Sejak insiden "Kutukan Perut Hitam" yang membuat Adrian terkapar lemas di apartemennya beberapa hari lalu, hidup gue berubah seratus delapan puluh derajat.
Gue terpaksa harus menghapus draf bab itu malam-malam, mengetik ulang dengan panik sebuah bab revisi instan tentang sang Duke yang mendadak mendapat 'mukjizat kesembuhan' berkat ramuan herbal ajaib. Ajaibnyaβatau lebih tepatnya, ngerinyaβefek itu langsung bekerja. Besok paginya, Adrian sudah bisa tebar pesona lagi di kampus dengan wajah segar bugar, seolah-olah dia tidak hampir menemui ajalnya di atas kloset beberapa jam sebelumnya.
Tapi masalah baru justru muncul.
Adrian sekarang jadi hobi banget nempel ke gue. Cowok itu mendadak punya seribu satu alasan untuk muncul di sekitar gue. Mulai dari alasan "mau mastiin lo nggak nulis yang aneh-aneh lagi tentang gue" sampai "lo harus tanggung jawab nemenin gue makan siang karena perut gue masih trauma".
Dan di sinilah gue sekarang. Duduk di salah satu sudut kantin Fakultas Ilmu Budaya yang c**up ramai, berusaha menyembunyikan wajah di balik layar laptop. Gue sedang mencoba melanjutkan bab terbaru untuk novel fantasi gue, tapi fokus gue buyar total.
Suasana di sekitar gue terasa... aneh.
Sejak setengah jam yang lalu, gue menyadari beberapa pasang mata terus-menerus melirik ke arah meja gue. Bisik-bisik tetangga yang awalnya terdengar samar, perlahan mulai menusuk telinga.
"Eh, itu kan cewek yang kemarin jalan bareng Adrian di koridor Gedung F?"
"Iya, bener! G*** ya, kok bisa sih cewek kayak dia nempel sama Adrian? Padahal Adrian biasanya super selektif."
"Gue denger-dengar, dia pakai trik murahan tahu. Masa iya cowok se-pinter dan se-ganteng Adrian mendadak mau disuruh-suruh sama anak sastra yang kuper begitu?"
Gue menghela napas panjang, merapatkan tudung *hoodie* abu-abu yang gue pakai. Jemari gue diam di atas *keyboard*. Rasanya dada gue mendadak sesak karena *overthink* mulai menyerang. Gue tahu cepat atau lambat hal ini bakal terjadi. Adrian itu ibarat selebriti kampus. Dekat dengan dia sama saja dengan mendaftarkan diri sebagai musuh bersama seluruh mahasiswi di universitas ini.
"Guys, kalian udah baca bab 36 yang baru rilis tadi malam belum?"
Suara cempreng yang sangat familier tiba-tiba terdengar dari meja panjang yang terletak tepat di belakang gue. Gue tersentak. Itu suara Keysha, ketua geng cewek paling populer sekaligus paling ditakuti di fakultas sebelah. Keysha, si selebgram kampus yang selalu tampil dengan riasan tebal tanpa cela, rambut yang selalu di-catok rapi, dan aroma parfum vanila menyengat yang bahkan bisa tercium dari jarak lima meter.
"Udah! Sumpah, gue benci banget sama adegan Duke-nya sakit perut kemarin, tapi untungnya langsung sembuh," sahut Cheryl, salah satu dayang-dayang Keysha. "Tapi emang agak aneh nggak sih? Alurnya mendadak kerasa *real* banget."
"Nah! Itu dia yang mau gue bahas!"
Gue mendengar suara ketukan kuku akrilik Keysha yang beradu dengan permukaan meja kayu. Rasa penasaran membuat gue perlahan memiringkan kepala, berpura-pura sedang meregangkan leher padahal telinga gue sudah terpasang tajam-tajam.
"Gue ngerasa ada yang nggak beres," bisik Keysha, tapi suaranya masih c**up jelas terdengar. "Kalian inget kan, tiga hari lalu Adrian izin nggak ma**k kuliah karena sakit perut parah? Di hari yang sama, author *Kutukan Sang Duke* merilis bab tentang karakter Duke yang kena kutukan perut hitam. Waktunya pas banget, cuma selisih beberapa jam setelah bab itu di-*publish*."
"Kebetulan kali, Key," celetuk Vanya, anggota geng Keysha yang lain. "Namanya juga fiksi, pasti ada lah yang mirip-mirip dikit sama dunia nyata."
