Kamar Kos Sebelah

Bab 5: Aksi Usil Kating Hits

Pengaturan Membaca

**Bab 5: Aksi Usil Kating Hits**

Efek begadang sampai jam dua pagi demi menuntaskan notulen laknat dari Arga benar-benar nyata. Pagi ini, Aurora berjalan di sepanjang koridor Fakultas Teknik dengan nyawa yang baru terkumpul sekitar empat puluh persen. Lingkaran hitam di bawah matanya sudah tidak bisa lagi disamarkan oleh *concealer* termurah sekalipun.

"G***, Ra. Lo kayak zombi yang kurang sajen," celetuk Seli begitu mereka duduk di bangku deretan tengah ruang kuliah Teori Arsitektur. "Itu mata lo udah kayak mata panda yang habis begadang nonton konser."

Aurora menguap lebar tanpa peduli imej lagi, lalu menempelkan pipinya ke atas meja kayu yang dingin. "Jangan sebut-sebut soal begadang deh, Sel. Gue masih dendam kesumat sama Kak Arga. Bisa-bisanya dia tidur nyenyak setelah menyiksa anak orang sampai jam dua pagi."

"Tapi lo dapet balesan dari dia enggak setelah kirim PDF-nya?" tanya Seli kepo.

Aurora mendengus. "Cuma di-read. Terus dibales 'Ok'. Dua huruf, Sel! O sama K doang! Rasanya pengen gue santet online."

Seli tertawa geli, baru saja ingin menanggapi ketika pintu ruang kelas terbuka. Namun, bukannya dosen yang ma**k, melainkan sesosok cowok jangkung dengan jaket himpunan berwarna biru dongker yang sangat familier. Rambut hitamnya sedikit berantakan, tapi justru membuat kadar ketampanannya naik beberapa persen.

Arga Prasetya. Sang ketua divisi Dekorasi sekaligus kating paling hits satu fakultas yang ketampanannya sering lewat di fyp TikTok anak-anak maba.

Seketika seisi kelas yang tadinya bising langsung senyap. Beberapa mahasiswi di barisan depan bahkan langsung sibuk benerin rambut dan merapikan riasan wajah.

Arga mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Begitu matanya menangkap sosok Aurora yang sedang tiarap di meja, sebuah lengkungan tipisβ€”yang sangat tipis sampai hampir tidak terlihatβ€”muncul di sudut bibirnya. Cowok itu melangkah tegap ke arah meja Aurora.

Jantung Aurora mendadak berdegup kencang. Bukan karena terpesona, melainkan karena firasat buruk yang mendadak menyengat instingnya.

*Plak.*

Sebuah map plastik warna biru diletakkan dengan sant** di atas meja Aurora, tepat di depan wajah cewek itu.

Aurora langsung menegakkan tubuhnya, menatap map itu lalu mendongak menatap Arga dengan wajah bingung. "Ini apa ya, Kak?"

"Tugas tambahan buat lo," jawab Arga sant**, kedua tangannya dima**kkan ke dalam saku celana jins hitamnya. "Gue butuh lo buat survei harga sewa *bean bag* dan lampu tumblr ke tiga vendor yang alamatnya udah gue tulis di situ. Sore ini harus udah ada laporannya."

Aurora membelalakkan mata. "Hah? Tapi Kak, kan tugas divisi logistik yang bagian survei vendor? Kenapa jadi ke gue? Tugas notulensi kemarin aja belum dapet evaluasi."

"Kemarin lo kerja bagus, makanya gue kasih tanggung jawab lebih," jawab Arga dengan nada dingin bin lempeng tanpa dosa. "Lagian, lo kan asisten pribadi gue sekarang buat urusan dekorasi. Jadi, kerjain aja."

"Tapi Kakβ€”"

"Gak ada tapi-tapi, Aurora. Sore jam lima gue tunggu laporannya di sekre," potong Arga mutlak. Sebelum berbalik pergi, cowok itu sempat mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Aurora, lalu berbisik dengan suara super pelan yang hanya bisa didengar oleh Aurora.

"Semangat kerjanya. Jangan lupa s****an, biar gak lemes kayak semalem."

Setelah mengatakan itu, Arga menegakkan tubuhnya, memberikan senyum tipis yang super misterius, lalu melenggang pergi meninggalkan kelas.

Aurora mematung di tempatnya. Kepalanya mendadak nge-blank. *Semalem? Maksudnya rapat semalem? Tapi kenapa nadanya aneh banget?*

"Ra... lo gak papa?" Seli mengguncang bahu Aurora dengan wajah cemas sekaligus bingung. "Sumpah, itu Kak Arga kenapa tiba-tiba perhatian tapi nyiksa? Dan sejak kapan lo jadi asisten pribadi dia?!"

"Gue juga gak tahu, Sel!" rintih Aurora frustrasi, menjambak rambutnya sendiri dengan gemas. "Sumpah, itu kating kesurupan s**** apa sih? Tiba-tiba usil banget sama gue!"

***

Penderitaan Aurora tidak berhenti sampai di situ.

Siang harinya, saat jam istirahat, Aurora dan Seli memutuskan untuk makan di kantin teknik yang super ramai dan gerah. Aurora memesan es teh manis jumbo dan sepiring siomay untuk meredakan stresnya akibat tugas survei dari Arga yang ternyata rumit setengah mati.

"Gue masih bingung, Ra," ujar Seli sambil mengunyah baksonya. "Kak Arga itu terkenal dingin banget, kan? Jangankan ngobrol gak penting, dichat urusan kepanitiaan aja balesnya singkat, padat, dan menusuk kalbu. Tapi kenapa ke lo dia kayak... aktif banget?"

"Aktif menyiksa gue maksud lo?" ketus Aurora sambil menusuk siomaynya dengan sadis. "Itu mah bukan aktif, Sel. Itu namanya penindasan terhadap maba lemah lembut seperti gue. Dia kayaknya punya dendam pribadi sama gue, tapi gue gak tahu salah gue apa."

Baru saja Aurora menyelesaikan kalimatnya, suasana kantin mendadak agak riuh. Rombongan 'anak-anak hits' teknik ma**k ke area kantin. Di barisan paling depan, tentu saja ada Arga, bersama beberapa temannya seperti B**m dan Kevin yang juga merupakan fungsionaris himpunan.

Biasanya, Arga dan gengnya akan memilih meja pojok yang agak sepi dan ber-AC di dekat koperasi. Namun hari ini, langkah kaki Arga justru mengarah lurus ke area tengah kantin yang padat.

Dan tebak dia duduk di mana?

Tepat di meja kosong yang berada persis di belakang punggung Aurora. Jarak punggung mereka bahkan tidak sampai satu meter.

Aurora langsung kaku. Ia bisa merasakan kehadiran cowok itu dengan sangat jelas. Aroma parfum maskulin beraroma *wood* dan *citrus* khas Arga bahkan samar-samar tercium oleh indra penciumannya.

"Eh, Ga, tumben amat lo mau duduk di sini? Biasanya kan ogah panas-panasan," terdengar suara B**m dari arah belakang.

"Anginnya lagi enak di sini," sahut Arga sant**.

*Enak dari Hongkong! Ini gerah banget, kipas anginnya aja mati!* teriak Aurora dalam hati.

"Eh, guys, ntar malem kita nongkrong di kafe biasa yuk? Gabut banget gue," ajak Kevin.

"Gue gak bisa. Gue mau langsung balik kosan," jawab Arga.

"Tumben lo, biasanya paling semangat kalau diajak nongkrong. Mau ngapain sih di kosan? Palingan juga tidur atau main game," goda B**m.

Suara geseran kursi terdengar. Aurora bisa merasakan kalau Arga tampaknya sedang mengubah posisi duduknya, bersandar ke kursi dengan sant**.

"Gak, gue gak mau main game," suara berat Arga terdengar sangat jelas di telinga Aurora. "Gue cuma pengen buru-buru balik, terus masak mi instan."

Aurora yang sedang menyedot es teh manisnya mendadak berhenti.

