Kamar Kos Sebelah

Bab 4: Curiga yang Menjadi Nyata

Pengaturan Membaca

**Bab 4: Curiga yang Menjadi Nyata**

Rapat yang awalnya Aurora pikir hanya akan berlangsung satu jam untuk perkenalan, ternyata berubah menjadi simulasi kerja paksa zaman romusha.

Arga Prasetya benar-benar definisi ketua divisi yang perfeksionis sekaligus tidak punya belas kasihan. Sejak jarum jam menunjukkan pukul delapan malam hingga kini hampir menyentuh angka setengah satu pagi, cowok itu masih terlihat segar bugar di depan papan tulis kelas RK 302 yang sekarang sudah penuh dengan coretan spidol hitam. Sementara itu, belasan anggota divisi Dekorasi yang lain sudah terkulai lemas di atas meja masing-masing seperti barisan zombi kurang gizi.

"Sumpah, Ra. Gue gak kuat lagi. Ini rapat atau ospek terselubung sih? Pinggang gue rasanya mau patah jadi dua," bisik Seli dengan suara super pelan, kepalanya sudah menempel di atas meja kayu yang dingin.

Aurora hanya bisa meringis simpati. Ia sendiri sebenarnya sudah berada di ambang batas kesadaran. Matanya terasa sangat berat, dan fokusnya sudah lama melayang entah ke mana. Sejak tadi, Aurora hanya berpura-pura sibuk mencoret-coret buku catatannya agar tidak terkena semprot Arga.

"Oke, draf konsep *main stage* sama *photo booth* udah *clear*," suara bariton Arga kembali menggema, memecah keheningan malam yang mulai mencekam. Cowok itu meletakkan spidolnya ke meja dengan bunyi ketukan yang c**up keras, membuat beberapa orang yang hampir terlelap langsung menegakkan tubuh dengan kaget.

Arga melirik jam tangan sport hitam di pergelangan tangannya, lalu mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Matanya yang tajam dan dihiasi lingkaran hitam tipis itu menyapu satu per satu wajah anggotanya yang sudah pucat pasi.

"Gue tahu ini udah kemaleman. Tapi karena besok kita udah harus setor progres ke Badan Pengurus Harian, kita butuh satu orang buat beresin notulen rapat malam ini. Harus diketik rapi, dibuat format PDF, terus dikirim ke grup sebelum jam dua pagi," ucap Arga sant**, seolah-olah meminta file di jam satu pagi adalah hal yang sangat normal di planet bumi.

Sontak saja, seisi ruangan langsung menunduk serentak. Tidak ada satu pun yang berani menatap mata Arga. Mereka semua mendadak pura-pura sibuk mencari barang yang hilang di bawah meja, atau mendadak sangat tertarik membaca tulisan meja yang dicoret-coret anak semester satu.

Aurora ikut menunduk sedalam mungkin. *Tolong, jangan gue. Tolong, hamba masih ingin hidup besok pagi,* doa Aurora dalam hati dengan sangat khusyuk.

"Aurora."

Jantung Aurora rasanya mau copot saat namanya disebut dengan sangat jelas oleh suara berat itu. Ia perlahan mengangkat kepalanya, mencoba tersenyum seprofesional mungkin meski senyumnya lebih mirip orang yang sedang menahan buang air besar.

"I-iya, Kak?" sahut Aurora terbata-bata.

"Lo yang pegang notulensi evaluasi malam ini. Laptop lo aktif, kan? Salin semua poin revisi dari papan tulis, rapihin, terus kirim ke gue dulu buat di-ACC sebelum di-share ke grup," perintah Arga mutlak, tanpa memberi ruang untuk negosiasi.

"Tapi, Kak, saya..." Aurora mencoba mencari alasan. "Saya agak lambat kalau ngetik malam-malam begini, takutnya malah menghambat—"

"Gak ada alasan. Yang lain boleh balik sekarang, biar gak kemaleman di jalan. Aurora, lo tetap di sini sampai notulensinya selesai gue periksa." Arga memotong kalimat Aurora dengan dingin sambil merapikan kertas-kertas di mejanya.

Terdengar helaan napas lega berjamaah dari anggota divisi yang lain. Seli menatap Aurora dengan pandangan penuh rasa bersalah sekaligus kasihan.

"Ra, maaf banget ya, gue duluan. Sumpah, bokong gue udah tepos banget ini duduk lima jam," bisik Seli sambil buru-buru mengemas tasnya.

"Iya, Sel... gak apa-apa. Hati-hati di jalan," sahut Aurora pasrah, meratapi nasibnya yang malang.

Dalam waktu kurang dari lima menit, ruang kelas yang tadinya ramai itu kini mendadak sepi senyap. Hanya menyisakan Aurora yang duduk di baris paling belakang dengan laptop menyala, dan Arga yang masih sibuk mengutak-atik ponselnya di meja depan.

Suara ketikan keyboard laptop Aurora terdengar sangat nyaring di dalam ruangan sunyi itu. *Tak-tik-tok-tak-tik-tok.*

Sesekali Aurora melirik ke arah depan, memperhatikan punggung lebar Arga yang terbalut kemeja flanel hitam-abu. Di bawah lampu kelas yang agak temaram, cowok itu terlihat sangat fokus. Namun, rasa kagum Aurora malam ini benar-benar terkikis habis oleh rasa lelah yang luar biasa. Ia merasa kepalanya mulai pening karena terus-menerus menatap layar laptop.

Waktu terus bergulir. Jarum jam di dinding kelas berdetik lambat, kini sudah menunjukkan pukul 00.45 pagi.

Aurora mengetik kalimat terakhir dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Tangannya gemetar karena kedinginan akibat AC kelas yang mendadak terasa seperti di kutub utara. Setelah menekan tombol *save*, Aurora menghela napas panjang yang sangat berat.

Ia benar-benar lupa kalau dirinya sedang berada di dalam satu ruangan dengan kating galak yang ia takuti. Rasa lelah yang sudah mencapai ubun-ubun membuat insting bertahan dirinya melemah, dan sifat aslinya mulai keluar tanpa bisa ditahan.

Aurora menutup layar laptopnya setengah. Tanpa sadar, ia membuka mulutnya lebar-lebar dan menguap dengan sangat keras tanpa ditutupi tangan.

"Hwaaaaaahhhhh...."

Bunyi uapan itu terdengar sangat tidak estetik untuk ukuran seorang cewek. Belum c**up sampai di situ, Aurora kemudian mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara, meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Tubuhnya menggeliat ke kiri dan ke kanan sampai terdengar bunyi *krek-krek* yang c**up nyaring dari tulang belakangnya.

Sambil memegangi pinggang bagian belakangnya dengan kedua tangan, Aurora mendesah kencang, lalu mengeluh dengan nada meratap yang sangat khas.

"Aduh, jompo banget nih badan... Pinggang gue rasanya mau copot, kayak digebukin warga se-RT. Encok, encok... Sumpah, ini encok stadium empat!" keluh Aurora pelan, namun suaranya yang cempreng terdengar sangat jelas memecah kesunyian RK 302.

Di depan kelas, gerakan tangan Arga yang sedang mengetik di ponselnya mendadak berhenti total.

Cowok itu mematung. Matanya melebar sedikit, memperlihatkan reaksi terkejut yang sangat jarang ia tunjukkan di depan orang lain. Arga perlahan memutar tubuhnya, menatap ke arah Aurora yang masih sibuk memijat-mijat pinggangnya sendiri dengan mata terpejam, tidak menyadari bahwa ia baru saja melakukan kesalahan fatal.

Otak Arga mendadak berputar cepat, memutar memori-memori malam yang ia lalui selama beberapa minggu terakhir di kamar kosnya.

Setiap jam satu pagi. Tepat saat keheningan malam menyelimuti kosan khusus mahasiswa-mahasiswi di Jalan Tulip itu. Arga yang selalu kesulitan tidur akibat insomnia akut, pasti akan terbangun atau terganggu oleh suara dari balik dinding kamarnya. Kamar nomor 204—kamar kos yang berada persis di sebelah kamarnya, kamar 203.

Dinding kosan mereka memang agak tipis, membuat suara-suara tertentu bisa terdengar samar jika suasana sedang sangat sunyi. Dan setiap malam, tepat jam satu pagi, Arga selalu mendengar suara menguap yang sangat lebar, disusul suara geliat tubuh, dan keluhan yang persis sama, dengan nada cempreng, intonasi, bahkan pilihan kata yang tidak meleset barang satu huruf pun:

*“Hwaaaaaahhhhh.... Aduh, jompo banget nih badan... Pinggang gue rasanya mau copot, kayak digebukin warga se-RT. Encok, encok... Sumpah, ini encok stadium empat!”*

Arga menatap Aurora dengan pandangan tidak percaya.

Selama ini, ia selalu penasaran setengah mati siapa sebenarnya penghuni kamar kos sebelah yang sangat berisik itu. Penghuni yang hobi mengeluh encok di jam satu pagi, yang hobi menyanyi lagu dangdut dengan suara fals saat sedang mencuci baju di kamar mandi dalam, dan yang sering menyumpah-nyumpah sendiri karena kalah main game cacing di ponselnya.

Dan sekarang, sosok misterius yang selama ini sukses mengacaukan sisa jam tidurnya yang berharga itu sedang duduk di baris belakang kelas ini.

Cewek berambut cepol berantakan, mengenakan kacamata bulat tebal yang bertengger di hidung mungilnya, dibungkus hoodie abu-abu kebesaran yang membuatnya terlihat tenggelam, dan merupakan salah satu staf baru di divisinya.

Aurora. Cewek culun yang selama ini selalu terlihat gemetaran dan salah tingkah setiap kali berhadapan dengannya.

Arga menarik napas dalam-dalam. Sudut bibirnya tiba-tiba terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat misterius—senyuman yang jika dilihat oleh orang lain pasti akan langsung dianggap sebagai tanda bahaya.

Arga berdiri dari kursinya. Langkah kakinya yang sant** namun terdengar tegas mulai melangkah menyusuri lorong di antara deretan meja kuliah, berjalan mendekati tempat duduk Aurora.

Aurora yang baru saja selesai memijat pinggangnya langsung tersadar saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Ia mendongak dan seketika itu juga tubuhnya membeku. Arga sudah berdiri tepat di samping mejanya, melipat kedua tangan di dada sambil menatapnya dari atas dengan tatapan yang sulit diartikan.

"E-eh... Kak Arga," Aurora langsung gelagapan. Ia buru-buru membetulkan posisi duduknya menjadi sangat tegak, sampai-sampai punggungnya terasa sakit lagi. "Ini... notulensinya udah selesai saya ketik, Kak. Mau saya kirim sekarang?"

Arga tidak langsung menjawab. Ia sengaja mengulur waktu, membiarkan keheningan malam membuat Aurora semakin salah tingkah dan berkeringat dingin.

"Pegel banget ya, Ra?" tanya Arga tiba-tiba. Suaranya terdengar jauh lebih sant** dari biasanya, bahkan ada nada geli yang tertahan di sana.

"Eh?" Aurora mengerjapkan matanya bingung. "Ah... iya, Kak. Sedikit. Biasa, efek kebanyakan duduk semenjak kuliah."

"Sering begadang?" tanya Arga lagi, kini ia sedikit membungkukkan badannya, menumpu kedua tangannya di atas meja milik Aurora, membuat jarak di antara wajah mereka terkikis c**up banyak.

