengembuskan napas panjang yang sedari tadi gue tahan. Lutut gue rasanya lemas seperti mau copot, tapi gue memaksakan diri untuk terus melangkah melewati gerbang, disusul oleh Alisha yang langsung berjalan cepat di samping gue.
"G***... hampir aja jantung gue copot," bisik Alisha, menyeka keringat dingin di dahinya begitu kami sudah berada di koridor dalam yang lebih sepi. "Lo tadi kenapa sih? Kenapa tiba-tiba nge-blank?"
"Memori gue... ada yang bocor lagi," jawab gue jujur, suara gue serak. "Gue liat anak kecil. Ada api. Gue nggak tahu itu memori siapa yang gue beli dulu, tapi rasanya nyata banget."
Alisha menatap gue dengan pandangan yang sulit diartikanβcampuran antara kasihan dan rasa bersalah. Tapi dia nggak mengatakan apa-apa lagi. Dia tahu kami nggak punya waktu untuk drama emosional sekarang.
Kami bergegas menuju lift ekspres di ujung koridor. Setelah menempelkan kartu akses Apex palsu ke panel lift siber, pintu lift berbentuk oval berlapis krom itu terbuka tanpa suara. Kami segera ma**k ke dalam.
Begitu pintu tertutup, Alisha langsung menekan tombol sensor untuk lant** 88βlant** b**nkas data utama Helios.
Lift itu bergerak. Dan itu bukan lift biasa. Lift ekspres ini menggunakan teknologi levitasi magnetik berkecepatan tinggi yang langsung melesat ke atas dengan kecepatan ekstrem.
Gaya gravitasi instan langsung menekan tubuh gue.
Dan di sinilah pertahanan gue benar-benar runtuh.
Otak gue, yang sudah mengalami degradasi siber hingga hampir 40%, tidak siap menerima tekanan akselerasi secepat ini. Visi siber di mata gue langsung pecah menjadi piksel-piksel hijau yang berantakan. Kepala gue rasanya seperti diperas oleh mesin hidrolik.
*Neural Degradation: 41%. Critical Warning: B**in Temperature Rising.*
Gue mengerang pelan, mencengkeram pegangan besi di dinding lift. Pandangan gue mulai menggelap di bagian tepi.
"Rian? Rian, lo kenapa?!" Alisha panik. Dia langsung mendekat dan menahan tubuh gue yang mulai merosot ke lant** lift.
"Otak... otak gue... panas banget, Al..." gumam gue, napas gue memburu pendek-pendek. Gue bisa merasakan cairan hangat mulai mengalir dari lubang hidung kiri gue. Gue menyekanya dengan tangan seragam gue.
Darah. Merah segar.
"Sial, degradasi neural lo makin cepat karena stres fisik!" Alisha berlutut di samping gue, memegang kedua pipi gue dengan tangannya. Tangan mekanisnya yang dingin terasa sangat kontras di kulit wajah gue yang terasa membara. "Dengerin gue, Rian! Jangan pingsan sekarang! Kita udah sampai sejauh ini. Lo harus bertahan!"
"Gue... gue takut lupa lagi, Al..." bisik gue, air mata gue menetes bercampur dengan darah di pipi. "Gue takut kalau gue merem... begitu gue bangun, gue nggak bakal inget siapa diri gue sendiri... atau siapa lo."
Mata Alisha berkaca-kaca. Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Nggak akan. Gue nggak bakal ngebiarin itu terjadi. Begitu kita dapet data di b**nkas itu, kita bakal dapet duitnya, dan kita bakal benerin otak lo. Gue janji."
Lift terus melesat naik, membawa kami semakin tinggi menembus langit Neo-Jakarta, sementara gue berjuang mati-matian di lant** lift, berpegangan pada sisa-sisa ingatan terakhir yang gue miliki.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!