**Bab 9: Colok Ulang Memori dan Pertempuran Terakhir**
Gue bisa ngerasain ada yang salah sama tubuh gue. Dinginnya ruangan B**nkas Data ini mendadak nggak ada apa-apanya dibanding rasa dingin yang mulai menjalar dari ujung kaki sampai ke dada gue. Pandangan gue mulai kabur. Garis-garis cahaya biru dari pilar data di sekeliling kami mendadak melebar, pecah, dan buram kayak kamera HP murahan yang layarnya kema**kan air.
"Rian? Rian, lo denger gue, kan?"
Suara Alisha terdengar jauh banget. Kayak dia lagi manggil gue dari ujung lorong yang panjang, padahal dia berdiri tepat di depan gue.
"Al..." Lidah gue bener-bener kelu. Gue nyoba manggil namanya, tapi tenggorokan gue rasanya kayak disumbat pasir.
Kepala gue pusing parah. Rasanya kayak ada jarum tak kasat mata yang ditusukin satu-satu ke otak gue. Dan yang paling bikin gue takut: gue mulai lupa. Gue lupa kenapa gue ada di sini. Gue lupa ruangan apa ini. Bahkan, nama gue sendiri... siapa tadi? Rian? Iya, kayaknya Rian. Tapi, siapa itu Rian?
"Rian! Jangan bercanda ya, astaga!" Alisha panik banget. Dia megang kedua pundak gue, berusaha nahan tubuh gue yang mulai oleng. "Cip lo bentar lagi keluar! Tahan, Rian! Jangan merem!"
*Klek.*
Suara mekanis dari bawah pilar 404-B terdengar. Sebuah slot kecil terbuka, memuntahkan sebuah cip kecil berwarna perak metalik dengan pendar cahaya oranye redup di ujungnya. Itu cip memori gue. Barang si**** yang gue jual cuma demi bisa bayar tunggakan kosan tiga bulan.
Tapi tubuh gue udah nggak bisa diajak kompromi. Lutut gue lemas. Gue ambruk ke lant** kaca hitam yang dingin. Napas gue tersengal-sengal, pendek dan patah-patah. Pandangan gue bener-bener menggelap, menyisakan kegelapan mutlak yang sunyi. Di detik-detik terakhir sebelum kesadaran gue hilang sepenuhnya, gue denger suara Alisha yang gemetaran tapi penuh tekad.
"Bodo amat sama prosedur aman. Kita harus lakuin ini sekarang."
Alisha menyambar cip itu dari dispenser pilar. Dengan tangan kirinya yang mekanis, dia meraba-raba saku sabuk taktisnya dan mengeluarkan sebuah alat transfer daruratβsebuah alat berbentuk mirip pistol suntik mini dengan ujung konektor ganda. Dia mema**kkan cip memori gue ke dalam slot alat itu.
"Tahan ya, Rian. Ini bakalan sakit banget. Parah."
*JREG!*
Gue nggak bisa teriak, tapi seluruh otot di tubuh gue mendadak menegang kaku. Alisha nekat menusukkan alat transfer darurat itu langsung ke soket saraf di tengkuk gue tanpa proses sinkronisasi perlahan.
Rasanya? Kayak otak gue disambar petir berkekuatan sejuta volt.
*SYSTEM OVERLOAD.*
Kata-kata itu mendadak terproyeksi secara virtual di dalam tempurung kepala gue yang gelap. Ba**** informasi ma**k secara brutal, tanpa filter, tanpa antrean. Jutaan piksel warna, suara, dan emosi menghantam kesadaran gue kayak air bah yang menjebol bendungan.
Gue melihat diri gue umur lima tahun, lagi nangis karena jatuh dari sepeda. Gue melihat aroma masakan ibu gue yang udah lama hilang dari ingatan. Gue melihat det**l kamar kosan gue yang berantakan, bau mi instan, dan tumpukan buku kuliah. Semua ingatan yang pernah gue jual, dan semua memori masa kecil yang sengaja dikunci oleh pihak Helios, kembali pulang ke tempatnya semula.
