Bab 12: Klimaks: Hujan Buatan dan Pernyataan Cinta
Kata-kata Rara siang itu sukses bikin otak gue *error* total.
*Adrian udah naksir lo dari semester satu.*
Gue pulang ke kosan dengan langkah gont**, mirip zombi yang kehilangan arah. Sepanjang jalan, memori-memori lama langsung berputar otomatis di kepala gue. Gimana pertama kali kita ketemu di ospek jurusan, gimana dia selalu duduk di belakang gue saat kelas pagi, sampai aksi-aksi usilnya yang selama ini gue pikir cuma karena dia hobi nyari musuh. Ternyata... semuanya karena dia pengin dekat sama gue. Dan bodohnya, gue malah bikin karakter yang terinspirasi dari dia pergi jauh di novel Wattpad gue sendiri.
Malam itu, gue nggak bisa tidur sama sekali. Kamar kosan gue yang biasanya terasa hangat, mendadak terasa dingin banget. Gue menatap layar laptop yang menyala terang di atas ka**r. Kursor di aplikasi Word berkedip-kedip, seolah-olah lagi mengejek kepasifan gue.
"Nggak. Gue nggak bisa biarin dia pergi kayak gini," gumam gue pada diri sendiri, sambil buru-buru memosisikan jari di atas keyboard.
Gue harus memperbaiki semuanya. Kalau dunia fantasi yang gue tulis benar-benar bisa mengubah dunia nyataβkalau tulisan gue adalah remot kontrol untuk takdir Adrianβmaka malam ini gue bakal menulis bab paling romantis yang pernah ada. Gue bakal menghapus keputusan sepihak di bab sebelumnya.
Gue mulai mengetik dengan kecepatan penuh. Jari-jari gue menari di atas *keyboard* tanpa henti, membiarkan semua perasaan bersalah, rindu, dan ketakutan gue mengalir menjadi unt**an kalimat.
Gue menulis sebuah skenario klimaks: *Sang Duke tidak jadi pergi. Dia berbalik, menemui sang gadis di taman istana tepat saat hujan deras turun membasahi bumi. Di bawah guyuran air hujan yang dingin, sang Duke menyatakan perasaannya yang paling jujur. Bahwa dia tidak peduli pada takdir atau dunia yang berbeda, dia hanya ingin bersama gadis itu.*
Gue baru selesai menulis dan langsung mengunggah bab terbaru itu ke Wattpad tepat jam empat pagi. Dengan mata yang bengkak dan kepala yang pening luar biasa akibat begadang, gue tersenyum tipis melihat notifikasi bab baru berhasil dipublikasikan.
"Oke, semesta. Sekarang giliran lo bekerja," bisik gue sebelum akhirnya jatuh tertidur.
***
Keesokan harinya, rencana eksekusi dimulai.
Sebelum berangkat kampus, gue sudah mengecek ramalan cuaca di ponsel pintar gue. Hasilnya: *Hujan deras disert** petir diprediksi akan mengguyur area kampus mulai pukul satu siang.* Pas banget. Semuanya terasa sangat sinkron dengan bab yang baru gue rilis subuh tadi.
Jam setengah satu siang, gue sengaja berdiri di taman belakang rektorat. Taman ini biasanya sepi kalau jam makan siang, pas banget buat tempat mengobrol tanpa gangguan. Dengan jantung yang berdegup kencang mirip genderang perang, gue mengetik pesan singkat ke nomor Adrian.
*Alena: Gue tunggu di taman rektorat sekarang. Ada hal penting yang mau gue omongin. Please datang, Yan.*
Gue meremas ponsel dengan tangan yang mulai dingin dan berkeringat. Menit demi menit berlalu terasa seperti berabad-abad. Gue menengadah ke langit, menunggu awan mendung hitam yang seharusnya sudah mulai berkumpul.
Tapi... tunggu dulu.
Kenapa langitnya malah makin cerah?
Gue mengucek mata, berharap gue salah lihat. Tapi nyata, matahari siang itu justru bersinar dengan sangat terik, seolah-olah lagi pamer kekuatan. Nggak ada tanda-tanda awan mendung sama sekali. Angin pun berembus kering, menerbangkan beberapa helai daun kecokelatan.
"Aduh, kok zonk sih?!" gerutu gue panik, buru-buru mengecek aplikasi cuaca lagi.
Ternyata, ada pembaruan sistem: *Prediksi cuaca meleset, hujan bergeser ke wilayah selatan kota. Area kampus diperkirakan cerah berawan.*
"Sial! Kenapa di saat kayak gini ramalan cuacanya malah nggak akurat?!" gue mengacak rambut frustrasi. Skenario romantis di bawah hujan deras yang sudah gue rancang semalaman terancam gagal total.
"Alena?"
Suara berat yang sangat familier itu membuat gue refleks berbalik.
Adrian berdiri di sana, beberapa meter dari tempat gue berdiri. Dia memakai kaus hitam ka**al dengan kemeja flanel kotak-kotak yang tidak dikancingkan sebagai luarannya. Rambutnya agak berantakan, dan lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan kalau dia juga nggak tidur nyenyak semalam. Dia menatap gue dengan pandangan datar, tapi ada kilat keraguan di matanya.
"Kenapa nyuruh gue ke sini?" tanya Adrian pelan, suaranya terdengar agak serak. Dia masih menjaga jarak, enggan melangkah lebih dekat.
Gue mendadak kehilangan kata-kata. Atmosfer di antara kita berdua mendadak jadi canggung banget. "Gue... itu..." Gue melirik ke atas langit yang biru bersih tanpa setitik pun awan mendung. Skenario hujan romantis gue benar-benar gagal.
Adrian menghela napas panjang. Dia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponselnya. Layarnya menyala, menampilkan halaman Wattpad dengan bab terbaru novel gue yang berjudul *Pernyataan Cinta di Bawah Hujan*.
"Gue udah baca bab baru yang lo *publish* subuh tadi," kata Adrian sambil melangkah selangkah demi selangkah mendekati gue. Tatapannya terkunci pada mata gue. "Lo nulis tentang sang Duke yang mutusin buat nggak pergi, dan dia confess di bawah hujan deras, kan?"
Muka gue langsung terasa panas. Gue mendadak merasa te******* di depan cowok ini. Rahasia gue kalau novel itu adalah tentang dia, dan kalau gue sengaja memancingnya ke sini demi merealisasikan adegan itu, sekarang sudah terbongkar sepenuhnya.
"T-tapi hujannya nggak turun, Yan..." cicit gue dengan suara super pelan, menunduk dalam-dalam karena nggak sanggup menatap matanya yang terlalu intens. "Ramalan cuacanya meleset. Maaf... gue emang egois banget. Gue cuma pengin..."
Belum sempat gue menyelesaikan kalimat gue, Adrian mendadak tersenyum tipis. Senyum jahil yang selama tiga hari ini sangat gue rindukan akhirnya kembali menghiasi wajahnya.
"Siapa bilang kita butuh ramalan cuaca buat bikin hujan?" bisik Adrian.
Gue mendongak bingung. "Maksud lo?"
Adrian nggak menjawab. Dia malah mengedipkan sebelah matanya, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju sebuah kotak besi hijau besar di sudut tamanβkotak kontrol sistem penyiram rumput otomatis (*sprinkler*) taman kampus.
"Eh, Adrian! Lo mau ngapain?!" seru gue panik saat melihat dia membuka paksa penutup kotak kontrol tersebut yang untungnya tidak digembok dengan benar.
"Menyelamatkan skenario novel lo," sahut Adrian setengah berteriak. Tangannya bergerak lincah menekan beberapa tombol manual di dalam kotak kontrol tersebut.
*KLIK!*
Detik berikutnya, terdengar suara desisan pelan dari arah rerumputan di sekitar kami.
*Sshhh... Sshhh... Sshhh...*
Dalam hitungan detik, puluhan kepala *sprinkler* otomatis menyembul dari tanah dan langsung menyemprotkan air dengan tekanan tinggi ke segala arah. Cipratan air yang deras dan dingin langsung mengguyur taman, membuat kami berdua basah kuyup seketika dalam hitungan detik.
"Adrian! Lo g*** ya?!" teriak gue sambil tertawa kaget, berusaha menghalangi air dengan kedua tangan gue yang tentu saja sia-sia. Rambut gue langsung lepek, dan baju kaus putih yang gue pakai mulai menempel di kulit.
Adrian berjalan sant** menerobos cipratan air *sprinkler* ke arah gue. Dia juga sudah basah kuyup; rambut hitamnya yang basah jatuh menutupi sebagian dahinya, membuat penampilannya berkali-kali lipat lebih ganteng dari biasanya. Si****, jantung gue makin nggak sehat.
Begitu sampai di depan gue, Adrian langsung meraih kedua tangan gue, menahannya agar gue berhenti bergerak gelisah. Sentuhan tangannya yang hangat sangat kontras dengan air dingin yang terus mengguyur tubuh kami.
"Gue emang g***, Al. Dan itu semua gara-gara lo," kata Adrian, suaranya terdengar sangat jelas di antara gemercik air *sprinkler*.
Gue terdiam, menatapnya dengan napas yang memburu.
Adrian menatap gue dengan tatapan paling tulus yang pernah gue lihat seumur hidup gue. "Gue udah baca semua cerita lo. Gue tahu lo nulis karakter Duke Ethan berdasarkan diri gue. Gue tahu lo bikin dia pergi karena lo takut sama perasaan lo sendiri."
"Yan..."
"Tapi asal lo tahu, Alena," sela Adrian cepat, memotong ucapan gue. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara kami sampai gue bisa mencium aroma parfumnya yang bercampur dengan aroma air segar. "Di sini, sekarang, di bawah hujan buatan yang rada konyol ini... gue berdiri di depan lo bukan sebagai Duke Ethan."
Adrian menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan cepat.
"Gue di sini sebagai Adrian. Adrian yang nyata. Cowok biasa dari jurusan teknik yang udah naksir lo sejak hari pertama ospek semester satu. Cowok yang sengaja bertingkah menyebalkan dan rese setiap hari cuma demi dapet perhatian dari lo."
Air mata gue mendadak tumpah, bercampur dengan cipratan air *sprinkler* yang mengalir di pipi gue. Dada gue rasanya sesak banget, tapi kali ini karena rasa lega dan bahagia yang luar biasa yang membuncah di dalam sana.
"Kenapa lo nggak pernah bilang dari dulu?" tanya gue dengan suara bergetar menahan tangis.
"Karena gue pengecut," jawab Adrian jujur, senyum tipisnya terlihat sedikit getir. "Gue takut kalau gue bilang, lo bakal menjauh. Tapi pas gue baca bab novel lo yang kemarin, pas lo mutusin buat bikin sang Duke pergi jauh... gue sadar satu hal. Gue nggak mau kehilangan lo, Al. Mau di dunia nyata ataupun di dunia fiksi lo, gue cuma pengin ada di dekat lo."
Adrian mempererat genggaman tangannya pada tangan gue. Mata indahnya menatap gue dengan penuh harap.
"Jadi, Alena... tolong berhenti nulis tentang perpisahan kita. Izinkan gue ma**k ke kehidupan nyata lo. Gue bener-bener suka sama lo. Sangat suka. Lo mau, kan, jadi pacar gue?"
Dunia di sekitar gue mendadak terasa berhenti berputar. Suara bising air *sprinkler*, angin kampus, dan segala ketakutan yang selama ini menghantui pikiran gue mendadak hilang tanpa bekas. Yang tersisa hanya gue dan Adrian, di bawah guyuran air yang dingin, dengan perasaan hangat yang membakar dada.
Gue tersenyum lebar di tengah tangis gue. Gue melepaskan genggaman tangan kami, lalu langsung melingkarkan kedua lengan gue di leher Adrian, memeluknya dengan sangat erat.
"Iya, Adrian! Gue mau!" seru gue tepat di telinganya.
Gue bisa merasakan tubuh Adrian menegang sesaat karena kaget, sebelum akhirnya dia tertawa lega dan membalas pelukan gue dengan nggak kalah erat. Dia mengangkat tubuh gue sedikit, memutar gue di bawah cipratan air *sprinkler* yang masih terus menyembur tanpa henti.
"Makasih ya, Alena. Penulis fantasi kesayangan gue," bisik Adrian lembut saat dia menurunkan gue kembali ke tanah, tangannya beralih merapikan beberapa helai rambut basah yang menempel di pipi gue.
Gue menatap matanya yang berbinar bahagia, lalu tertawa kecil saat menyadari sesuatu yang sangat penting.
"Yan," panggil gue pelan.
"Kenapa, sayang?"
Pangg***n barunya sukses bikin pipi gue yang basah mendadak terasa panas kayak kepanggang. "Itu... sistem penyiram rumputnya nggak bisa dimatiin sekarang? Kita bisa ma**k angin kalau kelamaan di sini."
Adrian mengerjapkan matanya, lalu menoleh ke arah kotak kontrol yang sudah basah kuyup, kemudian menatap baju kami berdua yang sudah bisa diperas airnya.
"Oh iya," Adrian nyengir tanpa dosa sambil menggaruk tengkuknya yang basah. "Gue lupa gimana cara matiinnya secara manual. Tadi tombolnya kayaknya agak gue paksa sampai patah."
"ADRIAN!"
Tawa kami berdua pecah di tengah taman kampus yang basah. Di bawah hujan buatan yang konyol namun sempurna ini, gue akhirnya sadar satu hal. Gue nggak butuh keajaiban sihir atau dunia fantasi untuk membuat cerita hidup gue jadi indah. Karena di dunia nyata yang penuh ketidaksempurnaan ini, gue udah punya Adrian yang selalu siap menjadikan setiap fantasi gue menjadi kenyataan terindah.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!