Gara-gara draf si**** yang gue tulis semalem, pagi ini gue malah berakhir berdiri di depan pintu unit apartemen nomor 1205.
Gue menatap layar ponsel, membaca ulang pesan singkat yang dikirim Adrian dua jam lalu.
*Adrian: Al... tanggung jawab. Sumpah, perut gue rasanya kayak lagi digiling mesin semen. Lo semalem nulis apaan, sih?*
Gue menggigit bibir bawah, merasa bersalah setengah mati. Oke, gue emang dendam sama cowok itu karena kejadian di kelas metodologi penelitian kemarin. Tapi gue nggak menyangka kalau efek "Kutukan Perut Hitam sang Duke" yang gue tulis bener-bener bakal mewujud secara instan di dunia nyata, lengkap dengan segala penderitaannya.
Gue menghela napas panjang, lalu menekan bel apartemen Adrian.
Nggak ada jawaban.
Gue menekan bel sekali lagi, lalu mengetuk pintunya. "Adrian? Ini gue, Alena. Lo masih hidup, kan?"
Beberapa detik kemudian, terdengar suara klik dari kunci pintu. Pintu perlahan terbuka, menampilkan sosok Adrian yang sukses membuat gue melongo.
Ke mana perginya Adrian yang biasanya selalu tampil necis, wangi parfum mahal, dan punya senyum narsis yang bikin cewek-cewek se-kampus jerit-jerit? Cowok di depan gue sekarang cuma memakai kaos abu-abu kedodoran dan celana training hitam. Rambut tebalnya yang biasa ditata rapi kini berantakan ke segala arah. Wajah blasterannya pucat pasi, matanya sayu, dan dia kelihatan lemas banget sampai-sampai harus bersandar pada kusen pintu.
"Al..." suara Adrian serak, terdengar sangat kontras dengan nada usilnya yang biasa. "Akhirnya lo dateng."
"Lo... lo beneran sakit?" tanya gue bodoh.
"Menurut lo? Gue bolak-balik kamar mandi dari subuh," keluh Adrian sambil memegangi perutnya. Dia berbalik dengan langkah gont**, membiarkan pintu apartemennya terbuka lebar. "Ma**k aja. Nggak usah dikunci, gue nggak punya tenaga buat maling."
Gue melangkah ma**k dengan ragu. Apartemen Adrian sangat luas, bernuansa modern minimalis dengan dominasi warna abu-abu dan putih. Tapi suasananya sepi banget, bikin atmosfer di antara kami mendadak terasa canggung.
Gue meletakkan kantong plastik berisi bubur ayam instan dan obat pereda sakit perut yang sempat gue beli di apotek bawah tadi ke atas meja pantry.
"Nih, gue beliin bubur sama obat. Lo udah makan belum?" tanya gue sambil menghampiri Adrian yang sekarang sudah ambruk di sofa panjangnya, meringkuk di bawah selimut tebal.
"Boro-boro makan. Minum air putih aja rasanya langsung pengen keluar lagi," gumam Adrian dengan mata terpejam.
Gue mendekat, lalu duduk di tepi sofa kosong di dekatnya. Melihat Adrian yang selemas ini, rasa jengkel gue yang kemarin langsung menguap entah ke mana. Yang tersisa cuma rasa bersalah yang menumpuk di dada.
"Maaf ya," cicit gue pelan.
Adrian membuka sebelah matanya, menatap gue. "Maaf buat apa?"
"Gara-gara gue nulis bab itu... lo jadi kayak gini."
Sudut bibir Adrian berkedut, mencoba membentuk senyuman tipis yang anehnya kelihatan manis banget kalau dia lagi nggak narsis. "Gue tahu imajinasi lo itu kuat, Al. Tapi lain kali, kalau mau bikin gue menderita, jangan fisik dong. Bikin Duke Raymond patah hati aja, jangan dibikin diare. Nggak estetik banget buat reputasi gue."
Gue refleks tertawa kecil, memukul lengannya pelan. "Masih sempat-sempatnya ya bercanda!"
"Sakitnya beneran, Al. Tapi ngeliat lo panik gini, lumayan menghibur," sahutnya, suaranya makin lirih sebelum dia kembali memejamkan mata, kelihatan lelah banget.
Gue menghela napas, lalu bangkit berdiri. "Gue buatin bubur instannya dulu ya. Lo harus makan sedikit biar bisa minum obat."
