**Bab 12: Canggung Setelah Tahu**
Otak Aurora mendadak *blank*.
Dia mengerjapkan matanya berulang kali, berharap bahwa cowok di depannya ini hanyalah halusinasi akibat rasa takut yang berlebihan. Namun, cowok berkaos oblong pudar dengan rambut acak-acakan itu tetap berdiri di sana. Menatapnya dengan sepasang mata elang yang kini memancarkan rasa khawatir yang amat sangat.
Arga.
Arga si cowok hits Fakultas Teknik yang terkenal dingin, irit ngomong, dan selalu terlihat *perfect* tanpa celah di kampus. Sekarang, cowok itu berdiri di depan pintu kamarnya, mengenakan celana pendek sant** dan sandal jepit tipis.
"Ar... Arga? Kok lo... lo bisa di sini?" tanya Aurora terbata-bata. Tenggorokannya mendadak kering kerontang.
Arga menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar. "Gue tinggal di sini, Ra. Kamar 205. Tepat di sebelah kamar lo."
*DEG.*
Dunia Aurora rasanya runtuh detik itu juga. Jantungnya yang tadi berdegup kencang karena ketakutan setengah mati setelah diteror Rian, kini berdetak dua kali lebih cepat karena alasan yang sama sekali berbeda.
*Arga tetangga sebelahnya? Kamar 205? Cowok misterius yang kamarnya selalu tertutup rapat itu... Arga?!*
"Lo... lo tetangga sebelah gue?" cicit Aurora, suaranya nyaris hilang.
"Iya, Ra. Baru tahu?" Arga menaikkan sebelah alisnya, lalu tatapannya beralih meneliti wajah Aurora. Matanya yang sembap, pipinya yang basah oleh air mata, dan bahunya yang masih sedikit gemetar. "Lo beneran nggak papa? Si berengsek itu... dia nggak sempet nyakitin lo, kan?"
"Ngg—nggak. Dia nggak sempet ma**k," jawab Aurora cepat. Kepalanya mendadak pening luar biasa. Bayangan Rian yang menakutkan langsung menguap, digantikan oleh kepanikan baru yang jauh lebih mengerikan bagi harga dirinya.
"Bagus deh. Mulai sekarang, kalau dia datang lagi atau ganggu lo lewat telepon, langsung bilang ke gue. Jangan dihadapin sendiri," kata Arga dengan nada tegas, penuh proteksi yang tak terbantahkan.
Namun, fokus Aurora sudah tidak di sana lagi. Pikirannya melompat ke hal-hal mengerikan yang selama ini dia lakukan di dalam kamarnya.
*Tembok kosan ini tipis banget. Oh my god!*
"Ra?" panggil Arga karena Aurora malah melamun dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah dari pucat, merah, lalu biru. "Lo syok banget, ya? Mau gue ambilin minum?"
"NGGAK! Ngg—maksud gue, nggak usah!" potong Aurora dengan nada agak meninggi karena panik. Dia buru-buru memegang gagang pintu. "Gue... gue udah nggak papa. Gue mau tidur. Makasih banyak ya, Ar, udah bantuin gue tadi. Makasih banget. Sumpah."
Tanpa menunggu jawaban dari Arga, Aurora langsung menarik pintu kamarnya dan menutupnya dengan cepat.
*B**K!*
*Cklek. Cklek.*
Aurora langsung mengunci pintu kamarnya dua kali, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu tersebut. Napasnya terengah-engah seolah baru saja berlari maraton. Dia perlahan merosot hingga terduduk di lant**, menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
"G***... g***... g***! Ini mimpi buruk!" jerit Aurora tertahan, membekap mulutnya sendiri agar suaranya tidak terdengar keluar. "Arga tetangga sebelah gue?! Berarti selama ini..."
Aurora memejamkan matanya rapat-rapat. Memorinya langsung memutar kembali semua kejadian konyol yang dia lakukan di kamar ini selama tiga bulan terakhir.
Pertama, seminggu yang lalu, saat dia gagal ujian tengah semester mata kuliah statistik. Dia menangis meraung-raung sambil menyanyikan lagu galau dengan suara super sumbang jam satu malam.
Kedua, kejadian dua minggu lalu saat dia ketagihan nonton drama Korea sampai subuh. Dia berteriak-teriak histeris, *"Kenapa mas-mas second lead selalu tersakiti! Kenapa dunia ini tidak adil?!"* sambil memukul-mukul ka**r.
Ketiga—dan ini yang paling parah—dia pernah mulas luar biasa setelah makan seblak level lima, dan dengan tanpa tahu malu dia menelepon sahabatnya, Tiara, lewat *loudspeaker* sambil mengeluh, *"Ti! Pantat gue kayak kebakar, Ti! Gue kapok makan seblak lagi!"* dengan volume suara yang tidak bisa dibilang pelan.
Aurora membenturkan dahinya pelan ke lutut. "Sumpah, gue mending pindah kosan besok pagi!" ratapnya dalam hati. Malu setengah mati.
***
Keesokan harinya, petualangan Aurora untuk menghindari Arga resmi dimulai.
Sebelum membuka pintu kamar untuk berangkat kuliah, Aurora menempelkan telinganya erat-erat ke pintu kayu kamarnya. Dia mendengarkan dengan saksama selama hampir dua menit. Setelah memastikan tidak ada suara langkah kaki atau tanda-tanda kehidupan dari kamar 205, Aurora perlahan membuka pintu kamarnya sesedikit mungkin.
Dia melangkah keluar dengan berjinjit, mirip seperti maling yang takut ketahuan pemilik rumah. Begitu kakinya berhasil menuruni anak tangga kosan, Aurora langsung berlari kencang menuju gerbang depan.
"Aman!" gumamnya lega sambil mengatur napas di pinggir jalan raya, menunggu ojek *online*-nya datang.
Namun, di kampus, misinya ternyata jauh lebih sulit.
Siang itu di kantin FISIP, Aurora sedang memesan es teh manis bersama Tiara ketika matanya menangkap sosok tinggi Arga yang baru saja ma**k ke area kantin bersama teman-teman gengnya. Arga yang hari ini memakai kemeja flanel merah yang tidak dikancingkan, memperlihatkan kaos putih di dalamnya, terlihat sangat menonjol di antara kerumunan mahasiswa.
Seketika, insting bertahan hidup Aurora aktif.
"Ra, lo kenapa sih celingukan kayak buronan?" tanya Tiara bingung melihat tingkah aneh sahabatnya yang tiba-tiba bersembunyi di balik punggungnya.
"Ti, balik badan! Cepetan!" bisik Aurora panik, menarik bahu Tiara agar menghalangi pandangan Arga ke arah mereka.
"Hah? Kenapa sih? Ada utang lo ya?"
"Bukan! Itu... ada Arga!"
Tiara malah celingukan mencari sosok yang dimaksud. "Oh, Arga Anak Teknik yang ganteng itu? Ya terus kenapa? Bukannya lo seneng kalau ketemu dia? Biasanya juga lo curi-curi pandang."
"Ssst! Diem dulu!" Aurora menarik Tiara untuk berjalan cepat meninggalkan kantin, bahkan sebelum es teh manis mereka selesai dibuat.
"Eh, teh kita gimana, Ra?!" protes Tiara.
"Udah, nanti gue yang bayar lewat transfer! Ayo cepetan pergi dari sini sebelum dia liat gue!"
Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak pada Aurora. Saat mereka berbelok di dekat mading utama, suara berat yang sangat familier memanggil namanya dari arah belakang.
"Aurora!"
Aurora membeku. Tubuhnya mendadak kaku seperti semen basah yang baru mengering. Dia memejamkan mata, merutuki nasib sialnya hari ini.
"Eh, Ra, dipanggil tuh sama pangeran Teknik," bisik Tiara, menyenggol lengan Aurora dengan ekspresi menggoda.
Aurora memutar tubuhnya perlahan, memasang senyum paling palsu dan paling kaku yang pernah dia buat seumur hidup. "Eh... Arga. Hehe. Hai."
Arga berjalan mendekat, mengabaikan teman-temannya yang mulai bersiul-siul jahil di belakang sana. Dia berhenti tepat di depan Aurora, menatap gadis itu dengan tatapan heran. "Lo kenapa lari sih? Gue panggil dari tadi juga."
"Hah? Gue lari? Ngg—nggak kok! Ini... gue lagi buru-buru. Iya, perut gue tiba-tiba sakit banget, mau ke toilet!" Aurora berbohong, memegangi perutnya dengan ekspresi dramatis yang dibuat-buat.
Arga menatapnya datar, seolah tahu betul bahwa cewek di depannya ini sedang mengarang bebas. "Sakit perut? Tapi muka lo merah banget kayak kepiting rebus."
"Ini... ini karena cuaca panas banget! Iya, panas! Aduh, gue duluan ya, Ar! Bye!"
Tanpa memberikan kesempatan bagi Arga untuk berbicara lagi, Aurora langsung menyambar lengan Tiara dan menariknya lari dengan kecepatan penuh, meninggalkan Arga yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala heran di koridor.
***
Malam harinya, Aurora mengira dia sudah aman di dalam benteng pertahanannya—kamar kos nomor 204. Dia sengaja mematikan lampu utama dan hanya menyalakan lampu tidur yang temaram agar kamarnya terlihat seolah-olah tidak berpenghuni dari luar.
Dia sedang rebahan di ka**r sambil menatap langit-langit, merenungi nasibnya yang harus terus-terusan kucing-kucingan dengan Arga, saat tiba-tiba...
*Tok! Tok! Tok!*
Suara ketukan di pintunya membuat Aurora tersentak kaget. Jantungnya langsung berdegup kencang. Dia menahan napas, memutuskan untuk diam dan tidak bergerak sedikit pun.
*Gue nggak ada di kamar. Gue lagi tidur. Gue mati suri,* batin Aurora merapal mantra.
*Tok! Tok! Tok!*
"Ra? Gue tahu lo di dalem. Lampu tidur lo nyala, bayangan lo keliatan dari bawah celah pintu," suara Arga terdengar dari luar, sangat tenang namun penuh keyakinan.
Aurora menepuk jidatnya sendiri. Sial, dia lupa kalau celah di bawah pintu kamarnya c**up lebar untuk memperlihatkan cahaya dari dalam.
Dengan langkah malas dan berat, Aurora berjalan mendekati pintu. Dia membuka pintu kamarnya hanya selebar sepuluh sentimeter, memunculkan setengah wajahnya saja dari balik celah tersebut.
"Kenapa, Ar?" tanya Aurora dengan nada suara yang diusahakan sedatar mungkin.
Arga berdiri di sana, kali ini mengenakan hoodie abu-abu longgar. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah kantong plastik putih yang mengeluarkan aroma sangat harum dan menggoda iman.
"Nih," Arga menyodorkan kantong plastik itu ke hadapan Aurora.
"Apaan?"
"Martabak manis. Setengah cokelat kacang, setengah keju wisman. Masih anget," jawab Arga sant**.
Kedua mata Aurora langsung berbinar mendengar menu makanan tersebut. Itu adalah kombinasi martabak manis favoritnya sepanjang masa. Namun, akal sehatnya segera mengambil alih. "Kok... lo tahu gue suka rasa itu? Dan buat apa lo ngasih ini ke gue?"
Arga tersenyum tipis, jenis senyuman kecil yang sanggup membuat cewek-cewek di kampus histeris. "Gue sering denger lo pesan itu lewat ojek online pas malem-malem. Dan soal buat apa... gue cuma mau mastiin tetangga gue ini nggak mati kelaparan karena seharian ngurung diri di kamar."
Pipi Aurora mendadak terasa panas. "Gue... gue nggak ngurung diri ya! Gue cuma capek aja habis kuliah."
"Oya? Capek karena lari-lari menghindari gue di kampus tadi?" sindir Arga telak, membuat Aurora bungkam seribu bahasa. "Buka pintunya, Ra. Gue nggak bakal macem-macem. Gue cuma mau ngasih ini, terus mau ngomong bentar."
Dengan pasrah, Aurora membuka pintu kamarnya lebih lebar, namun dia tetap berdiri di ambang pintu, menghalangi jalan ma**k. Dia tidak mungkin membiarkan Arga ma**k ke kamarnya yang berantakan dengan tumpukan baju kotor di pojokan.
"Makasih martabaknya," kata Aurora sambil menerima kantong plastik itu. "Ada yang mau lo omongin lagi?"
Arga mema**kkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie-nya. Matanya menatap Aurora dengan lekat, membuat tingkat kecanggungan di antara mereka meroket tajam. "Lo... kenapa sih jadi canggung banget semenjak tahu gue tetangga lo?"