Lalu, di tengah badai informasi itu, semuanya mendadak sunyi.
Gue berada di sebuah ruang virtual berwarna putih bersih. Di depan gue, berdiri seorang laki-laki paruh baya memakai jas laboratorium putih kumal dengan logo Helios versi lama di dadanya. Wajahnya lelah, tapi matanya hangat.
"Ayah..." bisik gue dalam hati.
Sosok holografis ayah gue tersenyum tipis. Ini adalah pesan tersembunyi yang dia tanam di dalam memori terdalam gue sebelum dia "dihilangkan" oleh perusahaan ini.
"Rian, kalau kamu melihat rekaman ini, artinya kamu sudah berhasil mengambil kembali apa yang menjadi milikmu," suara ayah terdengar jernih di kepala gue. "Ayah minta maaf karena harus menyembunyikan ini di dalam memorimu. Helios sudah terlalu jauh. Mereka bukan lagi perusahaan teknologi, mereka adalah penjajah pikiran manusia. Di dalam cip memorimu, Ayah sudah menanamkan sebuah kunci enkripsi utama. Ayah menamainya... Aegis Protocol."
Ayah melangkah mendekat, lalu menyentuh kening gue. "Gunakan keahlian mekanikmu, Rian. Gabungkan kunci ini dengan sistem pertahanan menara. Kamu bisa menghentikan mereka. Ayah percaya sama kamu."
*BZZZZT!*
Kesadaran gue ditarik paksa kembali ke dunia nyata.
Gue membuka mata lebar-lebar. Napas gue terengah-engah, tapi kali ini, pandangan gue bener-bener jernih. Nggak ada lagi blur, nggak ada lagi pusing. Otak gue rasanya bekerja seratus kali lebih cepat dari biasanya. Semua fungsi motorik gue kembali aktif, bahkan rasanya lebih kuat dari sebelumnya.
"Rian! Lo hidup?!" Alisha hampir nangis, wajahnya yang belepotan debu kelihatan lega banget.
"Gue hidup," kata gue sambil bangkit berdiri dengan sigap. Gue memegang tengkuk gue yang masih terasa agak hangat. "Dan gue inget semuanya. Semuanya, Al."
Belum sempat Alisha menjawab, lampu merah di langit-langit ruangan mendadak berputar. Suara sirene meraung-raung m****akkan telinga.
*PERINGATAN. PENYUSUP TERDETEKSI DI SEKTOR B**NKAS DATA.*
Pintu baja tebal di ujung ruangan mendadak terbuka dengan suara berdentum keras. Dari balik asap tipis, muncul beberapa sosok robot penjaga bersenjata lengkap, dan di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria dengan setelan jas rapi berwarna abu-abu gelap dengan lengan kanan yang sepenuhnya mekanis berbahan titanium.
Dia adalah B**m, Kepala Keamanan Menara Helios. Orang yang bertanggung jawab atas hilangnya ayah gue, dan orang yang paling bernafsu menghapus semua memori pembangkang di kota ini.
"Well, well, well," B**m bertepuk tangan pelan, langkah kakinya terdengar berat di atas lant** kaca. "Tikus-tikus kecil akhirnya berhasil ma**k ke lumbung padi. Rian, kan? Anak dari si jenius pembangkang. Harusnya gue hapus total isi kepala lo sejak awal, bukan cuma menyisakan ruang kosong buat bayar kosan."
"Bacot lo," balas gue sant**, meskipun jantung gue sebenernya berdegup kencang. Tapi kali ini, gue nggak takut. Gue tahu apa yang harus gue lakuin. "Al, gue butuh bantuan lo. Sekarang."
"Apa yang harus gue lakuin?" Alisha langsung bersiap, jemari mekanisnya mengeluarkan kabel-kabel konektor baru.
"Colok konektor lo ke port bypass utama di bawah pilar ini. Gue bakal transfer Aegis Protocol dari otak gue lewat alat transfer darurat ini ke sistem lo. Kita balikkan senjata menara ini buat nyerang mereka," bisik gue cepat.
"G***, itu berisiko banget buat saraf lo, Rian!"
"Nggak ada waktu lagi, Al. Percaya sama gue!"
B**m menyipitkan matanya. "Tembak mereka. Hancurkan kepalanya, sisakan cip memorinya saja."
Para robot penjaga langsung mengangkat senjata laser mereka.
"Sekarang, Al!" teriak gue.
Alisha langsung melompat ke dasar pilar, menancapkan jemari mekanisnya ke port bypass dengan kecepatan luar biasa. Di saat yang sama, gue menempelkan ujung alat transfer ke panel kontrol terdekat, sementara ujung satunya tetap terhubung ke tengkuk gue.
*LINK ESTABLISHED.*
Gue memejamkan mata. Rasa hangat kembali mengalir dari tengkuk gue, tapi kali ini bukan rasa sakit, melainkan aliran data yang terkontrol. Aegis Protocol yang diwariskan ayah gue mengalir deras melewati tubuh gue, ma**k ke dalam sistem Alisha, dan langsung melesat ke jaringan utama Menara Helios.
"Aegis Protocol... aktif!" gumam gue.
Seketika itu juga, moncong senjata laser para robot penjaga yang tadinya mengarah ke kami mendadak berkedip dari warna merah menjadi biru.
*SISTEM DIALIKHAN.*
"Apa-apaan ini?!" teriak B**m panik saat melihat lengan mekanis titaniumnya tiba-tiba mengeluarkan percikan listrik dan terkunci kaku. "Kenapa sistem pertahanan tidak merespons?!"
"Karena pertahanan lo sekarang milik gue, B**m," kata gue sambil tersenyum miring.
Dengan satu gerakan tangan dari Alisha yang mengontrol konsol, dua robot penjaga di sebelah B**m mendadak memutar tubuh mereka 180 derajat. Senjata laser mereka kini terarah tepat ke dada B**m.
"Tembak," perintah gue pelan.
*DZZZT! DZZZT!*
Dua tembakan pulsa elektromagnetik (EMP) dosis tinggi menghantam dada B**m. Pria itu berteriak kencang saat seluruh sistem sibernetik di tubuhnya mengalami *short-circuit*. Cahaya biru di mata implannya meredup, dan dia ambruk ke lant**, lumpuh total tapi masih bernapas.
Nggak berhenti di situ. Gelombang Aegis Protocol yang kami lepas terus menjalar naik ke puncak Menara Helios. Di luar jendela kaca raksasa, kami bisa melihat menara pemancar yang tadinya memancarkan gelombang pengendali pikiran ke seluruh Neo-Jakarta mendadak meledak dalam rentetan percikan api yang indah.
Satu per satu, lampu-lampu di Menara Helios padam. Sistem pertahanan mereka runtuh sepenuhnya.
Suara sirene darurat berganti menjadi sunyi yang menenangkan.
Alisha mencabut kabelnya dari pilar, lalu terduduk di lant** sambil mengembuskan napas panjang. Dia menatap gue dengan pandangan nggak percaya, lalu perlahan senyumnya mengembang.
"G***... kita beneran menang, Rian?"
Gue mencabut alat transfer dari tengkuk gue, lalu menyandarkan punggung gue ke pilar data yang kini sudah mati total. Gue tersenyum lebar, merasakan semua memori masa kecil gue yang sekarang utuh di dalam kepala. Gue inget nama ibu gue, gue inget taman tempat gue main dulu, dan gue inget persis betapa menyebalkannya ibu kos gue kalau lagi nagih duit sewa.
"Iya, kita menang," jawab gue sambil terkekeh pelan. "Dan bagian terbaiknya? Sekarang gue inget di mana bokap gue nyimpen tabungan rahasianya. Kayaknya... kita nggak perlu mikirin bayar uang kosan lagi buat seumur hidup."
Alisha tertawa lepas, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat kontras di dalam B**nkas Data yang kini hancur berantakan. Kami berhasil. Menara Helios runtuh, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Neo-Jakarta, ingatan semua orang kembali menjadi milik mereka sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!