Bab 2: Tetangga Kamar Sebelah
Jika ada hal yang paling Arga benci di dunia ini, itu adalah fakta bahwa matanya selalu menolak untuk terpejam saat jam dinding sudah melewati angka dua belas malam.
Insomnia akut. Begitu dokter mendiagnosisnya beberapa bulan lalu. Arga sudah mencoba hampir semua cara yang disarankan di internet: mematikan lampu kamar, menyalakan aroma terapi lavender yang baunya malah mirip minyak angin nenek-nenek, mendengarkan suara gemercik air hujan dari aplikasi ponsel, hingga meminum susu hangat sebelum tidur. Hasilnya? Nihil. Otaknya tetap bekerja dengan kecepatan penuh, memikirkan banyak hal mulai dari urusan organisasi himpunan mahasiswa yang tidak ada habisnya, revisi draf proposal kegiatan, sampai pertanyaan tidak penting seperti kenapa warna langit malam harus hitam, bukan ungu tua.
Arga mengembuskan napas kasar. Cowok itu telentang di atas ka**r *single bed*-nya, menatap langit-langit kamar kos yang diterangi cahaya temaram lampu tidur berwarna kuning hangat.
Suasana kosan berlant** dua ini biasanya sangat tenang jika sudah lewat tengah malam. Sebagian besar penghuninya adalah mahasiswa tingkat akhir yang kalau tidak sedang pingsan karena kelelahan mengerjakan skripsi, ya sedang sibuk main *game* di kamar dengan menggunakan *headphone*. Sunyi. Damai.
Setidaknya, begitulah kondisi kosan ini sampai dua minggu yang lalu. Sebelum kamar nomor 104—kamar tepat di sebelah kirinya—diisi oleh seorang penghuni baru.
*Srek... srek...*
Arga melirik jam dinding digital di atas meja belajarnya. Pukul 01.30 dini hari.
Melalui dinding kamar kos mereka yang hanya terbuat dari bata tipis dilapisi *wallpaper* abu-abu, Arga bisa mendengar suara gesekan kertas yang c**up intens. Tidak butuh waktu lama bagi Arga untuk menebak apa yang sedang dilakukan tetangganya. Gadis itu pasti sedang menggambar, atau membuat sketsa, atau apa pun itu tugas anak DKV yang terkenal hobi menyiksa diri sendiri di malam hari.
Arga membalikkan tubuhnya menghadap dinding, mencoba memejamkan mata erat-erat. *Tidur, Ga. Besok jam delapan ada kelas metpen,* batinnya memperingatkan diri sendiri.
Namun, indra pendengarannya yang mendadak jadi super sensitif di malam hari menolak untuk bekerja sama.
*Klik.*
Suara saklar dispenser atau ketel listrik otomatis terdengar samar. Arga menghela napas panjang. *Satu... dua... tiga...*
Benar saja, beberapa menit kemudian, tercium aroma gurih yang sangat familier. Bau bumbu mi instan rasa kari ayam yang menusuk hidung, seolah-olah makanan itu sedang disajikan tepat di depan wajah Arga sendiri.
"Jam segini makan mi instan. Gak takut usus buntu apa ya itu anak," gumam Arga dengan suara serak khas orang yang kelelahan tidur.
Itu adalah rutinitas pertama si tetangga sebelah: makan tengah malam demi menyambung nyawa. Arga bahkan sudah hafal ritmenya. Setelah air mendidih, akan terdengar suara sendok yang beradu dengan pinggiran mangkuk keramik. *Ting! Ting! Ting!* sebanyak tiga kali, seolah-olah cewek itu sedang melakukan ritual pemangg***n arwah kelaparan.
Lalu, setelah ritual makan itu selesai, ma**klah ke bagian yang paling membuat Arga ingin menggedor dinding kamarnya dengan palu besi.
*Sad girl hours.*
Sebuah intro lagu pop akustik mulai mengalun lirih. Meskipun volumenya tidak sekencang speaker konser, tapi karena kondisi malam yang sangat sunyi dan dinding kamar yang setipis tripleks, suara itu terdengar sangat jelas di telinga Arga.
