Napas Alena putus-putus seperti orang yang baru saja lolos dari kejaran kawanan serigala kelaparan. Begitu kakinya menginjak lant** kamar kosnya yang berukuran tiga kali tiga meter, dia langsung membanting pintu kayu tripleks itu dan memutar kunci gemboknya hingga berbunyi *klik* keras dua kali. Tidak tanggung-tanggung, dia juga memasang slot selot pintu tambahan dan mengganjal bagian bawah pintu dengan menggunakan rak sepatu plastik miliknya.
Setelah memastikan pertahanan kamarnya sekokoh benteng Konstantinopel, Alena menyandarkan punggungnya di pintu. Tubuhnya merosot perlahan sampai terduduk di atas lant** ubin yang dingin. Jantungnya masih berdegup kencang, menabuh dada dengan ritme yang sanggup membuat speaker konser pecah.
Pers**** dengan kelas Sastra Bandingan. Pers**** dengan absen kuliah hari ini. Saat ini, keselamatan jiwa dan raga—serta yang paling penting, harga dirinya—sedang berada di ujung tanduk.
Semua ini gara-gara Adrian Pradipta.
Cowok itu benar-benar titisan i**** berkedok pangeran kampus. Bagaimana bisa semua hal yang ditulis Alena di novel fantasi picisannya, *The Duke’s Sinful Obsession*, mendadak terproyeksi di dunia nyata? Kemarin kejadian tab**kan koridor yang sama persis, dan sekarang...
Alena tiba-tiba menegakkan punggungnya. Matanya membelalak lebar saat ingatan mengerikan mendadak menyengat otaknya.
"Tunggu dulu..." Alena bergumam lirih, suaranya gemetar. "Setelah adegan tab**kan koridor di bab dua... bab berikutnya itu..."
Alena buru-buru merogoh saku *hoodie*-nya yang longgar, mengambil ponsel dengan tangan yang gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan benda pipih itu ke lant**. Dengan ibu jari yang berkeringat, dia membuka aplikasi menulis tempatnya memublikasikan novel tersebut. Dia langsung membuka folder draf untuk memeriksa bab selanjutnya yang sudah dia jadwalkan rilis malam ini.
**Bab 3: Kehangatan di Balik Pintu Kamar Mandi Istana**
Alena membaca baris demi baris sinopsis bab tersebut yang pernah dia rancang di buku catatannya. Seketika itu juga, wajahnya terasa panas membara, barangkali sudah semerah kepiting rebus yang siap saji.
Dalam bab tiga itu, karakter utama wanita yang bernama Elyria sedang berendam di bak mandi air hangat bertabur kelopak mawar. Karena terbawa suasana romantis pasca-bertemu Duke Cassian di koridor istana, Elyria mulai melakukan hal yang sangat memalukan. Dia mengusap busa sabun ke tubuhnya sambil mendesah manja, membayangkan sentuhan tangan dingin sang Duke di kulitnya. Lebih parah lagi, Elyria berdialog sendiri dengan sangat *cringe*, mengobrol dengan bebek karet di bak mandi seolah-olah bebek itu adalah Duke Cassian, lalu mencium bebek itu dengan penuh gairah. Dan puncak dari segala bencana itu adalah: Duke Cassian tiba-tiba muncul dari balik tirai kamar mandi karena pintu luar ternyata lupa dikunci.
"Oh, demi Tuhan! Kenapa dulu gue nulis adegan se-cringe dan se-mesum ini?!" teriak Alena histeris, menjambak rambutnya sendiri hingga berantakan.
Kalau teori konspirasi bahwa "Adrian mewujudkan tulisan Alena" itu benar-benar seratus persen akurat...
Alena langsung menatap pintu kamar mandi kosannya yang terbuat dari plastik murah berwarna biru muda. Pintu itu bahkan tidak punya kunci yang layak, hanya slot plastik kecil yang kalau didorong agak keras dari luar pasti langsung jebol.
"Enggak, enggak, enggak! Ini g***!" Alena mulai bermonolog dengan panik. "Adrian itu cowok waras. Dia nggak mungkin tiba-tiba nge-brensek ma**k ke kosan putri, terus nge-grep gue di kamar mandi pas gue lagi sabunan! Tapi... tapi gimana kalau semesta ini memaksa dia buat ngelakuin itu?!"
Bayangan Adrian—dengan wajah tampannya yang dingin, rahang tegas, dan tatapan mata tajam yang sanggup membuat cewek-cewek bertekuk lutut—tiba-tiba berdiri di dalam kamar mandi kosannya yang sempit sambil memegang ember plastik corak abu-abu langsung berputar-putar di kepala Alena. Visualisasi itu bukannya terlihat romantis, malah terasa seperti film horor komedi yang sangat absurd.
*Tok! Tok! Tok!*
Alena melonjak dari lant** seperti baru saja tersengat listrik bertegangan tinggi. Ponselnya nyaris meluncur bebas ke dalam kolong tempat tidur. Dia menahan napas, menatap pintu kamarnya dengan mata melotot ngeri.
"S-siapa?" tanya Alena dengan suara yang naik satu oktav.
"Paket instan, Mbak! Atas nama Alena Kusuma!" teriak sebuah suara berat dari balik pintu. Nada suaranya terdengar ramah khas abang kurir ojek online.
Alena mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Bahunya yang tegang perlahan rileks. "Oh, kurir paket... Kirain hantu Duke."
Alena bangkit berdiri, merapikan sedikit penampilannya, lalu membuka slot kunci pintunya satu per satu dengan hati-hati. Dia membuka pintu hanya selebar beberapa sentimeter, mengintip curiga. Benar saja, ada seorang abang kurir berjaket hijau yang sedang berdiri sambil memegang sebuah tas kertas mini yang terlihat sangat mewah dan elegan. Warnanya hitam doff dengan tali satin merah.
"Mbak Alena?" tanya kurir itu memastikan.
"Iya, saya sendiri. Tapi saya nggak merasa pesan barang instan deh, Mas. Salah alamat kali?"
"Enggak kok, Mbak. Ini aplikasinya tertulis alamat kosan ini, kamar nomor 203. Pengirimnya atas nama... Mas Adrian. Katanya sudah dibayar pakai e-wallet, jadi Mbak tinggal terima aja," jelas kurir itu ramah sambil menyodorkan tas kertas tersebut.
Mendengar nama "Adrian", jantung Alena yang baru saja mau sant** langsung melakukan lompatan indah lagi. Tangannya gemetar saat menerima tas kertas itu. "A-Adrian? Adrian siapa, Mas?"
"Waduh, kalau itu saya kurang tahu, Mbak. Di aplikasi cuma tertulis 'Adrian P'. Ya sudah ya, Mbak, saya permisi dulu. Jangan lupa bintang limanya!" Kurir itu tersenyum lebar, lalu berbalik dan berjalan cepat menyusuri lorong kos-kosan.
Alena menutup pintu kamar dengan kecepatan cahaya. Dia mengunci kembali semua slot pintunya, bahkan kali ini dia menambahkan gantungan baju besi untuk mengganjal gagang pintu.
Dengan napas memburu, Alena berjalan gont** menuju tempat tidurnya. Dia meletakkan tas kertas itu di atas ka**r seprai motif bunga-bunganya yang agak pudar. Dengan jari-jari yang bergetar seperti terkena parkinson, dia membuka isi tas tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah stoples kaca estetik berisi lilin aromaterapi premium beraroma *French Vanilla* dan *Sandalwood*. Aroma manis yang menenangkan namun kuat langsung menguar bahkan sebelum lilin itu dinyalakan. Namun, bukan lilin itu yang membuat Alena merasa dunianya runtuh seketika.
Ada selembar kartu ucapan kecil berwarna hitam dengan tulisan tangan menggunakan tinta emas yang sangat rapi dan maskulin.
Alena mengambil kartu itu dan membacanya dalam hati.
*'Biar suasana kamarmu makin mirip bab 2. Selamat bersant**. - A'*
Darah di sekujur tubuh Alena mendadak terasa berhenti mengalir. Wajahnya pucat pasi, matanya menatap nanar pada huruf 'A' di akhir kalimat tersebut.
Bab 2 di novelnya. Adegan di mana Duke Cassian mengirimkan lilin aromaterapi beraroma vanilla ke kamar Elyria setelah pertemuan pertama mereka untuk "menenangkan pikiran sang gadis".
"Dia tahu..." bisik Alena, suaranya tercekat di tenggorokan. "Adrian beneran tahu tentang novel itu! Dia tahu gue penulisnya! Dan dia... dia sengaja ngikutin alurnya?!"
Alena langsung melempar kartu ucapan itu ke lant** seolah benda itu baru saja berubah menjadi bara api yang membakar kulitnya. Kepalanya berputar cepat mencari skenario logis. Bagaimana Adrian bisa tahu akun rahasianya? Bagaimana cowok populer itu bisa melacak alamat kosannya yang nyempil di gang sempit belakang kampus? Dan yang paling penting: kenapa cowok itu malah meladeni keg***an ini?!
"Nggak, nggak. Kalau dia ngikutin alur bab dua dengan ngirim lilin ini... berarti..." Alena melirik jam dinding kamarnya yang berdetak monoton.
Pukul 15.30.
Draf Bab 3 yang berjudul *Kehangatan di Balik Pintu Kamar Mandi Istana* dijadwalkan rilis otomatis di platform menulisnya pada pukul 17.00. Kurang dari satu setengah jam lagi!
"Kalau bab itu rilis... terus alurnya jalan di dunia nyata..." Alena membayangkan dirinya sedang mandi, lalu Adrian mendadak muncul di kamar mandinya yang sempit, menatapnya dengan pandangan intens ala Duke Cassian sementara Alena hanya bisa melongo sambil memegang gayung *Love* warna merah muda kesayangannya.
"TIDAAAAKKK! GUE BISA MATI KARENA MALU!" teriak Alena histeris.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alena menerjang meja belajarnya. Dia membuka laptop A**S tua miliknya dengan kasar sampai terdengar bunyi kretek kecil pada engselnya. Dia menekan tombol power berulang-ulang dengan tidak sabar.
"Ayo dong, laptop kentang! Tolong bekerja sama untuk sekali ini aja! Jangan pakai acara *updating Windows* sekarang, gue mohon!" Alena berkomat-kamit seperti sedang merapal mantra pelindung dari ilmu hitam.
Setelah menunggu dua menit yang terasa seperti dua abad, layar laptop akhirnya menyala. Alena dengan kecepatan tangan seorang *pro player* game online langsung membuka browser, mengetik alamat situs menulisnya, dan mema**kkan kata sandi dengan terburu-buru hingga salah ketik sebanyak tiga kali.
"Ayo, cepat, cepat!"
Begitu halaman dasbor penulis terbuka, dia langsung mengklik bagian "Draf Terjadwal". Di sana, Bab 3 terpampang nyata, siap meluncur dalam waktu satu jam lima belas menit lagi.
Alena mengklik tombol 'Edit'. Dia menatap ribuan kata yang sudah dia tulis minggu lalu dengan perasaan jijik yang luar biasa.
"Oke, mari kita rombak total adegan jahanam ini," gumam Alena dengan tatapan mata berapi-api penuh tekad.
Dia memblokir seluruh paragraf yang menceritakan Elyria sedang berendam di dalam bak mandi sambil membayangkan otot-otot tubuh Duke Cassian. *Delete!* Semua teks itu hilang dalam sekejap.
"Gue ganti adegannya. Nggak ada mandi-mandi estetik. Nggak ada sabun mawar." Jari-jari Alena menari dengan sangat cepat di atas keyboard, menimbulkan suara ketikan yang bising dan berisik di dalam kamarnya yang sunyi.
Dia mulai mengetik alur baru untuk Bab 3:
*Sore itu, Elyria tidak sedang ingin membersihkan diri dengan mewah. Alih-alih berendam, dia menyadari bahwa saluran pembuangan air di kamar mandi istananya tersumbat parah oleh tumpukan rambut rontok dan lumut kerak. Dengan mengenakan gaun usang yang sudah robek di bagian ketiak dan wajah yang penuh dengan coretan abu jelaga, Elyria berlutut di lant** kamar mandi. Tangan kanannya memegang sebuah kawat besi panjang yang dia tusuk-tusuk ke dalam lubang pembuangan yang mengeluarkan bau tidak sedap...*
Alena tersenyum puas, senyum yang sedikit mengerikan mirip penjahat di film-film pahlawan super. "Nah, rasakan itu! Kalau lo mau merealisasikan bab ini, Adrian, silakan aja lo ma**k ke kamar mandi gue pas gue lagi nyodok lubang WC mampet!"
Alena melanjutkan ketikannya dengan penuh semangat membara:
*Tiba-tiba, Duke Cassian membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuk. Namun, bukannya menemukan pemandangan gadis cantik yang menggoda, sang Duke justru disuguhkan pemandangan Elyria yang sedang asyik membasmi kecoak raksasa yang mendadak terbang dari dalam lubang pembuangan. Duke Cassian yang gagah berani itu ternyata fobia kecoak. Dia langsung menjerit histeris dengan suara melengking tinggi, melompat ke atas wastafel, dan menangis tersedu-sedu sambil memohon agar Elyria menyelamatkannya...*
Alena tertawa terbahak-bahak, tawa kemenangan yang sangat puas. "Bagus! Sempurna! Mari kita lihat apa si dewa kampus itu bakal tetap kelihatan keren kalau dia harus akting nangis-nangis di atas wastafel gara-gara kecoak terbang!"
Dengan perasaan menang di atas angin, Alena mengklik tombol 'Simpan dan Jadwalkan Ulang'. Status bab tersebut kini telah diperbarui.
Alena menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya, menyilangkan tangan di dada dengan senyum penuh kemenangan yang terukir di bibirnya. Dia merasa seperti seorang jenderal perang yang baru saja berhasil membalikkan keadaan di detik-detik terakhir.
Namun, kegembiraan itu hanya bertahan selama beberapa detik.
*Bzzzt... Bzzzt...*
Ponsel Alena yang tergeletak di atas ka**r bergetar pelan. Ada sebuah notifikasi pesan ma**k dari nomor yang tidak dikenal.
Dengan dahi berkerut heran, Alena meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan hijau.
**[+62 812-xxxx-xxxx]:**
*Padahal aku sudah beli sabun aroma stroberi biar mirip sama draf awal bab 3 kamu. Kenapa malah diganti jadi adegan nyodok WC mampet dan kecoak terbang?*
Alena membeku. Seluruh bulu kuduk di tengkuknya meremang seketika. Ponsel di tangannya mendadak terasa sedingin es.
Sebelum Alena sempat memproses rasa terkejutnya, sebuah pesan baru ma**k lagi dari nomor yang sama.
**[+62 812-xxxx-xxxx]:**
*Tapi nggak apa-apa sih. Kebetulan aku nggak fobia kecoak. Jadi, kapan aku harus mulai akting melompat ke atas wastafel kamar kosanmu, Alena?*
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!