Aku Menulis Fantasi, Dia Menjadikannya Nyata

Bab 5: Negosiasi di Pojok Perpustakaan

Pengaturan Membaca

**Bab 5: Negosiasi di Pojok Perpustakaan**

Alena merasa umurnya berkurang sepuluh tahun hanya dalam waktu satu malam.

Efek dari revisi daruratnya kemarin benar-benar di luar nalar. Gara-gara dia menulis bahwa Elyria kelaparan dan terpaksa memakan tanaman liar beracun demi bertahan hidup, Adrian—si cowok paling populer se-fakultas—bisa-bisanya memetik daun hiasan di pot dekat lobi gedung dekanat dan mengunyahnya di depan mata kepala Alena sendiri. Cowok itu melakukannya dengan wajah datar tanpa dosa, sementara puluhan mahasiswa lain menatapnya dengan pandangan antara ngeri dan prihatin.

C**up. Alena tidak bisa membiarkan keg***an ini terus berlanjut. Kesehatan mentalnya berada di ambang jurang, dan reputasinya sebagai mahasiswi biasa yang tenang kini terancam hancur lebur jika terus dikaitkan dengan kelakuan ajaib Adrian.

Satu-satunya jalan ninja adalah konfrontasi langsung.

Alena sengaja memilih perpustakaan pusat lant** tiga sebagai tempat eksekusi rencana. Di sinilah, di antara jajaran rak buku tebal tentang Filsafat Kuno Barat yang berdebu dan hampir tidak pernah dikunjungi manusia hidup, Alena menunggu targetnya. Dia sudah mengirim pesan singkat lewat DM Instagram asing yang dia buat khusus untuk menghubungi Adrian: *“Pojok Filsafat Barat, lant** 3. Sekarang. Kalau lo gak datang, gue hapus draf novel ini dari internet selamanya.”*

Ancaman itu terbukti sangat ampuh.

Langkah kaki yang sant** terdengar mendekat. Alena refleks menegakkan punggungnya, meremas tali tas kanvasnya dengan erat sampai buku-buku jarinya memutih. Jantungnya mulai berdegup kencang, bukan karena romantis, melainkan karena rasa panik yang luar biasa.

Sesosok cowok jangkung dengan kemeja flanel hitam-merah yang tidak dikancingkan—menampilkan kaus putih polos di dalamnya—muncul dari balik rak buku nomor 400. Adrian Pradipta. Wajahnya yang kelewat tampan itu tampak luar biasa sant**, seolah-olah dia sedang berjalan-jalan di mal, bukan sedang disergap di pojok perpustakaan yang remang-remang.

"Wah, tempatnya klasik juga. Lo sengaja milih tempat sepi begini biar bisa berduaan sama gue, Al?" tanya Adrian langsung, tanpa basa-basi. Suaranya yang berat tapi renyah terdengar bergema tipis di lorong sempit itu. Dia bahkan sempat-sempatnya menyugar rambut depannya yang sedikit acak-acakan. Narsisnya minta ampun.

"Sstt! Jangan kencang-kencang!" desis Alena panik. Dia langsung menarik lengan kemeja Adrian, menyeret cowok itu ma**k lebih dalam ke celah antara dua rak buku raksasa yang tingginya mencapai langit-langit.

Bau parfum Adrian yang beraroma kayu manis dan maskulin langsung menyeruak, memenuhi rongga dada Alena. Jarak mereka sekarang terbilang sangat dekat—bahkan terlalu dekat untuk ukuran dua orang yang statusnya hampir tidak saling kenal di dunia nyata.

"Oke, kita langsung *to the point* aja," bisik Alena dengan nada mendesak. Matanya melotot tajam, mencoba mengintimidasi cowok di hadapannya. "Gue tahu lo tahu. Dan lo tahu kalau gue tahu kalau lo tahu."

Adrian menaikkan satu alis tebalnya, tampak terhibur. "Kalimat lo muter-muter kayak komidi putar. Bisa disederhanakan, Wahai Penulis?"

Alena menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam jiwanya. "Gue tahu lo dapet semacam... dorongan magis buat ngelakuin apa pun yang gue tulis di novel fantasi gue. Dan gue juga tahu lo tahu kalau gue adalah pemilik akun *SweetCherry99* yang nulis novel dewasa itu. Bener, kan?"

Adrian tidak langsung menjawab. Dia justru menyandarkan punggungnya pada rak buku di belakangnya, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap Alena dengan senyum miring yang sangat menyebalkan. "Akhirnya lo ngaku juga. Gue kira lo bakal terus-terusan pura-pura amnesia tiap kali kita papasan di koridor."

"Gimana bisa gue amnesia kalau lo kemarin makan daun di depan dekanat?!" Alena hampir saja berteriak kalau tidak ingat mereka sedang di perpustakaan. Dia membekap mulutnya sendiri, lalu melanjutkan dengan bisikan penuh penderitaan. "G*** ya lo? Kenapa lo harus beneran ngelakuin semua tulisan gue? Lo gak bisa ngelawan apa gimana sih?!"