*“Belum ada satu bulan... kuingat semua tentangmu...”*
Suara merdu Bernadya mengalir melalui dinding.
"Lagu ini lagi," keluh Arga frustrasi. Ia menarik bantalnya dan meletakkannya di atas kepala, menekan kedua telinganya sekuat tenaga. Namun, lirik-lirik galau itu tetap lolos ma**k ke indra pendengarannya.
Ini sudah hari kelima tetangganya memutar lagu yang sama berulang-ulang di jam dua pagi. Arga yang awalnya tidak tahu lagu itu, sekarang bahkan sudah hafal luar kepala setiap bait liriknya. Ia tidak habis pikir, masalah hidup apa yang sedang dihadapi tetangga barunya itu sampai-sampai harus menggalaui mantan kekasihnya setiap subuh dengan konsistensi setara atlet olimpiade.
Lagu pertama selesai, lalu... diputar kembali dari awal.
*“Belum ada satu bulan...”*
"G*** ya, ini cewek gak ada tombol *next* di aplikasinya apa gimana sih?" rutuk Arga. Cowok itu akhirnya menyerah untuk mencoba tidur. Ia bangkit dari ka**rnya, duduk di tepi tempat tidur dengan rambut hitamnya yang berantakan karena frustrasi.
Tepat saat lagu itu mema**ki bagian *reff*, terdengar sebuah helaan napas yang sangat berat dari kamar sebelah.
"Haaah..."
Suara helaan napas itu begitu dramatis, terdengar sangat lelah, sedih, dan penuh beban hidup, sampai-sampai Arga refleks memutar bola matanya.
"Lebay banget," gumam Arga.
Arga berdiri dari ka**r, melangkah mendekati dinding yang membatasi kamar mereka. Ia mengepalkan tangan kanannya, lalu mengetuk dinding itu dengan ritme yang c**up keras.
*Duk! Duk! Duk!*
"Woi! Yang di sebelah! Kecilin dikit dong lagunya! Ini udah jam dua lewat, orang mau tidur!" seru Arga dengan nada ketus, meski volume suaranya tetap ia jaga agar tidak membangunkan seluruh penghuni kosan lainnya.
Seketika itu juga, lagu Bernadya langsung mati. Sunyi senyap melingkupi koridor kosan.
Arga menunggu selama beberapa detik di depan dinding, menempelkan telinganya ke permukaan tembok dingin itu. Ia mendengar suara grasak-grusuk panik, disusul suara benda jatuh yang terdengar seperti tumpukan buku, lalu keheningan total yang terasa canggung.
"Ma-maaf, Kak! Gak sengaja!"
Suara cicitan lirih bernada panik terdengar samar dari balik dinding. Suara perempuan yang terdengar sangat muda, sedikit serak karena mengantuk atau mungkin karena terlalu banyak menghirup uap mi instan panas.
Arga mendengus pelan. Ia menjauhkan tubuhnya dari dinding, kembali berjalan menuju tempat tidurnya. "Nah, gitu dong. Sadar diri," gumamnya puas.
Namun, kepuasan itu hanya bertahan selama beberapa menit.
Begitu suasana kamar benar-benar sunyi tanpa ada suara ketukan pensil, gemercik air mendidih, atau lagu galau dari kamar sebelah, Arga justru merasa ada sesuatu yang hilang. Keheningan malam ini mendadak terasa begitu pekat dan... sepi.
Arga menatap langit-langit kamarnya lagi. Matanya tetap terbuka lebar, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Ironisnya, ritme hidup tetangga sebelahnya yang berisik itu secara tidak sadar telah menjadi *white noise* yang menemani malam-malam sepinya selama dua minggu terakhir.
Mendengarkan gadis itu menggerutu sendiri saat tugasnya rusak, mendengar suara ketel listriknya yang berisik, bahkan mendengar helaan napas beratnya yang terdengar putus asa, entah bagaimana membuat Arga merasa bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi malam-malam panjang yang melelahkan ini. Ada manusia lain di luar sana, hanya berjarak beberapa senti dari dinding kamarnya, yang juga sedang berjuang melewati malam dengan caranya sendiri.
Tiba-tiba, tenggorokan Arga terasa sangat kering. Efek dari tidak bisa tidur dan terlalu banyak memikirkan hal-hal random membuat rasa hausnya tidak tertahankan lagi. Ia menoleh ke sudut kamarnya, menatap dispenser kecil miliknya yang ternyata lampu indikator airnya sudah mati karena galonnya kosong melompong. Ia lupa membeli galon baru tadi sore karena terlalu sibuk dengan urusan kampus.
"Sial," umpat Arga pelan.
Mau tidak mau, ia harus turun ke lant** satu untuk mengambil air di dispenser umum yang disediakan pemilik kos di dekat dapur bersama.
Arga meraih gelas kaca bermotif polos di mejanya, memakai sandal rumah berwarna hitam, lalu membuka pintu kamarnya perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik di koridor yang sunyi.
Saat Arga baru saja melangkahkan satu kakinya keluar kamar, pintu kamar nomor 104 di sebelahnya tiba-tiba terbuka.
*Cklek.*
Arga menghentikan langkahnya, menoleh ke samping kiri.
Dari dalam kamar yang lampunya menyala terang benderang itu, muncullah seorang gadis dengan penampilan yang luar biasa berantakan. Rambut hitamnya diikat asal-asalan ke atas dengan *scrunchie* merah muda, menyisakan beberapa anak rambut yang mencuat liar ke segala arah. Gadis itu mengenakan kaus *oversized* berwarna abu-abu pudar dengan celana piyama bergambar wortel. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah mangkuk keramik kosong yang masih menyisakan sisa kuah mi instan berwarna kuning kemerahan.
Gadis itu sedang menunduk, tampaknya hendak keluar untuk membuang sampah sisa makanannya ke tempat sampah besar di ujung koridor.
"Aduh, besok kalau Pak Bambang marah gara-gara asistensi gue jelek gimana ya..." gumam gadis itu pelan pada dirinya sendiri, masih tidak menyadari keberadaan Arga yang berdiri tegak hanya dua meter di sampingnya.
"Lo kalau mau menggalau, mending lanjutin besok pagi aja," sahut Arga datar dengan suara berat khas bangun tidur.
Gadis itu tersentak hebat. Ia mendongak dengan cepat, matanya yang dilapisi kacamata berbingkai bulat hitam melebar sempurna seketika. Tubuhnya menegang, dan mangkuk di tangannya hampir saja merosot kalau saja ia tidak segera mencengkeramnya dengan erat.
"K-Kak... Kak Arga?!" pekik gadis itu dengan suara tertahan, wajahnya dalam sekejap berubah semerah tomat rebus.
Arga mengernyitkan dahinya. Ia menatap gadis di depannya dengan saksama. Wajah itu... terasa tidak asing. Tapi ingatan Arga agak lambat bekerja karena otaknya yang kekurangan jam tidur.
"Lo..." Arga menunjuk gadis itu dengan gelas kosong di tangannya. "Anak DKV yang sering duduk di koridor gedung Dekanat, kan?"
Gadis itu—Aurora—terlihat seperti ingin menenggelamkan dirinya ke dalam mangkuk mi instan saat itu juga. Ia merapatkan mangkuk kosongnya ke dada, seolah benda itu bisa melindunginya dari tatapan tajam mata elang Arga.
"I-iya, Kak. Saya Aurora... semester empat," jawab Aurora dengan suara yang mendadak cicit seperti anak tikus. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena ketakutan setengah mati akibat kepergok berisik malam-malam, tapi juga karena ia sedang berhadapan langsung dengan cowok yang fotonya baru saja ia pandangi di dalam kamar beberapa menit lalu.
Dalam radius sedekat ini, dengan pencahayaan koridor kosan yang minim, Arga tetap terlihat sangat tampan. Kaos hitam polos yang pas di tubuhnya, celana kain sant**, dan rambut hitamnya yang sedikit berantakan malah membuat cowok itu terlihat sepuluh kali lipat lebih menarik dibanding saat memakai almamater kampus.
Arga mengembuskan napas pendek, lalu bersandar pada kusen pintu kamarnya sendiri dengan kedua tangan bersendekap di dada.
"Oh, jadi lo tetangga kamar sebelah yang hobi konser Bernadya jam dua pagi?" tanya Arga, sebelah alisnya terangkat naik, menatap Aurora dengan pandangan mengintimidasi namun ada binar geli yang tersembunyi di sana.
Aurora rasanya ingin menangis sekarang juga. *Tuhan, tolong telan aku ke dalam bumi sekarang,* jeritnya dalam hati.
"Ma-maaf banget, Kak Arga! Sumpah, aku gak tahu kalau kamar sebelah itu kamar Kakak!" Aurora membungkuk berkali-kali, membuat rambut kuncirannya bergoyang heboh. "Aku biasanya pakai *earphone*, tapi tadi *earphone*-nya rusak sebelah, jadi aku pakai *speaker* HP dengan volume paling kecil... aku gak tahu kalau dindingnya setipis ini!"
"Tipis banget," potong Arga datar. "Sampai suara lo hela napas kayak orang mau sekarat aja kedengeran jelas di kuping gue."
Wajah Aurora semakin memanas. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa sangat malu sampai ke ubun-ubun. Semua citra dirinya yang ingin ia bangun di depan sang kating idola hancur lebur dalam satu malam. Di mata Arga, ia sekarang pasti dicap sebagai cewek berisik, jorok karena makan mi instan subuh-subuh, dan menyedihkan karena menggalaui lagu Bernadya berulang kali.
"Aku minta maaf, Kak. Aku janji gak bakal muter lagu lagi malam-malam," cicit Aurora, matanya menatap lant** koridor dengan penuh minat, tidak berani menatap mata Arga langsung.
Arga menatap gadis di depannya yang tampak sangat kecil dan ketakutan. Sudut bibirnya hampir saja berkedut membentuk senyuman tipis, namun ia berhasil menahannya. Entah kenapa, melihat reaksi panik tetangga barunya ini terasa c**up menghibur di tengah malam yang membosankan ini.
"Ya udah. Bagus kalau lo paham," kata Arga akhirnya, merapikan letak gelas di tangannya. "Satu lagi."
Aurora mendongak perlahan, menatap Arga dengan pandangan cemas. "Apa, Kak?"
"Lain kali, kalau rebus air, jangan ditinggal tidur. Bunyi ketel lo itu berisiknya saingan sama suara mesin pabrik," ujar Arga dengan nada menyindir yang halus, namun tidak terdengar benar-benar marah. "Dan... kuah mi kari ayam lo itu baunya nyengat banget sampai kamar gue. Bikin laper."
Setelah mengatakan itu, Arga berbalik dan berjalan sant** menuruni tangga menuju lant** satu, meninggalkan Aurora yang masih berdiri mematung di depan pintu kamarnya dengan mulut setengah terbuka.
Butuh waktu beberapa detik bagi Aurora untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.
Arga... tahu dia menyukai mi kari ayam.
Arga... mendengarkan semua aktivitas malamnya.
Dan yang paling penting... Arga adalah tetangga kamar sebelahnya!
Aurora memegang dadanya yang berdetak sangat cepat, seolah-olah jantungnya siap melompat keluar kapan saja. Ia segera ma**k kembali ke dalam kamarnya, menutup pintu dengan pelan, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu sambil tersenyum lebar seperti orang g***.
"Mimpi apa gue semalam..." bisik Aurora, menatap foto Arga di atas mejanya dengan pandangan yang kini seratus kali lipat lebih histeris. "Kak Arga... ternyata tinggal di balik tembok ini?!"
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!