Bab 14: Saat Dinding Runtuh
Aurora mematung di balik pintu kayu kamarnya yang tipis. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat daripada ketukan di pintunya, bahkan lebih bising dari suara petir yang baru saja menggelegar di langit Jakarta. Di satu sisi, kamarnya sudah mirip kolam ikan dadakan karena kebocoran atap yang makin brutal. Di sisi lain, cowok yang selama tiga hari ini dia hindari setengah mati kini berdiri tepat di depan pintunya, kedengaran sangat khawatir.
"Ra? Lo di dalem, kan? Buka dulu pintunya, Ra. Suara barang jatoh tadi kenceng banget, lo nggak papa?" panggil Arga lagi. Suara beratnya terdengar agak serak, bersaing dengan deru hujan deras di luar.
Aurora menggigit bibir bawahnya frustrasi. Mau tidak mau, dia harus membuka pintu ini. Tidak mungkin dia membiarkan Arga terus berteriak di koridor kosan, bisa-bisa mereka diamuk penghuni kamar lain karena berisik.
Dengan tangan gemetar, Aurora memutar kunci pintu lalu membukanya sedikit.
Begitu pintu terbuka, sosok Arga yang memakai kaus hitam polos dan celana pendek abu-abu langsung menyapa pandangannya. Rambut cowok itu agak berantakan, khas orang yang baru bangun tidur atau sedang bersant** di kamar. Begitu matanya menangkap sosok Aurora yang basah kuyup karena cipratan air hujan, dahi Arga langsung berkerut dalam.
"Ya ampun, Ra... ini kamar lo keba****an?" tanya Arga kaget, matanya langsung menerobos ma**k ke dalam kamar Aurora yang berantakan.
"I-iya, Kak. Atapnya bocor parah banget, langsung jebol pas hujan deres tadi," jawab Aurora gugup, tangannya meremas lap basah yang dipegangnya sejak tadi.
Tanpa meminta izin lagi, Arga langsung melangkah ma**k ke dalam kamar. Matanya membelalak saat melihat air yang mengalir deras dari langit-langit, tepat menghantam sudut ka**r busa Aurora.
"Ka**r lo harus digeser lagi. Sini, gue bantuin," kata Arga tanggap. Dia langsung berjalan mendekati ka**r busa yang c**up tebal itu.
"Eh, nggak usah, Kak! Gue bisa sendiri kok, tadi udah gue geser dikit—"
"Geser dikit doang nggak bakal c**up, Ra. Ini aliran airnya melebar," potong Arga cepat. Tanpa banyak bicara, Arga langsung meraih ujung ka**r dan menariknya dengan satu sentakan kuat ke sudut kamar yang benar-benar kering, dekat dengan lemari pakaian.
Aurora cuma bisa melongo melihat kemudahan Arga memindahkan barang seberat itu. Tenaga cowok memang beda, batinnya.
"Embernya mana lagi? Ini nggak c**up kalau cuma pakai satu wadah," tanya Arga, matanya menyapu sekeliling lant** kamarnya yang mulai tergenang air tipis.
"Itu... di deket meja belajar. Tadi gue nggak sengaja nyenggol meja pas ngambil ember, makanya barang-barang pada jatoh," jelas Aurora dengan suara pelan, merasa agak bersalah karena kamarnya sekacau ini.
Arga berjalan mendekati meja belajar Aurora. Dia mengambil ember hitam yang tadi sempat ditendang Aurora hingga menggelinding, lalu meletakkannya tepat di bawah titik kebocoran terbesar. Bunyi *ting-ting-ting* air yang menghantam dasar ember plastik langsung menggema di dalam ruangan yang sempit itu.
"Buku-buku kuliah lo basah semua nih, Ra," ujar Arga sambil berlutut di dekat meja belajar. Tangannya mulai memunguti beberapa buku tebal dan map kertas yang berserakan di lant** yang basah.
"Hah? Serius?!" Aurora langsung panik lagi. Dia ikut berlutut di sebelah Arga, buru-buru memunguti buku catatan kuliahnya yang kertasnya mulai mengembang karena menyerap air. "Aduh, mampus... ini catatan buat kuis minggu depan."
"Sini, biar gue yang lap sampulnya pakai tisu. Lo mending ambil lap pel atau ember kosong lagi di luar buat ngeringin lant**nya," usul Arga tanpa menatap Aurora, fokus mengeringkan salah satu buku tebal dengan tisu yang dia ambil dari meja.