"Pertanyaan bagus," sahut Adrian, mencondongkan wajahnya sedikit lebih dekat ke arah Alena. "Jawabannya: gue gak bisa ngelawan. Begitu bab baru lo rilis, atau bahkan pas lo baru selesai nulis draf kasarnya, tubuh gue kayak dapet perintah mutlak yang gak bisa ditolak. Otak gue bilang 'jangan', tapi raga gue bergerak sendiri demi memenuhi takdir dari sang pencipta—yaitu lo."

Alena mengerang frustrasi, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Ini bener-bener gak ma**k akal. Ini kutukan jenis apa, sih? Kenapa harus gue? Kenapa harus novel *cringe* gue?!"

"Hei, jangan sebut karya lo sendiri *cringe*," potong Adrian dengan nada serius yang dibuat-buat. "Sebagai tokoh utama pria, Duke Cassian, gue ngerasa karakter gue sebenarnya sangat berkarisma. Ya... sebelum lo nulis adegan gue kelaparan dan makan daun hiasan kemarin. Serius, Al, daun itu rasanya pahit banget dan bikin tenggorokan gue gatal sampai semalam."

"Itu salah lo sendiri! Siapa suruh lo ngikutin gue mulu!" Alena menurunkan tangannya, menatap Adrian dengan pandangan memohon. "Adrian, tolong. Gue mohon banget sama lo. Tolong rahasiain identitas gue sebagai penulis novel itu. Kalau anak-anak kampus tahu gue nulis novel fantasi erotis dengan visualisasi wajah lo, gue bisa mati berdiri karena malu. Dan... tolong berhenti ngikutin gue. Kita pura-pura gak saling kenal aja mulai sekarang, oke?"

Alena menatap Adrian dengan mata bulatnya yang berbinar penuh harap, berharap cowok itu memiliki sedikit saja rasa empati di dalam hatinya yang katanya sedingin es itu.

Namun, Adrian justru terkekeh pelan. Suara tawanya yang tertahan terdengar sangat menyebalkan di telinga Alena.

"Rahasiain identitas lo? Berhenti ngikutin lo?" Adrian menegakkan tubuhnya, melangkah satu kali ke depan hingga jarak di antara mereka kini terkikis habis. Alena terpaksa mundur sampai punggungnya menab**k rak buku di belakangnya.

*Deg.*

Adrian meletakkan satu tangannya di rak buku tepat di samping kepala Alena, mengunci cewek itu dalam posisinya. Pose klasik ini persis seperti adegan-adegan klise di draf novelnya yang belum direvisi. Alena mendadak lupa cara bernapas.

"Enak banget di lo, tapi gak enak di gue," bisik Adrian dengan senyum yang kelewat menawan. "Gue gak mau setuju gitu aja."

"K-kenapa?" gagap Alena, merutuki dirinya sendiri karena mendadak gugup setengah mati. "Gue kan penulisnya! Gue bisa aja hapus akun gue sekarang juga!"

"Silakan aja kalau lo tega ngehapus karya yang udah lo bangun capek-capek dengan puluhan ribu pembaca setia," tantang Adrian sant**. Dia tahu betul kelemahan Alena. Sebagai penulis, draf novel itu adalah nyawanya. "Lagian, sejujurnya... gue menikmati peran ini."

Alena membelalakkan matanya. "Lo... apa?!"

"Gue menikmati jadi Duke Cassian di dunia nyata," aku Adrian tanpa ragu sedikit pun. Kenarsisan alaminya kini terpancar sempurna. "Karakter Duke itu keren, gagah, ditakuti semua orang, dan punya pengaruh besar. Dibanding jadi Adrian yang cuma mahasiswa biasa yang kegiatannya kuliah-pulang-kuliah-pulang, hidup jadi Duke Cassian jauh lebih menantang."

"Tapi lo makan daun kemarin, b***!"

"Nah, makanya!" Adrian mengetuk dahi Alena pelan dengan telunjuknya, membuat Alena mengerjap kaget. "Itu karena lo nulis revisi yang gak bermutu. Makanya, gue mau ngajuin kesepakatan. *Win-win solution* buat kita berdua."

Alena menatapnya curiga. "Kesepakatan apa?"

Adrian tersenyum misterius. Dia memiringkan kepalanya, menatap Alena dari atas ke bawah sebelum akhirnya menetapkan syaratnya dengan nada suara yang terdengar sangat berkuasa.

"Pertama, gue bakal jaga rahasia lo rapat-rapat. Gak bakal ada satu orang pun di kampus ini yang tahu kalau lo adalah penulis novel dewasa itu. Dan gue juga gak bakal protes soal takdir magis ini lagi."

Alena mengembuskan napas lega. "Oke, terus syaratnya?"

"Kedua," Adrian menjeda kalimatnya sengaja untuk menciptakan efek dramatis, "lo harus nulis karakter Duke Cassian dengan sifat yang jauh lebih keren, gagah, dan berwibawa di bab-bab selanjutnya. Gak ada lagi adegan konyol kayak makan daun, tersandung batu, atau hal-hal memalukan lainnya. Lo harus bikin gue kelihatan kayak *main character* paling tangguh sepanjang masa."