"Satu kali kebetulan, oke gue maklum," potong Keysha cepat, nadanya terdengar seperti detektif yang baru saja menemukan bukti krusial di TKP. "Tapi bagaimana dengan kejadian kemarin lusa? Di bab 35, si pelayan cewek bawain bubur instan rasa soto dan obat kapsul merah-putih buat sang Duke. Dan tebak gue lihat apa di tempat sampah mobil Adrian kemarin? Bungkus bubur instan rasa soto dan struk apotek deket apartemen dia!"
Jantung gue serasa berhenti berdetak saat itu juga.
Gue meremas ujung *hoodie* gue kuat-kuat. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis. *G***, Keysha sedet**l itu merhatiin barang-barang Adrian?!*
"Lebih mencurigakan lagi," lanjut Keysha, suaranya kini terdengar semakin sinis, "kemarin sore gue lihat Alena jalan terburu-buru ke arah apartemen Adrian sambil bawa kantong plastik minimarket. Isinya? Lo semua pasti bisa tebak."
"Serius, Key?!" Cheryl m****ik tertahan. "Jadi maksud lo... si Alena sengaja?"
"Tepat sekali," ujar Keysha bangga. "Si culun itu pasti pembaca setia novel fantasi itu juga. Dia memanfaatkan setiap adegan di novel itu buat mendekati Adrian. Dia sengaja nyamain semua kelakuannya, beliin makanan yang sama, obat yang sama, biar kelihatan kayak 'takdir' di mata Adrian. Dia itu sengaja mainin psikologis Adrian!"
Gue hampir saja memuntahkan matcha latte yang baru gue sesap.
*Tunggu... apa katanya?*
Gue memanfaatkan novel untuk mendekati Adrian? Keysha mengira gue adalah pembaca obsesif yang meniru isi novel demi memikat Adrian?
Sudut bibir gue berkedut menahan tawa yang bercampur dengan rasa ngeri. Premis berpikir Keysha benar-benar luar biasa salah arah. Tapi di satu sisi, gue merasa sedikit lega. Setidaknya, dia tidak berpikir kalau novel itu yang memengaruhi dunia nyata. Logika manusia normal mana pun pasti akan berpikir seperti Keyshaβbahwa ada orang g*** yang mencoba meniru isi novel demi mendapat perhatian gebetan.
Namun, kelegaan gue tidak bertahan lama.
Langkah kaki yang mendekat membuat punggung gue menegang. Sebelum gue sempat menutup laptop, sebuah bayangan sudah berdiri tepat di samping meja gue.
"Hei, Alena."
Gue mendongak perlahan. Keysha sudah berdiri di sana, bersedekap dada dengan tatapan meremehkan yang biasa dia layangkan pada orang-orang yang dia anggap 'di bawah kelasnya'. Di belakangnya, Cheryl dan Vanya mengekor dengan senyum sinis yang kompak.
"Ya? Ada apa, Keysha?" tanya gue berusaha setenang mungkin, meskipun dalam hati gue sudah berteriak histeris.
Tanpa permisi, Keysha menarik kursi di depan gue dan duduk. Dia melirik layar laptop gue yang buru-buru gue redupkan kecerahannya.
"Gak usah tegang gitu kali. Gue cuma mau tanya-tanya dikit," kata Keysha dengan senyum manis yang dipaksakan. "Lo... akhir-akhir ini lagi sibuk jadi *roleplayer* ya?"
"Maksud lo?"
"Gak usah pura-pura b*** deh," potong Cheryl dari belakang kursi Keysha. "Kita semua tahu lo sering nempel-nempel ke Adrian akhir-akhir ini. Lo sengaja kan, nyontek adegan di novel *Kutukan Sang Duke* biar bisa caper ke Adrian?"
Gue mengerutkan kening. "Gue nggak pernah nyontek apa pun dari novel mana pun."
Itu fakta. Gue nggak menyontek, gue yang menulisnya!
Keysha tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat mengganggu. Dia condong ke depan, menatap gue tajam. "Alena, Alena... lo pikir trik murahan lo itu nggak bakal ketahuan? Lo sengaja kan beli bubur rasa soto dan obat itu karena lo tahu Adrian suka baca novel itu juga? Lo mau sok-sokan jadi cewek penyelamat di dunia nyata?"
"Gue bahkan nggak tahu kalau Adrian baca novel itu," jawab gue jujur. Sejujurnya, Adrian terpaksa membaca novel gue karena hidupnya terancam oleh draf-draf g*** yang gue buat.
