**Bab 6: Pahlawan Kesiangan di Kelas Seminar**
Jika ada satu hal yang paling Alena sesali seumur hidupnya, itu adalah keputusannya untuk tetap ma**k kuliah pada hari Selasa pagi ini.
Kelas Seminar Metodologi Penelitian adalah neraka dunia bagi seluruh mahasiswa semester akhir di jurusan Sastra. Pengampunya adalah Profesor Hardianto—atau yang lebih sering dijuluki mahasiswa sebagai "The Professor of Doom". Beliau adalah tipe dosen senior yang tidak segan-segan menguliti draf proposal skripsi mahasiswa di depan umum sampai yang bersangkutan menangis di pojok koridor.
Alena duduk di barisan tengah, mencoba bersembunyi di balik punggung lebar cowok di depannya. Matanya menatap nanar ke arah papan tulis, tapi pikirannya melayang jauh ke percakapannya dengan Adrian di pojok perpustakaan kemarin.
*“Gue bakal mulai jalankan Bab 4 hari ini, Alena. Lo siap-siap aja,”* bisik Adrian kemarin dengan senyum misterius yang membuat bulu kuduk Alena meremajakan diri.
Bab 4. Alena hafal luar kepala apa isi Bab 4 di draf novel fantasi miliknya. Itu adalah adegan di mana Elyria—sang pahlawan wanita—terjebak di rawa berlumpur dan dikepung oleh kawanan serigala i**** bermata merah. Di saat kritis itulah, Duke Raymond datang menunggangi kuda putihnya, menebas para serigala dengan pedang perak, lalu menarik Elyria ke atas kudanya dalam satu gerakan mulus yang sangat estetis.
Alena memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. *Serigala i**** di dunia nyata? Mau diganti apa sama si Adrian g*** itu? An**** liar kompleks? Atau begal motor?*
"Baik, sekarang kita ma**k ke sesi tanya jawab untuk materi paradigma penelitian kualitatif," suara berat Profesor Hardianto memecah lamunan Alena.
Seketika, atmosfer di dalam ruang kelas seminar yang ber-AC dingin itu berubah mencekam. Puluhan mahasiswa langsung kompak menundukkan kepala. Ada yang mendadak sibuk membolak-balik buku catatan kosong, ada yang berpura-pura menulis dengan sangat serius, dan ada juga yang mendadak berdoa dengan sangat khusyuk agar tidak ditunjuk.
Profesor Hardianto membetulkan letak kacamata tebalnya, memindai seisi ruangan dengan tatapan mata elangnya yang mematikan. "Saya ingin menguji pemahaman kalian. Coba jelaskan, apa perbedaan mendasar antara pendekatan fenomenologi Husserl dan Heidegger dalam analisis data, dan bagaimana implikasinya terhadap posisi peneliti?"
Hening.
Bahkan suara embusan AC pun terdengar begitu jelas. Pertanyaan itu terlalu spesifik dan rumit untuk ukuran otak mahasiswa yang belum s****an.
"Tidak ada yang mau angkat tangan?" Profesor Hardianto mendengus pelan, mengetukkan pulpennya ke meja dosen. *Tok. Tok. Tok.* Bunyi itu terdengar seperti lonceng kematian. "Kalau begitu, saya tunjuk saja secara acak."
Alena menahan napas. Dia merapatkan tubuhnya ke sandaran kursi, berharap kekuatannya untuk menjadi tidak terlihat (invisible) bisa mendadak aktif saat ini juga.
"Kamu." Jari telunjuk Profesor Hardianto mengarah lurus ke arah barisan tengah. "Yang pakai kardigan rajut warna krem dan bando biru di tengah. Siapa namamu?"
Jantung Alena rasanya langsung merosot sampai ke jempol kaki. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan dengan panik, berharap ada orang lain yang memakai atribut yang sama. Tapi nihil. Hanya dia yang memakai bando biru hari ini.
"S-saya, Pak?" tanya Alena dengan suara gemetar, menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu. Silakan berdiri dan jawab pertanyaan saya tadi," ujar Profesor Hardianto dingin, tanpa kompromi.
Alena perlahan berdiri dengan lutut yang terasa lemas seperti jeli. Seluruh pasang mata di kelas itu kini tertuju padanya. Beberapa menatapnya dengan pandangan kasihan, sementara yang lain merasa lega karena bukan mereka yang menjadi tumbal hari ini.
"Eee... perbedaan fenomenologi Husserl dan Heidegger..." Alena menelan ludah dengan susah payah. Otaknya mendadak *blank*. Semua teori yang pernah dia baca menguap begitu saja dari kepalanya. Mukanya mulai memanas karena malu. "Husserl itu... lebih fokus pada... um..."
"Lebih fokus pada apa?" kejar Profesor Hardianto, melipat kedua tangannya di dada. "Jangan cuma mendengung seperti lebah. Jawab yang jelas."
"Itu... deskripsi pengalaman, Pak... sedangkan Heidegger..." Alena meremas ujung kardigannya erat-erat. Air matanya sudah hampir menetes karena tertekan. Dia merasa seperti Elyria yang sedang dikepung serigala i****, siap untuk dicabik-cabik oleh kritik pedas sang profesor.
"Hanya itu? Kamu kuliah semester ini cuma numpang tidur?" kalimat telak Profesor Hardianto mulai keluar.
Tepat sebelum harga diri Alena hancur berkeping-keping, sebuah suara bariton yang sant** namun terdengar sangat percaya diri menginterupsi dari barisan paling belakang.
"Interupsi, Profesor."
Seluruh kelas langsung menoleh ke sumber suara. Di sana, di pojok belakang dekat jendela, Adrian Pradipta berdiri dengan sant**. Satu tangannya dima**kkan ke dalam saku celana jinsnya, sementara tangan lainnya memegang pulpen dengan gaya yang sangat ka**al. Sinar matahari pagi yang menerobos jendela kelas seolah-olah sengaja menyorot wajahnya, memberikan efek dramatis yang kelewat pas.
"Ya? Kamu siapa?" tanya Profesor Hardianto, mengernyitkan dahi terganggu karena interupsi tersebut.
"Saya Adrian, Prof," jawab Adrian dengan senyum tipis yang sangat tenang. "Saya ingin membantu melengkapi jawaban dari Alena. Karena sebenarnya, apa yang ingin disampaikan Alena tadi baru bagian permukaan saja."
Alena membelalakkan matanya. *Adrian? Sejak kapan dia ada di kelas ini? Bukankah dia beda kelas seminar?!*
"Silakan," tantang Profesor Hardianto, tertarik dengan keberanian mahasiswa di depannya.
Adrian berdeham kecil, lalu mulai berbicara dengan lancar, seolah dia adalah dosen tamu yang sedang memberikan kuliah umum. "Secara esensial, fenomenologi Husserl bersifat transendental, di mana peneliti harus melakukan *epoche* atau mengurung prasangka mereka untuk mencapai esensi murni dari kesadaran partisipan. Sementara itu, Heidegger menolaknya dengan konsep hermeneutik, atau *Dasein*. Menurut Heidegger, manusia tidak bisa dilepaskan dari dunianya, sehingga interpretasi peneliti selalu melibatkan pra-pemahaman mereka sendiri. Implikasinya, bagi Husserl peneliti adalah pengamat yang objektif, sedangkan bagi Heidegger, peneliti adalah bagian dari konstruksi makna itu sendiri."
Kelas langsung sunyi senyap selama tiga detik penuh.
Penjelasan Adrian begitu sistematis, runtut, dan menggunakan istilah-istilah akademis yang sangat tepat tanpa ada keraguan sedikit pun.
Profesor Hardianto tampak tertegun sejenak. Beliau menurunkan kacamatanya, lalu mengangguk-angguk kecil dengan ekspresi puas yang sangat jarang beliau tunjukkan. "Penjelasan yang sangat luar biasa untuk ukuran mahasiswa S1. Tepat sasaran."
