Malam itu, di kamar kos yang sempit dan berbau mi instan kuah soto, semua tembok pertahanan yang dibangun Aurora runtuh begitu saja.
Ketika Arga menyodorkan cup mi instan hangat dengan senyum tipis yang begitu tulus, Aurora tidak bisa lagi menahan air matanya. Tangisnya pecah. Namun, alih-alih merasa risih, Arga justru meletakkan mi instan itu di atas meja belajar, lalu menarik pelan pundak Aurora ke dalam dekapannya. Hangat, nyaman, dan seketika menenangkan semua badai yang sejak sore bergemuruh di dalam dada Aurora.
Di sela-sela isaknya, Aurora akhirnya berani jujur soal foto polaroid yang terjatuh itu. Dengan wajah merah padam karena malu, dia mengakui semuanya. Bahwa dia diam-diam sering memperhatikan Arga dari balik jendela, bahwa dia menyukai wangi parfum Arga yang tertinggal di selasar, dan bahwa dia mengambil foto itu karena Arga terlihat sangat tenang saat tertidur.
Arga tidak marah. Cowok itu justru terkekeh pelan, mengacak rambut Aurora dengan gemas.
"Kenapa musti nangis? Harusnya lo seneng dong, model foto lo seganteng ini," canda Arga malam itu, berusaha mencairkan suasana. "Lagian, Ra... lo nggak perlu repot-repot ambil foto gue diem-diem lagi mulai sekarang. Karena orangnya udah resmi jadi milik lo."
Kalimat itu mengubah segalanya. Tidak ada lagi kontrak pacaran pura-pura yang mereka tulis di atas selembar kertas binder robek. Tidak ada lagi aturan-aturan konyol untuk menghindari baper. Malam itu, di bawah temaram lampu kamar kosan, mereka sepakat untuk memulai segalanya dengan nyata. Tanpa rahasia, tanpa sekat, dan tanpa kepura-puraan.
***
Tiga minggu berlalu sejak malam yang emosional itu, dan seisi kampus sukses dibuat gempar.
Hubungan Aurora dan Arga yang awalnya dikira banyak orang hanya sekadar rumor atau hubungan tanpa status yang abu-abu, kini benar-benar bertransformasi menjadi *relationship goals* nomor satu di area kampus. Arga yang biasanya dikenal sebagai senior cuek, irit bicara, dan dingin kepada perempuan, mendadak berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sosok pacar yang luar biasa perhatian.
"Lihat deh, pasangan hits kosan sebelah makin hari makin nggak tahu tempat ya kalau mau pamer kemesraan," goda Sisil, sahabat Aurora, sambil menopang dagunya di meja kantin fakultas. Matanya melirik ke arah gerbang kantin.
Aurora yang sedang menyedot es teh manisnya langsung tersedak pelan. Dia mengikuti arah pandang Sisil dan mendapati Arga berjalan mendekat dengan jaket denim yang tersampir di satu bahunya. Di tangan kanannya, Arga membawa satu botol susu stroberi dingin kesukaan Aurora.
"Kebiasaan, makannya buru-buru banget," tegur Arga begitu sampai di meja mereka. Tanpa ragu, dia duduk di sebelah Aurora dan langsung mengulurkan tisu untuk mengusap sudut bibir cewek itu yang sedikit kotor terkena saos siomay.
Wajah Aurora langsung memanas. Meskipun sudah tiga minggu berpacaran secara resmi, sentuhan-sentuhan kecil dan perhatian langsung dari Arga masih selalu sukses membuat jantungnya berdegup tidak karuan.
"Kak Arga kok ke sini? Bukannya tadi ada kelas asistensi di lab?" tanya Aurora, berusaha mengalihkan perhatian dari tatapan menggoda Sisil yang setengah mati menahan tawa.
"Udah selesai dari sepuluh menit yang lalu. Makanya gue langsung ke sini," jawab Arga sant**. Dia membuka tutup botol susu stroberi itu lalu meletakkannya di depan Aurora. "Nih, diminum. Biar nggak keselek lagi."
Sisil berdeham sangat keras, pura-pura batuk. "Aduh, tenggorokan gue mendadak gatel banget ya. Kayaknya di sini oksigennya agak berkurang karena terlalu banyak kandungan kemanisan. Tolong, dong, yang jomblo di sini butuh ambulans!"
Arga hanya terkekeh pelan mendengar sindiran Sisil. Dia menatap Sisil dengan sant**. "Makanya, Sil, cepet cari pacar. Biar nggak usah numpang dengerin kemanisan orang lain."
"Heh! Sombong amat ya mentang-mentang udah nggak jomblo!" sahut Sisil sambil melempar gulungan tisu bekas ke arah Arga, yang dengan mudah ditangkap oleh cowok itu sambil tertawa.
Aurora hanya bisa menyembunyikan senyumnya di balik botol susu stroberi. Rasanya masih seperti mimpi. Cowok yang dulu sangat dia segani, cowok galak yang sering protes karena dia menyalakan musik terlalu keras di kamar sebelah, sekarang duduk di sampingnya, menggenggam tangannya di bawah meja kantin, memberikan kehangatan yang nyata.
Saat mereka berjalan menyusuri koridor kampus sore itu, Arga dengan sant** mengambil alih tas *tote bag* kanvas milik Aurora yang tampak berat karena membawa beberapa buku referensi tebal.
"Kak, nggak usah. Aku bisa bawa sendiri, kok. Malu dilihatin orang-orang," bisik Aurora setengah protes, mencoba menarik kembali tali tasnya.
Arga tidak melepaskannya. Dia justru merangkul bahu Aurora dengan erat, membawa cewek itu berjalan lebih dekat di sisinya. "Biarin aja orang-orang ngelihatin. Emang kenapa kalau gue bawain tas pacar sendiri? Lagian, bahu kecil kayak gini jangan dipaksa bawa beban berat. Biar gue aja yang bawa."
Beberapa mahasiswi tingkat satu yang kebetulan lewat di koridor itu tampak berbisik-bisik sambil menatap mereka dengan tatapan iri yang tidak disembunyikan. Aurora hanya bisa menunduk, menyembunyikan senyum lebarnya yang tidak bisa ditahan. Bahagia itu sederhana, pikirnya. C**up dengan merasa dijaga dan dihargai oleh orang yang kita sayangi.
***
Malam harinya, suasana kosan terasa begitu tenang. Jam dinding di kamar Aurora sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Di luar, angin malam berembus pelan, menggoyang dedaunan pohon mangga yang tumbuh di halaman depan kosan.
Aurora baru saja menyelesaikan draf tugas makalahnya. Dia meregangkan kedua tangannya ke atas, mengembuskan napas lega. Tugas yang menyiksanya sejak kemarin akhirnya selesai juga.
Dia merebahkan tubuhnya di atas ka**r busa yang kini posisinya sudah kembali ke tempat semulaβkarena atap kamarnya yang bocor tempo hari sudah selesai diperbaiki oleh pemilik kosan. Suasana sunyi malam itu membuat pikirannya kembali melayang pada memori beberapa minggu terakhir.
Dulu, dinding kamar yang memisahkan kamarnya dengan kamar Arga terasa seperti pembatas yang sangat kokoh. Dinding semen tipis bercat putih yang sedikit kusam itu sering kali menjadi saksi bisu kekesalan mereka satu sama lain. Ketukan di dinding dulunya adalah sebuah protesβsinyal kemarahan karena suara berisik atau musik yang diputar terlalu keras.
Namun kini, makna dari ketukan itu telah sepenuhnya berubah.
Aurora menatap dinding di sebelah kanannya. Kamar Arga berada tepat di balik dinding itu. Dia tahu Arga juga belum tidur, karena dia masih bisa mendengar lamat-lamat suara petikan gitar akustik yang dimainkan dengan sangat pelan dari sebelah. Arga sedang memainkan melodi lagu favorit mereka.
Aurora tersenyum. Dia membalikkan badannya menghadap dinding tersebut.
Tiba-tiba, suara petikan gitar di sebelah berhenti. Suasana menjadi benar-benar hening selama beberapa saat.
Kemudian...
*Tok.*
Satu ketukan terdengar di dinding. Lambat dan jelas.
Aurora menahan napasnya, menunggu kelanjutannya dengan senyum yang mulai merekah di bibirnya.
*Tok-tok.*
Dua ketukan cepat menyusul.
*Tok-tok-tok.*
Tiga ketukan terakhir menutup rangkaian suara itu.
Itu adalah kode khusus yang mereka buat beberapa hari yang lalu saat mengobrol di teras kosan. Sebuah kode rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Satu ketukan di awal, disusul dua ketukan cepat, dan diakhiri dengan tiga ketukan beruntun. Artinya: *Aku sayang kamu.*
Dada Aurora seketika dipenuhi oleh perasaan hangat yang luar biasa. Jantungnya berdebar manis, menciptakan sensasi menggelitik yang menyenangkan di dalam perutnya. Sungguh luar biasa bagaimana hal sesederhana ketukan dinding bisa mengirimkan aliran kebahagiaan yang begitu besar ke dalam hatinya.
Aurora tidak membiarkan Arga menunggu lama. Dia bangkit sedikit dari posisi tidurnya, lalu mengepalkan tangan kanannya dengan longgar.
Dia mengetuk dinding pembatas itu kembali, membalas kode dari Arga dengan ritme yang persis sama.
*Tok.*
*Tok-tok.*
*Tok-tok-tok.*
*Aku sayang kamu juga.*
Sesaat setelah Aurora menyelesaikan ketukan terakhirnya, dia mendengar suara tawa kecil yang sangat familier dari balik dinding sebelah. Tawa berat Arga yang terdengar begitu tulus dan bahagia. Melodi gitar kembali terdengar, kali ini memainkan nada-nada yang jauh lebih ceria, seolah-olah mewakili perasaan si pemain yang sedang berbunga-bunga.
Aurora kembali merebahkan kepalanya di atas bantal, menarik selimut tipisnya hingga sebatas dada. Matanya terpejam dengan senyum yang masih menghiasi wajah manisnya.
Dia tidak lagi membutuhkan hal-hal mewah atau kepastian yang rumit untuk merasa bahagia. Di kamar kos yang sederhana ini, di tengah kesunyian malam, Aurora akhirnya menyadari satu hal yang sangat indah.
Bahwa kebahagiaan terbesarnya, rasa aman yang dicarinya selama ini, dan cinta yang begitu tulus, kini tidak lagi terasa jauh atau sulit digapai. Semua itu kini berada begitu dekat dengannya. Sangat dekat, hanya berjarak satu ketukan di dinding sebelah.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!