Gue melangkah ke dapur, menyeduh bubur instan dengan air panas, lalu membawanya kembali ke ruang tengah. Dengan sabar, gue menyuapi Adrian beberapa sendok buburβhal yang nggak pernah gue bayangkan bakal gue lakukan seumur hidup gue untuk seorang Adrian. Cowok itu menerima suapan gue dengan patuh tanpa banyak protes, membuat dada gue mendadak terasa hangat. Sisi Adrian yang lemah ini... ternyata jauh lebih menggemaskan daripada sisi menyebalkannya yang biasa.
Setelah Adrian meminum obatnya, dia kelihatan lebih tenang. Gue melirik jam di ponsel. Sudah hampir jam lima sore.
"Ya udah, karena lo udah minum obat dan kelihatan mendingan, gue balik ke kosan ya?" pamit gue sambil membereskan mangkuk bekas bubur.
Namun, baru saja gue melangkah dua kali menuju pintu, suara gemuruh petir yang sangat kencang mendadak menggelegar dari luar.
*DUARRR!*
Gue refleks berteriak kecil dan hampir menjatuhkan mangkuk. Sedetik kemudian, suara hujan deras yang luar biasa lebat langsung mengguyur kota, memukul-mukul kaca jendela apartemen Adrian yang besar dengan beringas. Langit di luar yang tadinya mendung tipis langsung berubah gelap gulita seolah malam telah datang lebih cepat.
Gue menatap ke luar jendela dengan cemas. "Duh, hujannya deres banget lagi. Badai kayaknya."
Adrian yang masih berbaring di sofa tiba-tiba terkekeh lemah. Dia menatap gue dengan pandangan jenaka yang membuat jantung gue tiba-tiba berdegup dua kali lebih cepat.
"Alena," panggil Adrian pelan.
"Apa?"
"Lo... inget Bab 6 draf novel lo nggak?"
Gue mengerutkan dahi, mencoba mengingat-ingat. "Bab 6? Yang judulnya 'Terjebak Badai di Pondok Pemburu'?"
"Yup," Adrian tersenyum tipis, merapatkan selimutnya. "Di bab itu, Elyria nggak bisa pulang ke kastilnya karena badai besar tiba-tiba turun. Dia akhirnya terpaksa menginap di pondok berburu milik Duke Raymond, dan mereka terjebak berdua semalaman. Mirip nggak sama situasi kita sekarang?"
Mata gue membelalak. "Heh! Ini cuma kebetulan ya! Cuaca belakangan ini emang lagi sering badai!"
"Kebetulan yang presisi banget, Al," goda Adrian, meski suaranya masih terdengar agak lemas. "Semesta kayaknya emang suka banget ngikutin jalan cerita yang lo tulis. Jadi... mending lo jangan pulang dulu. Bahaya di luar. Anginnya kencang banget itu."
Gue menatap ke luar jendela lagi. Adrian bener. Pohon-pohon di bawah sana tampak bergoyang hebat ditiup angin kencang. Kalau gue nekat menerobos badai ini buat balik ke kosan, yang ada gue malah bisa celaka di jalan.
Dengan pasrah, gue meletakkan kembali mangkuk ke dapur, lalu berjalan lesu dan duduk di karpet bulu tebal di depan sofa tempat Adrian berbaring.
"Tuh kan, skenario lo melenceng," gumam Adrian tiba-tiba.
"Melenceng gimana?" tanya gue bingung, memeluk lutut gue sendiri.
"Harusnya, di Bab 7 kan Duke Raymond sakit perut karena sihir hitam. Tapi di bab itu nggak ada adegan Elyria datang buat ngerawat dia sambil pasrah terjebak badai kayak gini. Ini namanya... improvisasi dunia nyata yang lebih bagus daripada plot lo."
"Si**** lo," umpat gue, tapi gue nggak bisa menahan senyum.
Kami akhirnya terjebak di apartemen itu bersama suara rintik hujan yang berisik di luar. Tapi anehnya, suasana canggung yang tadi sempat ada perlahan-lahan mencair. Kami mulai mengobrol. Awalnya cuma membahas hal-hal random di kampus, sampai akhirnya obrolan kami bergeser ke topik novel fantasi yang sedang gue tulis.
"Kenapa sih lo hobi banget bikin Duke Raymond menderita?" tanya Adrian sambil menyandarkan kepalanya di bantalan sofa, menatap gue yang duduk di lant**.
"Ya karena itu hukum menulis novel, Adrian!" jawab gue antusias, berbalik menghadapnya. "Karakter utama itu harus menderita dulu. Harus ada konflik. Kalau hidupnya mulus-mulus aja kayak jalan tol, pembaca bakal bosen. Mereka butuh drama!"
"Tapi menderitanya jangan yang memalukan kayak diare juga dong, Alena," protes Adrian, pura-pura cemberut yang malah kelihatan lucu banget di wajah tampannya. "Gue kan mau tetap kelihatan keren di depan pembaca lo."
"Dih, yang jadi Duke Raymond itu karakter fiksi gue, kenapa lo yang baper?" cibir gue.
"Ya karena apa pun yang lo tulis tentang dia, efeknya langsung instan kena ke gue! Lo lupa kejadian di kelas kemarin? Atau yang sekarang ini?" Adrian menunjuk perutnya sendiri. "Gue ini korban nyata dari imajinasi liar lo, tahu."
Gue tertawa lepas. Mendengar Adrian mengeluh dengan cara seperti itu entah kenapa terasa sangat menyenangkan.
"Oke, oke. Nanti di bab selanjutnya, gue bakal bikin Duke Raymond dapet kekuatan baru deh. Biar lo seneng," janji gue sambil terkekeh.
"Beneran ya? Janji?" Adrian mengulurkan jari kelingkingnya dari balik selimut.
Gue menatap jari kelingking itu, lalu dengan ragu menautkan jari kelingking gue ke jarinya. Kulitnya terasa hangat, mengirimkan sengatan aneh yang membuat dada gue mendadak berdesir. Gue buru-buru melepaskan tautan jari kami, mencoba bersikap biasa saja agar dia nggak menyadari kalau muka gue mungkin sudah memerah sekarang.
"Eh, tapi serius deh," kata Adrian lagi, suaranya melembut. "Gue selalu baca tiap bab yang lo *publish*, Al."
Gue tertegun. "Lo... beneran baca?"
"Iya. Dan sejujurnya, tulisan lo itu bagus banget. World building-nya det**l, interaksi karakternya hidup. Gue beneran ngerasa kayak ma**k ke dunia lain tiap kali baca draf lo. Makanya, meskipun kadang lo bikin gue sial lewat tulisan lo, gue nggak pernah beneran marah."
Gue menatap Adrian, kehilangan kata-kata. Di balik sifatnya yang usil, menyebalkan, dan selalu suka tebar pesona, ternyata dia adalah orang pertama yang menghargai karya gue dengan begitu tulus.
Malam semakin larut, dan hujan di luar masih belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Suasana di dalam apartemen terasa hangat dan tenang.
Saat gue tanpa sadar mengusap lengan gue karena mulai merasa dingin akibat AC apartemen, Adrian tiba-tiba bergerak. Dia bangkit duduk dengan perlahan, lalu melepaskan selimut tebal yang membungkus tubuhnya dan menyampirkannya ke bahu gue.
"Eh? Nggak usah, Adrian. Lo kan lagi sakit, nanti lo malah kedinginan," tolak gue, mencoba mengembalikan selimut itu.
Tapi Adrian menahannya. Dia merapatkan selimut itu ke tubuh gue, jemarinya sempat bersentuhan dengan pundak gue selama beberapa detik.
"Gue udah mendingan setelah minum obat tadi," kata Adrian lembut, menatap tepat ke dalam mata gue. "Lo itu tamu gue. Dan sebagai 'Duke Raymond', gue nggak bakal ngebiarin 'Elyria' kedinginan di tempat gue."
Gantung, napas gue seolah tertahan di tenggorokan. Jarak wajah kami yang c**up dekat membuat gue bisa mencium aroma samar mint dan kayu manis yang menenangkan dari tubuhnya. Di bawah temaram lampu ruang tengah, mata cokelat Adrian menatap gue dengan binar yang sangat perhatianβsisi lain dirinya yang benar-benar melenceng dari skenario menyebalkan yang biasa dia tunjukkan di kampus.
Ada getaran aneh yang sangat kuat yang tiba-tiba mendominasi dada gue. Sial. Skenario hidup gue bener-bener melenceng jauh malam ini. Dan parahnya... gue sama sekali nggak keberatan dengan arah melenceng yang satu ini.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!