Sudah tiga hari berlalu sejak gue merilis bab terbaru di Wattpadβbab yang berisi keputusan sepihak untuk membuat karakter sang Duke pergi sejauh mungkin dan tidak pernah kembali. Dan selama tiga hari itu juga, atmosfer di sekitar gue mendadak berubah menjadi musim dingin yang mencekam.
Gue nggak pernah menyangka kalau efeknya bakal senyata ini.
Di koridor kampus pagi ini, Adrian berjalan melewati gue begitu saja. Nggak ada lagi senyuman jahil yang biasanya bikin gue naik darah. Nggak ada lagi aksi menyebalkan merebut botol minum gue, atau celetukan sok akrab yang selalu sukses menarik perhatian orang-orang sekitar. Dia cuma berjalan dengan pandangan lurus ke depan, bahunya yang tegap tampak sedikit layu, melewati gue seolah-olah gue hanyalah embusan angin yang numpang lewat.
Dada gue rasanya sesak banget. Ada bagian dari diri gue yang menjerit, menuntut agar cowok itu berbalik dan mengacak-acak rambut gue seperti biasa. Tapi ego dan ketakutan gue menahannya rapat-rapat. Gue yang menginginkan jarak ini, kan? Gue yang mau dia menjauh agar rahasia gue aman. Tapi kenapa sekarang rasanya malah sesakit ini?
"Al, lo dengerin gue nggak sih?"
Suara cempreng Rara, sahabat dekat gue sejak maba, memecahkan lamunan. Kami berdua sedang duduk di sudut kafe dekat kampus yang agak sepi. Di depan gue, es americano yang gue pesan sudah mencair setengahnya, mengembun di permukaan gelas plastik.
"Eh? Iya, Ra. Kenapa?" tanya gue gelagapan, berusaha mengalihkan pandangan dari luar jendela kafe.
Rara menghela napas panjang, lalu meletakkan ponselnya ke atas meja dengan bunyi *b**k* yang c**up keras. "Lo itu ya, dari tadi raga lo di sini tapi jiwa lo kayak melayang sampai ke Pluto. Lo lagi mikirin Adrian, kan?"
"Nggak, siapa juga yang mikirin dia," elak gue cepat, langsung menyedot americano gue yang kini rasanya hambar.
"Halah, bohong banget. Muka lo nggak bisa nipu, Alena," cecar Rara. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap gue dengan mata memicing tajam. "Gue tahu ada yang aneh antara lo sama Adrian akhir-akhir ini. Lo mendadak kayak orang musuhan, padahal kemarin-kemarin nempel mulu kayak perangko. Dan asal lo tahu ya, gue baru aja dapet info super panas dari Bima."
Jantung gue berdegup kencang mendengar nama Bimaβsahabat sekaligus teman sekamar Adrian di kosan. "Info apa?" tanya gue, mencoba terdengar sekadar penasaran biasa.
Rara mematikan ponselnya, lalu menatap gue dengan ekspresi yang sangat serius. Serius yang tidak biasa bagi seorang Rara yang biasanya petakilan. "Gue kemarin nggak sengaja ketemu Bima di perpus. Dia kasihan banget lihat Adrian yang akhir-akhir ini kayak mayat hidup. Terus, karena gue desak terus, akhirnya Bima keceplosan satu hal yang bikin otak gue hampir meledak."
Gue menahan napas, menanti kalimat berikutnya dengan perasaan cemas yang luar biasa.
"Al... Adrian itu sebenarnya udah naksir lo dari semester satu. Jauh sebelum lo kepikiran buat nulis novel *The Duke's Destiny* itu di Wattpad," bisik Rara dengan penekanan di setiap kata.
Mata gue membelalak lebar. "Hah? Lo... lo bercanda, kan? Nggak lucu, Ra. Semester satu kita bahkan nggak pernah sekelas, dan dia itu cowok populer yang dikelilingi cewek-cewek hits. Mana mungkin dia tahu gue ada?"
"Gue serius seribu persen, Alena!" Rara gemas sendiri sampai menepuk dahinya. "Bima bilang, Adrian itu cowok yang payah banget kalau menyangkut cewek yang beneran dia taksir. Dia itu aslinya pemalu parah di balik topeng sok kerennya itu. Dia udah lama merhatiin lo diam-diam. Dia tahu lo suka duduk di pojok perpustakaan, dia tahu lo hobi dengerin lagu-lagu indie sambil ngetik di laptop."
Gue tertegun. Ingatan gue mendadak mundur ke masa-masa awal kuliah, saat gue merasa selalu ada sepasang mata yang mengawasi gue dari jauh, tapi selalu gue tepis karena gue pikir itu cuma kegeeran gue saja.
"Terus, hubungannya sama novel gue?" tanya gue dengan suara yang mulai bergetar.
"Nah, ini bagian g*** dari semuanya," lanjut Rara, suaranya makin bersemangat tapi tetap setengah berbisik. "Suatu hari di semester lalu, pas lo lagi buru-buru beresin barang di kelas karena hujan deras, lo nggak sengaja ninggalin binder lo yang ada coretan kasar draf novel Wattpad lo beserta nama akun author lo di situ. Adrian yang nemuin binder itu. Dia balikin ke meja lo lewat temen lo tanpa ngaku kalau itu dari dia. Tapi sejak hari itu, dia kepo. Dia cari akun Wattpad lo, dan dia mulai baca semua tulisan lo."
Gue merasa seolah-olah seluruh pasokan oksigen di kafe ini mendadak lenyap. "Dia... dia tahu akun Wattpad gue?"
"Iya, Al! Dia baca tiap bab yang lo rilis. Dan begitu dia sadar kalau karakter sang Duke di novel fantasi lo itu punya beberapa kemiripan sama diaβatau mungkin emang sengaja lo inspirasikan dari diaβdia dapet ide g***. Karena dia terlalu malu buat ngajak lo kenalan secara normal, dia mutusin buat jadiin novel lo itu sebagai 'buku panduan' hidupnya."
"Maksud lo..." Air mata gue mulai menggenang tanpa bisa dicegah.
"Iya, b***!" Rara memegang tangan gue yang mendadak dingin. "Pas lo nulis di novel kalau sang Duke mendadak kena kutukan perut hitam karena makan makanan beracun... Adrian sengaja makan ketoprak pinggir jalan yang super pedas level mampus, padahal dia punya penyakit mag akut! Dia sengaja bikin dirinya sakit biar alur cerita lo di dunia nyata kelihatan pas, dan dia punya alasan buat manja-manja atau minta lo khawatirin dia!"
"Ya ampun..." Gue menutup mulut dengan tangan bebas gue. Tangisan gue hampir pecah.
"Terus pas lo nulis adegan romantis di mana sang Duke merebut botol minum dari tangan sang gadis? Dia sengaja ngelakuin itu langsung ke lo di kantin besok paginya, padahal aslinya dia gemetaran setengah mati karena takut lo bakal marah dan nampar dia. Semua kelakuan aneh dia, semua kebetulan-kebetulan ajaib yang bikin lo paranooid setengah mati itu... itu semua usaha keras Adrian buat ma**k ke dunia lo. Dia sengaja memantaskan diri jadi karakter fiksi buatan lo, biar dia punya alasan buat ada di dekat lo tanpa kelihatan canggung!"
Dunia di sekitar gue serasa runtuh mendengarnya.
Semua ketakutan gue selama ini... semua kepanikan gue yang mengira kalau tulisan gue memiliki kekuatan mistis yang bisa mengendalikan takdir orang... ternyata salah besar. Tidak ada sihir. Tidak ada kutukan. Yang ada hanyalah seorang cowok bodoh, cowok populer yang rela melakukan hal-hal konyol dan menyakiti dirinya sendiri demi bisa menyamakan frekuensi dengan gadis kuper yang hobinya menulis fantasi di pojok kamar kost.
Dia sengaja menjadi 'sang Duke' agar dia bisa memiliki alasan untuk mencint** gue.
"Al, lo kenapa nangis?" tanya Rara panik melihat air mata gue yang kini mengalir deras membasahi pipi.
"Ra..." Suara gue tercekat di tenggorokan. Rasa bersalah yang teramat sangat langsung menghantam ulu hati gue dengan telak. "Gue... gue udah jahat banget."
"Jahat kenapa? Kan lo nggak tahu apa-apa selama ini."
"Gue nulis bab perpisahan, Ra," tangis gue pecah, tidak peduli lagi dengan beberapa pengunjung kafe yang mulai menengok ke arah kami. "Gue takut rahasia gue terbongkar karena gosip anak-anak maba kemarin. Gue panik. Jadi kemarin malam, gue merilis bab di mana sang Duke memutuskan untuk pergi selamanya dari kehidupan sang gadis. Gue bikin dia menghilang tanpa jejak..."
Rara menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak kaget. "Oh my god... pantesan."
"Pantesan apa, Ra?!" tanya gue histeris.
"Tadi pagi... Bima bilang ke gue kalau Adrian lagi beresin semua barang-barang di kosannya. Dia bilang ke Bima kalau dia mau ambil cuti akademis semester ini dan balik ke kampung halamannya di Surabaya. Dia merasa kalau kehadirannya cuma bikin lo merasa terganggu dan nggak nyaman. Dia pikir... lo sengaja nulis bab perpisahan itu karena lo udah muak sama dia dan pengen dia pergi dari hidup lo secara halus."
Kata-kata Rara bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat di dada gue. Sakit sekali.
Adrian yang malang. Dia membaca bab itu. Dia membaca setiap baris kata dingin yang gue ketik dengan penuh ketakutan egois, lalu menyimpulkan bahwa gadis yang dia sukai selama ini sedang mengusirnya pergi. Dan karena dia selalu mematuhi 'buku panduan' itu, dia memilih untuk mewujudkannya lagi. Dia memilih untuk benar-benar pergi dari hidup gue.
"Nggak... nggak boleh kayak gini," gumam gue panik.
Dengan tangan gemetar, gue menyambar tas ransel gue dari kursi. Gue bahkan tidak memedulikan sisa americano gue yang masih penuh. Gue harus menghentikan ini. Gue harus meluruskan semuanya sebelum semuanya terlambat.
"Al! Lo mau ke mana?!" teriak Rara saat gue mendadak berdiri dan mulai berlari keluar dari kafe.
"Gue mau ke kosan Adrian, Ra! Gue harus bongkar topeng sang Duke itu sekarang juga!" seru gue tanpa menoleh ke belakang.
Gue berlari secepat yang gue bisa di sepanjang trotoar kampus yang ramai. Sinar matahari siang yang terik membakar kulit gue, tapi rasa hangat itu sama sekali tidak sebanding dengan api penyesalan yang membakar di dalam dada. Air mata gue masih terus mengalir, memburamkan pandangan gue, tapi kaki gue tetap melangkah dengan pasti.
*Adrian, lo cowok paling b*** yang pernah gue kenal,* batin gue di tengah deru napas yang memburu.
*Tunggu gue. Jangan berani-berani pergi sebelum lo denger akhir cerita yang sebenarnya.*
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!