**Bab 8: Terjebak di B**nkas Data**
Suhu di ruangan ini dingin banget, sampai-sampai setiap kali gue mengembuskan napas, ada asap tipis yang keluar dari mulut gue. Rasanya kayak tiba-tiba dipindahin dari panasnya polusi Neo-Jakarta langsung ke dalam *freezer* kulkas dua pintu ukuran raksasa.
"G***, dingin banget," bisik gue sambil mendekap lengan sendiri. Jumpsuit siber yang kami pakai ternyata nggak terlalu mempan menahan hawa sedingin ini. "Mereka nyimpen data atau nyimpen mayat sih di sini?"
"Otak komputer butuh suhu minus buat mencegah *overheat*, Rian. Makanya diem, jangan banyak protes," sahut Alisha setengah berbisik.
Matanya berputar ke kiri dan ke kanan, mengagumi ruangan di depan kami. Kami baru saja berhasil melewati pintu pemeriksaan terakhir berkat alat *spoofing* data buatan Alisha yang untungnya bekerja dengan mulusβmeski jantung gue rasanya hampir copot pas lampu pemindai retina tadi sempat berkedip merah dua kali.
Sekarang, kami berdiri di dalam B**nkas Data Pusat Menara Helios. Tempat ini luar biasa luas dan megah dengan cara yang mengerikan. Alih-alih lorong biasa, ruangan ini dipenuhi oleh pilar-pilar silinder raksasa setinggi sepuluh meter yang memancarkan cahaya holografis biru muda. Di dalam pilar-pilar itu, miliaran bit data berupa angka dan kode biner terus mengalir turun seperti air terjun digital. Di sinilah tempatnya. Tempat di mana memori, rahasia, dan identitas jutaan penduduk Neo-Jakarta disimpan dalam bentuk fisik dan digital.
Terma**k ingatan masa lalu gue yang udah gue jual seharga sewa kosan tiga bulan.
"Pilar nomor 404-B," gumam Alisha sambil melihat layar holografis kecil yang terproyeksi dari gelang pintarnya. "Itu dia. Sektor penyimpanan memori fisik kelas menengah ke bawah."
"Agak tersinggung ya gue dikategorikan kelas menengah ke bawah," celetuk gue, mencoba mencairkan ketegangan yang mulai bikin perut gue mulas.
Alisha nggak merespons candaan gue. Wajahnya kelihatan serius banget waktu kami berjalan cepat di antara pilar-pilar holografis yang dingin. Langkah kaki kami yang terbungkus sepatu bot steril hampir nggak bersuara di atas lant** kaca hitam yang memantulkan bayangan kami.
Begitu sampai di depan pilar nomor 404-B, Alisha langsung bergerak cepat. Dia melepas sarung tangan sintetisnya, memperlihatkan jemari mekanis hitam *matte*-nya yang langsung mengeluarkan kabel konektor kecil dari ujung jari telunjuknya. Tanpa ragu, dia mencolokkan kabel itu ke panel manual di dasar pilar.
*Zzzt.*
Layar virtual langsung mengembang di depan kami, menampilkan ribuan folder dengan enkripsi ketat.
"Oke, Rian. Gue mulai meretas sistem penarikannya," kata Alisha. Jari-jarinya menari-nari di atas keyboard holografis dengan kecepatan yang bikin mata pusing. "Cip memori fisik lo disimpan di kompartemen mekanis nomor 889. Begitu gue berhasil nembus *firewall*-nya, mesin bakalan ngedorong cip lo keluar lewat celah dispenser di bawah ini."
"Berapa lama?" tanya gue cemas. Gue terus menoleh ke belakang, menatap pintu ma**k baja tebal yang barusan kami lewati. Rasanya sunyi banget di sini, terlalu sunyi. Dan biasanya, kesunyian di tempat kayak gini adalah pertanda buruk.