"O-oh, oke. Gue ambil lap pel dulu di kamar mandi luar ya, Kak. Makasih banyak," ucap Aurora gugup. Dia langsung bangkit berdiri dan setengah berlari keluar kamar menuju kamar mandi komunal di ujung lorong lant** dua.
Di dalam kamar mandi, Aurora buru-buru memeras kain pel dengan napas memburu. Kepalanya mendadak pening. Semua ini terlalu mendadak. Kamarnya bocor, dan sekarang Arga—cowok yang paling ingin dia hindari—malah ada di dalam kamarnya, membantunya dengan sangat sant**.
"Tenang, Aurora. Tarik napas, buang," bisik Aurora pada dirinya sendiri di depan cermin kamar mandi. "Dia cuma tetangga kos yang baik hati. Lo tinggal beresin ini, bilang makasih, terus kelar. Nggak usah baper."
Setelah merasa detak jantungnya agak normal, Aurora membawa ember cadangan dan tongkat pel kembali ke kamarnya. Dia berharap bisa segera menyelesaikan kekacauan ini dan kembali ke mode *Arga-avoidance-project*-nya yang aman.
Namun, begitu Aurora melangkah melewati ambang pintu kamarnya, seluruh tubuhnya mendadak membeku. Kakinya serasa dipaku ke lant**, dan ember di tangan kirinya hampir saja terlepas dari genggaman.
Arga masih berdiri di dekat meja belajarnya. Tapi cowok itu tidak lagi sibuk mengelap buku kuliahnya.
Arga sedang berdiri tegak, memegang selembar kertas foto berukuran instax polaroid di tangan kanannya. Foto itu adalah benda yang selama ini disimpan Aurora di dalam lipatan paling dalam dari buku harian berkunci miliknya—buku harian yang tampaknya ikut terjatuh dan terbuka saat meja belajarnya tersenggol tadi.
Foto itu menampilkan sosok Arga dari samping. Foto *candid* yang diambil Aurora secara diam-diam saat mereka sedang berada di perpustakaan kampus semester lalu. Di foto itu, Arga sedang tertidur berbantalkan lengannya dengan sinar matahari sore yang menerpa wajahnya, membuatnya terlihat sangat tampan. Di sudut kanan bawah foto tersebut, ada coretan spidol merah muda berbentuk hati yang digambar dengan rapi, lengkap dengan tulisan tangan Aurora yang sangat jelas:
*"My Favorite Human, Kak Arga. Kapan ya bisa sedeket ini?"*
Dunia Aurora serasa runtuh seketika saat itu juga.
Suara gemuruh hujan di luar mendadak senyap di telinganya. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah detak jantungnya yang berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Rasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya, digantikan oleh gelombang rasa panas yang membakar pipinya.
Arga menatap foto itu dengan kening berkerut dalam, ekspresi wajahnya campur aduk antara bingung dan terkejut. Perlahan, dia memutar tubuhnya untuk menghadap Aurora yang masih mematung di dekat pintu.
"Ra..." suara Arga terdengar pelan, hampir tenggelam oleh suara rintik hujan, tapi terasa seperti hantaman keras di dada Aurora. "Ini... foto gue?"
Aurora tidak bisa menjawab. Tenggorokannya mendadak terkunci rapat, menyisakan rasa perih yang menjalar. Matanya menatap foto di tangan Arga dengan horor, lalu beralih menatap wajah cowok itu.
Dia tertangkap basah. Sepenuhnya terbongkar.
Semua rahasia yang dia simpan rapat-rapat selama berbulan-bulan, semua rasa kagum yang dia pendam dalam diam, dan alasan konyol kenapa dia selalu salah tingkah setiap kali berpapasan dengan Arga di kosan... semuanya te******* di depan mata cowok itu sekarang.
"Lo... yang ngambil foto ini?" tanya Arga lagi, suaranya sangat hati-hati, seolah takut salah bicara. "Di perpus waktu itu?"
Rasa malu yang teramat sangat, yang belum pernah Aurora rasakan seumur hidupnya, mendadak membumbung tinggi. Harga dirinya hancur berkeping-keping di lant** kamarnya yang basah. Pikiran-pikiran buruk langsung menyerbu otaknya tanpa ampun. *Arga pasti mikir gue cewek aneh. Dia pasti mikir gue stalker g*** yang menyeramkan. Dia bakal jijik sama gue.*
Air mata yang sejak tadi ditahannya karena panik menghadapi kebocoran kamar, kini tumpah begitu saja tanpa bisa dibendung. Setitik demi setitik air mata mengalir deras membasahi pipi Aurora yang memerah padam.
"Jangan liat!" jerit Aurora tiba-tiba, suaranya pecah oleh tangisan yang tertahan.
Arga tersentak kaget mendengar teriakan Aurora. Dia refleks mundur selangkah. "Ra, gue cuma—"
"Gue bilang jangan liat, Kak!" Aurora menjatuhkan ember dan pelan yang dipegangnya begitu saja ke lant**. Dia menerjang maju dengan langkah tidak sabar, merebut foto itu dari tangan Arga dengan kasar.
Begitu foto itu berhasil dia rebut, Aurora langsung meremasnya di dalam genggaman tangannya, menyembunyikannya di balik punggung seolah tindakan itu bisa menghapus kenyataan bahwa Arga sudah melihat semuanya. Napas Aurora memburu, dadanya naik turun dengan tidak teratur seiring dengan isak tangisnya yang makin kencang.
"Ra, tenang dulu. Gue nggak bermaksud lancang lancang buka buku lo," kata Arga dengan nada panik, mencoba melangkah mendekat untuk menenangkan Aurora yang tampak sangat terguncang. "Buku lo tadi jatoh terbuka pas gue mau pindahin, terus foto ini keluar sendiri—"
"Pergi, Kak," potong Aurora lirih. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan rambut panjangnya yang agak basah menutupi wajahnya yang kini sembap dan merah. Dia benar-benar tidak sanggup menatap mata Arga. Dia terlalu malu, terlalu hancur untuk sekadar melihat bayangan cowok itu di depannya.
"Ra, kita bisa ngomongin ini baik-baik. Gue nggak mikir yang aneh-aneh—"
"GUE BILANG PERGI!" teriak Aurora histeris. Tangisannya pecah sepenuhnya. Bahunya berguncang hebat karena isakan yang begitu menyesakkan dada. "Keluar dari kamar gue sekarang, Kak! Tolong..."
Arga terdiam seketika. Kata-kata yang hendak diucapkannya tertahan di tenggorokan. Dia menatap Aurora yang kini menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis sesenggukan seolah dunianya baru saja kiamat.
Ekspresi wajah Arga seketika berubah menjadi sangat sulit dibaca. Ada rasa bersalah yang teramat sangat terpancar dari matanya yang tajam, bercampur dengan kebingungan dan keterkejutan yang mendalam. Dia memandang tangan Aurora yang masih menggenggam erat foto instax yang kini sudah lecek di balik punggungnya.
Melihat Aurora yang begitu defensif dan histeris, Arga akhirnya menghela napas panjang. Dia sadar, kehadirannya di sini saat ini justru memperburuk keadaan.
"Oke. Gue keluar," kata Arga pelan. Suaranya terdengar sangat tenang, namun ada nada dingin yang tidak biasa di sana.
Arga berbalik, melangkahi genangan air di lant**, dan berjalan menuju pintu kamar. Dia sempat berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh ke belakang untuk menatap punggung Aurora yang masih berguncang karena tangis, sebelum akhirnya melangkah keluar.
Pintu kamar ditutup dari luar dengan sangat perlahan, menyisakan suara klik yang terdengar begitu final di telinga Aurora.
Begitu pintu tertutup rapat, pertahanan Aurora runtuh sepenuhnya. Lututnya mendadak lemas bagaikan jeli. Dia merosot jatuh ke lant** kamarnya yang dingin dan basah, mengabaikan fakta bahwa celananya kini ikut kotor terkena genangan air.
Aurora meringkuk di lant**, memeluk lututnya erat-erat, dan menumpahkan seluruh tangisnya di sana. Kamar kosnya yang berantakan, ka**rnya yang basah di sudut ruangan, dan ember yang mulai penuh oleh air hujan seolah menjadi saksi bisu kehancuran hatinya sore itu.
Di dalam genggamannya, foto instax yang sudah berkerut itu didekapnya erat di dada.
"Kenapa harus kayak gini..." gumam Aurora lirih di sela isak tangisnya yang memilukan.
Dia menyesal setengah mati. Menyesal kenapa dia tidak menyimpan buku harian itu di tempat yang lebih aman. Menyesal kenapa dia membiarkan Arga ma**k ke kamarnya. Menyesal kenapa dia harus memiliki perasaan sepihak ini pada cowok di sebelah kamarnya.
Kini, dinding rahasia yang dia bangun dengan susah payah selama berbulan-bulan telah runtuh sepenuhnya tanpa menyisakan apa pun selain rasa malu yang teramat sangat. Dan yang paling menakutkan bagi Aurora adalah kenyataan bahwa setelah hari ini, segalanya di antara dia dan Arga tidak akan pernah sama lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!