Aku Menulis Fantasi, Dia Menjadikannya Nyata

Bab 4: The Power of Revisi Darurat

Pengaturan Membaca

Bab 4: The Power of Revisi Darurat

"Kalau teori konspirasi ini beneran nyata... kalau apa pun yang gue tulis bakal dilakuin sama Adrian..."

Alena menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik-turun dengan ritme cepat. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya, mengalir melewati pipinya yang mendadak pucat pasi.

Dia buru-buru men-*scroll* draf novelnya di aplikasi menulis merah jingga itu dengan ibu jari yang gemetar hebat. Matanya membelalak lebar saat melihat isi Bab 3 yang sudah dia jadwalkan untuk rilis otomatis malam ini.

"Bentar, bentar! Kemarin kan gue sempat ubah urutan bab karena draf kamar mandi itu belum kelar! Bab 3 yang sekarang dijadwalkan itu bukan yang di kamar mandi, tapi adegan sensual di perpustakaan kerajaan!"

Alena menepuk jidatnya keras-keras sampai berbunyi *plak* yang c**up nyaring di dalam keheningan kamar kosnya.

Dalam draf Bab 3 asli yang berjudul *Perpustakaan Sunyi dan Napas yang Tertahan*, Elyria dikisahkan sedang mencari buku sihir kuno di rak paling pojok perpustakaan yang gelap dan sepi. Lalu, Duke Cassian datang menyudutkannya ke rak buku, mengunci tubuh Elyria dengan kedua tangannya, berbisik sensual di telinganya dengan suara berat yang menggetarkan jiwa, hingga berakhir dengan adegan ciuman panas yang dijamin bikin para pembaca remaja gigit jari.

"G***! Kalau bab ini rilis malam ini, besok Adrian bakal nyudutitin gue di perpustakaan kampus?!" Alena bergidik ngeri. Membayangkan wajah tampan tapi menyebalkan milik Adrian berada sedekat beberapa sentimeter saja di depan wajahnya sudah sukses membuat bulu kuduknya berdiri tegak.

"Enggak. Enggak boleh terjadi! Harga diri gue sebagai jomlo terhormat sejak lahir sedang berada di ujung tanduk!"

Jam dinding di kamar kosnya menunjukkan pukul 09.30 pagi. Kelas Sastra Bandingan baru akan dimulai jam 10.00. Artinya, dia punya waktu kurang dari tiga puluh menit untuk melakukan revisi darurat sebelum bab itu terbit secara otomatis, atau sebelum Adrian sempat membacanya jika dia memublikasikannya secara manual sekarang.

"Oke, Alena. Lu harus mikir cepat. Lu harus bikin adegan yang mustahil banget dilakuin sama cowok se-cool dan se-jaga image kayak Adrian Pradipta," gumamnya pada diri sendiri. Jemarinya mulai menari liar di atas keyboard virtual ponselnya dengan kecepatan yang bahkan bisa menandingi kecepatan mengetik admin gosip Twitter.

Dia memblokir seluruh paragraf sensual di draf tersebut tanpa ampun, lalu menekan tombol *delete*.

Selamat tinggal momen romantis di perpustakaan. Selamat tinggal tatapan mata penuh damba yang bikin meleleh. Alena menggantinya dengan sebuah *plot twist* paling konyol, paling tidak estetik, dan paling merusak reputasi yang pernah ada dalam sejarah literatur fantasi romantis.

Dalam revisi daruratnya, Alena menulis:

*Elyria sebenarnya tidak sedang mencari buku sihir kuno di perpustakaan. Perutnya justru sedang keroncongan setengah mati setelah seharian dikejar oleh prajurit bayaran. Karena tidak tahan lagi dengan rasa laparnya, dia menyelinap ke sudut perpustakaan kerajaan yang sepi, lalu mengeluarkan sebuah benda ajaib dari dalam jubah sutra putihnya: sebuah cup mi instan kuah pedas lava.*

Alena menyeringai lebar, mengetik dengan imajinasi yang melompat-lompat liar.

*Dengan brutal dan tanpa tata krama, Elyria menyeduh mi tersebut menggunakan sihir api kecil dari ujung jarinya. Begitu mi matang, dia langsung melahapnya dengan sangat tidak estetis. Elyria makan dengan rakus, menyeruput mi itu dengan suara berisik hingga kuah merahnya yang super pedas menciprat ke mana-manaβ€”ke pipinya, ke hidungnya, bahkan mengotori dagunya yang mulus. Dia mendesah kepedasan dengan bibir yang mendadak jontor kemerahan, lalu mengelap bibir serta dagunya yang belepotan kuah merah menggunakan lengan jubah putihnya yang mahal sampai meninggalkan noda kotor yang menjijikkan.*

Alena tertawa jahat. Suara tawa liciknya menggema di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu.

"Nah, rasain lu, Adrian! Lu mau niru adegan ini? Silakan banget! Gue mau lihat gimana seorang Adrian Pradipta, idola fakultas yang selalu rapi, wangi, dan jaim setengah mati, makan mi instan cup kuah pedas sampai belepotan kayak orang belum makan tiga hari!"

Alena membaca ulang draf revisi kilatnya sekali lagi. Sempurna. Sangat konyol, sangat merusak estetika genre fantasi romantis, tapi ini adalah satu-satunya cara menyelamatkan dirinya. Tanpa ragu, Alena langsung menonaktifkan fitur jadwal rilis otomatis dan langsung menekan tombol *Publish Sekarang*.

Bab 3 resmi mengudara di jagat maya dengan judul baru: *Aroma Kuah Pedas di Perpustakaan Suci*.

Waktu menunjukkan pukul 09.45. Alena buru-buru menyambar tas ranselnya yang tergeletak di ka**r, merapikan kaus garis-garisnya yang agak kusut, dan berlari keluar kamar kos menuju kampus dengan perasaan menang yang membuncah di dada.

***

Suasana koridor luar dekat kantin Fakultas Ilmu Budaya pagi itu sangat ramai. Mahasiswa berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Alena berjalan dengan langkah sant**, senyum kecil terus terukir di sudut bibirnya. Dia merasa sangat cerdas hari ini. Trik revisi daruratnya pasti berhasil menggagalkan 'kutukan' aneh dari novelnya.

"Lagian, mana mungkin cowok se-eksklusif Adrian mau makan mi instan cup di kantin terbuka dengan gaya se-gembel itu? Apalagi kuahnya merah membara begitu. Mustahil," batin Alena optimis.

Dia berjalan melewati area meja-meja kayu kantin yang selalu menjadi titik kumpul mahasiswa. Angin sepoi-sepoi membawa aroma gorengan hangat dan kopi instan, bercampur dengan obrolan bising khas anak kuliahan.

Tiba-tiba, langkah kaki Alena melambat. Instingnya mengirimkan sinyal bahaya yang sangat kuat.

Di salah satu meja kayu panjang yang berada tepat di jalur yang harus dilewati Alena, tampak segerombolan mahasiswi sedang berbisik-bisik heboh sambil mencuri pandang ke satu titik. Alena mengikuti arah pandangan mereka. Detik itu juga, jantungnya rasanya melompat keluar dari tempatnya.

Di sana, duduk seorang Adrian Pradipta.

Cowok itu mengenakan kemeja flanel merah-hitam yang kancing atasnya sengaja dibuka sant**, memperlihatkan kaus putih polos di dalamnya yang kontras dengan kulit lehernya yang bersih. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan justru membuatnya terlihat seperti model yang baru keluar dari studio foto.

Tapi bukan ketampanannya yang membuat Alena mematung seperti tiang listrik. Melainkan benda yang ada di hadapan Adrian.

Sebuah cup mi instan merek populer dengan varian "Kuah Pedas Lava" yang masih mengepulkan uap panas. Di tangan kanannya, Adrian memegang sebuah garpu plastik. Dan di tangan kirinya... dia memegang ponsel yang layarnya menyala terang, menampilkan antarmuka aplikasi menulis berwarna merah jingga dengan bab terbaru novel Alena terbuka di sana.

*Dia... dia udah baca bab terbarunya?!* Alena berteriak histeris dalam hati, matanya membelalak lebar.

Seolah memiliki radar khusus yang mendeteksi keberadaan Alena, Adrian mendadak mendongak. Matanya yang tajam dan berwarna cokelat gelap langsung mengunci sosok Alena yang berdiri kaku sekitar lima meter di depannya.

Sudut bibir Adrian terangkat perlahan, membentuk sebuah seringai tipis yang sangat menyebalkan sekaligus mematikan. Dia meletakkan ponselnya di atas meja dengan gerakan sant** yang disengaja, lalu beralih sepenuhnya pada cup mi instan di depannya.

Adrian tahu Alena sedang memperhatikannya dengan tatapan syok. Dan dia memastikan seluruh atensi Alena hari itu hanya terfokus padanya.

Dengan gerakan lambat yang sangat dramatis, Adrian menusuk segulung mi instan dengan garpunya. Dia mengangkat mi itu tinggi-tinggi. Uap panas bergulung-gulung, membawa aroma cabai buatan yang menyengat hingga membuat beberapa mahasiswa di meja sebelah bersin-bersin.

Lalu, dimulailah pertunjukan paling g*** yang pernah Alena saksikan seumur hidupnya.

Adrian membuka mulutnya yang biasanya selalu tertutup rapat dengan ekspresi dingin itu. Dia melahap mi itu dengan gaya yang sangat hiperbola. Bukannya makan dengan sopan dan estetis seperti layaknya anak konglomerat, Adrian sengaja menyeruput mi itu dengan suara seruputan yang sangat nyaring.

*Slurrrpp!*

Suara itu terdengar sangat jelas di tengah kebisingan kantin. Dan sesuai dengan deskripsi persis yang ditulis Alena di draf revisinya, kuah merah mi instan itu menciprat dengan sukses. Beberapa tetes kuah merah mendarat di pipi kiri Adrian yang mulus. Setetes lagi mengotori dagunya yang tegas.

"Uhuk! Pedas banget!" Adrian berakting dengan sangat dramatis. Dia mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan mulut yang terbuka, menirukan adegan Elyria yang kepedasan setengah mati di dalam perpustakaan suci. Matanya bahkan berkaca-kaca buatan.

Para mahasiswi di sekitar mereka langsung heboh berbisik-bisik dengan histeris.

"Eh, lihat deh! Adrian kesambet apaan makan mi instan sampai belepotan gitu?"

"Tapi kok... kok tetep kelihatan ganteng dan s**** ya? Vibes-nya kayak cowok-cowok di drama Korea yang lagi kelaparan!"

"G***, gue rela jadi tisu buat ngelap kuah di dagunya, asli!"

Alena yang mendengar bisikan-bisikan itu rasanya ingin tenggelam saja ke dasar bumi saat itu juga. *Ganteng dari mana?! Itu komedi, woi! Komedi! Dia itu lagi kelihatan kayak orang aneh!* teriak Alena frustrasi dalam hati, wajahnya mulai memerah padam karena menahan malu yang luar biasa.

Namun, penderitaan Alena belum berakhir sampai di situ.

Adrian menatap Alena lurus-lurus, tidak melepaskan pandangannya sedikit pun. Sambil tetap mempertahankan kontak mata yang intens dan penuh provokasi itu, Adrian mengangkat lengan kemeja flanel merah-hitamnya yang mahal. Tanpa ragu sedikit pun, dia menyeka kuah merah di dagu dan pipinya menggunakan lengan kemeja tersebut.

*Srek.*

Kain flanel mahal itu kini menyisakan noda merah kecokelatan yang sangat kotor dan berantakan. Persis seperti jubah putih Elyria yang ternoda akibat kuah mi instan di bab ketiga yang baru saja Alena publikasikan beberapa menit lalu.

Setelah melakukan aksi ekstrem yang sangat merusak penampilannya itu, Adrian tersenyum lebar ke arah Alena. Senyum penuh kemenangan yang langsung mengonfirmasi semua dugaan Alena: cowok ini memang sengaja melakukannya untuk menunjukkan bahwa dia memegang kendali.

Adrian mengangkat cup mi instannya yang masih setengah penuh ke arah Alena, seolah sedang melakukan *cheers* dengan segelas sampanye mewah di pesta dansa kerajaan. Dia mengedipkan sebelah matanya dengan gaya yang sangat menyebalkan.

Darah Alena mendidih seketika. Wajahnya memanas hebat. Dia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Si****. Dia beneran ngelakuinnya," desis Alena tajam di balik giginya yang merapat.

Adrian berdiri dari kursinya. Sambil membawa cup mi instan yang masih mengepul dan ponselnya, dia berjalan sant** menghampiri Alena yang masih mematung di tengah jalan koridor. Langkah kakinya yang tegap dan penuh percaya diri membuat beberapa mahasiswa yang lewat terpaksa menepi untuk memberinya jalan.

Begitu jarak mereka hanya tersisa satu langkah, Adrian berhenti. Aroma parfum maskulinnya yang mahal dan bernuansa kayu pinus kini bercampur aneh dengan aroma kuah mi instan pedas yang menyengat dari napasnya.

"Pagi, Alena," sapa Adrian dengan suara beratnya yang terdengar sangat merduβ€”sekaligus sangat memuakkan di telinga Alena saat ini.

"Lu... lu g*** ya?!" bisik Alena setengah mendesis, berusaha menahan suaranya agar tidak memancing perhatian lebih banyak orang di koridor. "Kenapa lu makan kayak orang kesurupan begitu di depan umum?!"

Adrian menurunkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Alena hingga Alena bisa merasakan embusan napas hangat cowok itu di kulit lehernya.

"Kan gue cuma ngikutin instruksi dari penulis kesayangan gue," bisik Adrian pelan, penuh nada menggoda yang membuat bulu kuduk Alena meremang seketika. "Gimana? Akting gue sebagai Elyria yang kelaparan udah c**up menjiwai belum? Kurang belepotan, ya?"

Alena melotot tajam, melangkah mundur satu tapak untuk memberi jarak. "Jadi lu beneran..."

"Iya, gue baca update-an terbaru lu," potong Adrian cepat dengan senyum miring yang menyebalkan. Dia kembali menegakkan tubuhnya yang tinggi menjulang, lalu menunjukkan layar ponselnya yang masih menampilkan halaman novel *The Duke's Sinful Obsession*.

"Gue akui, revisi darurat lu gokil banget pagi ini. Dari yang tadinya mau bikin adegan romantis sensual di perpustakaan, mendadak berubah drastis jadi adegan makan mi instan cup kuah pedas. Kreatif banget, Alena."

Adrian terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar sangat renyah dan menyebalkan. Tapi bagi Alena, itu adalah suara tawa i**** yang sedang merayakan kemenangan pertamanya.

"Tapi lu lupa satu hal, Alena," lanjut Adrian, melangkah maju lagi hingga Alena terpaksa mundur sampai punggungnya membentur tiang koridor beton yang dingin.

Adrian meletakkan satu tangannya di tiang beton, tepat di samping kepala Alenaβ€”sebuah pose *kabedon* klasik yang biasa ada di komik-komik romantis shoujo, namun terasa sangat absurd karena ada noda kuah mi merah di lengan kemeja flanel mahalnya.

"Gue tipe orang yang selalu totalitas dalam segala hal. Apa pun yang lu tulis di novel itu, bakal gue jadiin nyata di depan mata lu. Bahkan kalau lu nulis Elyria kayang di atas genteng perpustakaan sekalipun, gue bakal cari cara buat ngelakuinnya," bisik Adrian dengan mata cokelatnya yang berkilat jenaka namun penuh tekad yang tidak bisa dibantah.

Alena menelan ludah dengan susah payah. Ancaman implisit itu terdengar sangat nyata dan mengerikan untuk kelangsungan hidupnya yang tenang.

"Lu... lu nantang gue?" tantang Alena balik, mencoba menyembunyikan getar ketakutan di suaranya dengan nada seketus mungkin.

"Bukan nantang," sahut Adrian sant**, menarik kembali tangannya dari tiang beton dan melirik jam tangan hitamnya sekilas. "Kelas bentar lagi mulai. Tapi sebelum gue ma**k kelas, gue cuma mau ngasih saran kecil buat lu..."

Adrian mencondongkan tubuhnya sekali lagi, menatap mata Alena dengan lekat.

"Lain kali, kalau mau bikin revisi darurat, pikirin baik-baik konsekuensinya ya, Alena. Karena apa pun yang lu tulis di Bab 4 nanti... gue bakal pastiin itu terjadi langsung di depan muka lu."

Tanpa menunggu jawaban dari Alena yang masih syok, Adrian berbalik dan berjalan pergi menuju ruang kelasnya dengan langkah sant**, membiarkan beberapa pasang mata di koridor masih menatap noda kuah merah di kemejanya dengan heran.

Alena menatap punggung tegap Adrian yang perlahan menjauh dengan perasaan campur aduk antara kesal setengah mati, malu, dan panik yang luar biasa.

"Bab empat..." gumam Alena dengan bibir bergetar. "Gue... gue harus nulis apa di Bab 4 nanti biar cowok g*** itu kapok?!"

Pikiran Alena langsung berputar liar, menyadari bahwa mulai detik ini, hidupnya yang tenang di kampus telah resmi berakhir. Pertempuran sengit antara sang penulis amatir dan karakter fiksi yang mendadak hidup baru saja dimulai.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca