**Bab 15: Obrolan Larut Malam Tanpa Sekat**
Suara rintik sisa hujan di luar berubah menjadi latar belakang yang monoton dan sunyi. Jam dinding di kamar Aurora menunjukkan pukul dua pagi. Di sudut kamarnya yang sekarang terasa jauh lebih sempit karena posisi ka**r busa yang digeser paksa demi menghindari kebocoran, Aurora meringkuk. Dia memeluk lututnya sendiri erat-erat, membiarkan air matanya mengalir tanpa suara, membasahi permukaan daster katun tipis yang dikenakannya.
Dia merasa sangat lelah. Lelah karena seharian ini pikirannya kacau balau, ditambah insiden kamar bocor yang membuatnya kelabakan setengah mati beberapa jam lalu, dan yang paling parah: rasa bersalah sekaligus malu yang luar biasa kepada cowok di kamar sebelah.
Arga.
Bagaimana mungkin dia bisa begitu ceroboh? Gara-gara terburu-buru menggeser meja belajar saat hujan badai tadi, kotak penyimpanan kecil miliknya jatuh dan terbuka. Dan dari sekian banyak barang yang bisa tercecer, kenapa harus foto polaroid itu yang jatuh tepat di dekat kaki Arga? Foto candid Arga yang sedang tertidur di selasar kosan beberapa minggu lalu, yang diam-diam Aurora ambil dan simpan seperti seorang penguntit.
Aurora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Mengingat bagaimana tatapan mata Arga saat memungut foto itu tadi membuat dadanya terasa sesak. Arga pasti berpikir kalau dia adalah cewek aneh, cewek tidak tahu diri yang diam-diam memotretnya.
*Tok. Tok. Tok.*
Ketukan itu terdengar sangat pelan, seolah si pengetuk sangat berhati-hati agar tidak membangunkan penghuni kosan lainnya yang sudah terlelap.
Aurora menahan napasnya. Dia buru-buru menghapus sisa air mata di pipinya menggunakan ujung kaus, lalu berbisik pada diri sendiri, "Siapa malam-malam begini?"
"Ra? Lo belum tidur, kan?"
Suara berat yang agak serak itu terdengar di balik pintu kayu yang tipis. Itu suara Arga. Lembut, tapi sangat jelas membelah keheningan malam.
Jantung Aurora langsung berpacu cepat. Dia ragu-ragu sejenak. Ingin rasanya dia pura-pura sudah tidur, tapi suara isak tangisnya yang tertahan tadi mungkin saja terdengar sampai ke luar. Dengan langkah lambat dan perasaan campur aduk, Aurora berdiri, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu memutar kunci pintu.
Begitu pintu terbuka beberapa sentimeter, aroma gurih yang sangat familier dan menggugah selera langsung menusuk hidungnya.
Arga berdiri di sana. Dia masih memakai kaus hitam polos yang sama dengan yang dipakainya saat membantu Aurora tadi, tapi kali ini di kedua tangannya ada dua cup mi instan yang masih mengepulkan uap hangat. Lengkap dengan garpu plastik yang menusuk bagian tutupnya agar uapnya tidak keluar.
"Gue tebak lo belum tidur. Dan gue tebak lo laper karena dari sore belum makan," kata Arga, menyunggingkan senyum tipis yang langsung membuat pertahanan Aurora goyah.
"Kak Arga... kok belum tidur?" tanya Aurora, berusaha keras agar suaranya tidak terdengar sengau. Namun, usahanya sia-sia. Suaranya terdengar sangat serak khas orang yang baru saja menangis habis-habisan.
Arga menaikkan sebelah alisnya. Matanya yang tajam langsung menangkap mata Aurora yang sembap dan ujung hidungnya yang memerah. Alih-alih bertanya atau meledek, Arga justru bersikap sangat tenang dan sopan, seolah-olah tidak ada yang aneh dengan penampilan Aurora saat ini.
"Boleh ma**k? Di koridor dingin banget, dan mi gue bisa keburu lembek kalau kita ngobrol di depan pintu," ujar Arga sant**.
Aurora refleks mundur selangkah, memberi ruang. "Ah, iya... ma**k aja, Kak."
Arga melangkah ma**k ke dalam kamar Aurora yang kini terasa lebih sempit. Sisa-sisa genangan air di lant** sudah kering karena dilap tadi, tapi ember hitam di sudut kamar masih sesekali mengeluarkan bunyi *ting... ting... ting...* akibat tetesan air dari langit-langit yang belum sepenuhnya reda.
Menolak untuk duduk di atas ka**r tunggal milik Aurora demi menjaga kesopanan, Arga langsung melipat kakinya dan duduk bersila di atas lant** ubin yang dingin. Dia menepuk ubin di sebelahnya yang masih kosong.
"Sini, duduk. Nggak usah formal-formal amat kayak lagi sidang skripsi," ajak Arga, berusaha mencairkan suasana yang kaku.
Aurora akhirnya ikut duduk di lant**, melipat kakinya dengan canggung dan menjaga jarak sekitar setengah meter dari Arga. Jarak mereka terasa sangat dekat di dalam ruangan sekecil ini, hanya terhalang oleh dua cup mi instan yang diletakkan Arga di antara mereka.
"Ini buat lo. Rasa soto, kan? Gue inget lo pernah bilang kalau lo nggak terlalu suka rasa kari karena terlalu pekat," kata Arga, menyodorkan salah satu cup mi hangat itu ke hadapan Aurora.
Aurora menerima cup plastik itu. Rasa hangat yang menjalar ke telapak tangannya yang dingin terasa sangat menenangkan. "Makasih, Kak. Tapi... gue sebenernya nggak laper-laper banget."
"Makan aja dikit, Ra. Biasanya kalau habis nangis, energi kita terkuras banyak. Butuh a**pan karbohidrat biar kepalanya nggak pusing," sahut Arga tanpa menoleh, sibuk membuka tutup mi instannya sendiri dan mulai mengaduknya.
Aurora langsung membeku. Dia menunduk dalam-dalam, menatap mi instannya dengan perasaan panik. Ternyata penyamarannya gagal total. "Gue... gue nggak nangis kok. Cuma kelilipan debu tadi pas beres-beres."
Arga terkekeh pelan. Suara kekehannya yang renyah dan berat terdengar sangat menyenangkan di kamar yang sunyi itu. "Ra, lo itu tipe orang yang kalau bohong kelihatan banget dari cara lo meremas ujung daster lo. Dan mata lo... udah kayak panda yang habis begadang seminggu. Jadi, nggak usah gengsi di depan gue."
Aurora menggigit bibir bawahnya, merasa makin ciut. Dia mengaduk mi instannya perlahan, sementara pikirannya kembali melayang ke masalah foto polaroid yang sejak tadi menyiksa batinnya.
"Soal foto itu..."
*Uhuk!* Aurora tersedak ludahnya sendiri bahkan sebelum dia sempat menyuapkan mi ke dalam mulutnya. Dia langsung terbatuk-batuk kecil dengan muka yang memerah padam karena malu dan kaget.
"Eh, pelan-pelan. Nih, minum dulu," kata Arga sigap, menyodorkan botol air mineral dingin yang sengaja dia bawa dari kamarnya.
Setelah minum beberapa teguk dan menenangkan detak jantungnya, Aurora memberanikan diri untuk menatap mata Arga, meski dengan perasaan bersalah yang luar biasa. "Kak Arga... gue bener-bener minta maaf. Soal foto polaroid yang jatuh tadi... gue nggak bermaksud lancang atau bersikap aneh. Gue cuma... gue cuma iseng foto Kak Arga pas kita lagi ngerjain tugas kelompok di selasar bulan lalu. Gue tahu itu kedengarannya creepy banget. Maaf kalau Kak Arga merasa risih atau terganggu. Gue bakal langsung buang fotonya kalau Kak Arga mau."
Aurora berbicara dengan sangat cepat, seperti kereta ekspres yang tidak memiliki rem, saking takutnya dia kalau Arga akan membencinya setelah malam ini.
Arga diam mendengarkan. Dia menatap Aurora dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat keheningan di antara mereka terasa semakin menegangkan. Namun, detik berikutnya, helaan napas panjang yang terdengar lega keluar dari bibir cowok itu.
"Siapa yang bilang kalau gue merasa terganggu, Ra?" tanya Arga pelan.
Aurora mengerjapkan matanya, bingung. "Hah?"
"Gue nggak merasa terganggu sama sekali," ulang Arga. Dia meletakkan cup mi instannya yang baru dimakan beberapa suap ke lant**, lalu memutar posisi duduknya agar bisa berhadapan langsung dengan Aurora. "Malah... pas gue liat foto itu tadi pas jatuh, gue ngerasa tersanjung."
"Tersanjung? Kakak nggak marah?" tanya Aurora dengan nada tidak percaya.
"Buat apa gue marah?" Arga tersenyum kecil, pandangannya agak menerawang ke depan. "Di foto itu, gue kelihatan... hidup. Biasanya kalau gue ngaca, gue cuma liat cowok yang capek, kusam, dengan tatapan mata yang kosong karena kurang tidur. Tapi di foto yang lo ambil secara diam-diam itu, gue kelihatan kayak cowok yang lagi sant** dan... bahagia. Lo pinter banget ambil angle-nya, atau emang karena lo yang ngambil, makanya foto itu kelihatan beda?"
Kalimat terakhir Arga membuat jantung Aurora melakukan lompatan ekstrem di dalam dadanya. Pipinya seketika terasa sangat panas, dan dia yakin wajahnya kini sudah sewarna kepiting rebus. "Kak... jangan bercanda, deh. Gue lagi serius minta maaf ini."
"Gue juga lagi serius, Aurora," kata Arga dengan nada suara yang melembut, kehilangan semua kesan cuek dan dingin yang biasa dia tunjukkan di kampus atau di depan anak-anak kosan lain.
Arga menyandarkan punggungnya ke dinding kamar Aurora, lalu meluruskan kedua kakinya yang panjang. Matanya menatap langit-langit kamar yang basah karena rembesan air.
"Lo tahu kan kalau gue punya insomnia yang c**up parah?" tanya Arga tiba-tiba, mengalihkan topik pembicaraan.
Aurora mengangguk pelan. "Iya. Kakak-kakak kos lain juga sering bilang kalau lampu kamar Kak Arga sering banget nyala semalaman sampai pagi."
"Insomnia ini bukan karena gue hobi begadang buat main game atau kebanyakan minum kopi, Ra. Ini bawaan dari beberapa tahun lalu, pas gue masih di tingkat satu kuliah," Arga menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan sesuatu yang selama ini dia simpan rapat-rapat.
"Waktu itu, tekanan kuliah lagi tinggi-tingginya. Ditambah ekspektasi dari bokap dan nyokap yang selalu nuntut gue harus jadi yang terbaik di keluarga. Di saat yang sama, gue kehilangan sahabat terdekat gue karena kecelakaan motor yang tragis. Semua masalah itu datang barengan, numpuk di kepala gue sampai rasanya mau pecah. Sejak saat itu, setiap kali gue memejamkan mata di tempat tidur yang sepi, kepala gue langsung berisik banget. Kayak ada ratusan suara yang nge-judge gue, yang nyalahin gue atas semua hal yang terjadi."
Aurora mendengarkan cerita itu dengan saksama, menahan napasnya karena terkejut. Dia tidak pernah menyangka kalau cowok se-cool, se-pintar, dan se-kalem Arga menyimpan trauma dan beban mental seberat itu di dalam kepalanya yang jenius.
"Gue benci keheningan malam," lanjut Arga, suaranya terdengar agak lirih. "Karena di saat semua orang di sekitar gue tidur, gue merasa sendirian banget di dunia ini. Rasanya hampa, sepi, dan menakutkan. Makanya gue sengaja nyalain musik keras-keras pakai headphone, atau belajar sampai pagi biar otak gue capek dan akhirnya pingsan sendiri karena kelelahan."
"Terus... sekarang gimana, Kak?" tanya Aurora dengan tulus, matanya menatap Arga dengan rasa empati yang mendalam.
Arga menoleh ke arah Aurora, menatap mata cewek itu dengan senyuman hangatβsenyuman tulus yang belum pernah dia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya di kosan ini.
"Sekarang udah jauh lebih baik. Sejak lo pindah ke kamar sebelah."
Aurora mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa salah dengar. "Sejak... gue pindah? Maksudnya?"
"Dinding kamar kos kita ini kan tipis banget, Ra. Hampir nggak ada gunanya buat meredam suara," kata Arga sambil terkekeh pelan. "Di awal lo baru pindah ke sini, gue sempat mikir, 'Aduh, dapet tetangga kamar yang berisik banget nih'. Tapi ternyata gue salah."
Aurora meringis malu, teringat kebiasaan-kebiasaannya di dalam kamar. "Maaf ya, Kak. Gue emang agak grasak-grusuk orangnya."
"Nggak, jangan minta maaf," potong Arga cepat. "Justru suara-suara dari kamar lo itu yang menyelamatkan gue selama beberapa bulan terakhir ini."
Aurora mengernyitkan dahinya bingung. "Menyelamatkan gimana?"
"Setiap malam, pas pikiran gue mulai berisik dan gue mulai overthinking, gue denger suara lo. Kadang lo lagi nyanyi-nyanyi gak jelas dengan suara lo yang agak fals pas lagi dengerin Spotify..."
"Ih! Suara gue nggak fals ya, Kak!" protes Aurora spontan, memotong kalimat Arga sambil memanyunkan bibirnya kesal.
Arga tertawa lepas mendengarnya, suara tawa yang begitu lepas hingga matanya menyipit indah. "Iya, iya, anggap aja merdu kayak penyanyi indie. Terus, kadang gue denger suara lo yang lagi ngomel-ngomel sendiri gara-gara tugas kuliah yang susah, atau suara langkah kaki lo yang mondar-mandir karena bingung mau milih menu makanan di ojek online. Bahkan, gue bisa denger suara ka**r lo yang berdecit pas lo lagi gelisah bolak-balik badan."
Arga mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah Aurora, membuat Aurora bisa mencium wangi maskulin khas parfum Arga yang bercampur dengan aroma mi instan hangat.
"Suara-suara malam dari kamar lo itu... bikin gue sadar kalau gue nggak sendirian. Ada kehidupan di sebelah gue. Ada orang lain yang juga lagi berjuang ngelewatin malamnya yang panjang. Lama-lama, suara dari kamar lo itu jadi semacam terapi yang menenangkan buat gue. Gue baru bisa tidur nyenyak setelah denger kamar lo sunyi, karena itu artinya tetangga gue yang berisik ini udah tidur dengan tenang."
Aurora terpaku di tempatnya. Matanya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena rasa sedih atau malu, melainkan karena rasa hangat yang luar biasa yang langsung menjalar dan memenuhi seluruh dadanya. Dia tidak pernah menyangka kalau keberadaannya yang selama ini dia pikir selalu merepotkan orang lain, justru menjadi penenang dan penyelamat bagi malam-malam sepi seorang Arga.
"Gue... gue nggak pernah tahu kalau suara-suara berisik gue se-berarti itu buat Kak Arga," bisik Aurora dengan suara bergetar.
"Sangat berarti, Ra," balas Arga dengan tatapan mata yang begitu dalam dan teduh. "Makanya, pas belakangan ini lo mulai ngehindarin gueβterutama setelah insiden foto ituβgue ngerasa kehilangan banget. Kamar sebelah rasanya sepi, hampa, dan dingin lagi. Dan jujur aja, insomnia gue sempat balik lagi selama beberapa hari ini gara-gara lo nggak bersuara."
Aurora menatap Arga dengan rasa bersalah yang kini berganti menjadi rasa haru. "Maaf... gue bener-bener nggak bermaksud bikin Kak Arga kayak gitu. Gue cuma takut Kak Arga bakal risih dan benci sama gue setelah tahu soal foto itu."
"Gue nggak akan pernah bisa benci sama lo, Aurora," kata Arga dengan nada yang sangat lembut namun penuh keyakinan.
Secara perlahan dan ragu-ragu sejenak, tangan kanan Arga terangkat. Dia mendaratkan telapak tangannya di atas kepala Aurora, lalu mengacak rambut cewek itu dengan pelan dan penuh kasih sayang.
Sentuhan tangan Arga di kepalanya membuat seluruh tubuh Aurora mendadak kaku, tapi dalam artian yang sangat menyenangkan. Jantungnya berdegup begitu kencang, menciptakan simfoni manis yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri di tengah keheningan malam yang larut ini.
Aurora akhirnya tersenyum lebar, menghapus sisa air mata terakhir di sudut matanya dengan punggung tangan, lalu mengangguk mantap. "Oke, Kak. Janji, gue nggak bakal ngehindar atau sok cuek lagi kalau ketemu Kak Arga."
"Nah, gitu dong. Senyum kan lebih cocok di muka lo daripada muka cemberut kayak tadi," sahut Arga sambil menarik kembali tangannya dari kepala Aurora, meski tampak ada sedikit rasa enggan di wajahnya. "Sekarang, habisin mi lo. Keburu dingin dan makin lembek nanti."
"Kak Arga juga harus habisin mi-nya!" tantang Aurora, mulai kembali ke sifat aslinya yang ceria.
"Iya, bawel. Ini juga mau dimakan," sahut Arga dengan senyum geli yang menghiasi wajah tampannya.
Malam itu, di dalam kamar kos sederhana yang atapnya masih sedikit meneteskan sisa air hujan ke dalam ember plastik, sebuah dinding pembatas tak kasat mata di antara mereka telah runtuh sepenuhnya. Obrolan larut malam yang mengalir tanpa sekat itu tidak hanya berhasil mengeringkan air mata ketakutan Aurora, tetapi juga perlahan-lahan mulai menyembuhkan dan menghangatkan malam-malam sepi Arga yang selama ini terasa begitu dingin dan panjang.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!