**Bab 13: Rahasia di Meja Belajar**
Sejak kejadian malam ituβmalam di mana Aurora mendapati kenyataan pahit sekaligus manis bahwa tetangga kamar sebelahnya adalah ArgaβAurora mendadak jadi agen rahasia paling sibuk sedunia. Dia selalu memasang telinga lebar-lebar sebelum membuka pintu kamar, memastikan tidak ada suara langkah kaki di luar. Dia juga rela berangkat kuliah satu jam lebih awal hanya demi menghindari kemungkinan berpapasan dengan cowok itu di tangga kosan.
Pokoknya, Aurora sukses menjalankan misi *Arga-avoidance-project* selama tiga hari berturut-turut.
Sampai akhirnya sore ini, alam semesta tampaknya bosan melihat Aurora bermain petak umpet.
Langit Jakarta mendadak berubah hitam pekat sejak pukul dua siang. Angin kencang bertiup, menerbangkan beberapa jemuran di balkon lant** dua, disusul oleh suara petir yang menggelegar dahsyat. Tak butuh waktu lama, hujan badai langsung tumpah dengan brutalnya, menghantam atap kosan mereka dengan suara berisik yang m****akkan telinga.
Aurora yang sedang rebahan di ka**rnya sambil menonton drakor di laptop langsung mengernyit saat merasakan sesuatu yang basah menetes di dahinya.
*Tes.*
"Eh?" Aurora mengusap dahinya. "Bocor?"
Sebelum Aurora sempat bangkit untuk memeriksa, suara gemercik air yang lebih deras terdengar dari arah sudut tempat tidurnya.
*Grojok!*
"A****!" Aurora langsung melompat dari ka**r bagaikan kucing yang tersiram air panas.
Atap kamarnya tidak cuma bocor biasa, tapi sudah seperti air terjun mini versi *low budget*. Air hujan yang keruh mengalir deras tepat di atas bantal dan sebagian ka**rnya. Kamar kosnya yang berukuran tiga kali empat meter itu langsung mendadak riuh oleh suara kepanikannya sendiri.
"Mampus, mampus! Ka**r gue basah semua!" pekik Aurora panik setengah mati.
Dia buru-buru menarik seprai dan bantalnya, lalu menyeret ka**r busanya yang c**up berat ke sudut kamar yang masih kering. Tenaganya yang pas-pasan membuat Aurora harus ngos-ngosan setengah mati. Belum lagi kabel-kabel colokan yang berserakan di lant**, laptop yang masih menyala, dan buku-buku kuliahnya yang terancam ikut keba****an.
"Aduh, ember mana sih ember?!" Aurora membongkar kolong tempat tidur, menarik sebuah ember plastik hitam dengan kasar sampai menimbulkan suara benturan yang sangat keras.
*PRAAAKK! KLONTANG!*
Ember itu menab**k kaki meja belajarnya, membuat beberapa tumpukan buku di atas meja berguguran ke lant** yang mulai tergenang air tipis. Aurora rasanya ingin menangis detik itu juga. Kamarnya benar-benar seperti kapal pecah.
Di tengah-tengah kepanikannya yang sudah berada di ubun-ubun, suara ketukan pintu yang sangat keras terdengar dari luar, bersaing dengan suara gemuruh guntur.
*Tok! Tok! Tok!*
"Ra? Aurora! Lo nggak papa di dalem?"
Itu suara Arga. Suara berat dan familier yang tiga hari ini sangat dia hindari.
"Raa! Buka pintunya, suara barang jatuh dari kamar lo kenceng banget. Lo nggak papa?" panggil Arga lagi, nadanya terdengar sangat khawatir.
Aurora mematung di tengah kamar, memegang ember hitam dengan rambut acak-acakan dan kaos rumahannya yang sedikit basah terkena cipratan air. Haruskah dia membuka pintu? Tapi kamarnya sangat berantakan! Tapi kalau tidak dibuka, air di lant** kamarnya bisa-bisa merembes ke mana-mana.
"Ra! Gue dob**k ya?" ancam Arga dari luar.
"JANGAN! Eh, iya, bentar!" teriak Aurora panik.
