Satu kata untuk Adrian: Ngeselin.
Tingkat kejengkelan Alena sudah melewati batas maksimal, bahkan melampaui puncak Monas. Kejadian di kelas Seminar Metodologi Penelitian kemarin benar-benar membuat harga dirinya sebagai penulis orisinal runtuh berkeping-keping. Oke, Adrian memang menyelamatkannya dari amukan Profesor Hardianto dengan cara menjawab pertanyaan maut itu secara super lancar—persis seperti Duke Raymond yang menyelamatkan Elyria dari kepungan serigala i****. Tapi, senyum meremehkan yang cowok itu berikan setelah kelas selesai? Itu benar-benar minta ditabok pakai kamus bahasa kuno setebal bantal.
*“Gimana, Alena? Penyelamatan gue c**up estetik, kan? Kayak yang lo tulis di draf?”*
Kata-kata Adrian terus terngiang di telinga Alena bagai kaset rusak. Cowok itu terlalu jemawa karena selalu bisa mewujudkan adegan fantasi yang Alena tulis menjadi kenyataan yang menguntungkan posisinya.
"Nggak bisa dibiarin," gumam Alena sambil menatap layar laptopnya yang menyala di tengah kegelapan kamar kosnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi matanya masih segar benderang, dipicu oleh dendam kesumat yang membara.
Alena meletakkan sepuluh jarinya di atas keyboard. Senyum licik perlahan terkembang di sudut bibirnya. "Lo pikir lo selalu bisa jadi pahlawan yang keren, hah? Kita lihat gimana cara lo mengatasi yang satu ini, Adrian."
Jari-jemari Alena mulai menari dengan cepat, mengetik bab baru dengan penuh determinasi.
*Bab 7: Kutukan Perut Hitam sang Duke.*
*Duke Raymond yang biasanya gagah berani dan tak terkalahkan, tiba-tiba didera rasa sakit yang luar biasa di bagian perutnya. Rasa sakit itu datang bagai hantaman badai petir, membuat sang Duke yang biasanya tegap langsung lunglai tak berdaya. Menurut tabib istana, Duke Raymond terkena kutukan sihir hitam misterius yang menyerang sistem pencernaannya. Kutukan itu membuatnya tidak bisa bangkit dari tempat tidur, terus-menerus merasa mulas yang hebat, dan kehilangan seluruh wibawanya dalam semalam. Sang Duke hanya bisa terbaring lemas, meratapi perutnya yang bergolak bagai dilanda gempa bumi.*
Alena tertawa jahat, tawa khas *villain* di film-film kartun hari Minggu. "Rasain lo! Di dunia nyata, mari kita lihat gimana lo bisa mempertahankan reputasi cowok paling keren se-kampus kalau lo kena diare parah."
Setelah memastikan draf itu tersimpan aman di platform menulisnya, Alena menutup laptop dengan puas, lalu menarik selimutnya untuk tidur dengan senyum kemenangan.
***
Keesokan paginya, atmosfer di koridor kampus terasa sedikit berbeda bagi Alena. Dia berjalan dengan langkah ringan, bersenandung kecil sambil memeluk buku catatannya.
Begitu ma**k ke kelas mata kuliah sastra kontemporer, Alena langsung mengedarkan pandangannya ke barisan belakang—tempat favorit Adrian untuk tebar pesona. Kursi pojok kanan yang biasanya diduduki cowok itu tampak kosong melompong.
Hingga dosen ma**k dan memulai perkuliahan, sosok tinggi berwajah blasteran itu tetap tidak memunculkan batang hidungnya.
*Yes! Berhasil!* teriak Alena girang dalam hati. Dia hampir saja melakukan seleb**si ala pemain bola kalau tidak ingat sedang berada di dalam kelas. Rencananya sukses besar. Adrian pasti sedang meringkuk di toilet sekarang, tidak berdaya akibat "kutukan perut hitam" alias diare dunia nyata.
Namun, kebahagiaan Alena tidak bertahan lama.
Tepat setelah kelas berakhir, Bu Lastri, dosen pengampu mata kuliah sekaligus sekretaris jurusan yang terkenal killer tapi sangat gosip-able, memanggil namanya.
"Alena, tunggu sebentar. Tolong ke ruangan saya sekarang ya," ujar Bu Lastri sambil merapikan map-map tebalnya.
Alena mendadak merinding. "Baik, Bu."
Di dalam ruang dosen yang sejuk, Bu Lastri menatap Alena dengan senyum ramah yang tidak biasa. Alena justru makin curiga. Biasanya, senyum seperti itu hanya keluar kalau ada mahasiswa yang nilai UAS-nya terancam tidak lulus.
"Alena, kamu belakangan ini sering kelihatan bareng Adrian, kan? Kemarin juga kalian satu kelompok di kelas seminar," buka Bu Lastri, menopang dagunya dengan kedua tangan.
"Eh? Ah... itu cuma kebetulan aja kok, Bu. Kami nggak sedekat itu," jawab Alena cepat, mencoba membela diri. *Gue bahkan pengen musnahin dia dari muka bumi ini, Bu,* tambahnya dalam hati.
Bu Lastri terkekeh pelan. "Aduh, nggak usah malu-malu begitu. Ibu ini temen deketnya Mamanya Adrian, Tante Sarah. Tadi pagi, Tante Sarah telepon Ibu sambil nangis-nangis panik."
Jantung Alena berdegup kencang. *Lho, kok bawa-bawa nyokapnya?*
"Katanya, Adrian sakit parah dari semalam. Diare hebat sampai lemas banget dan nggak bisa bangun dari tempat tidur. Kayaknya dia salah makan seblak level lima belas di kantin belakang kemarin sore. Tante Sarah panik banget karena beliau lagi ada seminar bisnis di luar kota sampai lusa, dan Adrian itu sendirian di apartemennya."
Alena menelan ludah. *Oh, jadi kutukan perut hitam itu termanifestasi jadi seblak level lima belas? Kreatif juga semesta menerjemahkan tulisan gue.*
"Terus... hubungannya sama saya apa ya, Bu?" tanya Alena dengan firasat yang mulai memburuk.
"Nah, karena Ibu tahu kamu satu-satunya teman sekelas yang paling sering interaksi sama Adrian akhir-akhir ini, Ibu mau minta tolong." Bu Lastri menyodorkan sebuah map plastik berwarna biru dan sebuah kantong kertas belanjaan berlogo apotek. "Ini ada draf tugas analisis karakter yang harus dikumpulin Adrian besok pagi biar nilainya nggak kosong. Dan ini titipan obat lambung serta bubur instan dari Tante Sarah yang tadi dikirim pakai ojek online ke kampus. Tolong kamu antarkan ke apartemen Adrian, ya? Sekalian jenguk dia."
"Hah?! Saya, Bu?" Alena menunjuk dadanya sendiri dengan mata membelalak. "Tapi, Bu, kan bisa dikirim pakai jasa kurir atau..."
"Alena," potong Bu Lastri dengan nada suara yang naik satu oktav, menyiratkan perintah mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. "Adrian itu mahasiswa berprestasi, dan keluarganya banyak membantu donasi untuk perpustakaan jurusan kita. Tolong bantu ya, lagipula apartemennya kan searah sama jalan pulang kosan kamu. Cuma tinggal naik MRT dua stasiun."
Alena lemas. Senjata makan tuan. Ini benar-benar definisi nyata dari istilah tersebut. Niat hati ingin membuat Adrian menderita sendirian di sudut kamarnya, sekarang Alena malah harus menjadi suster dadakan untuk cowok menyebalkan itu.
***
Tiga puluh menit kemudian, Alena sudah berdiri di depan pintu unit apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan. Bangunan ini sangat elite, dengan lobi yang wangi aromaterapi mahal dan lift yang bergerak secepat kilat. Sangat kontras dengan kosan Alena yang kalau hujan sering bocor di pojok dekat lemari pakaian.