"Halah, bohong banget!" Vanya menimpali. "Masa iya semua bisa pas gitu? Dan lo tahu nggak gosip yang lagi rame di grup angkatan? Orang-orang mulai curiga kalau lo itu nggak cuma caper, tapi juga pakai cara mistis."
Gue melotot. "Mistis? Maksud lo pelet?"
"Ya iyalah! Cowok sekelas Adrian, yang biasanya dingin banget dan nggak pernah ngelirik cewek mana pun, mendadak mau jalan bareng cewek kuper kayak lo? Bahkan kemarin dia rela nungguin lo di depan perpustakaan sampai sejam lebih," ujar Keysha, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Kalau bukan karena lo kasih dia 'minuman' aneh atau jampi-jampi dukun, nggak mungkin Adrian bisa se-nurut itu sama lo."
Gue terperangah. Pelet? Mereka benar-benar berpikir gue memakai dukun untuk memikat Adrian?
"Denger ya, Keysha," gue menutup laptop gue dengan sekali sentakan keras, membuat ketiga cewek di depan gue sedikit tersentak. "Gue nggak pernah pakai pelet, dukun, atau trik apa pun yang lo sebutin tadi. Hubungan gue sama Adrian itu... cuma urusan pribadi yang nggak ada hubungannya sama novel fantasi mana pun. Jadi, mending lo urusin aja urusan lo sendiri."
Gue segera mema**kkan laptop ke dalam tas punggung dengan gerakan cepat. Tangan gue gemetar hebat karena kombinasi antara rasa kesal dan cemas yang luar biasa.
Keysha ikut berdiri. Dia menatap gue dengan pandangan mengancam. "Gue nggak bakal lepasin lo gitu aja, Alena. Gue bakal cari tahu taktik busuk apa yang sebenarnya lo pakai buat ngegoda Adrian. Kalau sampai gue nemu bukti lo beneran pakai cara aneh-aneh... gue pastikan lo nggak bakal tenang kuliah di kampus ini."
Tanpa membalas ucapannya, gue langsung menyampirkan tas ke bahu dan melangkah lebar-lebar meninggalkan area kantin. Langkah kaki gue terasa sangat berat, seolah-olah seluruh pasang mata di kantin itu sedang menghujani punggung gue dengan tatapan menghakimi.
Begitu sampai di taman belakang kampus yang sepi, gue langsung ambruk di salah satu bangku semen di bawah pohon rindang. Gue menutup wajah dengan kedua tangan, berusaha mengatur napas gue yang memburu.
*G***, g***, g***! Ini beneran kacau!*
*Overthink* mulai menguasai kepala gue. Pikiran-pikiran buruk langsung berputar-putar seperti angin topan. Bagaimana kalau Keysha benar-benar menyelidiki gue? Bagaimana kalau dia iseng memeriksa riwayat pencarian gue, atau lebih buruk lagi, menemukan akun kepenulisan gue di aplikasi? Kalau mereka tahu gue adalah author di balik novel itu, dan mereka menyadari kalau apa pun yang gue tulis beneran terjadi pada Adrian... gue bisa dianggap penyihir! Atau psikopat yang menyiksa Adrian lewat tulisan!
Gue meraba saku *hoodie* saat merasakan ponsel gue bergetar hebat. Sebuah pesan WhatsApp ma**k dari nama yang saat ini paling ingin gue hindari.
**Adrian:** *Al, lo di mana? Gue baru selesai kelas metodologi nih. Kantin FIB yuk, laper banget gue pengen bakso.*
Gue menatap layar ponsel itu dengan mata membelalak. *Jangan sekarang, Adrian! Sumpah, jangan sekarang!*
Dengan jari gemetar, gue mengetik balasan dengan cepat.
**Alena:** *Gue udah balik kosan. Jangan cari gue hari ini. Dan tolong, menjauh dulu dari gue di kampus!*
Gue langsung mematikan ponsel tanpa menunggu balasannya. Gue menyandarkan kepala ke batang pohon di belakang gue, menatap langit siang yang terik dengan perasaan frustrasi yang menumpuk di dada.
Gue harus mencari cara untuk menyelesaikan kekacauan ini. Tapi bagaimana caranya memisahkan takdir fiksi yang gue tulis dengan dunia nyata yang sekarang justru mulai memburu hidup gue?
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!