Aku Menulis Fantasi, Dia Menjadikannya Nyata

Bab 2: Tab**kan Koridor dan Teori Konspirasi

Pengaturan Membaca

Bab 2: Tab**kan Koridor dan Teori Konspirasi

Prinsip hidup Alena Kusuma itu sederhana: jadilah seperti tanaman hias atau lidah mertua di sudut ruangan. Ada di sana, hijau, melakukan fotosintesis dengan tenang, tapi tidak ada satu pun orang yang peduli atau berniat mengajak mengobrol.

Bagi Alena, menjadi tidak terlihat adalah sebuah seni. Itulah alasan mengapa hari ini dia sengaja memakai *oversized hoodie* berwarna abu-abu pudar yang ukurannya tiga kali lebih besar dari tubuh mungilnya. Tudung kepalanya ditarik rendah hingga menutupi dahi, berpadu dengan kacamata bulat berbingkai hitam yang sengaja dia dorong agak turun ke hidung. Dia juga memeluk buku catatan tebalnya erat-erat di dada, seolah buku itu adalah perisai pelindung dari radiasi sosial dunia luar.

Koridor lant** dua Fakultas Ilmu Budaya pagi itu sudah ramai. Mahasiswa berlalu-lalang, ada yang sibuk mendiskusikan tugas kelompok yang belum selesai, ada yang tertawa keras karena meme di media sosial, dan ada juga yang sekadar duduk-duduk di selasar sambil menyeruput kopi sas****.

Alena mengambil jalur paling aman: mepet ke dinding sebelah kanan. Langkah kakinya seringan kapas, nyaris tanpa suara. Dia hanya perlu berjalan sepanjang lima puluh meter lagi, ma**k ke kelas Sastra Bandingan, duduk di pojok belakang dekat jendela, dan bertahan hidup sampai jam kuliah selesai. Cuma itu targetnya hari ini.

Namun, semesta tampaknya sedang bosan bersikap baik pada Alena.

Tiba-tiba saja, atmosfer di koridor yang tadinya bising berubah menjadi agak senyap. Kasak-kusuk aneh mulai terdengar, seperti suara lebah yang berdengung pelan tapi mengganggu. Alena yang merasa ada sesuatu yang tidak beres, memberanikan diri untuk mendongak sedikit dari balik tudung *hoodie*-nya.

Saat itulah jantung Alena serasa merosot sampai ke dengkul.

Dari arah berlawanan, sesosok cowok sedang berjalan sant** ke arahnya. Cowok itu mengenakan jaket denim hitam ka**al di atas kaos putih polos, dipadukan dengan celana jins gelap dan sepatu olahraga yang terlihat sangat bersih. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan justru memberi kesan s**** yang alami, seolah dia baru saja bangun dari tidur yang nyenyak tapi langsung siap untuk pemotretan majalah.

Adrian Pradipta.

Si dewa kampus dari jurusan Manajemen Bisnis Internasional. Cowok yang fotonya kemarin malam Alena curi dari akun gosip kampus untuk dijadikan visualisasi Duke Cassian dalam novel fantasinya, *The Duke’s Sinful Obsession*.

"Ngapain anak Manajemen nyasar ke gedung FIB?" bisik Alena panik dalam hati. Matanya langsung berputar liar mencari jalan keluar. Sayangnya, koridor ini lurus dan tidak ada belokan terdekat selain pintu kelas yang masih terkunci.

Alena buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia bergeser semakin mepet ke dinding, berniat memberikan jalan selebar mungkin agar sang pangeran kampus bisa lewat tanpa perlu menyenggol seujung kukunya pun.

Tapi anehnya, bayangan sepatu Adrian yang terpantul di lant** ubin koridor malah ikut bergeser ke arah dinding.

Alena mengernyit. Dia bergeser satu langkah ke arah kiri untuk menghindar. Bayangan sepatu itu kembali mengikuti gerakannya, bergeser ke kiri.

"Ini orang matanya ditaruh di mana sih?" maki Alena dalam hati, mulai kesal.

Sebelum Alena sempat mengambil langkah menghindar untuk ketiga kalinya, cowok di hadapannya mendadak mempercepat langkah. Dan sebelum Alena bisa memproses apa yang terjadi—

*BRUK!*

Tab**kan itu terjadi dengan begitu dramatis. Bahu kokoh Adrian menghantam bahu kecil Alena dengan c**up keras hingga membuat gadis itu terhuyung ke belakang. Buku catatan tebal yang dipeluk Alena terlepas dari dekapannya, jatuh ke lant** bersama dengan beberapa lembar kertas draf coretan novelnya yang langsung berserakan ke segala arah.

"Aduh..." Alena meringis pelan, memegangi bahunya yang terasa agak linu. Sambil mengumpat dalam hati, dia segera berlutut di lant** untuk memunguti kertas-kertasnya secepat mungkin sebelum ada yang sempat membacanya.

Namun, keheningan yang mendadak melanda koridor membuat gerakan tangan Alena mendadak kaku.

Puluhan pasang mata kini menatap lurus ke arah mereka berdua. Bisik-bisik gosip yang tadinya sayup-sayup kini langsung meledak seperti petasan di siang bolong.

"Eh, itu Adrian kan? Kok bisa di FIB?"

"Dia nab**k siapa tuh? Anak Sastra ya?"

"Ih, kok kayak adegan di drakor atau FTV banget sih? Sengaja banget kayaknya ceweknya."

"Murahan banget caranya biar bisa deket sama Adrian."

Wajah Alena langsung memerah padam sampai ke telinga karena malu sekaligus kesal mendengar tuduhan-tuduhan tidak berdasar itu. *Gue yang ditab**k, kenapa gue yang dibilang sengaja?!* batinnya menjerit frustrasi.

Saat jemari gemetar Alena baru saja akan meraih selembar kertas drafnya, sebuah tangan dengan jemari panjang, bersih, dan tampak kokoh mendahuluinya. Tangan itu memungut kertas tersebut dengan gerakan yang sangat tenang, lalu perlahan mengumpulkannya menjadi satu tumpukan rapi.

Alena mendongak perlahan, berniat untuk menyambar kertas-kertas itu dan segera kabur. Namun, gerakannya terkunci saat matanya langsung bertubrukan dengan sepasang netra hitam pekat milik Adrian.

Cowok itu kini tengah berjongkok tepat di hadapannya. Jarak wajah mereka sangat dekat, sampai-saat Alena bisa mencium aroma parfum maskulin yang mahal—campuran aroma kayu cedarwood dan kesegaran citrus—yang menguar dari tubuh Adrian. Sialnya, wajah cowok itu memang luar biasa tampan jika dilihat dari jarak sedekat ini, persis seperti apa yang Alena deskripsikan tentang Duke Cassian di novelnya.

"Ma—maaf," cicit Alena reflex, padahal dia tidak salah apa-apa. Dia hanya ingin interaksi ini cepat berakhir. Dia mengulurkan tangannya untuk mengambil kertas-kertas itu dari genggaman Adrian.

Namun, bukannya mengembalikan kertas tersebut atau berdiri dan meminta maaf seperti manusia normal pada umumnya, Adrian justru mencondongkan tubuhnya ke depan.

Alena menahan napas, tubuhnya mendadak kaku seperti patung batu.

Wajah Adrian kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari telinga kiri Alena. Embusan napas hangat cowok itu menyapu kulit leher Alena yang sensitif, mengirimkan gelombang merinding yang instan ke seluruh tulang belakangnya.

Lalu, dengan suara bariton yang rendah, berat, dan terdengar begitu dalam—nada suara yang sengaja dibuat sensual seperti karakter pria berdarah dingin dalam novel romansa—Adrian berbisik:

"Menab**kku tidak akan membuatmu mendapatkan hatiku, Gadis Kecil. Tapi jika kamu begitu mendambakan tubuhku... katakan saja langsung. Aku tidak suka wanita yang berpura-pura polos."

*DEG.*

Otak Alena mendadak mengalami *error* total. Sistem sarafnya seperti mengalami korsleting massal hingga layar visual di kepalanya hanya menampilkan tulisan *404 Not Found*.

Kalimat itu.

Dialog itu.

Kata demi kata, intonasi demi intonasi, bahkan pangg***n "Gadis Kecil" yang super duper *cringe* dan klise itu...

Itu adalah dialog yang Alena tulis semalam suntuk di Bab 1 novel *The Duke’s Sinful Obsession*! Itu adalah dialog pertama yang diucapkan oleh Duke Cassian saat pertama kali tidak sengaja bertab**kan dengan Clara, si pelayan istana, di koridor kastil!

*Bagaimana bisa Adrian mengucapkan kalimat itu secara langsung di depan mukanya?!*

Sebelum Alena sempat tersadar dari syoknya, Adrian menarik kembali kepalanya. Senyum miring yang sangat menyebalkan—dan luar biasa tampan—terukir di bibirnya. Dia meletakkan tumpukan kertas itu dengan lembut ke atas pangkuan Alena, lalu menepuk pelan puncak kepala Alena yang masih tertutup tudung *hoodie*.

"Lain kali, hati-hati kalau jalan," ucap Adrian dengan nada suara normal yang c**up keras untuk didengar oleh orang-orang di sekitar mereka.

Setelah mengatakan itu, Adrian bangkit berdiri dengan sant**, mema**kkan kedua tangannya ke dalam saku jaket denimnya, dan berjalan pergi begitu saja melewati kerumunan mahasiswa yang masih melongo heran. Dia pergi tanpa beban, meninggalkan Alena yang masih terduduk kaku di lant** koridor seperti korban kecelakaan lalu lintas rohani.

Begitu punggung Adrian menghilang di belokan koridor, keheningan di tempat itu langsung pecah berkeping-keping. Suara bisik-bisik kini berubah menjadi gemuruh teori konspirasi yang liar dari para mahasiswa yang menyaksikannya.

"G***! Lo lihat nggak tadi? Adrian bisikin sesuatu ke kuping cewek itu!"

"Muka mereka deket banget, a****! Mau ciuman apa gimana?!"

"Cewek itu siapa sih? Kok penampilannya kayak gembel gitu tapi bisa dideketin Adrian?"

"Eh, jangan-jangan mereka pacaran diam-diam? Atau cewek itu pakai pelet?"

"Nggak mungkin! Adrian kan seleranya tinggi. Masa sama cewek misterius yang mukanya aja nggak kelihatan?"

"Gue yakin ini konspirasi taruhan anak-anak Manajemen! Adrian pasti lagi ditantang buat godain cewek paling cupu di kampus!"

Mendengar kata "taruhan" dan "pelet" disebut-sebut, Alena langsung tersadar dari pembekuannya. Kesadaran bahwa dirinya kini menjadi pusat perhatian seluruh koridor menghantamnya seperti godam raksasa.

Dengan gerakan panik yang kacau, Alena menyambar sisa kertasnya yang berserakan, mema**kkannya asal-asalan ke dalam tas, lalu bangkit berdiri. Dia tidak memedulikan kacamata bulatnya yang sempat miring. Dia berlari sekencang mungkin, menerobos kerumunan mahasiswa yang terus menatapnya dengan pandangan penuh selidik dan kecurigaan.

Alena terus berlari menyusuri koridor, menuruni tangga, hingga akhirnya dia melihat pintu toilet perempuan di ujung lorong sepi dekat gudang. Tanpa berpikir panjang, dia langsung mendorong pintu itu, ma**k ke dalam bilik paling ujung, dan mengunci pintunya rapat-rapat.

*KLIK.*

Alena menyandarkan punggungnya pada pintu kayu toilet yang dingin. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun dengan cepat, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Nggak mungkin... Ini nggak mungkin nyata," bisik Alena dengan suara gemetar.

Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Alena meraba saku *hoodie*-nya untuk mengambil ponsel. Dia membuka aplikasi *Novelku*, ma**k ke dasbor penulis dengan nama pena *Cherry_Late*, lalu membuka bab pertama dari *The Duke’s Sinful Obsession* yang baru dia unggah beberapa jam yang lalu.

Matanya membaca baris demi baris teks yang tertera di layar ponselnya dengan cepat, hingga pandangannya berhenti pada adegan tab**kan di koridor kastil antara Duke Cassian dan Clara.

*“Menab**kku tidak akan membuatmu mendapatkan hatiku, Gadis Kecil. Tapi jika kamu begitu mendambakan tubuhku... katakan saja langsung. Aku tidak suka wanita yang berpura-pura polos.”*

Alena menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Matanya melebar sempurna di balik kacamata bulatnya.

"Dia... dia beneran ngomong kalimat ini. Sama persis. Nggak ada satu kata pun yang beda!" gumam Alena dengan nada histeris yang tertahan.

Alena mencubit pipinya sendiri dengan keras sampai dia m****ik kesakitan. "Aduh! Sakit... Berarti ini bukan mimpi?!"

Otak Alena mulai bekerja lembur, memikirkan segala kemungkinan yang ma**k akal dan tidak ma**k akal.

Teori pertama: Adrian adalah pembaca rahasia novelnya. Tapi itu sangat tidak ma**k akal! Adrian adalah tipe cowok alfa yang sibuk dengan rapat himpunan, nongkrong di kafe mahal, dan dikelilingi cewek-cewek modis. Bagaimana mungkin cowok seperti itu mengunduh aplikasi novel romansa dan membaca cerita fantasi dewasa bertema kerajaan yang penuh adegan panas?

Teori kedua: Ini adalah kebetulan yang luar biasa ekstrem. Tapi tingkat kebetulan ini sudah di luar nalar sehat manusia. Bagaimana bisa seseorang secara tidak sengaja meniru dialog spesifik sepanjang dua kalimat penuh dengan intonasi yang sama persis?

Teori ketiga—dan ini adalah teori yang paling membuat Alena merinding setengah mati: Adrian entah bagaimana mengetahui bahwa Alena adalah *Cherry_Late*, dan cowok itu sengaja sedang mempermainkannya.

"Mati gue. Kalau dia beneran tahu gue yang nulis novel itu... gue tamat," bisik Alena dengan tatapan kosong menatap pintu toilet.

Bayangan rahasianya terbongkar ke seluruh kampus langsung berputar di kepalanya seperti film horor berdurasi panjang. Semua orang akan tahu bahwa mahasiswi Sastra I****esia yang pendiam, kuper, dan selalu memakai baju gomb**ng ini adalah otak di balik novel romansa dewasa yang penuh adegan sensual yang dibaca oleh jutaan orang. Adrian bisa saja menyebarkan tangkapan layar novel tersebut ke grup angkatan, atau bahkan menjadikannya bahan tertawaan di depan teman-teman organisasinya.

Hidup tenang yang selama ini Alena bangun dengan susah payah telah hancur dalam waktu kurang dari lima menit.

Alena mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tidak boleh terus-menerus bersembunyi di dalam toilet seperti pecundang. Dia harus melakukan sesuatu.

Masalahnya, di draf Bab 2 yang sedang dia rancang di laptopnya saat ini, ada adegan di mana Duke Cassian menyudutkan Clara di perpustakaan kerajaan yang sepi dan melakukan hal yang jauh lebih intim daripada sekadar berbisik di telinga.

"Kalau dia beneran berniat mewujudkan semua yang gue tulis..." Alena menelan ludah dengan susah payah, membayangkan adegan perpustakaan itu terjadi secara nyata di perpustakaan kampus mereka yang terkenal sunyi. "Gue harus hentikan dia sebelum dia bertindak lebih jauh!"

Alena menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang terserak. Dia membuka kunci pintu toilet, melangkah keluar, dan menatap pantulan dirinya di cermin wastafel. Dia merapikan kacamatanya, membetulkan tudung *hoodie*-nya, lalu menatap matanya sendiri dengan tekad baru.

Dia harus mencari Adrian Pradipta dan menuntut penjelasan dari cowok itu sekarang juga.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca