"Selesai!"
Satu klik di tombol *publish*, dan rasanya seolah-olah beban seberat satu ton yang selama ini menggelayuti pundak gue langsung luruh begitu saja.
Gue menyandarkan punggung ke kursi belajar, mengembuskan napas lega yang panjang banget. Di layar laptop, sebuah pengumuman resmi dengan latar belakang warna pastel merah muda terpampang nyata di halaman profil akun menulis gue:
*OFFICIALLY RETIRED FROM ADULT FANTASY. Hello, Rom-Com era! π*
Yep. Gue, Alena, penulis yang dulu dikenal dengan karya fantasi dewasa penuh adegan aksi berdarah-darah dan bumbu-bumbu romansa eksplisit yang bikin pembaca megap-megap, akhirnya resmi pensiun. Mulai hari ini, lapak gue cuma bakal berisi cerita komedi romantis murni. Yang manis-manis aja, yang bikin senyum-senyum sendiri, dan yang paling penting: aman untuk kesehatan jantung gue tanpa perlu takut plotnya bakal beneran terjadi di dunia nyata lagi.
Nggak butuh waktu lama sampai kolom komentar di bawah pengumuman itu langsung meledak.
*βHAH? SERIUSAN KAK?! NO MORE LIAM DAN ELENA? HUWEE AKU NANGIS KEJER!β*
*βYah, padahal adegan berantem sama adegan βpanasβ di novel Kak Alena tuh juara banget. Tapi nggak apa-apa deh, demi kesehatan mental penulis kesayangan.β*
*βRom-com? Wah, bau-baunya Kak Alena lagi jatuh cinta beneran nih di dunia nyata! Spill pacarnya dong Kak!β*
Gue cuma bisa senyum-senyum sendiri membaca komentar terakhir. Netizen emang kadang punya intuisi setajam silet.
Pintu kamar kosan gue yang sengaja nggak dikunci rapat diketuk dua kali, sebelum akhirnya terbuka pelan. Sesosok cowok berkaos hitam polos dan celana pendek abu-abu menyembul dari balik pintu. Rambutnya yang sedikit berantakan malah bikin dia kelihatan makin ganteng dengan cara yang sant**. Di tangan kanannya, ada sekantong plastik berlogo kedai martabak manis legendaris dekat kampus, lengkap dengan dua botol teh dingin.
Adrian. Pacar gue. Orang yang dulu gue pikir cuma karakter fiksi buatan gue yang entah bagaimana caranya menyeberang ke dunia nyata, tapi ternyata adalah cowok asli yang udah naksir gue sejak hari pertama ospek kuliah.
"Gimana, Sayang? Udah di-post pengumumannya?" tanya Adrian. Dia melangkah ma**k, langsung mengambil posisi nyaman dengan duduk lesehan di atas karpet bulu abu-abu di samping ka**r gue.
"Udah!" jawab gue dengan nada riang yang nggak bisa disembunyikan. Gue memutar kursi belajar gue 180 derajat biar bisa menghadap ke arahnya. "Resmi. Gue bebas dari dunia per-fantasi-an yang penuh dengan monster, darah, dan revisi naskah yang bikin ubanan!"
Adrian terkekeh pelan. Dia meletakkan sekotak martabak manis di atas meja kecil, lalu mendongak menatap gue. Matanya yang cokelat gelap selalu punya cara tersendiri untuk bikin jantung gue berdisko, bahkan setelah berbulan-bulan kami pacaran.
"Wih, selamat ya buat masa pensiunnya," kata Adrian, tangannya bergerak membuka kotak martabak yang aromanya langsung memenuhi seisi kamar kosan gue. Wangi mentega dan cokelatnya bener-bener menggoda iman. "Jadi, sekarang pacar gue udah beralih profesi jadi penulis kisah cinta menye-menye?"
"Heh, sembarangan! Bukan menye-menye ya!" protes gue sambil cemberut, pura-pura tersinggung. "Ini namanya genre komedi romantis murni. Lebih sehat untuk kesehatan mental gue. Lagian, menulis rom-com itu susah tahu! Harus bisa bikin pembaca baper sekaligus ketawa."
"Oh, ya? Tapi kayaknya lo nggak bakal kesusahan deh," ujar Adrian sambil menyodorkan satu potongan martabak manis rasa cokelat keju kesukaan gue.
"Kenapa emangnya?" tanya gue sebelum melahap martabak itu.
"Ya kan lo tinggal menyalin apa yang kita lalui sehari-hari aja. Kehidupan kita sekarang kan udah mirip rom-com banget. Bedanya, versi aslinya jauh lebih seru," goda Adrian dengan kedipan mata jahilnya yang khas.