Jantung Aurora mulai berdetak dengan kecepatan abnormal. Aroma parfum maskulin beraroma kayu dan mint milik Arga langsung menyerbu indra penciumannya. *Ganteng banget, tapi kenapa auranya mendadak horor begini sih?!* jerit Aurora histeris dalam hati.

"I-iya, Kak. Tugas arsitektur kan emang suka gak ngotak, jadi ya... sering begadang," jawab Aurora jujur, mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana yang mendadak terasa sangat intim sekaligus menegangkan ini.

"Oh." Arga mengangguk-angguk kecil. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Aurora di balik kacamata bulatnya. "Berarti sering encok juga ya kalau jam satu pagi?"

*Deg.*

Aurora merasa seluruh darah di tubuhnya mendadak berhenti mengalir. Matanya membelalak lebar. "H-hah? Kak Arga kok... kok tahu?"

Arga menegakkan kembali tubuhnya, mema**kkan kedua tangannya ke dalam saku celana jins hitamnya. Senyum tipis yang tampak sangat menyebalkan sekaligus menawan itu kini tercetak jelas di wajah tampannya.

"Tahu dong. Bahkan gue tahu kalau encok lo itu udah ma**k stadium empat. Kayak digebukin warga se-RT, kan?" ucap Arga dengan nada yang sangat sant**, menirukan intonasi keluhan Aurora dengan sangat akurat.

Wajah Aurora langsung berubah pucat pasi, lalu dalam hitungan detik berubah menjadi merah padam layaknya kepiting rebus. Ia merasa seolah-olah seluruh dunianya runtuh seketika. Pikirannya berputar liar, mencoba mencerna bagaimana bisa kating super dingin dan populer di kampus ini bisa mengetahui kalimat keluhan pribadinya yang hanya ia ucapkan di dalam kamar kosnya sendiri.

Tunggu.

Kamar kos.

Jam satu pagi.

Dinding tipis.

Aurora perlahan-lahan mengingat kembali tata letak kamarnya. Kamar nomor 204. Dan ia baru ingat, seminggu yang lalu penjaga kosan sempat bilang kalau kamar kosong di sebelahnya—kamar 203—baru saja ditempati oleh seorang mahasiswa teknik sipil atau arsitektur yang pendiam.

*Jangan bilang...*

"K-Kak Arga..." suara Aurora mencicit pelan, hampir tidak terdengar. "Kakak... kos di Griya Amanah juga?"

Arga menaikkan sebelah alisnya, lalu mendekatkan wajahnya lagi ke arah Aurora, berbisik dengan suara rendah yang langsung membuat bulu kuduk Aurora meremang.

"Kamar 203. Dan suara uapan lo malam ini, Ra... sama persis berisiknya kayak yang gue denger setiap jam satu pagi dari balik dinding kamar gue."

Aurora rasanya ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Ia ingin menenggelamkan dirinya ke dalam rawa-rawa atau berpura-pura pingsan agar tidak perlu menghadapi kenyataan yang sangat memalukan ini.

Jadi selama ini... tetangga kamar sebelah yang sering ia sumpahi dalam hati karena kalau menyalakan keran air selalu berisik, cowok yang kamarnya bersebelahan langsung dengan tempat tidurnya, cowok yang telah mendengar semua keluhan absurd, nyanyian fals, dan suara uapan memalukannya... adalah Arga Prasetya?!

"Jadi..." Arga menjeda kalimatnya, mengetuk permukaan laptop Aurora dengan jari telunjuknya. "Sekarang notulennya udah selesai, kan? Buruan kirim ke WhatsApp gue. Tetangga sebelah kamar lo ini udah ngantuk banget, butuh tidur tenang tanpa denger suara cewek encok dari balik dinding."

Setelah mengatakan hal itu, Arga berbalik arah, berjalan sant** menuju mejanya di depan untuk mengambil tas ranselnya, meninggalkan Aurora yang masih mematung di tempatnya dengan mulut terbuka lebar karena syok yang teramat sangat.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca