Bab 11: Topeng yang Terbuka
Arga menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang memburu akibat emosi yang meluap-luap. Di bawah sana, gerbang besi kosan baru saja dikunci rapat kembali setelah dia sukses mengusir Rianβcowok g*** yang nyaris mendob**k ma**k demi mencari Aurora. Arga sempat harus bermain urat saraf, bahkan hampir melayangkan tinjunya kalau saja Rian tidak ciut saat Arga mengancam akan menelepon polisi dan pemilik kosan detik itu juga. Dengan langkah gont** karena sisa-sisa mabuknya, Rian akhirnya pergi sambil mengumpat kasar.
Namun, urusan Arga belum selesai. Pikirannya langsung tertuju pada gadis di kamar sebelah.
Arga berbalik, lalu setengah berlari menaiki anak tangga menuju lant** dua. Koridor kosan terasa sangat sunyi, kontras dengan gemuruh di dalam dada Arga. Langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu kamar nomor 204. Kamar Aurora.
Tanpa membuang waktu, Arga mengetuk pintu kayu itu dengan tidak sabar.
*Tok! Tok! Tok!*
"Ra? Aurora? Lo di dalem, kan?" panggil Arga setengah berbisik namun penuh penekanan. Nada suaranya terdengar panik luar biasa. "Ra, buka pintunya. Ini gue. Cowok g*** tadi udah pergi. Lo aman sekarang."
Di dalam kamar, Aurora masih meringkuk di sudut dekat lemari. Tubuhnya masih gemetar, tangannya gemetaran menutupi telinga. Begitu mendengar suara ketukan dan pangg***n itu, dia tersentak. Suara itu bukan suara Rian yang kasar dan berat karena amarah. Suara ini terdengar familier, sangat familier, tapi otaknya yang sedang diselimuti ketakutan setengah mati tidak mampu berpikir jernih.
"Ra, please, buka pintunya. Gue khawatir," suara di luar kembali terdengar, kali ini lebih lembut, seolah berusaha menenangkannya dari balik dinding kayu.
Mendengar kata 'khawatir', perlahan ketakutan Aurora mulai terkikis, digantikan oleh rasa penasaran. Dia menghapus air matanya dengan punggung tangan yang gemetar. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Aurora bangkit berdiri. Lututnya masih terasa lemas seperti jeli saat dia melangkah mendekati pintu.
Dengan tangan gemetar, dia memutar kunci ganda pintu kamarnya.
*Cklek.*
Pintu terbuka perlahan, menyisakan celah kecil. Aurora mengintip dari celah itu dengan mata yang sembap, merah, dan bengkak akibat menangis.
Namun, begitu melihat sosok yang berdiri di depannya, napas Aurora seketika tercekat. Matanya yang sayu langsung membelalak lebar karena syok yang luar biasa. Rasa takutnya yang tadi membumbung tinggi mendadak menguap, digantikan oleh rasa tidak percaya yang amat sangat.
"Ar... Arga?!" suara Aurora keluar berupa bisikan yang serak.
Di hadapannya, berdiri Arga.
Bukan Arga si cowok hits kampus yang selalu tampil rapi dengan jaket denim mahal, sepatu sneakers bermerek, dan rambut klimis yang tertata rapi. Sosok di depannya ini memakai kaos oblong hitam polos yang sedikit longgar dan tampak agak pudar, dipadukan dengan celana pendek sant** berbahan kaus warna abu-abu. Rambut hitamnya berantakan, jatuh menutupi sebagian keningnya seolah baru saja diacak-acak karena frustrasi. Dan yang paling membuat Aurora tidak bisa berkata-kata: Arga tidak memakai alas kaki apa pun.
"Lo... kok..." Aurora terbata-bata, matanya bergerak panik menatap Arga dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu beralih menatap koridor kosan yang sepi. "Kok lo bisa ada di sini? Malam-malam begini? Dan... baju lo..."
Arga mengembuskan napas lega begitu melihat Aurora dalam keadaan utuh tanpa luka fisik sedikit pun, meskipun wajah gadis itu sangat pucat dan matanya bengkak. Dia mengusap tengkuknya dengan canggung, menyadari penampilan rumahan-nya yang sangat jauh dari imejnya di kampus.
"Lo nggak apa-apa, Ra?" tanya Arga, mengabaikan pertanyaan Aurora terlebih dahulu. Matanya menatap intens ke dalam mata Aurora, mencari sisa-sisa ketakutan di sana. "Dia nggak sempat ngapa-ngapain lo, kan?"
Aurora menggeleng pelan, kepalanya masih berputar mencoba memproses situasi g*** ini. "Gak... dia gak sempat ma**k. Tapi, Ga... lo belum jawab pertanyaan gue. Kenapa lo bisa ada di kosan gue? Lo ngikutin gue ya? Atau lo tahu dariβ"
"Gue tinggal di sini, Ra," potong Arga cepat, suaranya terdengar tenang namun tegas.