"Tiga puluh detik. Kasih gue waktu tiga puluh detik," jawab Alisha. Keringat dingin mulai tampak di pelipisnya, kontras dengan suhu ruangan yang membekukan. "Enkripsinya lumayan tebel, tapi untungnya mereka pakai pola lamaβ"
*WUUUUUUT! WUUUUUUT!*
Kalimat Alisha terputus. Tiba-tiba saja, seluruh cahaya biru di ruangan itu berubah menjadi merah darah. Suara sirine bernada tinggi mendengung keras, memantul di dinding-dinding kaca dan langsung membuat telinga gue berdenging sakit.
"SIAL!" umpat Alisha. "Ada *silent trigger* yang kelewatan sama radar gue!"
"Al, pintunya!" teriak gue panik.
Gue berbalik dan melihat pintu baja tempat kami ma**k tadi mulai bergeser turun dengan cepat. Tapi yang lebih mengerikan bukan cuma pintu yang menutup. Di balik kaca transparan pintu yang perlahan menutup itu, berdiri sesosok figur tinggi besar yang perlahan melangkah maju.
Langkah kakinya terdengar berat. *Bletak. Bletak. Bletak.* Suara logam beradu dengan lant**.
Dia memakai jubah hitam panjang yang menutupi tubuh mekanisnya yang kokoh. Setengah wajahnya terbuat dari krom perak mengkilap, dengan satu mata siber berwarna merah menyala yang menatap kami tanpa emosi sedikit pun. Di tangannya, dia memegang sebuah senapan plasma laras panjang yang moncongnya sudah berpendar biru, siap menembak.
"Kaelen..." Alisha berbisik dengan suara yang mendadak bergetar hebat. "Kepala Keamanan Helios. Dia cyborg pembunuh sisa Perang Korporasi dulu."
"Penyusup terdeteksi," sebuah suara sintetis yang berat dan dingin bergema dari speaker di dada cyborg bernama Kaelen itu. "Prosedur eliminasi: Diaktifkan."
*BZZZZT!*
Satu tembakan plasma melesat melewati kepala gue, menghantam pilar holografis di belakang kami hingga meledak dan memercikkan bunga api elektrik ke segala arah.
"LARI, RIAN!" teriak Alisha.
Kami berdua langsung melompat ke balik pilar terdekat saat tembakan kedua menghantam lant** tempat kami berdiri tadi, melelehkan kaca tebal hingga bolong. Bau logam terbakar dan ozon langsung memenuhi udara yang dingin.
"Al, memori gue gimana?!" tanya gue setengah berteriak di sela-sela suara tembakan yang bertubi-tubi. Kami sekarang merangkak di antara lorong pilar server yang sempit, mencoba menghindari garis pandang Kaelen.
"Mesinnya masih memproses! Kita harus bertahan sampai proses transfer fisiknya selesai!" Alisha membalas teriakan gue sambil menarik sebuah pistol kejut listrik kecil dari balik *jumpsuit*-nya. Dia mengintip sedikit dari balik pilar, lalu melepaskan dua tembakan balasan.
*Pakh! Pakh!*
Tembakan Alisha tepat sasaran mengenai bahu besi Kaelen, tapi peluru listrik itu cuma memercikkan listrik kecil tanpa efek berarti. Cyborg itu bahkan nggak berkedip. Dia terus berjalan maju dengan tenang, menghancurkan pilar demi pilar yang kami jadikan tempat berlindung.
"Si****, peluru gue nggak mempan!" Alisha mengumpat. "Dia punya perisai elektromagnetik!"
"Kita harus muter balik ke mesin dispenser!" kata gue sambil menunjuk ke arah pilar 404-B yang letaknya sekarang ada di seberang lorong, sementara Kaelen terus berjalan mendekat ke arah kami.
"Gue bakal mancing dia! Begitu gue lari ke kiri, lo langsung ambil cipnya!" perintah Alisha.
"Al, bahaya banget! Dia punya senapan plasma, lo cuma punya pistol mainan!"
