Suara rintik gerimis sisa badai sore tadi masih terdengar samar di luar jendela. Malam sudah larut, jarum jam di dinding kamar Aurora hampir menunjuk ke angka dua pagi. Namun, mata Aurora sama sekali tidak bisa terpejam. Dia berbaring miring, menatap layar ponselnya yang menyala redup, menampilkan ruang obrolan dengan nomor tidak dikenal yang sejak setengah jam lalu terus-menerus mengiriminya pesan teror.
*Gue tahu lo kos di mana sekarang.*
*Jangan pikir lo bisa lari dari gue, Ra.*
*Keluar atau gue acak-acak tempat lo.*
Dada Aurora berdegup kencang. Napasnya mulai terasa sesak. Tubuhnya gemetar hebat di balik selimut tebal. Dia tahu persis siapa pengirim pesan-pesan itu. Rian. Mantan pacarnya yang super posesif dan temperamental. Cowok itu rupanya tidak main-main setelah kejadian di gazebo kampus beberapa hari lalu. Rian benar-benar mencari tahu keberadaannya.
*B**KK! B**KK!*
Bunyi benturan keras yang menghantam gerbang besi kosan di lant** bawah seketika memecah keheningan malam. Aurora tersentak, hampir saja menjatuhkan ponselnya ke lant**.
"AURORA! KELUAR LO!"
Suara teriakan yang sangat familier itu terdengar melengking, disusul suara gedoran gerbang yang semakin brutal. Jantung Aurora rasanya mau copot. Rian ada di bawah. Cowok itu benar-benar datang.
"AURORA! JANGAN JADI PENECUT LO! KELUAR GAK?!" teriak Rian lagi dari luar gerbang. Suaranya terdengar kacau, seperti orang yang sedang mabuk atau dikuasai amarah yang luar biasa.
Ketakutan hebat langsung melumpuhkan seluruh tubuh Aurora. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah membasahi pipi. Dia segera turun dari ka**r dengan kaki gemetar, lalu buru-buru memastikan pintu kamarnya sudah terkunci ganda. Dengan tubuh yang masih menggigil, Aurora mundur perlahan, lalu meringkuk di sudut kamar di samping lemari pakaian. Dia melipat kedua lututnya ke dada, menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangan, berharap semua ini hanya mimpi buruk.
"Tolong... siapapun tolong..." bisik Aurora lirih di sela-sela tangisannya yang tertahan. Dia terlalu takut bahkan untuk sekadar berteriak meminta bantuan. Bayangan kekerasan fisik yang pernah dilakukan Rian padanya dulu kembali berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Sementara itu, di kamar sebelah, Arga sedang duduk di depan meja belajarnya. Dengan *headphone* yang melingkar di leher, dia baru saja menyelesaikan satu *match* permainan *game online* di laptopnya. Dahinya berkerut saat mendengar suara ribut-ribut dari arah gerbang depan.
Kosan mereka memang kosan campur berlant** dua, dan kamar Arga serta Aurora berada di lant** atas yang posisinya paling dekat dengan jalan utama.
Awalnya Arga mengabaikan suara berisik itu, mengira itu hanya ulah anak-anak komplek yang sedang ronda. Namun, begitu mendengar nama "Aurora" diteriakkan dengan nada kasar, Arga langsung berdiri. Matanya menatap tajam ke arah dinding pembatas kamarnya dengan kamar Aurora.
Arga melangkah mendekati dinding itu. Di tengah keheningan, indra pendengarannya yang tajam bisa menangkap suara lainβsuara isakan tangis yang tertahan, sangat pelan dan penuh ketakutan, datang dari kamar sebelah.
Gadis itu sedang menangis ketakutan di dalam sana.
Raut wajah Arga yang biasanya datar seketika berubah mengeras. Sorot matanya mendingin. Tanpa membuang waktu, dia menyambar jaket hitamnya yang tersampir di kursi, lalu melangkah lebar keluar kamar.
Saat melewati pintu kamar Aurora, Arga sempat mengetuknya pelan sekali. "Ra, tetap di dalam. Jangan buka pintu buat siapa-siapa," ucapnya dengan suara berat yang tegas, berharap gadis di dalam sana bisa mendengarnya.
Arga kemudian berjalan cepat menuruni anak tangga menuju lant** bawah. Suara gedoran di gerbang besi terdengar makin mengg***, membuat beberapa penghuni kos lain yang sudah tidur mulai menyalakan lampu kamar mereka, namun tidak ada yang berani keluar karena takut melihat situasi.
Begitu sampai di halaman depan, Arga bisa melihat siluet seorang cowok jangkung yang sedang menendang-nendang gerbang besi kosan mereka. Itu Rian. Wajah cowok itu tampak merah padam di bawah temaram lampu jalanan.
Arga berjalan sant** namun dengan aura mengintimidasi yang sangat kuat. Dia membuka kunci gembok gerbang dengan bunyi gemerincing yang sengaja dibuat keras.
*SREKK.*
Gerbang besi itu digeser terbuka setengah. Arga berdiri di sana, menghalangi jalan ma**k dengan kedua tangan dima**kkan ke saku jaket.
"Berisik, ba*****. Malem-malem bikin ribut di kosan orang," ujar Arga dingin, menatap Rian dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan.
Rian yang sedang emosional langsung melotot. Dia mengenali cowok di depannya ini. "Oh, lo cowok sok pahlawan yang di kampus waktu itu, kan? Bagus deh! Minggir lo! Panggil Aurora keluar! Dia cewek gue, gak usah lo ikut campur!" bentak Rian sambil mencoba merangsek ma**k, mendorong bahu Arga.
Namun, tubuh Arga sama sekali tidak bergeming. Dia justru mencengkeram pergelangan tangan Rian yang baru saja mendorongnya, lalu memutarnya ke belakang dengan gerakan cepat dan bertenaga.
"Aakh! Lepas, an****! Sakit!" Rian mengerang kesakitan, tubuhnya terpaksa membungkuk karena lengannya dikunci oleh Arga.
"Pertama, dia bukan cewek lo lagi. Kedua, lo ganggu ketenangan kosan gue," kata Arga, suaranya sangat tenang namun terdengar begitu mematikan di telinga Rian. "Dan ketiga... gue paling gak suka tidur gue diganggu sama sampah kayak lo."
Arga melepaskan kunciannya, lalu mendorong Rian hingga cowok itu terhuyung ke belakang dan hampir jatuh ke aspal basah.
Rian yang merasa dipermalukan langsung naik pitam. Harga dirinya sebagai cowok yang biasa berkuasa terluka hebat. "Kurang ajar lo!" teriak Rian. Dia mengepalkan tangan kanan dan melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Arga.
Arga sudah mengantisipasi gerakan itu. Dengan refleks yang sangat cepat, dia memiringkan kepalanya sedikit ke kiri, membuat pukulan Rian hanya menerpa angin. Di detik berikutnya, sebelum Rian sempat menarik kembali tangannya, Arga melayangkan satu pukulan lurus yang sangat keras tepat di rahang kiri Rian.
*BUGH!*
Suara hantaman itu terdengar begitu solid di tengah kesunyian malam. Rian langsung tersungkur ke aspal, memegangi rahangnya yang terasa bergeser. Darah segar mulai merembes dari sudut bibirnya yang pecah.
Belum sempat Rian memulihkan kesadarannya, Arga sudah maju dua langkah. Dia mencengkeram kerah kaus Rian, menarik tubuh cowok itu hingga setengah berdiri, lalu menghempaskannya dengan keras ke pagar besi kosan.
*PRANG!*
"Denger baik-baik," bisik Arga tepat di depan wajah Rian yang kini tampak pucat pasi. Tatapan mata Arga begitu dingin dan tajam, seolah-olah dia tidak segan untuk menghabisi Rian malam ini juga jika cowok itu berani membantah. "Kalau sampai gue lihat lo berkeliaran di sekitar sini lagi, atau lo berani hubungi Aurora lagi... gue gak bakal cuma kasih lo satu pukulan. Paham?"
Rian menelan ludah dengan susah payah. Nyalinya yang tadi menggebu-gebu kini ciut seketika. Dia bisa merasakan aura berbahaya yang memancar dari cowok di depannya ini. Arga bukan lawan yang sepadan untuknya.
Arga melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Rian merosot ke bawah. "Sekarang, pergi dari sini sebelum gue panggil warga komplek buat gebukin lo," ancam Arga datar.
Rian dengan sisa-sisa kekuatannya bangkit berdiri sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah. Dia berjalan mundur, menatap Arga dengan tatapan penuh dendam dan ketakutan yang bercampur aduk.
"Awas lo, ya! Ini belum selesai! Gue bakal bikin lo berdua nyesel!" teriak Rian dengan suara parau yang gemetar, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sudah hancur lebur. Dia kemudian naik ke atas motornya yang terparkir di pinggir jalan, menyalakan mesinnya dengan terburu-buru, lalu memacu kendaraannya pergi meninggalkan area kosan dengan kecepatan tinggi.
Arga menatap kepergian motor Rian hingga suaranya menghilang di ujung jalan. Dia menghela napas panjang, lalu melirik kepalan tangannya sendiri yang sedikit memerah dan lecet di bagian buku jari.
"Ck, bikin kotor tangan aja," gumamnya pelan.
Arga kembali mengunci gerbang kosan dengan rapat, memastikan situasi di luar benar-benar aman sebelum melangkah kembali ke dalam gedung kosan. Dia menaiki anak tangga satu per satu dengan langkah yang sengaja dibuat tidak terlalu berisik.
Langkah kaki Arga berhenti tepat di depan pintu kamar Aurora. Keadaan di lant** atas kini sudah kembali sunyi, namun Arga tahu badai di dalam kepala gadis itu pasti belum reda.
Arga mengetuk pintu kayu itu dengan pelan. "Ra? Ini gue, Arga. Dia udah pergi."
Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya keheningan yang menyapa.
Arga menghela napas, bersiap untuk berbalik kembali ke kamarnya jika Aurora memang butuh waktu sendiri. Namun, baru saja dia memutar tubuhnya setengah putaran, terdengar suara kunci pintu yang diputar dari dalam.
*KLIK.*
Pintu perlahan terbuka sedikit, menampilkan sosok Aurora yang tampak begitu rapuh. Rambutnya sedikit berantakan, matanya bengkak dan merah karena menangis, dan kedua tangannya masih gemetar saat memegangi tepi pintu.
Arga berbalik sepenuhnya, menatap gadis itu. Untuk pertama kalinya, Arga melihat ketakutan yang begitu mendalam di mata Aurora. Gadis yang biasanya selalu tersenyum ramah dan berusaha tegar di kampus itu kini tampak seperti anak kecil yang kehilangan arah.
"Lo... gak apa-apa?" tanya Arga, nadanya melunak, kehilangan semua nada dingin yang digunakannya saat menghadapi Rian tadi.
Aurora menatap Arga. Pandangannya beralih ke buku-buku jari tangan Arga yang terluka dan sedikit berdarah. Air mata Aurora kembali mengalir deras tanpa bisa dibendung.
"Kak Arga... maaf..." bisik Aurora dengan suara serak, hampir tidak terdengar. "Maaf karena gue... lo jadi harus berantem kayak gini... maaf selalu ngerepotin lo..."
Sebelum Aurora sempat menyelesaikan kalimatnya, Arga mengambil satu langkah maju. Tanpa berkata-kata, dia menarik tubuh Aurora yang gemetar ke dalam dekapannya. Tangan kekar Arga menepuk-nepuk punggung gadis itu dengan pelan dan ritmis, sementara dagunya bersandar di puc** kepala Aurora.
Aurora tersentak kaget dengan tindakan tiba-tiba itu. Namun, kehangatan dari tubuh Arga dan aroma maskulin yang menenangkan dari jaket cowok itu perlahan-lahan membuat debaran panik di dadanya mereda. Tanpa sadar, Aurora mencengkeram erat kain jaket di bagian dada Arga, menenggelamkan wajahnya di sana, dan menangis sejadi-jadinya untuk menumpahkan semua rasa takut yang menyiksanya.
"Gak usah minta maaf," bisik Arga pelan, masih terus mengusap punggung Aurora. "Selama lo ada di sini, lo aman. Gue gak bakal biarkan ba****** itu nyentuh lo lagi."
Di bawah temaram lampu koridor kosan malam itu, dinginnya sikap Arga yang selama ini ditakuti satu fakultas seolah meleleh sepenuhnya, menyisakan kehangatan yang kini menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi Aurora.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!