"Terima kasih, Prof. Tapi pujian itu harusnya dibagi dua, karena Alena-lah yang memicu poin utama dari jawaban saya tadi," kata Adrian dengan nada suara yang sengaja dilembutkan.
Lalu, di depan mata seluruh mahasiswa kelas Seminar Metodologi Penelitian, Adrian menoleh ke arah Alena yang masih berdiri kaku. Sambil menyunggingkan senyum miring andalannya, Adrian mengedipkan sebelah matanya dengan gaya yang sangat flamboyan.
*Wink.*
Dunia Alena rasanya langsung berhenti berputar saat itu juga.
Keheningan kelas pecah dalam sekejap.
"Eaaaaaa!" suara sorakan kompak langsung terdengar dari barisan belakang yang dihuni oleh anak-anak cowok tongkrongan Adrian.
"Cieeee! Penyelamat bando biru!" teriak salah satu teman Adrian, disusul oleh tawa riuh seisi kelas.
"G***, g***! Ini kelas seminar apa drakor sih?!" sahut mahasiswi di barisan depan sambil heboh menepuk-nepuk pundak temannya.
"Romantis banget, woi! Gue yang baper!"
Suasana kelas yang tadinya mencekam seperti pemakaman mendadak berubah menjadi riuh seperti konser musik. Beberapa mahasiswa bahkan mulai mengetuk-ngetuk meja secara ritmis, menciptakan riuh rendah yang membuat Profesor Hardianto harus mengetukkan palu penghapus papan tulis berkali-kali untuk menenangkan kelas.
"Sudah! Sudah! Tenang semuanya! Ini kelas ilmiah, bukan ajang cari jodoh!" tegur Profesor Hardianto, meskipun beliau sendiri tidak bisa menyembunyikan senyum tipis di sudut bibirnya. "Alena, Adrian, silakan duduk kembali."
Alena langsung menjatuhkan dirinya ke kursi dengan wajah yang sudah merah padam, menyerupai kepiting rebus yang baru saja matang. Dia menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah, mencoba menyembunyikan ekspresi malunya yang sudah tidak tertolong lagi.
*Gue mau tenggelam ke dalam bumi sekarang juga. Tolong, siapapun, buka tanah di bawah kursi gue dan telan gue hidup-hidup!* jerit Alena dalam hati.
"Al, sumpah ya," Dita, teman sebangku Alena, langsung menyikut lengannya dengan heboh. Matanya berbinar-binar penuh gosip. "Lo utang cerita sama gue! Sejak kapan lo pacaran sama Adrian Pradipta?! G***, dia keren banget tadi!"
"Gue nggak pacaran sama dia, Dit..." bisik Alena dengan suara yang nyaris tidak terdengar, masih menyembunyikan wajahnya di balik buku catatan.
"Nggak pacaran jidatmu! Tadi dia ngedipin lo di depan Prof Hardianto, Al! Seluruh angkatan kita bakal tahu ini sebelum jam makan siang!" Dita histeris tertahan, mengguncang-guncang bahu Alena.
Alena hanya bisa meratapi nasibnya yang malang.
Dia menoleh sedikit ke arah belakang melalui celah lengannya. Di sana, Adrian sedang duduk dengan sant**, menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap Alena dengan senyum penuh kemenangan. Dia bahkan memberikan gestur dua jari membentuk tanda *peace* dengan wajah tanpa dosa.
*Cowok g*** itu benar-benar menganggap dirinya Duke Raymond yang baru saja mengalahkan serigala i****,* batin Alena frustrasi.
Alih-alih merasa terselamatkan, Alena justru merasa hidupnya yang tenang dan damai sebagai mahasiswi biasa kini resmi berakhir. Dia telah terseret ma**k ke dalam plot novel buatannya sendiri, dan sialnya, dia tidak tahu bagaimana cara menghentikan sang "Pahlawan Kesiangan" yang kini sedang tersenyum lebar di belakang sana.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!