"Nggak ada pilihan lain, Rian! Kosan lo nggak bakal kebayar kalau kita mati di sini!"
Sebelum gue sempat membantah, Alisha sudah melompat keluar dari balik pilar. "Heis, muka kaleng! Sini lo!" teriaknya sambil menembakkan sisa peluru pistolnya ke arah wajah siber Kaelen.
Mata merah Kaelen langsung terkunci pada Alisha. "Target utama teridentifikasi. Eliminasi."
Kaelen berputar dan mulai menembaki Alisha yang berlari zig-zag di antara pilar-pilar server. Ledakan plasma terus bergemuruh, menghancurkan kaca-kaca pengaman dan membuat pecahan kaca beterbangan kayak hujan salju yang tajam.
Gue nggak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan jantung yang berdegup kencang sampai rasanya mau lompat dari dada, gue merangkak cepat, lalu berlari sekencang mungkin menuju pilar 404-B.
Begitu sampai di depan mesin, gue melihat sebuah lampu hijau kecil berkedip di bagian dispenser bawah. Sebuah tabung silinder kecil berukuran sebesar kelingking, yang berpendar dengan cahaya biru lembut, perlahan terdorong keluar dari mesin.
Itu dia. Memori gue. Ingatan tentang masa kecil gue, tentang bau masakan ibu gue, dan tentang segala hal yang mendefinisikan siapa diri gue sebelum gue menjadi cowok miskin tanpa masa lalu di Distrik Bawah.
Tapi, begitu tangan gue hampir menyentuh tabung itu, sebuah suara debuman keras terdengar.
*B**AAK!*
Gue menoleh. Alisha terlempar ke lant** setelah sebuah gelombang kejut dari tembakan plasma Kaelen menghantam pilar di dekatnya. Dia meringis kesakitan, memegangi kaki mekanisnya yang tampaknya mengalami korsleting dan mengeluarkan asap abu-abu. Dia nggak bisa berdiri.
Kaelen berdiri sekitar lima meter di depannya, perlahan mengarahkan moncong senapan plasmanya tepat ke kepala Alisha.
"Alisha!" teriak gue.
Mata merah Kaelen berkedip. Tapi sebelum dia menarik pelatuk, sistem keamanan b**nkas mengeluarkan peringatan suara baru.
"PROTOKOL KARANTINA SEKTOR 4 DIAKTIFKAN. PINTU DARURAT AKAN MENUTUP DALAM LIMA DETIK."
Sebuah pintu baja darurat yang tebal di ujung lorongβsatu-satunya jalan keluar kami menuju saluran pembuangan udaraβmulai turun dengan cepat. Kalau pintu itu tertutup, kami berdua bakal terjebak di dalam sini bersama cyborg pembunuh ini tanpa ada jalan keluar sama sekali.
Gue melihat ke arah cip memori yang baru saja keluar setengah dari mesin, lalu melihat ke arah Alisha yang terbaring tak berdaya, dan terakhir ke arah pintu baja yang terus turun.
"Rian! Ambil cipnya dan lari ke pintu!" teriak Alisha dari kejauhan, suaranya terdengar pasrah. "Jangan pedulikan gue!"
*G*** ya dia,* pikir gue. Mana mungkin gue ninggalin orang yang udah ngebantu gue sejauh ini, bahkan kalau dia sering ketus dan nyebelin.
Gue nggak mengambil cip itu dulu. Sebaliknya, gue berlari sekencang-kencangnya menuju pintu baja darurat yang tinggal menyisakan celah sekitar satu meter dari lant**. Gue melempar tubuh gue ke bawah pintu, lalu dengan sekuat tenaga, gue menahan ujung bawah pintu baja yang dingin itu dengan kedua tangan dan punggung gue.
*KREEEEK!*
"AAAGHH!" gue berteriak kesakitan saat beban berton-ton dari pintu hidrolik itu langsung menekan punggung gue. Rasanya kayak tulang belakang gue mau remuk saat itu juga. Otot-otot lengan gue menegang hebat, urat-urat di leher gue menyembul keluar. Sial, ini berat banget!
