Bab 1: Aib Berkedok Karya Sastra
Alena Kusuma adalah definisi nyata dari manusia yang tidak kasat mata. Di kampus, dia adalah mahasiswi semester lima jurusan Sastra I****esia yang selalu duduk di pojok paling belakang, memakai kacamata berbingkai bulat yang terlalu besar untuk wajah mungilnya, dan selalu mengenakan *oversized hoodie* untuk menyembunyikan diri dari peradaban. Alena sangat pemalu. Jangankan untuk presentasi di depan kelas, memesan seblak di kantin saja harus dia lakukan dengan latihan pernapasan tiga kali demi menekan rasa gugupnya.
Namun, di balik penampilannya yang menyerupai selembar tisu kering, Alena menyimpan sebuah rahasia raksasa yang kalau sampai terbongkar, akan membuatnya langsung pindah ke planet Mars karena malu.
Alena adalah *Cherry_Late*, penulis anonim paling populer di aplikasi kepenulisan *Novelku*.
Karyanya yang berjudul *The Duke’s Sinful Obsession*—sebuah novel fantasi dewasa bertema kerajaan yang penuh dengan adegan romansa panas—sedang menduduki peringkat nomor satu selama tiga bulan berturut-turut. Di dunia maya, Alena dikenal sebagai 'Author Nim' yang liar, berani, dan jenius dalam merangkai kata-kata yang membuat ribuan pembaca perempuan menjerit histeris setiap tengah malam.
"Aduh, mati gue. Mati, mati, mati!"
Malam itu, di dalam kamar kosnya yang berantakan, Alena menjambak rambutnya sendiri hingga kusut. Layar laptopnya berkedip-kedip kejam, menampilkan halaman draf bab terbaru yang harus diunggah sebelum jam dua belas malam.
"Visual Duke Cassian mana, Thor? Author, spill dong mukanya!"
"Visualisasinya dong, Thor! Biar makin dapet feel adegan *unboxing*-nya!"
"Sumpah, kalau nggak ada visual cowoknya, gue mogok kasih koin!"
Ratusan komentar pembaca di bab sebelumnya terus menuntut hal yang sama. Alena menghela napas frustrasi. Selama ini dia hanya mengandalkan deskripsi tulisan. Namun, demi mempertahankan peringkat pertamanya dan bonus akhir bulan dari platform yang lumayan untuk membayar kosan, dia harus menuruti kemauan para pembaca setianya yang haus visualisasi pria tampan.
"Masalahnya, cari di mana muka cowok yang matanya tajam kayak elang, rahangnya kokoh kayak dipahat malaikat, tapi punya tatapan mesum yang elegan?" gumam Alena, matanya berputar-putar mencari inspirasi.
Dia membuka Pinterest, berselancar di Google, hingga menelusuri akun Instagram model-model internasional. Nihil. Tidak ada satu pun yang pas dengan karakter Duke Cassian—seorang bangsawan berdarah dingin yang posesif, manipulatif, dan punya gairah tersembunyi yang meletup-letup.
Sampai akhirnya, jemari Alena tidak sengaja membuka akun Instagram gosip kampusnya, *@anak_unpad_hits*.
Sebuah foto yang baru diunggah lima menit lalu langsung membuat napas Alena tercekat.
Itu adalah foto Adrian Pradipta.
Adrian adalah definisi nyata dari kesempurnaan yang menyebalkan. Dia adalah mahasiswa jurusan Manajemen Bisnis internasional, ketua himpunan, anak dari pemilik yayasan universitas, dan dinobatkan sebagai cowok paling tampan se-fakultas ekonomi selama tiga tahun berturut-turut. Wajahnya blasteran Indo-Jerman dengan mata abu-abu gelap yang dingin, rambut hitam yang selalu tertata rapi namun sedikit berantakan di bagian dahi, serta senyum miring yang sering kali membuat para mahasiswi rela mengantre hanya untuk sekadar memberikan botol air minum saat dia selesai tanding basket.
Dalam foto itu, Adrian sedang duduk di kursi kebesaran ruang senat, memakai kemeja hitam dengan lengan yang digulung sampai siku, menampakkan urat-urat tangan yang sangat maskulin. Tatapannya lurus ke arah kamera, dingin, tajam, sekaligus... sangat s****.
"Oh my god..." bisik Alena, dadanya berdegup kencang. "Ini... ini Duke Cassian versi dunia nyata!"
Dikejar waktu yang tinggal lima belas menit sebelum sistem *lock* otomatis dari aplikasi, Alena kehilangan akal sehatnya. Kepanikan karena *deadline* telah melumpuhkan logika gadis itu. Tanpa berpikir panjang, Alena men-*download* foto Adrian. Dia memotong latar belakang foto tersebut menggunakan aplikasi edit sederhana, lalu mengunggahnya ke bab terbaru novelnya dengan keterangan:
**[VISUAL DUKE CASSIAN]**
*Gimana menurut kalian? Apakah visual ini sudah c**up mewakili ketampanan Duke Cassian yang dingin tapi liar di ranjang?*
"Klik!" Alena menekan tombol *publish*.
"Selesai!" Alena langsung menjatuhkan tubuhnya ke ka**r tipisnya, mengembuskan napas lega yang luar biasa. Dia tersenyum puas. Tugasnya malam ini selesai, dan dia bisa tidur dengan tenang.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan kurang dari tiga menit.
Ponsel Alena yang tergeletak di atas bantal mulai bergetar tanpa henti. Notifikasi dari aplikasi *Novelku* beruntun ma**k bagaikan mesin jahit. Alena yang penasaran langsung membuka ponselnya, berniat membaca pujian dari para pembaca.
Tapi, begitu membaca deretan komentar pertama, wajah Alena langsung pucat pasi. Seluruh darah di tubuhnya seolah merosot ke telapak kaki.
"EH?! INI KAN KAK ADRIAN ANAK MANAJEMEN?!"
"DEMI APA?! Kak Adrian dijadikan visual Duke mesum?!"
"Weh, Author-nim satu kampus sama Adrian Pradipta ya? Kok bisa dapet foto ini? Ini kan foto eksklusif yang cuma dipajang di mading senat kemarin?!"
"G***, cocok banget sih. Tapi apa Kak Adrian tahu mukanya dipake buat karakter yang suka... uhm, gitu di ranjang?"
"Spill akun Author dong! Jangan-jangan Author-nim ini mahasiswi kampus kita juga?!"
Alena gemetar hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging.
"Mampus... mampus! Kenapa pembaca gue ada yang satu kampus?!" pekik Alena panik. Dia benar-benar lupa kalau aplikasi ini sangat populer di kalangan mahasiswa, terutama di kampusnya sendiri.
Pikiran Alena langsung melayang ke hukum hak cipta, pencemaran nama baik, dan kemungkinan dia dituntut miliaran rupiah oleh keluarga Pradipta yang terkenal kejam di dunia bisnis. Belum lagi jika Adrian tahu wajahnya diasosiasikan dengan karakter pria mesum yang suka melakukan aktivitas dewasa di setiap bab novelnya. Dia pasti akan dikeluarkan dari kampus dengan tidak hormat!
"Hapus! Gue harus hapus sekarang juga!"
Dengan tangan gemetar dan keringat dingin yang membasahi dahi, Alena membuka kembali draf bab tersebut. Dia menekan tombol edit, menghapus foto Adrian dengan kecepatan cahaya, lalu memperbarui bab itu kembali tanpa gambar apa pun.
Setelah memastikan foto itu benar-benar hilang dari sistem, Alena melempar ponselnya ke ujung ka**r. Dia merapatkan lututnya ke dada, berusaha menenangkan napasnya yang memburu.
"Nggak apa-apa, Alena. Lo udah hapus fotonya. Cuma beberapa orang yang lihat. Mereka nggak akan tahu siapa pemilik akun *Cherry_Late*. Lo aman. Lo anonim," gumam Alena menenangkan dirinya sendiri. Dia terus merapalkan kalimat itu bagaikan mantra penolak bala sampai akhirnya matanya terasa berat dan dia tertidur karena kelelahan mental.
***
Tengah malam, sekitar pukul 01.30.
Sebuah getaran panjang dari ponsel di ujung ka**r membangunkan Alena. Gadis itu mengerang kecil, meraba-raba ka**r dengan mata setengah terpejam untuk mencari ponselnya. Dia berpikir itu mungkin hanya pemberitahuan koin ma**k dari pembaca setianya.
Namun, begitu layarnya menyala, ada satu notifikasi pesan ma**k dari Instagram pribadi akun penulisnya, *@cherry_late_writer*. Akun itu sengaja dia buat untuk berinteraksi dengan pembaca, dan dia tidak pernah mencantumkan identitas aslinya di sana.
Ada satu pesan langsung (DM) dari sebuah akun tanpa foto profil bernama *@adrian.pradipta*.
Alena langsung terduduk tegak di ka**rnya. Rasa kantuknya hilang seketika, menguap entah ke mana. Jantungnya kembali berdetak dengan ritme abnormal.
"Nggak mungkin... Ini pasti akun palsu. Akun *roleplayer* atau buatan pembaca iseng," gumam Alena, mencoba menolak kenyataan.
Dengan jari-jari yang bergetar hebat, Alena membuka pesan tersebut.
**adrian.pradipta:**
*Halo, Cherry_Late. Atau... haruskah aku panggil Alena Kusuma dari jurusan Sastra I****esia kelas B?*
Napas Alena tercekat. Seluruh persendiannya mendadak terasa lemas. Bagaimana akun ini bisa tahu nama aslinya?!
**cherry_late_writer:**
*Maaf, siapa ya? Sepertinya Anda salah orang.*
Alena mencoba membalas dengan mengetik seformal mungkin, berharap ada keajaiban bahwa ini semua hanyalah salah paham. Namun, balasan dari seberang sana datang hanya dalam hitungan detik.
**adrian.pradipta:**
*Salah orang? Aku rasa tidak. IP Address yang kamu pakai untuk login ke akun penulis ini terdaftar atas nama Wi-Fi kosan 'Mawar Indah' kamar nomor 4. Mau aku sebutkan juga nomor induk mahasiswamu?*
Air mata panik mulai menggenang di pelupuk mata Alena. Dia benar-benar tamat. Laki-laki ini bukan hanya kaya dan tampan, tapi dia juga punya akses untuk melacak privasinya dengan sangat mudah.
**cherry_late_writer:**
*Kak Adrian... saya minta maaf sebesar-besarnya! Sumpah, saya nggak bermaksud buruk. Saya tadi panik karena dikejar deadline dan kehabisan ide visual. Fotonya sudah saya hapus! Saya janji nggak akan pernah pakai foto Kakak lagi. Tolong jangan tuntut saya, saya nggak punya uang...*
Alena mengetik pesan panjang lebar itu sambil terisak pelan. Dia benar-benar ketakutan setengah mati. Menunggu balasan dari Adrian terasa seperti menunggu vonis hukuman mati.
Tiga titik berkedip di layar ponselnya, menandakan Adrian sedang mengetik. Ketika pesan itu akhirnya ma**k, mata Alena melebar membaca isinya.
**adrian.pradipta:**
*Siapa bilang aku mau menuntutmu?*
Alena mengerutkan dahi, bingung.
**cherry_late_writer:**
*Maksudnya... Kakak gak akan laporin saya ke polisi atau pihak kampus?*
**adrian.pradipta:**
*Aku baru saja membaca novelmu, 'The Duke’s Sinful Obsession'. Menarik. Gaya penulisanmu sangat hidup, Alena. Terutama saat kamu mendeskripsikan bagaimana Duke Cassian menyudutkan sang putri di dinding perpustakaan kerajaan dan menciumnya secara paksa di Bab 1.*
Wajah Alena yang semula pucat kini langsung memerah padam sampai ke telinga. Rasanya dia ingin mengubur dirinya hidup-hidup di dalam tanah. Adrian benar-benar membaca novel dewasa buatannya!
Sebelum Alena sempat membalas, sebuah pesan terakhir dari Adrian ma**k, membuat jantung Alena serasa melompat keluar dari dadanya.
**adrian.pradipta:**
*Ceritamu menarik. Gimana kalau aku wujudkan setiap adegan di novel ini dalam kehidupan nyata, dimulai dari bab pertama? Besok pagi, jam 9. Di perpustakaan kampus bagian rak paling belakang. Jangan terlambat, My Princess. Atau foto itu akan terpajang di mading kampus besok siang.*
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!