Seketika itu juga, dunia di sekitar Aurora rasanya berhenti berputar. "Hah? Maksud lo?"
Arga menghela napas panjang. Dia memiringkan tubuhnya sedikit, lalu menunjuk ke arah pintu kamar tepat di sebelah kamar Aurora dengan jempolnya. Pintu kamar nomor 205.
"Kamar gue di situ. Di sebelah kamar lo," ujar Arga pelan.
Aurora membeku. Pikirannya langsung melayang ke bulan-bulan lalu sejak dia pertama kali menempati kamar kos ini. Kamar sebelah yang selalu tertutup rapat. Kamar sebelah yang dihuni oleh sosok misterius yang sering kali mengetuk dinding pembatas kamar mereka sebagai kode. Tetangga berisik yang sering memprotesnya lewat ketukan dinding kalau dia menyetel musik terlalu keras, atau yang membalas ketukannya di malam-malam saat Aurora merasa kesepian dan butuh teman mengobrol lewat sandi ketukan dinding.
"Jadi..." Aurora menunjuk Arga dengan jari telunjuknya yang masih sedikit gemetar. "Tetangga berisik yang selama ini... yang sering ngetok-ngetok tembok..."
"Iya," Arga memotong lagi, kali ini sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang terlihat sangat manis sekaligus kikuk. "Si tetangga berisik di kamar sebelah yang hobi ngetok tembok kalau lo nyanyi malam-malam... itu gue, Ra."
Mulut Aurora sedikit terbuka. Dia benar-benar kehilangan kata-kata. Rasanya seperti ada bom yang meledak di kepalanya. Semua potongan teka-teki yang selama ini membuatnya penasaran setengah mati tentang siapa sosok di balik tembok kamarnya kini terjawab sudah. Dan kenyataan bahwa sosok itu adalah Argaβcowok dingin, misterius, dan populer di kampus yang jarang berinteraksi dengannyaβmembuat dadanya berdesir aneh.
"Lo... lo serius?" tanya Aurora memastikan, suaranya masih terdengar sangsi.
"Gue serius. Buat apa gue bohong tengah malam begini sambil pakai kaos oblong buluk gini?" Arga terkekeh pelan, berusaha mencairkan suasana tegang yang menyelimuti mereka. "Lagian, lo masih gemeteran gitu. Boleh gue ma**k sebentar? Nggak enak ngobrol di pintu gini, ntar dikira tetangga lain kita lagi pacaran subuh-subuh."
Mendengar ucapan Arga, pipi Aurora yang semula pucat mendadak merona merah. Dia segera membuka pintunya lebih lebar dan mundur selangkah, mempersilakan Arga ma**k. Aurora membiarkan pintunya tetap terbuka sedikit agar tidak menimbulkan fitnah di antara penghuni kos lain.
Arga ma**k dan memilih untuk duduk di kursi belajar plastik dekat meja, sementara Aurora duduk di tepi ka**rnya, memeluk sebuah bantal guling erat-erat untuk menutupi rasa gugupnya yang mendadak menyerang.
"Mantan lo tadi... kenapa bisa tahu lo kos di sini?" tanya Arga memulai obrolan, nadanya kembali serius.
Aurora menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan di atas bantal guling. "Dia... Rian emang selalu kayak gitu, Ga. Posesifnya udah di tahap gak sehat. Dia gak terima pas gue mutusin dia beberapa bulan lalu. Makanya gue milih pindah kosan ke sini, biar dia gak bisa nemuin gue. Tapi ternyata dia masih bisa ngelacak gue. Tadi dia neror gue lewat chat, terus tiba-tiba udah ada di bawah." Aurora menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam untuk menahan tangis yang hampir pecah lagi. "Gue... gue takut banget tadi. Makasih banyak ya, Ga. Kalau gak ada lo, gue gak tahu apa yang bakal terjadi."
Arga menatap Aurora dengan tatapan yang sangat lembut, sesuatu yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapa pun di kampus. Melihat gadis yang biasanya ceria di kelas kini terlihat begitu rapuh membuat hati Arga terasa seperti diremas.
"Sama-sama, Ra. Lagian, siapa juga yang bakal tinggal diam denger ada cowok teriak-teriak kayak orang g*** di bawah, apalagi dia nyebut-nyebut nama lo," kata Arga sant**, berusaha agar Aurora tidak merasa bersalah. "Gue sempat emosi banget tadi. Untung tuh cowok langsung pergi pas gue ancam panggil polisi."
Aurora tersenyum tipis, rasa hangat perlahan mengalir di dadanya. Rasa takutnya pada Rian kini benar-benar tergantikan oleh rasa aman yang dihadirkan oleh keberadaan Arga di kamarnya.
Namun, rasa penasaran Aurora kembali menggelitiknya. Dia menatap Arga dengan mata menyipit curiga. "Tapi tunggu dulu. Jadi... selama ini lo udah tahu kalau tetangga sebelah lo itu gue?"
Arga menggaruk pelan alisnya yang tebal, tampak salah tingkah karena tertangkap basah. "Awalnya sih gak tahu. Tapi pas hari pertama lo pindah, gue denger suara bersin lo yang khas banget dari balik tembok. Terus besoknya di kampus, gue denger lo bersin dengan cara yang persis sama. Dari situ gue mulai curiga."
"Ih! Masa cuma gara-gara bersin?!" Aurora protes, wajahnya memerah karena malu.
"Ya emang kenyataannya gitu," Arga terkekeh, membuat matanya menyipit jenaka. "Terus pas gue perhatiin jam lo keluar dan ma**k kosan, ternyata emang selalu barengan sama waktu gue denger langkah kaki di kamar sebelah. Jadi ya... gue menyimpulkan kalau tetangga baru gue yang hobi dengerin lagu-lagu galau tengah malem itu emang lo."
"Gue gak hobi dengerin lagu galau ya! Itu cuma kadang-kadang aja!" bela Aurora defensif, meskipun dalam hati dia merasa sangat malu karena semua kebiasaan buruknya di kamar kos ternyata terdengar jelas oleh Arga. "Tapi... kenapa lo gak pernah bilang dari awal di kampus? Lo malah pura-pura gak kenal dan cuek banget!"
Arga menghentikan tawanya. Dia menatap Aurora lurus-lurus, membuat jantung Aurora kembali berdegup kencang, tapi kali ini karena alasan yang sangat berbeda.
"Gue cuma gak mau lo merasa risih, Ra," jawab Arga jujur, suaranya terdengar sangat tulus. "Gue tahu lo pindah ke sini pasti butuh ketenangan. Kalau gue langsung bilang gue tetangga sebelah lo, gue takut lo malah merasa gak nyaman dan canggung di kosan sendiri. Makanya gue milih buat keep silent. Tapi..." Arga tersenyum kecil. "...ketukan tembok itu... itu cara gue buat nemenin lo. Biar lo tahu, sesepi apa pun malam lo, lo gak sendirian di sini."
Kata-kata Arga menyusup ma**k ke dalam hati Aurora, meruntuhkan sisa-sisa benteng pertahanan emosinya. Air mata yang sejak tadi ditahannya kembali jatuh, namun kali ini bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa haru yang luar biasa. Dia tidak menyangka bahwa di balik sikap dingin dan acuh tak acuh Arga di kampus, cowok itu memiliki sisi yang begitu hangat dan penuh perhatian.
"Hei, kok nangis lagi?" Arga panik, dia refleks memajukan tubuhnya, ingin menghapus air mata di pipi Aurora namun ragu untuk menyentuhnya.
Aurora menggeleng cepat, sambil tersenyum di sela tangisnya. "Nggak apa-apa. Gue cuma... gue gak tahu harus ngomong apa lagi. Makasih ya, Arga. Buat semuanya. Buat malam ini, dan buat ketukan-ketukan tembok selama ini."
Arga mengembuskan napas lega, senyumnya kembali mengembang. Dia berdiri dari kursinya, menandakan bahwa dia harus segera kembali ke kamarnya agar Aurora bisa beristirahat.
"Udah malam banget, hampir jam tiga pagi. Lo harus tidur, Ra," kata Arga lembut. "Kunci pintu lo rapat-rapat. Gue juga bakal kunci pintu kamar gue. Lo gak usah takut lagi, cowok itu gak bakal berani balik ke sini malam ini. Gue jamin."
Aurora ikut berdiri, mengantar Arga sampai ke ambang pintu. "Iya, Ga. Gue bakal langsung tidur."
Sebelum melangkah keluar, Arga berbalik badan. Dia menatap dinding pembatas antara kamar mereka, lalu kembali menatap Aurora dengan binar jenaka di matanya.
"Oh iya, satu lagi," ucap Arga dengan nada sant**. "Kalau lo masih takut atau gak bisa tidur..." Arga mengetuk dinding kamar Aurora dengan jarinya sebanyak tiga kali. "...lo tahu kan harus ngapain? Ketok aja temboknya kayak biasa. Gue gak bakal tidur sebelum lo tidur."
Wajah Aurora memanas seketika. Dia hanya bisa mengangguk pelan dengan senyum lebar yang tidak bisa disembunyikannya. "Oke. Selamat istirahat, Arga."
"Selamat istirahat, Aurora."
Setelah Arga keluar dan pintu kamarnya kembali terkunci ganda, Aurora bersandar di balik pintu kayu tersebut. Dadanya bergemuruh hebat, namun kali ini dipenuhi oleh rasa hangat yang menenangkan. Dia berjalan menuju tempat tidurnya, merebahkan diri di balik selimut tebalnya.
Kini, ketakutan akan teror Rian perlahan memudar, tergantikan oleh bayangan cowok berkaos oblong di kamar sebelah. Aurora menatap dinding pembatas kamarnya dengan senyuman tipis, merasa bahwa mulai malam ini, kamar kos yang sempit ini terasa jauh lebih hangat dari sebelumnya.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!