"ALISHA! AMBIL CIPNYA SEKARANG!" teriak gue dengan sisa tenaga yang gue punya. Napas gue tersengal-sengal, pandangan gue mulai kabur karena menahan beban yang luar biasa berat. "GUE ENGGAK BISA NAHAN INI LAMA-LAMA!"
Alisha terbelalak melihat apa yang gue lakukan. Tapi dia bukan tipe cewek yang bakal membuang waktu dengan drama. Dengan kaki mekanisnya yang pincang dan mengeluarkan percikan api, dia menyeret tubuhnya di atas lant**, merangkak dengan kecepatan luar biasa menuju pilar 404-B.
Kaelen mendeteksi pergerakan Alisha. Dia mengalihkan senjatanya ke arah Alisha, tapi sebelum dia sempat menembak, Alisha sudah berhasil meraih tabung cip memori gue dari dispenser.
"DAPET!" teriak Alisha.
"SEKARANG KELUAR!" jerit gue, air mata kesakitan mulai menetes dari sudut mata gue. Punggung gue rasanya udah mati rasa, dan gue bisa mendengar suara gesekan tulang bahu gue yang udah mencapai batas maksimalnya.
Alisha meluncur di atas lant** kaca, memanfaatkan sisa momentumnya untuk melorot melewati celah sempit di bawah pintu darurat tempat gue bertahan. Begitu tubuh Alisha berhasil melewati pintu, dia langsung berbalik dan menarik jaket gue dengan tangan mekanisnya yang kuat.
"Rian, lepasin! Sekarang!" teriak Alisha.
Gue melepaskan pegangan gue pada pintu baja itu.
*BOOM!*
Pintu baja itu menutup dengan debuman keras yang sangat kuat, nyaris saja menjepit ujung sepatu bot gue. Kami berdua jatuh telentang di lant** lorong pemeliharaan yang gelap dan berdebu, napas kami memburu seperti orang yang baru saja lolos dari kejaran monster.
Di balik pintu baja yang tertutup rapat, terdengar suara hantaman keras dari kepalan tangan logam Kaelen yang mencoba mendob**k pintu. Tapi untungnya, pintu darurat karantina dirancang untuk tidak bisa dibuka dari dalam demi mencegah penyebaran bahaya.
Gue berbaring di lant**, menatap langit-langit lorong yang kotor sambil memegangi punggung gue yang rasanya remuk redam. Tapi di tengah rasa sakit itu, sebuah senyuman tipis muncul di wajah gue.
Alisha perlahan duduk di samping gue. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak pucat, tapi matanya bersinar lega. Dia membuka telapak tangan kirinya. Di sana, sebuah tabung silinder kecil berisi memori fisik gue berkilau lembut dalam kegelapan.
"Kita berhasil," bisik Alisha sambil terengah-engah.
"G***..." gue tertawa pelan, yang langsung berubah jadi rintihan karena punggung gue sakit lagi. "Sumpah, kalau setelah semua ini kosan gue tetep diusir, gue bakal beneran jadi gembel di depan kantor Helios."
Alisha terkekeh pelan, sebuah pemandangan langka yang belum pernah gue lihat sebelumnya. Dia menyimpan cip itu dengan aman di dalam saku rahasia jumpsuit-nya.
"Ayo bangun, Rian," katanya sambil mengulurkan tangan mekanisnya untuk membantu gue berdiri. "Sistem keamanan bakal nemuin rute putar balik dalam beberapa menit. Kita harus keluar dari saluran pembuangan ini sebelum muka kaleng itu nemuin jalan pintas."
Gue menyambut tangannya, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuh gue, dan melangkah maju mema**ki kegelapan lorong. Kami memang belum sepenuhnya aman, tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, gue merasa identitas gue yang hilang akhirnya berada di genggaman yang tepat.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!