"Elah, gaya bener lo. Mi instan rasa apa yang bikin lo rela nolak nongkrong?" tanya Kevin sambil tertawa.

"Mi instan rasa soto," jawab Arga.

*Deg.*

Aurora hampir saja tersedak es teh manisnya sendiri. Tangannya yang memegang sedotan mendadak gemetar tipis.

"Tapi ada syaratnya," lanjut Arga lagi, nadanya terdengar sangat sant** tapi penuh dengan penekanan tersembunyi. "Masaknya harus tengah malem, sekitar jam satu subuh. Terus air kuahnya gak boleh banyak-banyak, biar bumbunya kerasa pekat. Dan yang paling penting... makannya harus sambil dengerin lagu-lagu galau indie yang diputar kencang-kencang pake *speaker* murah sampai kedengeran ke kamar sebelah."

*Uhuk! Uhuk!*

Kali ini Aurora benar-benar tersedak. Ia terbatuk-batuk hebat sampai wajahnya memerah. Seli dengan panik langsung menyodorkan tisu dan menepuk-nepuk punggung Aurora.

"Ra! Lo gak papa? Pelan-pelan dong minumnya!" seru Seli panik.

Di belakangnya, Aurora bisa mendengar suara kekehan pelan dari Arga. Cowok itu jelas sekali sedang menertawakannya.

Pikiran Aurora langsung berputar cepat, menyambungkan semua titik-titik petunjuk yang sejak tadi bertebaran di kepalanya.

*Masak mi soto jam satu subuh... kuahnya dikit... lagu galau indie pake speaker... kedengeran ke kamar sebelah...*

*OH MY GOD.*

Aurora membelalakkan matanya lebar-lebar saat menyadari satu kenyataan yang sangat mengerikan.

Tetangga kosan barunya yang menempati kamar nomor 204β€”kamar yang tepat berada di sebelah kamarnya, kamar yang dindingnya sangat tipis sampai suara bersin pun bisa terdengar, tetangga yang semalam ia curigai mendengarkan semua aktivitas memalukannya saat memasak mi instan sambil menyanyi lagu galau dengan suara sumbang...

Tetangga itu adalah... Arga Prasetya?!

Bahu Aurora mendadak merosot lemas. Rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi ini sekarang juga. Ingin rasanya ia tenggelam ke dalam mangkuk bakso Seli atau berpindah benua ke kutub utara agar tidak perlu bertemu dengan Arga lagi.

"Ra? Lo kenapa sih? Kok mukanya tiba-tiba pucat kayak habis liat s****?" tanya Seli heran melihat perubahan ekspresi sahabatnya yang drastis.

"Sel..." bisik Aurora dengan suara bergetar, matanya menatap Seli dengan pandangan kosong penuh keputusasaan. "Kayaknya... hidup gue di kampus ini udah tamat deh."

"Hah? Maksud lo?"

Sebelum Aurora sempat menjelaskan, sebuah suara berat kembali menginterupsi dari arah belakang.

"Oh iya, Aurora," panggil Arga.

Aurora dengan sangat lambat memutar tubuhnya, menatap Arga yang kini sedang menatapnya balik dengan seringai usil yang menghiasi wajah tampannya. Seringai yang benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari imej dinginnya sehari-hari.

"I-iya, Kak?" sahut Aurora, suaranya mencicit pelan.

"Jangan lupa ya, tugas surveinya dikumpul jam lima sore," ujar Arga manis, terlalu manis hingga membuat bulu kuduk Aurora meremang. "Satu lagi... kalau nanti malam lo mau masak mi instan rasa soto lagi, tolong bagi-bagi ya baunya. Wanginya lumayan bikin laper soalnya."

B**m dan Kevin yang tidak tahu apa-apa hanya bisa melongo bingung menatap interaksi aneh antara ketua divisi mereka dan si anak maba. Sementara Seli langsung menutup mulutnya dengan tangan, mulai menangkap sinyal-sinyal yang terjadi.

Sedangkan Aurora? Ia hanya bisa tersenyum kaku dengan hati yang menjerit histeris.

*Tuhan... tolong pindahkan kosan hamba sekarang juga!*

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca