Gue meremas ponsel dengan tangan yang mulai dingin dan gemetaran. Detik demi detik terasa berjalan lambat banget, mirip siput yang lagi mager. Di atas langit, awan mendung hitam pekat mulai bergulung-gulung. Angin dingin berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambut gue yang mulai berantakan.
Dan tepat ketika rintik hujan pertama jatuh membasahi aspal taman rektorat, sesosok cowok berjaket denim hitam muncul dari balik koridor.
Itu Adrian.
Napasnya agak tersengal, seolah-olah dia baru aja lari maraton keliling lapangan bola. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan karena angin. Dia berdiri sekitar tiga meter di depan gue, menatap gue dengan tatapan yang sulit diartikan. Campuran antara bingung, khawatir, dan... sesuatu yang hangat, yang langsung bikin lutut gue mendadak lemas.
"Alena?" panggilnya, suaranya agak serak karena angin sore. "Lo ngapain di sini? Bentar lagi hujan deras, Al. Ayo neduh."
Gue bergeming. Hujan mulai turun lebih deras, persis kayak skenario yang gue ketik subuh tadi. Air mulai membasahi kaos dan rambut gue, tapi gue nggak peduli. Gue cuma mau tahu, apakah semesta beneran bakal mengeksekusi tulisan gue sampai akhir.
Adrian melangkah mendekat. Jarak kita sekarang cuma tinggal satu meter. Tanpa aba-aba, dia langsung melepas jaket denimnya dan membentangkannya di atas kepala gue, mencoba melindungi gue dari guyuran air hujan yang makin mengg***.
"Lo aneh banget hari ini, tahu nggak?" omel Adrian, tapi nadanya kedengaran super khawatir. "Kenapa malah diem aja di tengah jalan kayak gini? Nanti lo sakitβ"
"Gue tahu semuanya, Yan," potong gue, menatap langsung ke dalam manik mata cokelat gelapnya yang basah oleh air hujan.
Adrian tertegun. Gerakannya yang sedang memegangi jaket di atas kepala gue langsung membeku. "Tahu... apa?"
"Tentang lo. Dari semester satu." Jantung gue rasanya mau copot dari tempatnya. Gue bisa mendengar detak jantung gue sendiri yang berdegup kencang, bahkan lebih kencang dari suara petir yang menggelegar di kejauhan. "Rara udah cerita semuanya ke gue. Tentang lo yang selalu duduk di belakang gue, tentang usilnya lo yang ternyata cuma kedok biar bisa deket sama gue... dan tentang alasan kenapa lo mau pergi."
Wajah Adrian langsung berubah drastis. Ada kilatan kepanikan di matanya, sebelum akhirnya dia menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya sedikit. Bahunya yang lebar tampak sedikit merosot.
"Rara emang bener-bener nggak bisa jaga rahasia," gumamnya pelan, tersenyum kecut.
Hujan makin deras, membasahi tubuh kami berdua sampai kuyup. Tapi anehnya, gue nggak merasa dingin sama sekali. Area di sekitar dada gue rasanya hangat banget, hampir terbakar.
Adrian kembali menatap gue. Kali ini, tatapannya jauh lebih intens, tanpa ada lagi topeng cowok cuek atau usil yang biasa dia pakai sehari-hari.
"Oke. Kalau lo udah tahu, gue nggak bakal mengelak lagi," kata Adrian tegas, melangkah satu tapak lebih maju sampai ujung sepatu kita saling bersentuhan. "Gue emang suka sama lo, Alena. Dari dulu. Dari awal kita ketemu di ospek jurusan, pas lo masih pakai kuncir dua dan kelihatan kebingungan bawa papan nama. Gue pengin selalu ada di dekat lo, tapi gue terlalu pengecut buat bilang langsung. Gue takut lo ngejauh."
Gue menahan napas. Rasanya kayak ada ribuan kembang api yang meledak di dalam perut gue. *Skenario ini... dialog ini... kenapa bisa se-sempurna ini?*
"Dan soal pergi itu..." Adrian menatap gue lekat-lekat, matanya yang basah tampak berkaca-kaca. "Gue ngerasa lo makin jauh semenjak lo sibuk sama novel lo. Gue pikir, lo emang nggak butuh gue di hidup lo. Tapi... kalau lo minta gue buat tinggal, gue nggak bakal pergi, Al. Gue bakal tetep di sini. Sama lo."
Wajah gue langsung merah padam, untungnya tersamarkan oleh air hujan yang membasahi muka gue. Gue nggak bisa menahan senyum bahagia yang langsung terbit di bibir gue. Air mata gue hampir aja tumpah karena terlalu lega dan senang.
Gue meraih ujung kaos basah Adrian, meremasnya pelan. "Gue nggak mau lo pergi, Yan. Jangan pernah pergi."
Adrian terdiam sesaat, seolah-olah dia lagi memproses kalimat gue. "Maksud lo...?"
"Gue juga suka sama lo, b***!" seru gue akhirnya, nggak tahan lagi sama ketegangan ini. "Gue suka sama lo dari lama, tapi gue juga mikir lo benci sama gue karena lo hobi banget nyari ribut! Kita berdua emang sama-sama bodoh!"
Mendengar teriakan gue, sedetik kemudian, senyum paling lebar dan paling ganteng yang pernah gue lihat seumur hidup langsung merekah di wajah Adrian. Tanpa memedulikan baju kami yang udah basah kuyup mirip kucing kecebur got, Adrian langsung menarik gue ke dalam pelukannya.
Dekapan Adrian hangat banget. Dia memeluk gue erat-seeratnya, seolah-olah takut gue bakal menghilang kalau dia lepasin. Gue bisa merasakan dadanya yang naik-turun dengan cepat, mengecup puncak kepala gue yang basah dengan lembut.
"Makasih, Al. Makasih udah nahan gue," bisik Adrian tepat di telinga gue, bikin bulu kuduk gue meremang saking indahnya momen ini.
Hari itu, di bawah guyuran hujan buatan takdirβatau lebih tepatnya, tulisan gue sendiriβkita resmi pacaran.
***
Begitu sampai di kosan, setelah ritual mandi air hangat dan minum teh jahe buatan Adrian (yang maksa nungguin gue di teras kosan sampai gue bener-bener hangat), gue langsung duduk di depan laptop.
Gue menatap layar dengan senyum yang nggak bisa hilang dari bibir gue. Pipi gue bahkan pegal karena terlalu banyak tersenyum sejak sore tadi.
"Oke, Alena. Sekarang tugas lo yang paling penting," gumam gue pada diri sendiri.
Gue harus menulis bab terakhir. Epilog dari novel Wattpad gue yang sempat bikin geger para pembaca karena konflik "Sang Duke yang mau pergi jauh". Karena di dunia nyata gue udah jadian sama Adrian, maka di dunia novel pun, Duke dan sang gadis harus punya akhir yang bahagia.
Tapi, ada satu hal yang bikin gue mikir keras sambil mengetuk-ngetuk jari di atas meja.
Biasanya, novel-novel romantis di Wattpad zaman sekarang suka banget menyajikan bab epilog yang... yah, agak dewasa. Adegan *chemistry* fisik yang terlalu intens, atau bahkan adegan kamar yang eksplisit setelah mereka menikah.
Gue bergidik ngeri membayangkannya. Nggak, nggak boleh! Mengingat apa yang gue tulis di novel ini selalu menjelma jadi kenyataan di hidup gue, gue nggak mau ambil risiko. Kalau gue menulis adegan dewasa yang terlalu berlebihan, bisa-bisa besok Adrian beneran nekat ngelakuin hal-hal aneh ke gue! Kita kan baru aja jadian sore ini!
"Oke, mari kita buat akhir bahagia versi PG-13," gumam gue dengan tekad bulat. "Romantis, hangat, penuh komitmen, tapi tetep sopan dan suci dari hal-hal berbau maksiat."
Jari-jari gue mulai menari di atas keyboard dengan riang. Gue menyusun kata demi kata untuk menggambarkan akhir kisah cinta Sang Duke dan sang gadis.
*Di bawah langit malam yang bertabur bintang di taman istana yang tenang, sang Duke menggenggam erat tangan sang gadis. Tidak ada lagi keraguan di antara mereka, tidak ada lagi jarak yang memisahkan dunia mereka.*
*"Aku berjanji," bisik sang Duke, suaranya terdengar begitu tulus hingga menggetarkan relung hati sang gadis. "Mulai hari ini, esok, hingga masa depan yang belum kita ketahui, aku akan selalu ada di sisimu. Menjagamu, menyayangimu, dan memastikan senyum ini tidak akan pernah pudar."*
*Sang gadis tersenyum manis, air mata haru mengalir di pipinya yang merona merah. Dia mendekatkan wajahnya, bersandar dengan nyaman di dada bidang sang Duke yang berdetak konstan, memberikan rasa aman yang begitu magis.*
*Sang Duke menunduk, lalu dengan penuh kelembutan dan rasa hormat yang mendalam, dia mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening sang gadis. Sebuah kecupan yang tidak dipicu oleh gairah sesaat, melainkan sebuah segel komitmen suci bahwa mereka akan menghadapi dunia bersama-sama.*
*Mereka saling bertatapan, lalu tertawa kecil di bawah sinar rembulan, menyambut lembaran baru kehidupan mereka yang penuh dengan kebahagiaan.*
*SELESAI.*
Gue membaca ulang paragraf terakhir itu dengan perasaan puas yang membuncah. Manis banget! Tanpa ada adegan ciuman bibir yang panas, tanpa ada adegan ranjang, tapi esensi romantis dan komitmennya dapet banget. Ini adalah definisi akhir bahagia yang hangat dan aman buat masa depan gue dan Adrian di dunia nyata.
Tanpa ragu, gue langsung mengeklik tombol *Publish*.
***
Kurang dari sepuluh menit setelah bab epilog itu diunggah, ponsel gue langsung bergetar tanpa henti. Notifikasi dari aplikasi Wattpad ma**k bertubi-tubi seperti rentetan peluru senapan mesin.
Gue membuka kolom komentar dengan perasaan berdebar-debar.
**User1122:** *AAAARRGGHHH AKHIRNYA HAPPY ENDING!!! Sumpah gue nangis banget di pojokan kamar! Manis banget kayak sirup cocopandan!*
**MatchaLover:** *Gue kira Duke-nya beneran bakal pergi, ternyata plot twist-nya malah bikin meleyot berjamaah. Author-nim, tanggung jawab, gue senyum-senyum sendiri kayak orang kurang waras!*
**BucinDuke:** *Kening kiss is the new standard of romance! G***, soft banget si Duke di sini, kelihatan sayang dan ngehormatin ceweknya banget. Terharu akutu.*
Tapi, tentu saja, ada juga pembaca yang menyadari perubahan gaya penulisan gue yang mendadak jadi sangat sopan ini.
**Rara_bukan_riri:** *Bentar deh, kok novelnya mendadak jadi suci dan halal banget gini ya? Hahaha! Biasanya kan ada adegan pelukan yang lebih 'panas' gitu, ini kok PG-13 banget? Tapi gemes sih!*
**NetizenJulid:** *Iya nih, tumben authornya bikin adegan yang bersih dari unsur-unsur 'mencurigakan'. Apakah authornya baru saja bertobat atau habis ikut kajian? Tapi jujur, malah makin berasa feel romantisnya.*
**PacarKhayalanDuke:** *Epilog versi syariah ya bun, gapapa gue malah suka yang kayak gini! Lebih dapet feel hangat dan tulusnya ketimbang adegan yang aneh-aneh.*
Gue tertawa geli membaca komentar-komentar mereka. *Maaf ya, Guys,* batin gue dalam hati. *Ini demi keselamatan dan kesehatan jantung gue sendiri di dunia nyata.*
Tiba-tiba, sebuah pesan WhatsApp ma**k di layar ponsel gue. Dari Adrian.
**Adrian:** *Al, gue baru selesai baca epilog novel lo.*
Jantung gue langsung berdesir. Aduh, mampus. Dia baca!
**Alena:** *Eh? Gimana menurut lo?*
**Adrian:** *Bagus banget. Terutama bagian Duke-nya janji bakal selalu ada buat ceweknya. Dan soal kecup kening itu...*
Gue menahan napas, menunggu ketikan Adrian selanjutnya yang berjalan agak lama.
**Adrian:** *Gue rasa itu kode keras kalau lo mau gue lakuin hal yang sama besok pas kita ketemu di kampus. Siap-siap aja ya, Pacar.*
Gue langsung melempar ponsel gue ke atas ka**r dan menyembunyikan wajah gue yang panas di balik bantal. Sambil berteriak pelan tanpa suara, gue merutuki diri sendiri yang udah menulis adegan itu, tapi di saat yang sama, hati gue rasanya penuh banget oleh kebahagiaan yang nggak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Ternyata, menulis fantasi dan menjadikannya nyata nggak seburuk itu. Apalagi kalau akhirnya sebahagia ini.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!