"Hah? Ngg—nggak kok! Siapa yang canggung? Biasa aja!" elak Aurora dengan nada suara yang naik satu oktav.
"Aurora," panggil Arga lembut namun menuntut kejujuran. "Gue tahu lo malu. Dan gue tahu kenapa lo malu."
Jantung Aurora rasanya mau copot. "M-malu kenapa?"
Arga melangkah satu kaki lebih dekat, membuat jarak di antara mereka mengikis. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Aurora, lalu berbisik dengan nada geli yang sangat menyebalkan di telinga Aurora.
"Soal nyanyian lagu Blackpink jam dua pagi yang nadanya ke mana-mana... atau pas lo nangis histeris teriak-teriak soal tokoh drama yang mati... gue denger semuanya, Ra. Jelas banget dari kamar sebelah."
*DUARRR!*
Rasanya ada petir yang menyambar tepat di atas kepala Aurora. Wajahnya langsung memerah padam sampai ke telinga. Dia ingin sekali bumi tiba-tiba terbelah dan menelannya bulat-bulat detik ini juga.
"L-lo... lo denger?" tanya Aurora dengan suara bergetar karena malu yang teramat sangat.
Arga tidak bisa lagi menahan tawa ringannya. Dia terkekeh, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Tembok kosan ini tipis, Aurora. Tapi lo tenang aja, suara lo pas nyanyi nggak jelek-jelek amat kok. Masih bisa dibilang menghibur buat gue yang sering begadang ngerjain tugas gambar."
"ARGA!!! STOP! JANGAN DIBAHAS LAGI!" pekik Aurora histeris, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia benar-benar ingin menangis saking malunya.
Melihat reaksi menggemaskan Aurora, tawa Arga mereda, digantikan oleh tatapan yang melembut. Dia mengulurkan tangannya, dengan berani menarik pelan pergelangan tangan Aurora agar terlepas dari wajahnya.
"Gue nggak bermaksud ngejek lo, Ra," kata Arga tulus, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Aurora. "Gue cuma mau lo tahu, lo nggak perlu pura-pura atau ngehindar dari gue. Mau lo sekonyol apa pun di kamar, gue nggak bakal nganggep lo aneh. Malah... gue ngerasa lo jauh lebih nyata daripada cewek-cewek lain yang selalu jaim di depan gue."
Aurora terpaku. Sentuhan hangat tangan Arga di pergelangan tangannya, dikombinasikan dengan kata-kata cowok itu, membuat hatinya berdesir aneh. Ada rasa hangat yang perlahan menjalar di dadanya, mengusir sisa-sisa rasa malu dan ketakutan yang sejak kemarin menghantuinya.
"Lagian," lanjut Arga, merapikan satu anak rambut yang menghalangi mata Aurora dengan gerakan yang sangat natural. "Setelah kejadian Rian kemarin, gue ngerasa punya tanggung jawab buat jagain lo. Kita ini tetangga, kan? Jadi, jangan hindari gue lagi. Oke?"
Aurora menelan ludah, benar-benar kehilangan kata-kata. Keberanian dan kehangatan Arga benar-benar meruntuhkan semua dinding pertahanan yang dia bangun seharian ini.
"I-iya. Makasih ya, Ar," cicit Aurora akhirnya, mengangguk pelan.
"Nah, gitu dong." Arga tersenyum puas, lalu menepuk puc** kepala Aurora dengan gemas. "Ya udah, makan gih martabaknya selagi anget. Jangan lupa minum air yang banyak biar nggak keselek pas nanti lo ngedumel soal gue."
"Arga!" gerutu Aurora kesal, namun ada senyuman yang tidak bisa dia sembunyikan di sudut bibirnya.
"Gue balik ke kamar ya. Selamat malam, tetangga berisik," pamit Arga sambil mengedipkan sebelah matanya jahil, lalu berbalik menuju kamar nomor 205.
Aurora memperhatikan punggung Arga yang menghilang di balik pintu sebelah. Setelah pintu kamar Arga tertutup, Aurora kembali ma**k ke kamarnya dan menutup pintu. Dia memeluk kotak martabak manis hangat itu erat-erat di dadanya, dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.
Rasa canggung itu memang masih ada, tapi entah kenapa, malam ini rasanya tidak lagi seburuk sebelumnya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!