Wajah gue langsung terasa hangat. Si****, cowok ini emang paling jago bikin gue salah tingkah. Untuk menutupi rasa gugup, gue buru-buru mengunyah martabak di mulut gue sampai pipi gue menggembung kayak hamster.
Adrian yang melihat itu cuma bisa tertawa gemas. Dia mengulurkan ibu jarinya untuk mengusap sudut bibir gue yang terkena sedikit cokelat, lalu menjilat jarinya sendiri tanpa rasa jijik sama sekali. Tindakan ka**al itu sukses bikin wajah gue makin merah padam mirip kepiting rebus.
"Tapi jujur ya, Al..." Adrian mengubah posisi duduknya menjadi lebih sant**, bersandar pada pinggiran ka**r gue. "Gue kadang-kadang bakal kangen sih sama draf-draf fantasi dewasa lo."
Gue hampir tersedak martabak. "Uhuk! Kangen apanya? Lo g*** ya? Lo lupa seberapa repotnya lo harus 'menyelamatkan' gue dari segala keanehan yang gue tulis dulu?"
"Bukan bagian bahayanya atau monster-monsternya, Al," bisik Adrian. Suaranya mendadak berubah agak serak dan rendah, sengaja dibuat-buat misterius. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah gue dengan senyum penuh arti. "Tapi bagian... itu. Adegan-adegan 'panas' yang sering lo tulis dengan sangat... det**l. Yang bikin gue mikir, ini penulisnya emang punya imajinasi liar atau emang lagi kode keras ke gue?"
"ADRIAN! STOP!" teriak gue panik, reflek melempar bantal sofa kecil ke arah wajahnya.
Adrian dengan mudah menangkap bantal itu sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi sebelum gue sempat merebut bantal itu kembali, mata Adrian mendadak tertuju pada ponsel gue yang tergeletak di atas ka**r dengan layar yang masih menyala.
"Eh, apa ini? Masih ada draf lama yang belum dihapus ya?" gumam Adrian dengan nada penasaran yang mencurigakan.
"Jangan! Adrian, jangan dibaca!" pekik gue, langsung panik setengah mati.
Gue mencoba melompat dari kursi untuk merebut ponsel itu, tapi gerakan Adrian jauh lebih cepat. Dengan badannya yang tinggi dan atletis, dia dengan mudah mengangkat ponsel gue tinggi-tinggi dengan satu tangan, sementara tangan satunya menahan pinggang gue agar gue nggak bisa menggapainya.
"Coba kita lihat..." Adrian menyipitkan mata, membaca tulisan di layar ponsel gue dengan ekspresi dramatis yang dilebih-lebihkan. "'*Liam merapatkan tubuh Elena ke dinding batu yang dingin. Napasnya yang memburu terasa hangat di ceruk leher Elena, mengirimkan sengatan listrik yang membuat seluruh tubuh gadis itu bergetar...*'"
"ADRIAN, GUE MOHON DIEM!" jerit gue, bener-bener ingin tenggelam ke dalam bumi saat itu juga. Gue memukuli dadanya pelan, mencoba menutupi mulutnya dengan kedua tangan gue, tapi dia malah makin menjadi-jadi.
"'*...dengan satu sentuhan lembut namun menuntut, Liam berbisik pelan di telinganya...*'" Adrian sengaja menjeda kalimatnya, lalu menunduk menatap gue yang udah pasrah menyembunyikan wajah di dadanya. Dia berbisik tepat di telinga gue dengan nada yang persis kayak karakter Liam di novel gue, "'*Kau milikku, Elena. Selamanya.*'"
G***. Bulu kuduk gue bener-bener meremang, tapi bukan karena takut, melainkan karena getaran suara Adrian yang terlalu s**** di telinga gue.
"Yan, ih! Itu draf lama dari dua tahun lalu! Masih alay banget dan belum direvisi!" keluh gue dengan suara teredam di kaus hitamnya. Rasanya seluruh wajah gue udah terbakar saking malunya.
Adrian akhirnya berhenti membaca. Dia meletakkan ponsel gue kembali ke ka**r, lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggang gue dengan erat. Dia menarik tubuh gue hingga gue terduduk di pangkuannya di atas karpet bulu. Dia mengusap rambut gue lembut, lalu mengecup puncak kepala gue berulang kali sampai rasa malu gue sedikit mereda.
"Tapi serius, Al," kata Adrian, nadanya sekarang terdengar tulus, tanpa ada lagi nada bercanda yang menyebalkan. "Gue bangga banget sama lo. Akhirnya lo berani mengambil keputusan besar ini. Keluar dari zona nyaman dan nulis apa yang bener-bener bikin lo bahagia, bukan karena tuntutan pembaca atau kejaran *deadline*."
Gue mendongak pelan dari dadanya, menatap dagunya yang kokoh, lalu naik ke matanya yang menatap gue dengan kehangatan penuh. "Lo beneran nggak kecewa? Maksud gue... banyak pembaca lama gue yang sedih karena gue nggak nulis fantasi lagi."
"Buat apa mikirin kesedihan orang lain kalau itu malah bikin lo sendiri stres, kurang tidur, dan sering nangis tengah malam gara-gara dikejar revisi?" Adrian menyelipkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah gue ke belakang telinga. "Kesehatan lo, senyum lo, kebahagiaan lo... itu yang paling penting buat gue sekarang. Lagian, lo nggak perlu lagi nulis cerita fantasi aneh-aneh buat melarikan diri dari kenyataan, kan?"
Mendengar kalimat terakhirnya, dada gue rasanya hangat banget, seperti ada kembang api yang meletup-letup di dalam sana.
Adrian benar. Dulu, gue menulis fantasi dewasa dengan segala kerumitan plot dan kisah cinta yang menggebu-gebu karena hidup gue sendiri terasa hambar, sepi, dan membosankan. Menulis adalah satu-satunya cara gue untuk melarikan diri dari kenyataan hidup gue yang monoton sebagai mahasiswi biasa yang nggak punya siapa-siapa.
Tapi sekarang?
Kenyataan gue jauh lebih indah daripada draf novel apa pun yang pernah gue ketik. Gue punya Adrian. Cowok menyebalkan tapi super perhatian yang rela hujan-hujanan demi melindungi kepala gue pakai jaket denimnya. Cowok yang selalu siap sedia membelikan martabak manis kapan pun draf tulisan gue lagi macet. Cowok yang cintanya nyata, yang kehangatannya bisa gue rasakan langsung lewat pelukan erat ini, bukan sekadar kata-kata manis di layar laptop.
"Iya," gumam gue pelan, melingkarkan lengan gue di lehernya, mengeratkan pelukan kami. "Gue nggak butuh fantasi lagi. Karena kenyataan gue sekarang... jauh lebih dari c**up."
Adrian tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi. Dia mendekatkan wajahnya, mengecup dahi gue lama, lalu turun ke hidung, dan berakhir dengan kecupan lembut di bibir gue yang rasanya manis karena sisa martabak tadi.
"Jadi," bisik Adrian setelah melepaskan ciumannya, matanya kembali berkilat jahil. "Kapan bab pertama novel komedi romantis lo yang terinspirasi dari cowok paling ganteng sedunia ini bakal rilis?"
Gue memutar bola mata, tapi nggak bisa menahan senyum lebar di bibir gue. "Dih, pede banget! Siapa juga yang bilang karakternya terinspirasi dari lo?"
"Lho, emang bukan? Di draf baru yang sempat gue intip tadi, karakter cowoknya tinggi, pinter, suka usil tapi aslinya perhatian banget, terus suka makan martabak keju. Itu jelas-jelas gue, Alena!"
"Enggak ya! Karakter cowok di novel baru gue itu juga punya sifat pelupa dan sering pakai kaos terbalik kalau buru-buru. Emangnya lo kayak gitu?"
Adrian terdiam sebentar, lalu reflek menunduk melihat kaos hitam yang dipakainya. Detik berikutnya, dia menyadari kalau jahitan bagian dalam kaosnya ada di luar.
"Sial," umat Adrian pelan, mukanya langsung berubah kikuk yang malah kelihatan lucu banget. "Lo sengaja ya ma**kin aib gue ke dalam novel?"
Gue langsung tertawa lepas, tawa paling bahagia yang pernah gue miliki dalam hidup gue. Kamar kosan gue yang sempit ini mendadak terasa begitu luas, dipenuhi oleh kehangatan, tawa, dan aroma manis martabak yang berbaur dengan cinta yang beneran nyata.
Gue nggak tahu bagaimana akhir dari novel komedi romantis yang sedang gue tulis sekarang. Tapi satu hal yang gue tahu pasti: untuk kisah hidup gue sendiri, gue akhirnya berhasil menemukan akhir bahagia gue bersama cowok di depan gue ini. Pensiun jalur cinta? Ternyata adalah pilihan terbaik yang pernah gue ambil.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!