**Bab 6: Ketukan Kode Malam Hari**
Kedua kaki Aurora rasanya mau copot. Berjalan kaki di bawah terik matahari demi mendatangi tiga vendor *bean bag* dan lampu dekorasi benar-benar menguras sisa-sisa energi yang dia miliki. Begitu melangkah ma**k ke dalam kamar kosnya, Room 203, Aurora langsung melemparkan tote bag-nya ke atas meja belajar dengan asal. Tubuhnya menyusul ambruk ke atas ka**r busa tipis yang untungnya terasa sangat empuk malam ini.
"G***. Ini namanya perpeloncoan terselubung," gumam Aurora sambil menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Napasnya masih tersengal. Bayangan wajah lempeng nan menyebalkan milik Arga Prasetya mendadak melintas di kepalanya. Cowok itu dengan gampangnya memberikan setumpuk tugas tambahan tanpa memikirkan kalau Aurora juga punya jadwal kuliah yang padat. Ditambah lagi, tugas notulensi kemarin saja belum tuntas dievaluasi.
"Awas lo ya, Kak Arga. Kalau kaki gue varisesan gara-gara muterin kota demi *bean bag* lo itu, gue tuntut lo ke dekanat!" umpat Aurora kesal. Dia berguling ke kanan, membenamkan wajahnya di bantal bergambar beruang peninggalan zaman SMA.
Setelah hampir setengah jam mengumpulkan niat yang tercecer, Aurora akhirnya memaksa diri untuk mandi. Air dingin yang menyiram tubuhnya sedikit membantu menurunkan suhu kepalanya yang mendidih sejak siang. Begitu selesai memakai kaus *oversized* warna abu-abu dan celana pendek rumahan, Aurora merasa sedikit lebih manusiawi.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit malam. Suasana di koridor kosan sudah sangat sepi. Maklum, kos-kosan khusus mahasiswa ini memang terkenal tenang, tidak ada yang suka membuat keributan di atas jam sembilan malam.
Aurora menyalakan lampu meja yang temaram, membiarkan lampu utama kamarnya mati. Dia ingin suasana yang tenang untuk meredakan stresnya. Membuka aplikasi Spotify di ponsel, Aurora memutuskan untuk memutar lagu dengan volume rendah. Kali ini, dia memilih lagu "Satu-Satu" dari Idgitaf. Melodi pembukanya yang ceria tapi sant** mulai mengalun di dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter itu.
Aurora ikut bersenandung pelan sambil menyisir rambutnya yang masih agak basah.
*Aku sudah tidak marah...*
*Walau masih teringat...*
Tiba-tiba, dari arah dinding sebelah kananβdinding pembatas dengan Room 204βterdengar suara ketukan.
*Tok. Tok.*
Aurora refleks menghentikan gerakannya menyisir rambut. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. "Aduh, apa kekencangan ya lagunya?" batinnya panik. Memang sih, dinding kosan ini agak tipis, tapi volume ponselnya bahkan tidak sampai setengah dari bar maksimal.
Khawatir membuat tetangganya terganggu, Aurora berniat mengecilkan volume ponselnya. Namun, sebelum jempolnya menyentuh layar, suara ketukan dari balik dinding kembali terdengar.
Kali ini polanya berbeda. Bukan ketukan keras pertanda protes karena berisik, melainkan ketukan yang ritmis.
*Tok, tok... tok-tok-tok.*
Aurora mengernyitkan dahi. Dia memiringkan kepalanya, mencoba mencerna ritme tersebut. Tunggu sebentar. Pola ketukan itu... sangat familier.
Itu adalah ketukan yang mengikuti ketukan drum dari lagu yang baru saja dia putar!
*Semua yang terjadi kemarin... (tok, tok)*
*Jadikan aku yang hari ini... (tok-tok-tok)*
Aurora terbelalak. Dia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Demi apa? Dia nyautin lagu gue?" bisiknya tertawa geli.
Untuk memastikan apakah itu hanya kebetulan atau bukan, Aurora sengaja menekan tombol *pause* di ponselnya. Seketika, kamarnya menjadi sunyi senyap.
Dia menunggu. Satu detik, dua detik, tiga detik. Tidak ada ketukan sama sekali dari balik dinding.
Aurora tersenyum licik. Dia kembali menekan tombol *play*. Begitu musik mengalun lagi dan mencapai bagian reff, ketukan dari balik dinding langsung menyahut dengan ritme yang persis sama, bahkan lebih bersemangat.
*Tok, tok, tok-tok!*
"Wah, gokil nih tetangga sebelah," gumam Aurora, rasa lelahnya mendadak menguap digantikan oleh rasa penasaran yang membuncah.
Aurora merangkak ke ujung ka**rnya yang menempel langsung pada dinding pembatas. Dia duduk bersila menghadap tembok bercat putih gading itu. Dengan menggunakan buku jari telunjuknya, Aurora mengetuk dinding itu sebanyak dua kali secara perlahan.
*Tok. Tok.*
Hening sesaat.
Lalu dari sebelah, terdengar balasan dengan pola yang sama persis.
*Tok. Tok.*
Mata Aurora berbinar. "Wah, dia bales!" pekiknya tanpa suara. Senyum lebar langsung terukir di wajah manisnya. Ini sangat seru, seperti sedang melakukan misi rahasia di film-film detektif.
Aurora kembali mengetuk dengan pola baru yang lebih cepat. *Tok-tok-tok... tok!*
Hanya butuh waktu satu detik bagi tetangga sebelahnya untuk membalas dengan pola yang persis sama. *Tok-tok-tok... tok!*
Aurora terkikik geli. Dia merasa seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru. "Siapa sih orang di sebelah ini? Ramah banget kayaknya," pikir Aurora. Dia membayangkan sosok tetangga kamarnya adalah seorang mahasiswa yang ramah, mungkin sedikit gabut sepertinya, dan yang jelas memiliki selera humor yang bagus. Setidaknya, tetangga misterius ini seratus kali lebih menyenangkan daripada Kak Arga, kating titisan reog yang hobi menyiksanya di kampus.
Aurora kemudian mematikan lagunya sepenuhnya. Dia ingin mencoba berkomunikasi murni lewat ketukan.
Dia mengetuk dinding sebanyak tiga kali secara perlahan. *Tok... Tok... Tok...*
Seolah mengerti arti ketukan itu sebagai pertanyaan *"Masih di sana?"*, tetangga sebelahnya membalas dengan satu ketukan mantap.
*Tok.*
Aurora berpikir sejenak. Bagaimana kalau mereka membuat kode sendiri? Ini akan sangat berguna kalau salah satu dari mereka merasa terganggu atau ingin menyapa.
Aurora mengetuk dengan pola cepat sebanyak dua kali: *Tok-tok!* (Yang dalam pikirannya berarti: *Berisik!*)
Tetangga di sebelah membalas dengan mengetuk sekali, sangat pelan, seolah-olah sedang meminta maaf dengan sopan. *Tok.*
Aurora menutup mulutnya, menahan tawa agar tidak pecah. "Lucu banget, sih! Kok bisa dia langsung paham?" gumamnya gemas.
Sementara itu, di balik dinding Room 204.
Arga sedang duduk di kursi belajarnya yang empuk, menyandarkan punggungnya sambil memutar-mutar sebuah pulpen hitam di sela-sela jarinya. Sebuah senyuman tipisβyang jarang sekali dia perlihatkan di kampusβkini terukir jelas di wajah tegasnya.
Arga menatap dinding kamarnya yang baru saja dia ketuk dengan buku jarinya. Dia tahu betul siapa yang ada di balik dinding itu. Aurora. Gadis maba yang seharian ini dia buat kesal setengah mati dengan tugas-tugas survei. Arga tahu Aurora pasti lelah, dan entah kenapa, mendengar suara lagu dari kamar sebelah membuat Arga ingin sedikit mengusilinya lewat ketukan dinding.
Mendengar ketukan balasan dari Aurora yang terdengar bersemangat membuat lelah di kepala Arga setelah seharian mengurus rapat himpunan mendadak hilang begitu saja.
Kembali ke kamar Room 203.
Aurora merebahkan tubuhnya menyamping, dengan telinga yang didekatkan ke dinding. Dia mengetuk satu kali dengan lembut.
*Tok.*
Dari sebelah terdengar balasan satu ketukan yang sama lembutnya.
*Tok.*
"Kayak punya teman rahasia," bisik Aurora pada dirinya sendiri. Perasaan hangat mendadak mengalir di dadanya. Tinggal di perantauan dan jauh dari orang tua sering kali membuat Aurora merasa kesepian di malam hari. Namun malam ini, ketukan-ketukan sederhana dari balik dinding beton itu entah bagaimana membuatnya merasa aman dan tidak sendirian lagi. Ada seseorang di luar sana yang, meskipun tidak dia ketahui wajahnya, bersedia meluangkan waktu untuk bermain permainan konyol ini bersamanya.
Waktu merambat semakin malam, hampir menunjukkan pukul sebelas. Rasa kantuk mulai menyerang kesadaran Aurora. Matanya terasa sangat berat, efek dari akumulasi kurang tidur semalam dan kelelahan fisik hari ini.
Sebelum memejamkan mata, Aurora ingin mengirimkan pesan terakhir untuk malam ini. Dia mengetuk dinding sebanyak tiga kali dengan tempo yang sangat lambat dan berjarak.
*Tok... Tok... Tok...*
Dalam hati, Aurora mengartikan ketukan itu sebagai: *Gue-mau-tidur.* atau *Se-la-mat-ma-lam.*
Dia menunggu balasan sambil memeluk gulingnya erat-erat.
Dua detik kemudian, dari balik dinding, terdengar balasan berupa tiga ketukan lambat yang senada, disusul oleh satu ketukan pelan di akhir sebagai penutup.
*Tok... Tok... Tok...*
*...Tok.*
Aurora tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit. Dia bisa menerjemahkan kode terakhir itu dengan mudah: *Tid-ur-lah... Sip.*
"Selamat malam, tetangga kamar sebelah yang baik hati. Makasih udah bikin *mood* gue balik lagi," gumam Aurora lirih.
Dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan senyum yang masih tertinggal di bibirnya, Aurora akhirnya memejamkan mata. Kamar kos bernomor 203 itu kini sepenuhnya senyap, menyisakan kehangatan kecil yang baru saja tercipta di antara dua kamar yang hanya dibatasi oleh satu sekat dinding tipis.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!