**Bab 7: Mantan yang Mengacau**
Pagi ini, kepala Aurora masih terasa agak pusing. Gara-gara ketukan misterius dari balik dinding kamar nomor 204 semalam, dia baru bisa terpejam sekitar jam dua pagi. Otaknya tidak berhenti berputar, menebak-nebak apa maksud dari ketukan berirama yang dilakukan oleh Argaβtetangga kos sekaligus ketua panitia magang yang paling gemar menyiksanya itu.
Namun, rasa penasaran itu mendadak menguap begitu Aurora menginjakkan kaki di koridor lant** dua gedung FISIP. Koridor yang biasanya ramai oleh mahasiswa yang berlarian mengejar kelas pagi itu mendadak terasa mencekam bagi Aurora.
Langkahnya terhenti tepat di depan mading fakultas. Jantungnya serasa merosot ke lambung saat melihat sesosok cowok berjaket denim hitam sedang bersandar di pilar koridor sambil melipat tangan di dada.
Cowok itu adalah Rian. Mantan pacar Aurora.
"Ra," panggil Rian begitu menyadari keberadaan Aurora. Dia menegakkan tubuhnya, melangkah mendekat dengan senyum yang dipaksakan.
Aurora refleks mundur satu langkah. Tangannya meremas tali *tote bag* dengan erat. Keringat dingin mulai keluar di telapak tangannya. "Rian? Ngapain lo di sini?" tanya Aurora, berusaha keras agar suaranya tidak terdengar gemetar.
"Aku nyariin kamu, Ra. Kamu ke mana aja, sih? Nomor aku kamu *block*, semua akun media sosial aku juga kamu *block*. Kamu pikir lucu pelarian kayak gini?" Rian berbicara dengan nada menuntut, seolah-olah dialah korban di sini.
"Kita udah putus, Yan. Tiga bulan yang lalu, kalau lo lupa," balas Aurora ketus, mencoba bersikap berani meskipun lututnya sudah lemas.
Kenangan buruk tentang hubungan mereka mendadak berputar di kepala Aurora. Rian yang posesif, Rian yang suka membentak di depan umum, dan Rian yang tidak segan bermain fisik jika keinginannya tidak dituruti. Keputusan Aurora untuk memutus semua kontak dan pindah ke kosan yang sekarang adalah demi lari dari cowok toxic ini. Tapi entah bagaimana caranya, Rian bisa menemukan keberadaannya di kampus hari ini.
"Putus? Siapa yang setuju kita putus?" Rian tertawa remeh, melangkah maju hingga memangkas jarak di antara mereka. Bau parfumnya yang menyengat membuat Aurora mual. "Aku nggak pernah bilang kita putus, Aurora. Kita cuma lagi berantem biasa. Sekarang ayo ikut aku, kita obrolin ini baik-baik."
"Nggak mau! Nggak ada yang perlu diobrolin lagi!" Aurora mencoba berbalik arah, berniat melarikan diri menuju tangga.
Namun, gerakan Rian lebih cepat. Cowok itu menyambar pergelangan tangan kanan Aurora dengan kasar, lalu menariknya dengan kuat hingga tubuh Aurora terhuyung ke belakang.
"Lepasin, Yan! Sakit!" pekik Aurora. Cengkeraman tangan Rian di pergelangan tangannya terasa sangat kuat, seolah-olah ingin meremukkan tulangnya. Beberapa mahasiswa yang lewat di koridor mulai menoleh, berbisik-bisik, tapi tidak ada satu pun yang berani mendekat untuk menolong.
"Jangan bikin malu aku di sini, Ra! Ikut aku sekarang atau aku seret kamu!" desis Rian di dekat wajah Aurora. Matanya yang merah menatap Aurora dengan tatapan penuh ancaman dan dominasi yang biasa dia tunjukkan dulu.
"Gue bilang lepasin, Rian! Sakit!" Air mata Aurora mulai menggenang di sudut matanya. Rasa takut yang teramat sangat menyelimuti dirinya, membuat tenggorokannya tercekat hingga sulit untuk berteriak meminta tolong.
"Ikut guβ"
*Srek.*
Sebuah tangan yang kokoh tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Rian yang sedang memegangi Aurora. Cengkeraman itu tampak begitu kuat sampai-sampai Rian refleks meringis dan melepaskan pegangannya pada Aurora.
Sebelum Aurora sempat mencerna apa yang terjadi, sebuah lengan yang hangat dan beraroma maskulin bercampur wangi sabun mint yang sangat dia kenal langsung merangkul pundaknya, menarik tubuh mungil Aurora ke dalam perlindungan dada bidang seseorang.
Aurora mendongak dengan napas terengah-engah.
Arga.
Cowok menyebalkan dari kamar kos sebelah itu sekarang berdiri di sampingnya. Wajah Arga yang biasanya lempeng tanpa ekspresi kini terlihat dingin. Tatapan matanya yang tajam tertuju langsung pada Rian.
"Bro, kayaknya telinga lo perlu diperiksakan ke THT deh. Dia kan udah bilang sakit. Masa nggak denger?" tanya Arga dengan nada bicara yang sangat sant**, bahkan terkesan meremehkan.
Rian yang merasa wilayahnya diusik langsung menatap Arga dengan pandangan murka. "Siapa lo? Nggak usah ikut campur urusan gue sama cewek gue!" gertak Rian sambil membusungkan dadanya, mencoba mengintimidasi Arga yang secara fisik sebenarnya sedikit lebih tinggi darinya.
Arga tidak kelihatan takut sama sekali. Alih-alih mundur, dia justru mempererat rangkulannya di pundak Aurora, membawa gadis itu semakin merapat ke sisinya. Tindakan itu membuat jantung Aurora berdegup dua kali lebih cepat, tapi kali ini bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa aman yang tiba-tiba melingkupinya.
"Cewek lo?" Arga terkekeh sinis, lalu menunduk menatap Aurora dengan senyum tipis yang tampak sangat alami. "Sayang, emang kamu masih punya urusan sama cowok kurang a**pan gizi kayak dia?"
Aurora mengerjapkan matanya, agak linglung dengan pangg***n "sayang" yang meluncur begitu saja dari bibir Arga. Namun, melihat kedipan kode dari mata Arga, Aurora langsung tanggap. Dia menggeleng cepat. "N-nggak. Nggak ada."
Arga kembali menatap Rian, kali ini dengan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan di wajahnya. "Denger sendiri, kan? Dan ralat ya, Bro. Dia bukan cewek lo lagi. Dia cewek gue. Pacar baru Aurora."
Wajah Rian seketika memerah padam karena marah sekaligus malu. "Pacar? Halah, jangan ngibul lo! Aurora nggak mungkin secepat ini dapet pacar baru! Ra, kamu pacaran sama cowok modelan kayak gini?" Rian menunjuk Arga dengan jari telunjuknya yang gemetar.
"Kenapa emangnya sama modelan kayak gue? Ganteng? Jelas. Lebih waras dari lo? Banget," sahut Arga dengan nada sarkasme tingkat tinggi. "Dan yang paling penting, gue nggak pernah kasar sama cewek, apalagi sampai narik-narik tangannya di depan umum kayak orang kesurupan."
Beberapa mahasiswa yang sejak tadi menonton mulai berbisik-bisik, beberapa bahkan terang-terangan menertawakan Rian. Suasana koridor yang mulai ramai membuat posisi Rian semakin tersudut.
"Lo..." Rian maju satu langkah, mengepalkan tinjunya seolah siap melayangkan pukulan ke wajah Arga.
Arga sama sekali tidak gentar. Dia melepaskan rangkulannya di pundak Aurora sejenak, lalu melangkah maju untuk berdiri tepat di depan Aurora, menghalangi gadis itu sepenuhnya dari jangkauan Rian.
"Mau main fisik?" tanya Arga dengan nada suara yang merendah, namun sarat akan ancaman yang berbahaya. "Silakan. Tapi gue pastiin, setelah pukulan pertama lo mendarat, lo nggak cuma bakal berurusan sama gue, tapi juga sama komisi disiplin kampus dan kepolisian. Kebetulan bokap gue punya beberapa kenalan pengacara yang lagi kurang kerjaan. Mau coba?"
Rian mengepalkan rahangnya erat-erat. Dadanya kembang kempis menahan amarah yang meledak-ledak. Dia menatap Arga, lalu beralih menatap Aurora yang sedang bersembunyi di balik punggung tegap Arga dengan wajah pucat.
Menyadari dirinya kalah telak baik secara posisi maupun argumen, Rian akhirnya menurunkan kepalan tangannya.
"Awas lo, Ra. Urusan kita belum selesai!" ancam Rian dengan suara tertahan, menunjuk Aurora dengan tatapan penuh kebencian sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi dengan langkah terburu-buru, membelah kerumunan mahasiswa yang langsung memberi jalan untuknya.
Begitu punggung Rian menghilang di belokan koridor, keheningan sesaat melanda area tersebut sebelum akhirnya perlahan-lahan kembali normal saat para mahasiswa mulai membubarkan diri.
Aurora mengembuskan napas panjang yang sejak tadi dia tahan. Kedua lututnya benar-benar terasa lemas sekarang, sampai-sampai dia harus berpegangan pada ujung jaket *bomber* yang dikenakan Arga agar tidak jatuh terduduk di lant** koridor.
Arga membalikkan tubuhnya. Tatapan matanya yang tadi dingin dan tajam seketika melunak saat melihat kondisi Aurora yang tampak sangat terguncang. Dia memperhatikan pergelangan tangan kanan Aurora yang kini mulai memerah akibat cengkeraman kasar Rian tadi.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Arga. Nada suaranya kini terdengar jauh lebih manusiawi, tidak ada lagi nada menyebalkan seperti yang biasa dia gunakan saat menuntut tugas magang.
Aurora mendongak, menatap mata hitam pekat milik tetangga kosnya itu. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya lolos juga, membasahi pipinya. Dia mengangguk pelan, meskipun tubuhnya masih gemetar hebat.
"Makasih... Kak Arga," bisik Aurora dengan suara serak.
Arga menatap air mata Aurora dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dia menghela napas panjang, lalu tanpa diduga, tangannya terangkat untuk menepuk-nepuk puncak kepala Aurora dengan canggung.
"Dasar cengeng," gumam Arga pelan, mencoba mencairkan suasana dengan ejekan khasnya. "Ayo ikut gue. Obatin tangan lo dulu sebelum lo pingsan di sini dan bikin gue repot harus ngegotong lo ke klinik kampus."
Meskipun kata-katanya terdengar tidak romantis sama sekali, Aurora tahu bahwa di balik sikap ketus itu, Arga sedang berusaha melindunginya. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal cowok menyebalkan di kamar sebelah ini, Aurora merasa sangat bersyukur karena takdir telah membawanya tinggal di kamar kos nomor 203.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!