Bab 1: Ritual Malam dan Dinding Tipis
Jika ada penghargaan untuk manusia paling sibuk sejagat raya, Aurora berani bertaruh namanya akan ma**k dalam daftar nominasi tiga besar.
Kehidupan sebagai mahasiswi semester empat jurusan Desain Komunikasi Visual benar-benar tidak ramah bagi kesehatan mental dan jam tidur. Kosan berukuran tiga kali tiga meter di kawasan dekat kampus ini adalah saksi bisu bagaimana Aurora bertransformasi dari gadis remaja segar menjadi zombi hidup yang hobi mengonsumsi kopi sas**** dan mi instan demi mengejar *deadline* tugas yang tidak pernah ada habisnya.
Malam itu, jam dinding murah berbentuk kepala kucing di kamarnya sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Kamar Aurora tampak seperti kapal pecah. Kertas-kertas sketsa berserakan di lant**, kuas-kuas kering mencuat dari dalam gelas bekas selai, dan laptopnya berdengung bising, menampilkan layar aplikasi edit gambar yang masih setengah jadi.
Aurora menghela napas berat. Gadis itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi plastik yang mengeluarkan bunyi berderit protes. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pegal karena terlalu lama menatap layar monitor.
"Dikit lagi selesai, Ra. *Please*, bertahan demi IPK," gumamnya pada diri sendiri, mencoba memompa semangat yang sebenarnya sudah menyusut hingga ke titik nol.
Untuk mengalihkan rasa jenuh dan kantuk yang mulai menyerang, Aurora memutar tubuh kursinya menghadap meja belajar. Di sudut kanan meja, tepat di samping tumpukan buku-buku referensi tebal yang berdebu, terdapat sebuah bingkai foto berukuran kecil.
Ini adalah bagian paling krusial dari malam-malam melelahkan Aurora. Ritual wajib yang tidak boleh dilewatkan sebelum ia benar-benar kehilangan kesadaran untuk tidur.
Aurora mendekatkan wajahnya, menatap foto di dalam bingkai tersebut dengan senyum yang otomatis mengembang di bibirnya. Rasa lelahnya seolah menguap begitu saja, digantikan oleh letupan-letupan kecil di dadanya.
Di dalam foto itu, tampak seorang cowok berjaket almamater kampus sedang berdiri di podium saat acara penyambutan mahasiswa baru tahun lalu. Wajahnya blasteran semi-lokal, rahangnya tegas, matanya tajam namun teduh, dan ada senyum tipis yang sangat menawan terukir di bibirnya.
Arga.
Kakak tingkat hits, ketua himpunan mahasiswa, sekaligus cowok paling populer di seluruh penjuru fakultas. Arga adalah paket lengkap: pintar, aktif di organisasi, berprestasi, dan yang paling penting, visualnya di atas rata-rata manusia biasa.
Aurora mendapatkan foto itu setelah bersusah payah menjelajahi akun Instagram dokumentasi kampus, melakukan *screenshot* dengan kualitas paling tajam, lalu pergi ke tempat cetak foto di dekat persimpangan jalan dengan wajah merah padam karena malu. Bagi Aurora, memandangi wajah Kak Arga adalah a**pan vitamin terbaik mengalahkan suplemen kesehatan mana pun.
"Kak Arga..." Aurora menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap foto itu dengan pandangan memuja. "Kenapa lo bisa seganteng ini, sih? Tahu nggak, gara-gara mikirin lo, gue jadi punya alasan buat berangkat kuliah jam delapan pagi meskipun baru tidur jam empat subuh."
Ia menyentuh kaca pelindung foto itu dengan ujung telunjuknya, seolah-olah sedang menyentuh pipi Arga secara langsung.
"Besok gue bakal papasan sama lo nggak ya di koridor gedung dekanat? Semoga lo pakai parfum yang biasa, biar gue bisa mencium baunya dari jarak lima meter," bisik Aurora, mulai berhalusinasi dengan tingkat kehaluan yang sudah mencapai stadium akhir.
Namun, lamunan indah Aurora tentang masa depan indahnya bersama Arga langsung buyar ketika matanya tidak sengaja melirik ke arah jam dinding.
"Hah? Sudah setengah dua?!" pekik Aurora panik.
Tugas anatomi desainnya harus dikumpulkan besok pagi pukul delapan tepat, dan ia belum menyelesaikan bagian pewarnaan digital. Panik langsung menyerang seluruh sel tubuhnya. Aurora bergerak dengan tergesa-gesa. Ia berniat mengambil tablet grafisnya yang tergeletak di bawah tumpukan buku tebal di ujung meja.
Karena gerakan yang terlalu terburu-buru dan koordinasi tubuh yang kacau akibat kurang tidur, siku Aurora tanpa sengaja menyenggol salah satu sudut buku tebal yang menopang tumpukan di atasnya.
Buku paling bawah bergeser, menciptakan efek domino yang mengerikan.
*B**KKK!!!*
*DUAAARR!*
Tiga buku tebal pengantar sejarah seni rupa, satu kamus bahasa Inggris berukuran raksasa, ditambah satu gelas plastik berisi penuh pensil dan pulpen jatuh bebas ke lant** keramik kamarnya yang tidak dialasi karpet. Suaranya bergema sangat keras di tengah keheningan malam yang sunyi senyap.
Aurora membeku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang karena terkejut. Ia menatap nanar puluhan pulpen yang menggelinding liar ke segala arah dan tumpukan buku yang berserakan.
"Mampus," bisik Aurora, buru-buru menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
Belum sempat Aurora turun dari kursi untuk merapikan kekacauan itu, keheningan malam tiba-tiba pecah oleh suara yang sangat tidak bersahabat dari arah dinding di sebelah kirinya.
*DUK! DUK! DUK!*
Dinding kamarnya digedor dengan sangat keras dari sebelah. Gedoran itu begitu kuat sampai-sampai poster band kesukaan Aurora yang tertempel di sana sedikit bergoyang.
"WOI! BISA DIEM NGGAK?!"
Sebuah teriakan berat dan serak khas suara cowok yang baru bangun tidur terdengar sangat jelas menembus dinding. Suara itu terdengar sangat marah dan kesal.
"Tengah malem ini! Punya sopan santun nggak sih lo?! Berisik banget!" teriak cowok itu lagi, disusul oleh satu hantaman keras terakhir pada dinding pembatas mereka.
*DUK!*
Aurora tersentak kaget. Tubuhnya langsung merapat ke meja belajar. Wajahnya memerah, antara malu karena ketahuan membuat keributan di jam yang tidak manusiawi, dan kesal karena diteriaki dengan cara sekasar itu.
"I-iya, maaf! Nggak sengaja!" balas Aurora berteriak, mencoba membela diri meskipun suaranya terdengar mencicit karena agak takut.
Tidak ada jawaban lagi dari sebelah, hanya terdengar suara decakan pelan dan bunyi ka**r yang berderit, menandakan si tetangga galak itu kembali merebahkan tubuhnya.
Aurora mengembuskan napas panjang, bahunya merosot lemas. Ia menatap dinding tripleks berwarna krem pudar yang membatasi kamarnya dengan kamar nomor 3B tersebut.
Kosan murah bertarif enam ratus ribu per bulan ini memang memiliki banyak sekali kekurangan. Salah satu yang paling menyebalkan adalah dinding pembatasnya yang luar biasa tipis. Pemilik kosan sepertinya hanya menggunakan tripleks tebal berlapis semen tipis untuk menyekat kamar-kamar di lant** dua ini. Akibatnya, privasi di tempat ini adalah hal yang sangat mewah.
Aurora bahkan bisa mendengar suara dengkuran halus dari tetangga sebelah jika malam sedang sangat sunyi, atau suara air keran yang dinyalakan dari kamar mandi tetangga lainnya. Tapi malam ini, tetangga barunyaβyang baru pindah sekitar tiga hari lalu dan belum sempat Aurora temui wajahnyaβbenar-benar menunjukkan level sensitivitas yang luar biasa.
"Sensi banget sih itu orang. Kayak cewek lagi PMS aja," gerutu Aurora pelan, mulai memunguti pulpen dan pensil yang berserakan di lant** dengan gerakan seringan mungkin agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.
Ia mema**kkan kembali alat tulis itu ke dalam gelas plastiknya dengan sangat hati-hati, seolah-olah sedang menjinakkan bom waktu. Buku-buku tebal yang jatuh tadi ia susun kembali di bawah kolong meja, tidak berani menaruhnya lagi di atas meja yang sudah kelebihan muatan.
Setelah memastikan lant** kamarnya bersih dari kekacauan, Aurora kembali duduk di kursinya. Namun, fokusnya untuk melanjutkan tugas kini sudah buyar sepenuhnya. Ia menatap dinding tripleks di sebelahnya dengan pandangan sebal.
Gadis itu mendekatkan wajahnya ke dinding, lalu berbisik dengan nada mengejek, "Dasar tetangga menyebalkan. Galak banget jadi cowok. Pantesan jam segini masih bangun, pasti jomlo akut yang nggak punya kerjaan selain marah-marah."
Puas melampiaskan kekesalannya meskipun hanya dalam bentuk bisikan, Aurora kembali menatap foto Arga di atas meja. Ia mengelus bingkai foto itu sekali lagi, mencari kedamaian batin yang baru saja dirusak oleh tetangga sebelahnya.
"Coba kalau tetangga sebelah itu selembut dan sekeren Kak Arga," gumam Aurora dengan mata berbinar-binar membayangkan skenario indah. "Pasti kalau gue jatuhin buku, dia bakal ngetuk dinding terus nanya lembut, *'Kamu nggak apa-apa, Dek? Ada yang terluka? Perlu Kakak bantu rapihin?'* Ah, indahnya..."
Aurora tersenyum geli sendiri memikirkan kehaluannya yang semakin tidak tertolong. Ia tahu betul bahwa realitas hidup di kosan murah ini tidak akan pernah seindah cerita-cerita fiksi di aplikasi novel digital. Yang ia dapatkan di dunia nyata bukanlah kakak tingkat tampan nan perhatian, melainkan seorang cowok super galak bersuara berat yang siap menggedor dindingnya kapan saja jika ia membuat kesalahan kecil.
Dengan sisa-sisa tenaga dan konsentrasi yang ada, Aurora memaksakan dirinya untuk kembali menatap layar laptop. Jarinya kembali bergerak lincah di atas tablet grafis, menyelesaikan sapuan warna terakhir pada karakter desainnya.
*Satu halaman lagi, Ra. Habis itu lo bisa tidur dan mimpiin Kak Arga,* batinnya menyemangati diri sendiri.
Di sebelah kamarnya, keheningan kembali tercipta. Namun bagi Aurora, dinding tipis itu kini terasa seperti sebuah ancaman tak kasatmata yang siap meledak kapan saja jika ia kembali berbuat ceroboh. Sambil menahan kantuk yang semakin berat, Aurora bertekad untuk menjadi penghuni kosan yang paling sunyi mulai detik ini, setidaknya sampai tugas besarnya selesai dikumpulkan besok pagi.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!