**Bab 3: Kepanitiaan Si******
Dunia Aurora rasanya runtuh saat itu juga.
Ia menatap layar ponselnya dengan mata membelalak, berharap deretan huruf yang tertera di sana mendadak berubah karena salah ketik. Namun, sekeras apa pun Aurora mengucek mata, nama itu tetap terpampang nyata di baris paling atas struktur kepanitiaan divisi Dekorasi & Artistik Festival Kampus tahun ini.
**Koordinator Divisi: Arga Prasetya (Arsitektur - Angkatan 2021)**
"Mampus gue. Ini sih namanya cobaan hidup yang sesungguhnya," gumam Aurora ngeri. Tubuhnya langsung lemas, bersandar pasrah pada sandaran kursi kayu di koridor lant** dua gedung kuliahnya.
Dari ratusan mahasiswa aktif di kampus ini, kenapa takdir harus sebercanda ini? Dari sekian banyak divisi—mulai dari Humas yang kerjanya cuap-cuap, sampai Konsumsi yang kerjanya cuma pesan nasi kotak—kenapa Aurora harus tersesat di divisi Dekorasi? Dan yang paling penting, kenapa ketuanya harus Arga?
Arga Prasetya. Cowok yang selama ini cuma berani Aurora pandangi dari jauh. Cowok yang foto profil WhatsApp-nya saja cuma gambar pemandangan blur, tapi tetap terlihat estetik. Cowok super dingin yang kalau senyum tipis saja bisa bikin separuh populasi mahasiswi fakultas teknik langsung mengidap penyakit jantungan massal. Dan bagi Aurora, Arga adalah sosok idola yang mustahil digapai.
"Ra! Malah bengong. Ayok ma**k, rapat perdana udah mau mulai di RK 302," panggil seli, teman sekelas Aurora sekaligus rekan sesama divisi Dekorasi, sambil menarik lengan Aurora paksa.
"Sel, gue mendadak sakit perut. Kayaknya usus buntu gue meradang deh," rengek Aurora, mencoba mencari alasan paling dramatis agar bisa kabur.
"Gak usah lebay! Kemarin lo yang semangat banget daftar gara-gara pengen cari pengalaman visual katanya. Sekarang cepetan ma**k!"
Dengan langkah seberat timbal, Aurora akhirnya mengekor di belakang Seli ma**k ke dalam ruang kuliah 302. Begitu melangkahkan kaki melewati pintu, hawa dingin dari AC sentral langsung menyambut kulitnya. Namun, rasa dingin itu kalah telak oleh tatapan mata cowok yang sedang duduk di balik meja dosen di depan kelas.
Arga di sana. Cowok itu mengenakan kemeja flanel hitam-abu yang dibiarkan terbuka, melapisi kaus polos hitam di dalamnya. Lengan kemejanya digulung sampai siku, memamerkan jam tangan sport hitam yang melingkar kokoh di pergelangan tangan kirinya. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan seperti biasa, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya—tanda sahih bahwa cowok itu adalah penganut aliran insomnia akut.
*Ganteng banget, tolong,* jerit batin Aurora histeris. Ia langsung menundukkan kepala dalam-dalam, merapikan poni depannya dengan jari-jari yang mendadak gemetaran.
"Silakan duduk yang rapi. Kita langsung mulai aja karena waktu kita gak banyak," suara bariton Arga terdengar dingin dan datar, langsung memotong riuh rendah obrolan belasan mahasiswa di dalam ruangan tersebut.
Aurora memilih duduk di baris paling belakang, bersembunyi di balik tubuh Seli yang sedikit lebih tinggi darinya. Ia mati-matian mengatur napas agar tidak terlihat seperti orang yang habis dikejar an**** g***. *Tenang, Ra. Lo cuma staf biasa. Dia gak bakal merhatiin lo,* batinnya menenangkan diri sendiri.
"Gue Arga, koordinator divisi kalian untuk festival tahun ini. Gue gak suka kerja lambat dan gue gak suka alasan," Arga memulai presentasinya, langsung menancapkan aura kepemimpinan yang tegas dan tidak bisa dibantah. "Konsep festival tahun ini adalah *Retro-Modern*. Kita butuh instalasi utama di tengah lapangan yang bisa menarik perhatian pengunjung, tapi dengan budget yang seefisien mungkin. Ada ide?"
Keheningan langsung menyelimuti ruangan. Semua orang mendadak sangat tertarik menatap permukaan meja masing-masing, takut ditunjuk oleh Arga.
Arga mengembuskan napas pelan, mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja. Suara *tok... tok... tok...* itu terdengar seperti detak bom waktu di telinga Aurora.
"Gak ada yang punya ide? Masa anak DKV dan Arsitektur gak punya kreativitas sama sekali?" sindir Arga halus, tapi sukses membuat beberapa orang menyengit tersinggung.
Aurora, yang pada dasarnya memang sangat mencint** dunia seni visual, merasa egonya sedikit tercubit. Tanpa sadar, jemari tangannya yang sedang memegang pensil langsung bergerak cepat di atas buku sketsa kecilnya. Otaknya otomatis merancang sebuah konsep.
"Gimana kalau kita bikin instalasi dari anyaman bambu geometris dengan pencahayaan LED neon di dalamnya, Kak?"
Suara itu meluncur begitu saja dari bibir Aurora sebelum otaknya sempat menyaring.
Seketika, seluruh pasang mata di ruangan itu berbalik menatapnya. Aurora langsung membeku. Ia menelan ludah dengan susah payah saat menyadari bahwa Arga kini tengah menatapnya lurus-lurus. Tatapan mata elang cowok itu seolah mengunci pergerakan Aurora.
"Siapa nama lo?" tanya Arga datar.
"Au... Aurora, Kak. Dari DKV," jawab Aurora dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang sudah berada di level akut.
Arga menatapnya selama beberapa detik, membuat atmosfer di sekitar Aurora terasa makin menipis. "Jelasin lebih det**l. Bambu geometris kayak gimana? Dan gimana cara lo nekan biayanya?"
Mendengar pertanyaan profesional itu, jiwa desainer Aurora sedikit bangkit mengalahkan rasa gugupnya. Ia menegakkan tubuh. "Kita bisa pakai bambu lokal yang harganya murah, lalu disusun pakai teknik modular. Jadi kita gak butuh banyak paku atau lem mahal. Cahaya neonnya ditaruh di sela-sela anyaman buat ngasih kesan futuristik di malam hari, tapi strukturnya tetap tradisional di siang hari. Saya udah sempat bikin sketsa kasarnya..." Aurora mengangkat buku sketsanya ragu-ragu.
Arga berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mendekati meja Aurora di baris belakang. Setiap langkah kaki Arga rasanya seperti dentuman drum di dada Aurora. Saat Arga berhenti tepat di samping mejanya dan membungkuk sedikit untuk melihat sketsa di bukunya, Aurora mencium aroma parfum maskulin yang sangat familier—campuran wangi kayu cedarwood dan mint yang sangat segar.
*G***, ini cowok wangi banget,* jerit Aurora dalam hati, menahan napas agar tidak ketahuan sedang menghirup aroma tubuh Arga.
Arga memperhatikan gambar sketsa buatan Aurora dengan saksama. Matanya menyipit, menganalisis garis demi garis yang digambar dengan rapi. "Konsepnya bagus. Det**lnya dapet. Tapi lo yakin bisa kelar dalam waktu dua minggu?"
"Yakin, Kak. Kalau sistem kerjanya dibagi per panel, kita bisa kerjain bareng-bareng lebih cepat," jawab Aurora, mencoba terdengar seprofesional mungkin meski tangannya di bawah meja sudah meremas ujung sweter longgarnya sampai kusut.
Arga menegakkan tubuhnya kembali. "Oke. Gue pegang omongan lo. Mulai besok, lo asisten konsep gue untuk projek instalasi ini. Desain matangnya harus udah ada di meja gue lusa."
"Hah? Asisten?" Aurora melongo.
"Ada keberatan?" Arga menaikkan sebelah alisnya.
"N-nggak, Kak. Gak ada," jawab Aurora buru-buru, memaksakan senyum manis yang malah terlihat seperti orang sedang menahan sakit gigi. *Si****,* umpatnya dalam hati. Menjadi asisten Arga berarti ia harus sering berinteraksi dengan cowok ini. Ini adalah mimpi buruk sekaligus mimpi indah yang terlalu berbahaya bagi kesehatan jantungnya.
Rapat pun berlanjut membahas hal teknis lainnya selama hampir dua jam. Ketika jam dinding menunjukkan pukul lima sore, Arga akhirnya menutup rapat tersebut.
"Rapat hari ini selesai. Kalian boleh balik. Buat Aurora, tinggal bentar. Ada yang mau gue diskusiin soal bahan bambunya," ucap Arga sant** sambil merapikan laptopnya ke dalam tas.
Seli menyenggol lengan Aurora sambil berbisik jahil, "Cie... asisten baru langsung diculik. Semangat ya, Ra!" sebelum akhirnya melenggang pergi meninggalkan Aurora sendirian di dalam kelas bersama Arga.
Suasana kelas mendadak menjadi sangat sunyi setelah semua orang keluar. Hanya ada suara bising AC yang berdegung pelan. Aurora masih duduk di kursinya, berpura-pura sibuk merapikan alat tulisnya padahal ia hanya sedang menunda waktu untuk mendekati meja Arga.
Sementara itu, Arga tampak fokus mengetik sesuatu di ponselnya. Wajahnya terlihat sangat lelah, dan sesekali cowok itu memijat pelipisnya sendiri.
Aurora yang melihat itu mendadak merasa iba. *Pasti gara-gara insomnia lagi ya?* batin Aurora mengingat kebiasaan tetangga kamarnya yang hobi begadang—meski Aurora belum menyadari sepenuhnya bahwa cowok di depannya ini adalah pemilik kamar nomor 103 di kosannya.
Karena suasana terlalu hening dan Aurora mulai merasa canggung setengah mati, gadis itu tanpa sadar melakukan kebiasaan buruknya saat sedang gugup atau melamun: menggumamkan lirik lagu.
Dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan, Aurora mulai melantunkan lirik lagu sedih yang belakangan ini sering ia dengarkan untuk menemani malam-malam sepinya saat mengerjakan tugas DKV.
*"...Kita tak apa-apa... jika tak baik-baik saja... terkadang kita perlu runtuh..."*
Gumaman kecil itu mengalir begitu saja dari bibir Aurora, dengan nada yang agak malas dan sedikit serak yang sangat khas.
*Deg.*
Gerakan jari Arga di atas layar ponselnya mendadak berhenti total.
Cowok itu mematung. Kepalanya perlahan terangkat. Matanya melebar sedikit, menatap lurus ke arah Aurora yang masih sibuk mema**kkan pensil warna ke dalam kotaknya sambil terus menggumam tanpa sadar.
*"...Biar... biarlah luruh... bersama rintik hujan..."*
Suara itu. Nada itu. Cara gadis itu menekankan suku kata terakhir di setiap bait lagu.
Itu adalah melodi yang sama persis. Suara yang sama persis. Dan lagu yang sama persis yang selalu menembus dinding tipis kamar kos Arga setiap pukul dua dini hari selama dua minggu terakhir ini. Lagu yang selalu dinyanyikan oleh tetangga kamar sebelahnya yang misterius dan super berisik itu.
Arga menatap Aurora dengan tatapan yang mendadak berubah drastis. Rasa kantuk dan lelah di matanya seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa curiga yang teramat sangat.
Ia memperhatikan jaket sweter abu-abu longgar yang dipakai Aurora. Ia memperhatikan jepit rambut berbentuk stroberi kecil yang menjepit poni gadis itu. Dan yang paling penting, ia mengingat suara sendok yang beradu dengan mangkuk keramik yang selalu terdengar setelah lagu itu selesai dinyanyikan.
*Jangan-jangan...*
"Aurora," panggil Arga. Suaranya kali ini terdengar berbeda—lebih berat, lebih tajam, dan penuh selidik.
Aurora tersentak kaget. Gumamannya langsung terhenti. Ia mendongak dan mendapati Arga sedang menatapnya dengan pandangan mata yang sangat intens, seolah sedang menguliti isi kepalanya.
"I-iya, Kak? Ada apa?" tanya Aurora gugup, mendadak merasa merinding ditatap seperti itu.
Arga melipat kedua tangannya di depan dada, menyipitkan matanya perlahan. "Lo... tinggal di daerah mana?"
Pertanyaan yang sangat tidak terduga itu sukses membuat otak Aurora mengalami *lag* selama beberapa detik. "Eh? Saya... saya kos di daerah deket kampus, Kak. Di Jalan Anggrek."
Arga menaikkan sebelah alisnya. "Nama kosannya?"
"Kos... Puri Asri," jawab Aurora polos, benar-benar bingung kenapa topik bahasan mereka mendadak melenceng jauh dari urusan instalasi bambu festival.
Arga terdiam. Sebuah senyum tipis yang sarat akan arti misterius mendadak terukir di sudut bibirnya.
*Kos Puri Asri. Jalan Anggrek.*
Tebakannya seratus persen akurat. Gadis DKV di depannya ini, yang sekarang sedang menatapnya dengan wajah polos penuh ketakutan, adalah tetangga kamar sebelah si**** yang selalu sukses merusak jam tidurnya setiap malam. Si pemakan mi instan kari ayam pukul setengah dua pagi.
"Oh," gumam Arga pendek. Ia melangkah mendekati Aurora, lalu menumpukan kedua tangannya di atas meja kerja Aurora, membuat jarak di antara mereka terkikis drastis.
Aurora menahan napas, tubuhnya otomatis mundur sampai mentok ke sandaran kursi. Jantungnya berdegup sangat kencang sampai rasanya mau copot.
Arga menatap mata Aurora dalam-dalam, lalu berbisik dengan nada yang terdengar sangat menyebalkan sekaligus mengancam, "Pantas aja suara lo familier banget. Ternyata lo pelaku utamanya."
"Pelaku... apa ya, Kak?" cicit Aurora kebingungan sekaligus panik setengah mati.
"Lain kali," Arga menjeda kalimatnya, matanya melirik ke arah buku sketsa Aurora sebelum kembali menatap mata gadis itu, "kalau nyanyi malam-malam, suaranya dikecilin. Dan satu lagi, jangan sering-sering makan mi instan kari ayam jam dua pagi. Baunya nembus ke kamar sebelah, bikin orang lapar."
Setelah mengatakan hal yang membuat otak Aurora langsung *blue screen* seketika, Arga menegakkan tubuhnya, menyampirkan tas ranselnya di bahu, lalu berjalan sant** keluar dari ruang kelas sambil bersiul kecil.
Meninggalkan Aurora yang membeku di tempatnya dengan mulut ternganga, perlahan menyadari sebuah kenyataan yang jauh lebih mengerikan dari sekadar kepanitiaan: idolanya, Arga Prasetya, adalah tetangga kamar kos sebelahnya yang selama ini selalu ia ganggu dengan ritual tengah malamnya.
"MAMPUS GUEEE!" teriak Aurora frustrasi, langsung menenggelamkan wajahnya ke atas meja kuliah.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!