"Si**** si Adrian, kaya banget ternyata," umpat Alena pelan sambil memencet bel pintu unit nomor 21-A.
Tidak ada jawaban.
Alena memencet bel sekali lagi, kali ini sedikit lebih lama. "Adrian! Ini gue, Alena! Buka pintunya!"
Setelah menunggu hampir tiga menit, terdengar suara kunci pintu yang diputar dari dalam. Pintu kayu berat itu perlahan terbuka, menampilkan sosok Adrian yang membuat Alena hampir tidak mengenali cowok itu.
Adrian yang biasanya tampil necis dengan rambut tertata rapi menggunakan pomade, kini tampak sangat berantakan. Dia hanya mengenakan kaos oblong putih longgar yang agak kusut dan celana training abu-abu. Wajahnya yang biasanya menyebalkan kini pucat pasi, matanya sayu dengan lingkaran hitam di bawahnya. Rambutnya mencuat ke segala arah, dan tangan kanannya masih setia memegangi perutnya sendiri.
"Lo..." Adrian menatap Alena dengan pandangan tidak percaya, suaranya terdengar serak dan lemah. "...ngapain di sini?"
"Nih, jadi kurir dadakan," ketus Alena sambil mengangkat kantong belanjaan dari apotek dan map tugas kuliah tinggi-tinggi. "Nyokap lo panik, terus nelepon Bu Lastri. Dan tebak siapa yang ditumbalkan buat ke sini? Ya, bener banget, gue."
Adrian menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke daun pintu. "Gue lagi nggak punya energi buat berantem sama lo, Al. Perut gue rasanya kayak lagi diaduk-aduk pakai blender."
Melihat kondisi Adrian yang benar-benar mengenaskan, rasa bersalah tiba-tiba menyusup ke dalam hati Alena. *Aduh, apa gue kemarin nulisnya terlalu kejam, ya?*
"Yaudah, minggir. Gue mau ma**k. Ibu lo minta gue mastiin lo minum obat," kata Alena, sedikit melunakkan suaranya.
Adrian bergeser, memberi jalan bagi Alena untuk ma**k ke dalam apartemennya yang luar biasa luas dan modern. Alena langsung menuju ke arah dapur bersih yang bergaya minimalis untuk meletakkan barang-barang bawaannya.
"Lo udah makan?" tanya Alena sambil membuka kantong belanjaan, mengeluarkan bubur instan yang harus diseduh air panas.
"Belum. Tiap kali gue liat makanan, perut gue langsung bereaksi negatif," sahut Adrian yang sekarang sudah merebahkan dirinya di sofa ruang tamu yang empuk, meringkuk seperti udang.
Alena mengembuskan napas, mulai menyeduh bubur instan dengan air panas dari dispenser. Setelah selesai, dia membawa mangkuk bubur itu beserta segelas air hangat dan beberapa butir obat ke meja di dekat sofa.
"Nih, makan dikit. Terus minum obatnya," ujar Alena, duduk di single sofa yang berseberangan dengan Adrian.
Adrian membuka matanya perlahan, menatap mangkuk bubur itu dengan ragu, lalu menatap Alena dengan tatapan curiga yang mendadak tajam.
"Alena..." panggil Adrian lirih.
"Apa?"
"Lo... jujur sama gue. Kemarin malam lo nulis apa di draf novel lo?"
Alena langsung menegang. Dia mencoba memasang wajah sedatar mungkin, meskipun dalam hati dia sudah panik setengah mati. "Nulis apa? Ya kelanjutan cerita, lah. Emang kenapa?"
"Jangan bohong," desis Adrian, sambil meringis karena perutnya kembali melilit. "Gue nggak pernah sakit perut seumur hidup gue, bahkan setelah makan makanan ekstrem sekalipun. Tapi semalam, tiba-tiba jam dua subuh perut gue melilit parah, persis setelah gue ngerasa ada firasat aneh. Lo pasti nulis sesuatu yang buruk tentang Duke Raymond, kan?"
Alena memalingkan wajahnya, pura-pura sibuk memeriksa ponselnya. "Gue cuma nulis perkembangan plot yang logis. Raymond kan terlalu sempurna, jadi sesekali dia butuh... tantangan fisik."
"Tantangan fisik kepala lo peyang!" umpat Adrian, suaranya sedikit meninggi tapi langsung melemah lagi karena tenaganya habis. "Kutukan perut hitam?! Lo beneran nulis itu, kan? Lo sengaja mau bikin gue menderita!"
Melihat reaksi Adrian, Alena akhirnya tidak bisa menahan tawa kecilnya. Tawanya lambat laun pecah menjadi tawa lepas yang membuat Adrian menatapnya dengan pandangan super kesal.
"Hahaha! Maaf, maaf! Tapi asli, muka lo pas lagi lemas gini lucu banget, tau nggak? Mana wibawa Duke Raymond yang agung dan menawan itu, hah?" goda Alena sambil menopang dagunya, menikmati kemenangan mutlaknya kali ini.
"Lo kejam banget, Al," gerutu Adrian, mencoba duduk tegak dengan susah payah. Dia meraih mangkuk bubur instan itu dan mulai menyuapinya ke dalam mulut dengan malas. "Gue kan kemarin nyelametin lo dari Profesor Hardianto. Harusnya lo berterima kasih, bukannya malah bikin gue diare begini."
"Terima kasih sih terima kasih, tapi senyum lo setelah kelas itu loh yang minta diledakkan," balas Alena sant**. "Anggap aja ini bayaran karena lo udah terlalu sering bikin gue jantungan dengan aksi pahlawan lo di dunia nyata."
Adrian terdiam, mengunyah buburnya perlahan. Setelah beberapa suapan, dia meletakkan kembali mangkuknya dan meminum obat yang sudah disiapkan Alena. Efek obat itu tampaknya mulai bekerja, membuat wajahnya sedikit lebih rileks meskipun masih sangat pucat.
"Tapi lo tahu kan, Al..." Adrian menatap Alena dengan senyum tipis yang mendadak muncul di wajah pucatnya, membuat Alena tiba-tiba merasa waswas. "...kalau lo nulis adegan kayak gini, itu artinya lo juga yang harus menanggung akibatnya di dunia nyata?"
"Maksud lo?"
"Nyatanya sekarang lo ada di sini, di apartemen gue, ngerawat gue yang lagi sakit," ujar Adrian, matanya menatap Alena lekat-lekat. "Di bab yang lo tulis, apa Elyria juga yang akhirnya merawat Duke Raymond?"
Alena membeku.
Pikirannya langsung berputar cepat, mengingat kembali det**l draf yang dia ketik tadi malam dengan terburu-buru dan penuh emosi.
*Oh, tidak.*
Alena menepuk dahinya sendiri dengan keras. Dia ingat sekarang. Di bagian akhir bab 7 yang dia tulis tadi malam, karena merasa kasihan pada sang Duke yang menderita sendirian di kamarnya, Elyria akhirnya datang menyelinap ke kastil Raymond untuk membawakan ramuan obat penawar herbal dan merawatnya sepanjang malam hingga sang Duke pulih sepenuhnya.
"Gue... gue lupa bagian itu," bisik Alena dengan wajah yang kini memucat, bergantian menatap Adrian yang sekarang malah tersenyum penuh kemenangan di balik wajah lemasnya.
"Senjata makan tuan, kan?" bisik Adrian pelan, sebelum akhirnya dia menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa dan memejamkan mata, bersiap untuk tidur karena efek obat yang mulai membuatnya mengantuk. "Selamat bertugas merawat gue, Alena. Jangan pulang sebelum ramuan herbalnya—eh maksud gue, buburnya habis."
Alena hanya bisa melongo di tempat duduknya, meratapi nasibnya yang lagi-lagi terjebak oleh alur ceritanya sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!