... rasa penasaran membuat gue menahan napas, berpura-pura sibuk menatap layar laptop padahal telinga gue sudah tegak lebar-lebar bagai antena radio.
"Jangan-jangan author novel *The Duke’s Destiny* itu anak kampus kita juga deh," tebak Keysha dengan nada sok tahu yang menggebu-gebu. "Masa plotnya bisa pas banget sama gosip Adrian yang kemarin mendadak sakit perut setelah makan di warung tenda dekat kampus? Kalian ingat kan, lusa kemarin si Adrian sampai bolos kelas gara-gara keracunan makanan? Dan di novel itu, si Duke juga mendadak kena kutukan perut hitam di waktu yang hampir bersamaan!"
"Ih, masa sih? Kebetulan kali, Key," sahut Cheryl terdengar ragu. "Tapi kalau dipikir-pikir... kok bisa se-kebetulan itu ya?"
"Makanya! Gue curiga ada penguntit di sekitar Adrian yang sengaja jadiin hidup cowok itu sebagai inspirasi fiksi halunya," timpal Keysha lagi, kali ini dengan nada sinis yang tajam. "Awas aja kalau sampai ketemu siapa orangnya. Benalu banget, numpang tenar lewat nama Adrian."
*Deg.*
Jantung gue serasa merosot sampai ke lambung. Keringat dingin langsung membasahi telapak tangan gue. Ucapan Keysha barusan benar-benar menghantam telak di ulu hati.
Ternyata insting pembaca itu nggak bisa diremehin. Orang-orang mulai mencium kejanggalan antara apa yang gue tulis di Wattpad dan apa yang terjadi pada Adrian di dunia nyata. Kalau gue terus-terusan begini, kalau gue tetap membiarkan Adrian berkeliaran di sekitar gue dan bertingkah konyol seolah dia adalah karakter fiksi yang hidup, rahasia terbesar gue bakal terbongkar.
Identitas gue sebagai author fiksi fantasi itu bakal ketahuan. Dan yang paling mengerikan, semua orang akan tahu kalau semua tulisan gue... entah bagaimana caranya... selalu berubah menjadi kenyataan yang harus dijalani oleh Adrian.
Gue nggak bisa membiarkan ini berlanjut. Gue harus menghentikan keg***an ini sekarang juga.
Dengan gerakan panik, gue menutup paksa layar laptop, mema**kkannya ke dalam ransel dengan terburu-buru, lalu setengah berlari meninggalkan kantin Fakultas Ilmu Budaya. Gue bahkan nggak memedulikan beberapa pasang mata yang menatap gue heran karena suara geseran kursi yang terlalu berisik.
***
Malam harinya, di dalam kamar kost gue yang sempit dan hanya diterangi oleh lampu meja, gue duduk termenung menatap layar laptop yang menyala. Kursor di dokumen Microsoft Word berkedip-kedip, seolah-olah sedang mengejek kebimbangan gue.
Gue membuka aplikasi Wattpad, melihat statistik novel gue yang kian melonjak. Kolom komentar penuh dengan teori-teori pembaca yang antusias. Namun, di antara semua kesuksesan virtual itu, bayangan Adrian yang tersenyum jahil, Adrian yang dengan tidak tahu dirinya merebut botol minum gue, dan Adrian yang kemarin meringkuk lemas di sofa apartemennya terus berputar di kepala gue.
"Gue harus bikin jarak," gumam gue pada diri sendiri. Suara gue terdengar bergetar di tengah keheningan kamar. "Gue sama Adrian itu dari awal nggak pernah selevel. Dia itu cowok populer, bintang kampus. Sedangkan gue cuma cewek kuper yang kerjaannya ngetik di pojokan kamar. Gosip di kampus makin liar, dan gue nggak mau hidup tenang gue hancur."
Ibu jari gue bergerak ke atas *keyboard*. Dengan napas yang terasa berat, gue mulai mengetik draf Bab 37 untuk novel gue.
Gue tidak menulis adegan komedi lagi. Tidak ada lagi interaksi manis yang bikin pembaca baper. Kali ini, gue menuangkan seluruh ketakutan dan rasa frustrasi gue ke dalam kata-kata.
Dalam bab ini, Duke Alaric akhirnya menyadari bahwa keberadaan Elianna—sang gadis penyembuh dari kalangan rakyat jelata—hanya akan membahayakan posisi mereka berdua. Kerajaan sedang bergejolak, gosip miring bertebaran di istana, dan nyawa Elianna terancam jika terus berada di sisi sang Duke.
Dengan hati yang berat, Alaric menemui Elianna di batas gerbang kastil saat hujan turun dengan deras.
*“Kita tidak bisa lagi berjalan di jalur yang sama, Elianna,” ujar Duke Alaric, suaranya terdengar dingin, mengalahkan gemuruh badai di sekitar mereka. Tatapannya yang biasa hangat kini berubah menjadi sedingin es utara.*
*Elianna menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Apakah ini akhir dari segalanya, Yang Mulia?”*
*“Benar. Mulai hari ini, anggap kita tidak pernah saling mengenal. Perg***h sejauh mungkin, dan jangan pernah kembali ke kastil ini. Kehadiranmu hanya akan menjadi beban bagiku.”*
*Kata-kata itu bagai belati yang menghujam dada Elianna. Tanpa sepatah kata lagi, sang Duke berbalik arah, berjalan ma**k kembali ke dalam kastilnya yang megah dan sunyi, meninggalkan Elianna yang berdiri membeku di tengah guyuran hujan, sendirian.*
*Mereka berpisah. Selamanya.*
Gue menatap paragraf terakhir itu c**up lama. Dada gue mendadak terasa sesak yang luar biasa, seolah-olah kata-kata yang gue tulis itu memiliki berat berton-ton yang menindih paru-paru gue.
"Ini yang terbaik," bisik gue, meyakinkan diri sendiri yang sebenarnya sedang ragu setengah mati.
Dengan sekali klik, gue menekan tombol *Publish*. Bab 37 resmi rilis ke publik.
***
Keesokan paginya, suasana kampus terasa biasa saja bagi orang lain, tapi bagi gue, segalanya mendadak berubah menjadi abu-abu.
Gue sedang berjalan menyusuri koridor Gedung F yang ramai ketika dari arah berlawanan, gue melihat siluet yang sangat familier. Adrian. Dia sedang berjalan bersama beberapa teman satu gengnya, tertawa lebar sambil menyampirkan tas ranselnya di satu bahu. Ketampanannya yang ka**al seperti biasa selalu berhasil menarik perhatian mahasiswi yang lewat.
Secara refleks, gue menghentikan langkah. Jantung gue berdegup kencang. Biasanya, kalau melihat gue di koridor seperti ini, Adrian akan langsung memisahkan diri dari teman-temannya, berlari kecil ke arah gue, lalu menjitak kepala gue pelan atau menanyakan menu makan siang dengan nada menjengkelkan.
Gue menahan napas, bersiap untuk interaksi menyebalkan yang biasa dia lakukan.
Namun, saat jarak kami hanya tersisa beberapa langkah, Adrian mendongak. Pandangan mata kami bertemu.
Gue terpaku.
Mata cokelat yang biasanya berkilat penuh kejahilan dan kehangatan itu kini terasa sangat asing. Dingin, datar, dan kosong. Adrian menatap gue seolah-olah gue hanyalah tiang koridor atau dinding semen yang kebetulan dilewatinya. Tidak ada senyuman, tidak ada lambaian tangan, bahkan tidak ada binar pengenalan sama sekali di matanya.
Dia berjalan melewati gue begitu saja.
Gue bahkan bisa merasakan embusan angin dingin saat bahu kami hampir bergesekan tanpa benar-benar bersentuhan. Suara tawa Adrian bersama teman-temannya perlahan menjauh, meninggalkan gue yang berdiri mematung di tengah koridor, mendadak merasa seperti orang asing di dunia yang gue ciptakan sendiri.
Tulisan gue... benar-benar bekerja lagi. Adrian menjauh. Sangat jauh.
***
Satu minggu berlalu sejak hari itu.
Kehidupan gue kembali ke jalur yang semula. Sepi, tenang, dan tanpa drama. Tidak ada lagi bisik-bisik miring dari geng Keysha di kantin, karena mereka melihat Adrian sama sekali tidak pernah lagi berinteraksi dengan gue. Gosip tentang hubungan kami lenyap secepat embun pagi yang tersapu matahari.
Tapi, entah kenapa, ketenangan yang selama ini gue dambakan justru terasa menyiksa.
Gue duduk di perpustakaan lant** dua, menatap layar ponsel gue. Aplikasi WhatsApp gue sepi. Chat terakhir dari Adrian adalah seminggu yang lalu, menanyakan apakah gue punya rekomendasi obat mag. Setelah malam di mana gue memublikasikan bab perpisahan itu, room chat kami mati total. Tidak ada lagi spam meme tidak jelas di DM Instagram. Tidak ada lagi pangg***n telepon malam-malam hanya karena dia bosan ngerjain tugas kalkulus.
Gue menghela napas panjang, meletakkan kepala gue di atas meja kayu perpustakaan yang dingin.
"Bukannya ini yang lo mau, Alena?" gumam gue lirih pada diri sendiri. "Lo mau hidup tenang kan? Lo mau aman dari gosip kan?"
Tapi kenapa rasanya sesepi ini?
Kenapa sudut perpustakaan yang biasanya terasa nyaman sekarang berubah jadi begitu dingin?
Gue memejamkan mata, tapi yang terbayang justru senyum lebar Adrian saat dia berhasil menjahili gue sampai kesal. Gue rindu suara tawa khasnya yang agak serak. Gue bahkan rindu cara dia mengeluh manja saat perutnya sakit kemarin.
Tiba-tiba, suara kursi yang ditarik di meja seberang membuat gue membuka mata dengan cepat. Harapan kecil yang bodoh mendadak muncul di dada gue. *Apakah itu Adrian?*
Gue mendongak dengan cepat, namun senyum tipis yang sempat terbit di bibir gue langsung runtuh seketika. Bukan Adrian. Itu hanya mahasiswa lain yang tidak gue kenal, yang menatap gue dengan pandangan heran karena reaksi berlebihan gue.
Gue menunduk kembali, menyembunyikan wajah gue yang mendadak terasa panas. Air mata terasa menggenang di pelupuk mata gue, tapi gue sekuat tenaga menahannya agar tidak tumpah.
Gue menyadari satu hal yang sangat menyakitkan sekarang.
Dalam novel fantasi yang gue tulis, ketika Duke Alaric memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Elianna, Elianna digambarkan menangis dalam diam di bawah guyuran hujan badai. Saat menulis bagian itu, gue pikir itu hanyalah bumbu drama yang biasa ada di novel-novel romansa.
Namun sekarang, di dunia nyata, tanpa ada hujan badai yang dramatis, hanya ditemani keheningan perpustakaan kampus yang dingin, gue akhirnya merasakan apa yang dirasakan oleh Elianna.
Rasa hampa yang teramat sangat. Rasa kehilangan atas sesuatu yang bahkan belum sempat gue miliki sepenuhnya.
Gue berhasil menyelamatkan identitas gue. Gue berhasil mengembalikan ketenangan hidup gue. Tapi sebagai gantinya, gue harus kehilangan satu-satunya cowok yang berhasil membuat dunia fantasi gue yang membosankan ini terasa jauh lebih hidup dan berwarna.
Gue telah menulis perpisahan kami dengan jemari gue sendiri, dan kini, gue harus menanggung luka dari setiap kata yang gue ketik.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!