Dengan pasrah, Aurora melangkah cepat dan membuka kunci pintu. Begitu pintu terbuka, sosok Arga langsung berdiri di sana. Cowok itu mengenakan kaos hitam polos dan celana pendek abu-abu, lengkap dengan ekspresi wajah yang tegang. Matanya langsung menjelajahi seisi kamar Aurora yang sudah mirip korban bencana alam.
"Bocor?" tanya Arga, langsung menyimpulkan tanpa perlu penjelasan.
"Iya, deras banget. Ka**r gue udah basah setengah," keluh Aurora dengan nada frustrasi yang tidak bisa disembunyikan lagi. Suaranya agak bergetar karena syok dan lelah.
Tanpa b***bu dan tanpa meminta izin terlebih dahulu, Arga langsung melangkah ma**k ke dalam kamar Aurora. Dia merebut ember hitam dari tangan Aurora dan meletakkannya tepat di bawah titik kebocoran utama yang airnya paling deras.
*Pluk, pluk, pluk.* Bunyi air jatuh ke dalam ember sekarang terdengar lebih teratur.
"Ka**r lo harus digeser lagi ke sana, biar nggak kena cipratan," kata Arga, lalu langsung memegang ujung ka**r busa milik Aurora. "Sini, bantu gue tarik ujung satunya."
"Ah... iya, iya." Aurora buru-buru memegang ujung ka**r yang ditunjuk Arga.
Dengan satu hentakan kuat dari Arga, ka**r itu berhasil digeser ke sudut paling aman dekat pintu. Jarak mereka yang sangat dekat membuat Aurora bisa mencium wangi sabun mint yang maskulin dari tubuh Argaβwangi yang sama sekali tidak cocok dengan situasi kacau mereka saat ini. Jantung Aurora mulai berdetak tidak keruan, entah karena kelelahan menggeser ka**r atau karena kehadiran cowok di depannya ini.
"Sarang barang elektronik lo mana?" tanya Arga lagi, menatap Aurora dengan mata tajamnya yang fokus. "Laptop, HP, charger. Siniin, biar ditaruh di tempat yang tinggi. Atas lemari baju lo aman, kan?"
"Aman, aman. Ini laptop gue." Aurora menyerahkan laptopnya dengan tangan gemetar.
Arga menerimanya, lalu dengan cekatan meletakkannya di atas lemari pakaian Aurora yang paling tinggi. Cowok itu benar-benar bergerak cepat dan efisien. Dia sama sekali tidak terlihat risi dengan kamar Aurora yang berantakan atau pakaian Aurora yang agak basah.
"Sekarang buku-buku lo," ujar Arga, mengalihkan pandangannya ke arah meja belajar Aurora yang letaknya bersebelahan dengan area yang bocor. Air hujan yang merembes lewat dinding mulai membasahi sudut meja tersebut. "Meja lo juga kena rembesan dinding. Buku-buku di atas meja harus dipindahin sebelum basah semua."
"Biar gue aja yang beresin buku, Ar!" cegah Aurora cepat.
Tiba-tiba saja sebuah alarm bahaya berbunyi di dalam kepala Aurora. Meja belajarnya adalah area paling pribadi di kamar ini. Ada banyak hal random di sana yang tidak boleh dilihat oleh orang lain, terutama oleh Arga!
Namun terlambat. Arga sudah melangkah lebih dulu ke meja belajarnya. "Gak papa, biar cepet selesai. Lo beresin kertas-kertas yang di lant** aja."
Arga mulai mengambil tumpukan buku kuliah, binder, dan beberapa novel dari atas meja belajar Aurora. Dia memindahkannya dengan hati-hati ke atas ka**r yang sudah aman. Aurora hanya bisa pasrah sambil memunguti kertas-kertas tugasnya yang sempat jatuh ke lant** dengan perasaan waswas yang luar biasa.
*Tenang, Aurora. Di meja itu cuma ada buku kuliah. Nggak ada yang aneh-aneh,* batin Aurora mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Arga kembali ke meja belajar untuk mengambil sisa barang yang ada di sudut terdalam meja, dekat dinding. Di sana, di antara tumpukan novel tebal dan botol tempat pensil, ada sebuah benda kecil yang tertutup oleh tumpukan kertas *sticky notes*.
Arga menarik kertas-kertas itu untuk memindahkannya. Namun, tindakannya terhenti saat melihat sebuah bingkai foto kayu berukuran kecil berdiameter 4R yang selama ini tersembunyi di balik tumpukan barang tersebut.
Gerakan tangan Arga mendadak membeku.
Awalnya, dia hanya ingin mengamankan bingkai foto itu agar tidak terkena air rembesan dari dinding. Tapi begitu matanya menangkap gambar di dalam bingkai tersebut, pupil matanya melebar.
Di dalam bingkai foto itu, terpajang sebuah foto *candid* seorang cowok berjaket himpunan mahasiswa Teknik Sipil berwarna biru dongker. Cowok di dalam foto itu sedang duduk di bawah pohon rindang di area koridor kampus, sedang menatap layar laptopnya dengan dahi berkerut, tampak serius sekaligus sangat tampan dengan rambut yang sedikit berantakan tertiup angin. Cahaya matahari sore yang menerobos celah daun memberikan efek *golden hour* yang sangat estetis pada foto itu.
Cowok di dalam foto itu... adalah Arga sendiri.
Arga menatap foto itu lekat-lekat. Dia sangat ingat momen itu. Itu adalah momen ujian tengah semester beberapa bulan lalu di mana dia sedang stres-stresnya belajar di koridor luar fakultas. Dia sama sekali tidak tahu bahwa ada seseorang yang mengambil fotonya secara diam-diam dari jarak jauh dengan kamera profesional. Dan sekarang, foto itu dicetak dengan rapi, diberi bingkai cantik, dan diletakkan di atas meja belajar Aurora.
Suasana di dalam kamar kos itu mendadak hening, menyisakan suara derasnya hujan di luar dan bunyi air yang menetes ke dalam ember hitam.
Aurora yang baru saja selesai mengelap lant** yang basah dengan kanebo, menyadari keheningan yang aneh dari arah Arga. Dia mendongak, lalu menoleh ke arah meja belajarnya.
Detik itu juga, seluruh pasokan oksigen di paru-paru Aurora rasanya disedot habis.
Wajah Aurora langsung berubah dari yang tadinya lelah menjadi putih pucat, lalu sedetik kemudian berubah menjadi merah padam sampai ke telinga.
Arga sedang memegang bingkai foto itu. Ibu jari cowok itu bahkan mengusap pelan permukaan kaca bingkai tersebut, seolah sedang memastikan bahwa orang di dalam foto itu memang benar-benar dirinya sendiri.
"Ar... Arga..." suara Aurora keluar dalam bentuk cicitan pelan yang hampir tidak terdengar. Dia merasa seolah-olah jiwanya baru saja melayang keluar dari tubuhnya.
*Mampus. Mati gue. Tamat riwayat gue.*
Arga perlahan memutar tubuhnya, menghadap ke arah Aurora yang masih terduduk lemas di lant** sambil memegang kanebo basah. Cowok itu menaikkan sebelah alisnya, ekspresi dingin yang biasanya dia tunjukkan di kampus kini berganti dengan tatapan yang sangat sulit diartikanβada sedikit keterkejutan, tapi juga ada senyum tipis yang hampir tidak kentara di sudut bibirnya.
Arga mengangkat bingkai foto itu sedikit lebih tinggi, menunjukkannya langsung pada Aurora yang sudah ingin menenggelamkan diri ke dalam ember bocor saat ini juga.
"Ra," panggil Arga, suaranya terdengar sangat tenang, terlalu tenang untuk situasi yang membuat Aurora ingin mati karena malu. "Ini... foto gue, kan?"
Aurora meneguk ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir. Dia tidak bisa mengelak. Wajah di foto itu sangat jelas adalah Arga dari samping. Mau beralasan bahwa itu adalah foto sepupunya yang mirip Arga pun rasanya sangat tidak ma**k akal.
"Itu... itu..." Aurora terbata-bata, otaknya mendadak *blank* total. Pikiran kreatifnya sebagai mahasiswa komunikasi mendadak mogok bekerja.
Arga berjalan mendekat ke arah Aurora, melangkah pelan tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cewek yang kini sudah merah merona seperti kepiting rebus. Dia berjongkok di depan Aurora, menyamakan tinggi mereka, lalu meletakkan bingkai foto itu di lant** di antara mereka berdua.
"Gue baru tahu," ucap Arga dengan nada suara yang rendah dan terdengar sangat dekat di telinga Aurora, "kalau tetangga sebelah kamar gue ternyata... diam-diam suka motoin gue."
Wajah Aurora rasanya panas sekali, seperti baru saja didekatkan ke kompor yang menyala. Dia buru-buru menunduk, tidak berani menatap mata elang Arga yang kini tampak berkilat jahil.
"B-bukan gitu, Ar! Sumpah!" Aurora mencoba membela diri dengan suara yang bergetar. "Itu... waktu itu gue lagi tugas matkul fotografi! Iya, tugas fotografi! Tema-nya... tema-nya aktivitas mahasiswa di kampus. Terus lo kebetulan lewat, eh maksudnya lagi duduk di situ, jadi gue foto aja karena pencahayaannya bagus. Sumpah, murni buat tugas!"
Arga menatap Aurora dengan tatapan tidak percaya yang sangat menyebalkan. "Oh, buat tugas?"
"Iya! Serius!" Aurora mengangguk dengan cepat seperti burung pelatuk, berusaha membuat wajahnya terlihat seyakin mungkin meskipun matanya bergerak gelisah ke mana-mana.
"Kalau cuma buat tugas kuliah," Arga memajukan wajahnya sedikit lebih dekat, membuat Aurora secara refleks memundurkan kepalanya, "kenapa fotonya dicetak? Pakai bingkai bagus kayak gini lagi. Dan... ditaruh di meja belajar lo?"
Pertanyaan telak dari Arga langsung mengunci mulut Aurora rapat-rapat. Dia tidak bisa menjawab. Alasan apa lagi yang harus dia pakai? Mengatakan bahwa dia menjadikan foto itu sebagai "pajangan penambah estetika kamar" terdengar sangat menyedihkan dan semakin memperjelas bahwa dia adalah seorang *fangirl* rahasia Arga.
"Nggak bisa jawab?" tanya Arga lagi, kali ini nada suaranya terdengar sangat sant**, bahkan ada nada menggoda yang belum pernah Aurora dengar sebelumnya dari cowok sedingin Arga.
Aurora meremas kanebo di tangannya dengan sangat erat, menyalurkan rasa malu yang sudah meluap sampai ke ubun-ubun. Dia menutup matanya rapat-rapat selama beberapa detik, lalu mengembuskan napas pasrah. Tidak ada gunanya lagi berbohong. Semuanya sudah terbongkar dengan sangat jelas di depan matanya sendiri.
"Oke, fine!" seru Aurora akhirnya, membuka matanya dan menatap Arga dengan ekspresi kesal campur malu yang sangat kentara. "Gue emang ambil foto lo diem-diem. Dan ya, gue cetak karena... karena lo kelihatan bagus di situ. Puas?!"
Arga tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Aurora yang sedang menatapnya dengan napas terengah-engah karena kesal dan malu. Keheningan kembali merayap di antara mereka, kali ini terasa jauh lebih intim dan mendebarkan daripada sebelumnya.
Perlahan, senyum tipis yang tadinya hanya samar-samar, kini mengembang dengan jelas di wajah tampan Arga.
"Puas," jawab Arga singkat, suaranya terdengar sangat lembut. Dia mengambil kembali bingkai foto itu dari lant**, lalu menyimpannya di atas ka**r Aurora yang sudah aman dari air.
Arga kemudian berdiri, membersihkan celananya yang sedikit kotor karena berjongkok, lalu menatap Aurora yang masih terduduk di lant** dengan wajah cemberut dan pipi yang masih merah.
"Lain kali," kata Arga sambil berjalan menuju pintu kamar Aurora, menghentikan langkahnya sejenak sebelum memutar knop pintu, "kalau mau foto gue, bilang aja. Nggak usah sembunyi-sembunyi. Gue bisa pose yang lebih bagus dari itu."
Setelah mengatakan kalimat yang sukses membuat jantung Aurora serasa ingin melompat keluar dari dadanya, Arga membuka pintu dan melangkah keluar, menutup pintu kamar Aurora dengan pelan.
Meninggalkan Aurora yang masih terduduk kaku di lant**, menatap pintu kamarnya yang tertutup dengan mulut setengah terbuka.
"G***..." gumam Aurora pelan, lalu dia langsung merebahkan dirinya di atas lant** yang dingin, menutupi wajahnya yang sangat panas dengan kedua tangannya. "Arga berengsek! Gue mau pindah kosan aja besok!"
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!