Alena memutar bola matanya. "Dasar cowok narsis. Oke, itu gampang. Gue tinggal tambahin adegan lo tanding pedang atau menyelamatkan kerajaan. Terus apa lagi?"

"Dan yang ketiga..." Adrian menurunkan pandangannya, menatap bibir Alena sekilas sebelum kembali menatap matanya dengan intensitas yang membuat lutut Alena mendadak lemas. "...lo harus selalu melibatkan interaksi fisik yang manis antara Elyria dan Cassian di dalam novel. Dan interaksi itu... harus terjadi di antara kita berdua di kampus."

"APA?!" Alena hampir saja berteriak histeris, namun dengan cepat Adrian membekap mulutnya dengan telapak tangannya yang hangat.

"Sstt, dibilang jangan berisik. Ini perpustakaan, Alena," tegur Adrian dengan bisikan lembut yang justru terdengar sangat berbahaya bagi kesehatan jantung Alena.

Setelah memastikan Alena tenang, Adrian menurunkan tangannya perlahan. Alena langsung memprotes dengan wajah memerah sempurna, entah karena marah atau karena terlalu malu.

"Lo g*** ya?! Interaksi fisik manis di kampus?! Lo mau gue nulis kita pegangan tangan, pelukan, atau... atau bahkan ciuman di depan umum?! Ogah! Gak mau!" tolak Alena mentah-mentah dengan wajah yang terasa sangat panas.

"Gak harus langsung ciuman juga kali," sahut Adrian sant**, meski ada kilatan jahil di matanya. "Tapi kontak fisik tipis-tipis. Kayak gandengan tangan pas nyeb**ng jalan, lo bersihin sisa makanan di sudut bibir gue, atau sesekali pelukan hangat pas lagi hujan. Hal-hal yang bikin pembaca lo baper, sekaligus bikin hidup gue di kampus ini gak membosankan."

"Tapi itu namanya pelecehan terselubung lewat tulisan!" protes Alena, membela diri.

"Pelecehan dari mana? Kan lo sendiri yang nulis adegannya dengan sukarela," bantah Adrian dengan logika yang aneh tapi entah kenapa terasa sulit untuk didebat. "Lagipula, lo juga untung, kan? Lo dapet bahan riset langsung dari dunia nyata. Lo gak perlu lagi bayangin gimana rasanya disentuh cowok tampan demi nulis adegan romantis, karena lo bisa langsung ngerasain sendiri bareng gue."

Alena tertegun. Kata-kata Adrian memang terdengar sangat g***, tapi sebagian kecil dari otaknya yang ambisius sebagai penulis membisikkan bahwa apa yang dikatakan cowok itu ada benarnya. Selama ini, Alena memang sering kesulitan menulis adegan romantis yang realistis karena dia sendiri belum pernah berpacaran seumur hidupnya.

"Gimana, Alena?" tanya Adrian lagi. Dia memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Napas hangat Adrian kini terasa di puc** kepala Alena. "Kesepakatannya gampang, kan? Lo nulis adegan manis, gue lakuin di dunia nyata, identitas lo aman, dan novel lo bakal makin populer karena ditulis berdasarkan 'pengalaman nyata'."

Alena menelan ludah dengan susah payah. Dia menatap wajah Adrian yang begitu dekat, menyadari bahwa dia benar-benar tidak punya pilihan lain. Jika dia menolak, cowok narsis ini bisa saja dengan sengaja membongkar rahasianya, atau bertingkah lebih aneh lagi di kampus hingga membuat Alena terpaksa pindah universitas karena malu.

"Lo... beneran bakal jaga rahasia gue?" tanya Alena memastikan, suaranya kini mencicit pelan.

Adrian tersenyum puas, menyadari bahwa dia telah memenangkan negosiasi ini. "Gue pegang ucapan gue. Duke Cassian gak pernah ingkar janji pada Elyria-nya."

Mendengar pangg***n itu, bulu kuduk Alena meremang seketika. "Jangan panggil gue pake nama itu di dunia nyata!"

"Oke, oke," kekeh Adrian. Dia menarik kembali tangannya dari rak buku, memberikan Alena ruang untuk bernapas lega. "Jadi, kita sepakat?"

Adrian mengulurkan tangan kanannya ke depan Alena, mengajak bersalaman sebagai tanda peresmian kerja sama ilegal mereka.

Alena menatap tangan kokoh itu dengan ragu-ragu selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengembuskan napas pasrah dan menjabat tangan Adrian. "Sepakat. Tapi awas ya, kalau lo berani macam-macam di luar apa yang gue tulis, gue bakal bikin karakter lo mati tragis di bab selanjutnya!"

Adrian tertawa pelan, menggenggam tangan kecil Alena dengan erat sebelum melepaskannya. "Gue tunggu bab baru lo nanti malam, Alena. Bikin yang manis, ya. Gue gak sabar pengen tahu apa yang bakal kita lakuin besok pagi di koridor kampus."

Tanpa menunggu jawaban Alena, Adrian berbalik dan melangkah pergi dengan sant**, meninggalkan Alena yang masih berdiri mematung di pojok perpustakaan yang sunyi dengan jantung yang berdegup kencang di luar kendali.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca